ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Contoh PTK: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia)


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI)
PADA SISWA KELAS IV SDN MANISHARJO 4 KECAMATAN NGRAMBE
KABUPATEN NGAWI TAHUN PELAJARAN 2018/ 2019



SKRIPSI













OLEH:
RINTO PRAYITNO
NIM. 1702101314 P





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2019











BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Keberhasilan dari suatu pembelajaran sangatlah membutuhkan peran dari seorang guru. Hal tersebut telah ditegaskan dalam Undang-undang RI No. 20/2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 1 yang menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran”. Oleh karena itu pembelajaran di kelas perlu dirancang dengan melibatkan siswa untuk belajar. Sebuah proses belajar bukan hanya sebatas menghafalkan konsep maupun fakta, akan lebih mengacu pada kegiatan dalam menghubungkan konsep agar menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Apa yang dipelajari oleh siswa akan dapat dipahami dengan baik sehingga tidak mudah lupa.
Supaya pembelajaran tidak mudah dilupakan dan menjadi pelajaran yang bermakna sebaiknya guru menerapkan pembelajaran kontekstual. Guru harus mampu mengaitkan materi-materi yang diajarkan dengan keadaan nyata dengan lingkungan sekitar siswa. Pembelajaran akan menjadi bermakna jika siswa mengalami langsung apa yang dipelajari dibanding hanya sekedar mendengarkan penjelasan dari guru. Anitah (2009) menyatakan bahwa belajar melalui pengalaman langsung jika siswa belajar dengan melakukan kegiatan sendiri atau dengan mengalaminya sendiri secara langsung. Peran guru adalah membimbing dan mengarahkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran Matematika di sekolah dasar bertujuan agar siswa menguasai pengetahuan,  konsep,  prinsip, proses penemuan yang saling berintegrasi. Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kopetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.

Pembelajaran Matematika lebih diarahkan pada pada kegiatan yang mendorong siswa aktif. Siswa dibimbing untuk berfikir kreatif, kritis dalam bertanya, mandiri dalam bertindak, dan mampu membuat kesimpulan dari kegiatan pembelajaran matematika tersebut. Matematika sangat penting diajarkan kepada siswa sebab ilmu matematika  selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semua bidang ilmu juga memerlukan keterampilam matematika. Matematika merupakan sarana komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dengan berbagai cara. Dengan matematika dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk berfikir logis, teliti, serta dapat memberikan kepuasan atas usaha dalam memecahkan suatu masalah yang menantang.
Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe pada semester II tahun pelajaran 2018/ 2019, ditemukan permasalahan yang berupa rendahnya hasil belajar matematika siswa. Nilai rata-rata dari hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran matematika baru mencapai 61. KKM yang ditetapkan oleh sekolah untuk mata pelajaran matematika adalah 65. Hal tersebut disebabkan karena guru yang masih menerapkan pembelajaran secara konvensional. Guru lebih sering mengajar dengan metode ceramah dalam menjelaskan materi dan langsung memberikan contoh-contoh soal yang disertai rumus pengerjaannya. Ketika diberikan soal yang berbeda  siswa selalu kesulitan dalam mengerjakannya. Siswa tidak pernah diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep dasar dari rumus-rumus yang disampaikan oleh guru. Disetiap pembelajaran matematika guru tidak pernah memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan kemampuannya untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang diperoleh. Materi yang disampaikan tidak dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari yang dihadapi siswa, sehingga siswa mudah lupa dengan apa yang telah dipelajarinya. Siswa juga tidak dapat mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seakan-akan pembelajaran yang disampaikan guru terpisah dengan kehidupan nyata yang dialami siswa.
Hasil ulangan matematika materi luas bangun datar siswa kelas IV yang berjumlah 15 orang, tercatat hanya 6 siswa atau 40% siwa yang tuntas belajar.. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan belajar matematika secara klasikal masih jauh di bawah KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa sebaiknya guru menerapkan pembelajaran kontekstual, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai adalah dengan menerapkan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI).
PMRI merupakan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk mata pelajan matematika dengan bertumpu pada realita kehidupan siswa. Dengan PMRI akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan serta konsep-konsep matematika dari permasalahan nyata yang berkaitan dengan lingkungan siswa. Pembelajaran matematika dengan PMRI juga mendorong siswa untuk aktif membangun sendiri pengetahuan yang diperoleh melalui matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Matematisasi horizontal adalah proses menyelesaikan masalah dari nyata kedalam bentuk simbol. Matematisasi vertikal adalah proses formalisasi konsep matematika. Dengan diterapkan pendekatan PMRI diharapkan proses pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna dan memberi dampak meningkatnya hasil belar matematika siswa kelas IV.
Berdasarkan paparan latar belakang masalah diatas, penulis mengadakan penelitian tindakan kelas yang kemudian disajikan dalam penulisan dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Pada Siswa Kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2018/ 2019.

B.     Identifikasi Masalah
Setelah dilakukan evaluasi dan pengamatan atas hasil belajar siswa serta melihat kembali proses pembelajaran matematika, ternyata hasil belajar siswa masih sangat rendah dan perlu dilakukan perbaikan. Penenyab dari rendahnya hasil belajar siswa tersebut diantaranya adalah:
1.   Guru masih menerapkan pembelajaran konvensional dalam menyampaikan materi pelajaran matematika sehingga tidak memberikan keleluasaan kepada siswa dalam mengembangkan dan membangun sendiri pengetahuan yang didapatkannya.
2.   Guru cenderung memberikan contoh soal serta rumus penyelesainya secara langsung tanpa membimbing siswa untuk menemukan dan mengkonstruksi konsep.
3.   Guru tidak mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna bagi siswa.
4.   Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

C.    Rumusan Masalah dan Alternatif Pemecahannya
1.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
“Apakah Melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi tahun Pelajaran 2018/ 2019”.
2.   Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan teori pembelajaran yang inovatif, masalah yang terjadi di kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi dapat diselesaikan dengan menerapkan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dapat mendiskripsikan bahwa Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi tahun Pelajaran 2018/ 2019.


E.     Kegunaan Penelitian
Dengan dilakukanya penelitian dan penulisan laporan ini dapat memberikan guna atau manfaat bagi berbagai pihak diantaranya:
1.   Bagi Peneliti
a.    Malaui penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan kepada penulis untuk memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran dengan menerapkan berbagai model pendekatan pembelajaran.
b.   Memenuhi tugas akhir program dalam menempuh S1 PGSD.
c.    Sebagai sarana untuk meningkatkan kerjasama dan kreatifitas mahasiswa.
2.   Bagi Siswa
a.    Meningkatkan kemampuan belajar kepada siswa kelas IV sehingga dapat memperbaiki hasil belajar matematika.
b.   Dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam dengan menggunakan pendekatan PMRI.
3.   Bagi Guru
a.    Sebagai bahan informasi kepada guru untuk mengetahui model pembelajaran yang dapat dijadikan alternative dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
b.   Dapat digunakan sebagai panduan dalam pelaksanaan model PMRI.
4.   Bagi Sekolah
a.    Dengan meningkatnya perstasi siswa dan kinerja guru dapat meningkatkan mutu atau kualitas sekolah.
b.   Sebagai acuan dlam memperbaiki mutu pembelajaran di SDN Manisharjo 4 pada tahun pelajaran yang akan datang.

F.     Definisi Istilah
1.   Hasil belajar matematika adalah nilai yang menunjukkan tingkat penguasaan dan pemahaman siswa setelah mengikuti proses pembelajaran matematika pada materi luas bangun datar (persegi, persegi panjang, dan segitiga) di kelas IV. Hasil belajar dalam penelitian ini dibatasi hanya pada aspek kognitif saja.
2.   Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang memanfaatkan benda nyata atau konkret yang ada di lingkungan sekitar siswa untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi matematika.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    Pengertian Hasil Belajar Matematika
      1.      Pengertian Belajar
Belajar sebagaimana dikemukakan oleh Sardiman (dalam Afandi, 2013) bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan seseorang melalui serangkaian kegiatan misalnya kegiatan membaca, mengamati, mendengarkan, menirukan, dan lain sebagainya. Slameto (dalam Afandi, 2013) mendefinisikan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara menyeluruh, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Kemudian Sudjana (dalam Afandi, 2013) berpandangan bahwa belajar merupakan proses yang ditandai dengan adanya pada diri seseorang yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, perubahan pemahaman,. perubahan sikap dan tingkah laku, perubahan keterampilan, percakapan, kebiasaan, serta  perubahan aspek-aspek pada individu yang belajar.
Selanjutnya pengertian belajar menurut Djamarah (dalam Afandi, 2013), “belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik”.
    2.      Pengertian Hasil Belajar Matematika
Pengertian hasil belajar matematika menurut Howard Kingsley (dalam Andi Setiawan, 2014) adalah pengetahuan yang didapat dari pola rutinitas mempelajari matematika. Sedangkan menurut Haling (dalam Ahira, 2009) menyatakan bahwa hasil belajar matematika merupakan hasil yang dapat diukur dari sebuah usaha untuk tahu sejauh apa keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi matematika.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian belajar dan hasil belajar matematika tersebut diambil kesimpulan bahwa hasil belajar matematika merupakan tingkat keberhasilan dan penguasaan seorang siswa terhadap bidang studi matematika setelah menerima pengalaman belajar atau setelah menerima pengalaman belajar atau setelah menempuh proses pembelajaran yang terlihat pada nilai yang diperoleh baik berupa angka maupun huruf dari hasil tes belajarnya.                
                                  
     3.      Pembejaran Matematika di SD
Bintoro Sion (2013) menyatakan bahwa pembelajaran matematika di SD bertujuan untuk menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta berpedoman pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran matematika di SD berbeda dengan pembelajaran di tingkat SMP ataupun di tingkat SMA. Pembelajaran matematika tentu saja disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didiknya. Suwangsih dan Tiurlina (2006) memberikan ciri-ciri pembelajaran matematika di sekolah dasar diantaranya sebagai berikut:
a.       Pembelajaran dengan menggunakan metode spiral.
Yaitu pendekatan pembelajaran matematika dimana pembelajaran konsep matematika selalu dikaitkan dengan materi atau topik sebelumnya yang merupakan prasyarat menuju topik yang baru, dan topik yang baru merupakan pendalaman serta perluasan dari topik sebelumnya.
b.       Pembelajaran matematika berjenjang dan bertahap.
Materi pelajaran matematika diberikan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep yang sederhana menuju konsep yang lebih sulit.
c.       Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif.
Pembelajaran disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik usia sekolah dasar, misalnya pengenalan bangun ruang dimulai dengan memberikan contoh-contoh dari bangun tersebut dan mengenal namanya, bukan dimulai dari definisinya.
d.      Menganut kebenaran konsistensi.
Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan yang lainnya.
e.       Pembelajaran matematika hendaknya bermakna.
Pembelajaran matematika yang bermakna merupakan cara mengajarkan materi yang mengutamakan pengertian dan pemahaman dari pada sekedar hafalan. Pembelajaran matematika yang bermakna dimulai dari proses terbentuknya suatu konsep kemudian menerapkannya dan memanipulasi konsep-konsep tersebut pada situasi yang baru.
Dari beberapa pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar seharusnya disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Hal ini bertujuan untuk membangun kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik. Pembelajaran matematika di sekolah dasar hendaknya perpedoman pada perkembangan IPTEK dan dilakukan dengan menggunakan metode spiral, berjenjang, dan bertahap, menggunakan metode induktif, menganut kebenaran konsistensi serta bermakna.

B.     Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
      1.      Pengertian dan Prinsip PMRI
Supinah (2008) mengemukakan bahwa PMRI merupakan konsep atau teori pembelajaran realistik yang telah dikembangkan khusus untuk mata pelajaran matematika. Konsep matematika realistik sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pembelajaran matematika di Indonesia. Hasil dari pendidikan matematika berupa perubahan pola piker dan penanaman konsep nyara pada peserta didik.
De Lange (dalam Supinah, 2008) memberikan batasan tentang prinsip pendidikan matematika realistik yang harus diperhatikan diantaranya: 1) titik awal pembelajaran harus benar-banar hal yang nyata  sesuai pengalaman siswa termasuk cara matematis yang sudah dimiliki siswa, agar siswa mampu melibatkan diri dalam pembelajaran yang bermakna; 2) titik awal seharusnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi tujuan dan urutan pembelajaran; 3) Membantu siswa dalam menciptakan dan menjelaskan model simbolik dari kegiatan matematis informalnya; 4) melibatkan siswa secara interaktif dalam menjelaskan dan memberikan alasan dalam memecahkan masalah kontekstual; 5) struktur dan konsep matematis yang timbul dari pemecahan masalah nyata mengarah pada pengaitan antar bagian materi.

     2.      Ciri-ciri PMRI
Berdasarkan pendapat Suryanto dan Sugiman (dalam Supinah, 2008) disampaikan PMRI adalah pendekatan pembelajaran yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Menggunakan masalah-masalah kontekstual, yaitu matematika merupakan kegiatan sehari-hari manusia sehingga memecahkan masalah-masalah yang dihadapi atau dialami secara nyata oleh siswa merupakan bagian yang sangat penting.
b.      Menggunakan model, yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan matematika (alat matematis dari hasil matematisasi horizontal).
c.       Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri.
d.      Pembelajaran berfokus pada siswa.
e.       Terjadi interaksi antara guru dan siswa, yaitu meliputi kegiatan memecahkan masalah kontekstual yang realistik, mengorganisasikan masalah matematis, dan mendiskusikan hasil pemecahan masalah tersebut.

      3.      Langkah-langkah PMRI
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMRI secara umum sebagai berikut:
a.       Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini guru menyiapkan masalah kontekstual. Guru harus memahami masalah dan memiliki berbagai strategi yang mungkin akan ditempuh oleh siswa dalam menyelesaiknnya.
b.      Tahap pembukaan
Pada tahap pembukaan siswa diperkenalkan dengan strategi pembelajaran yang dipakai dan diperkenalkan kepada masalah dari dunia nyata. Kemudian siswa diminta untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka sendiri.
c.       Tahap proses pembelajaran
Siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah dengan berbagai strategi dan cara mereka sendiri baik secara individu atau kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain menanggapi hasil kerja yang disampaikan siswa atau kelompok menyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan serta mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan aturan atau prinsip yang bersifat lebih umum.
d.      Penutup
Siswa diajak menarik kesimpulan setelah mencapai kesepakatan strategi tebaik melalui diskusi kelas. Siswa mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika formal pada akhir pembelajaran.

    4.      Penerapan PMRI pada materi Bangun Datar
Penerapan pembelajaran realistik pada matematika sesungguhnya merupakan kombinasi yang tepat karena matematika sangat berkaitan erat dengan lingkungan dan kehidupan nyata sehari-hari. Pembelajaran matematika diarahkan untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar. Guru harus mampu membelajarkan sebuah konsep yang bermakna tidak hanya sekedar hafalan materi. Dengan penerapan pembelajaran matematika realistik siswa dapat menjawab pertanyaan sendiri tentang apa yang belum diketahuinya. Siswa dapat belajar dengan media yang ada di sekitarnya baik itu melalui kegiatan observasi, demonstrasi, dan eksperiment. Selain itu dengan pembelajaran realistik pemahaman tentang matematika akan terintegrasi dan lebih kompleks.


C.    Hipotesis Tindakan
Berdsarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas maka penulis menyusun hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah: “Melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2018/ 2019”.




BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Tempat Dan Waktu Penelitian
      1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Manisharjo 4 yang beralamat di dusun Baan, Desa Manisharjo, Kecamatan Ngrambe, kabupaten Ngawi. SDN Manisharjo 4 berlokasi di pedesaan yang berbatasan langsung dengan lahan persawahan sehingga suasana lingkungan sekolah masih sangat tenang dan nyaman. Ketersediaan lingkungan sekitar juga dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa.

      2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester II tahun pelajaran 2018/ 2019 yaitu pada mata pelajaran Matematika dengan materi luas bangun datar (persegi, persegi panjang, dan segitiga). Penelitian ini dilaksakan selama 6 bulan yaitu bulan Februari 2019 sampai dengan bulan Juli 2019 dimulai dari persiapan sampai dengan penyusunan laporan.

B.     Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). “Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat”(Wardani & Wihardit, 2011). Proses pembelajaran yang terjadi tentu tidak selalu berjalan mulus, terkadang tujuan pembelajaran yang direncanakan guru tidak tercapai. Untuk itu guru harus melakukan perbaikan dari apa yang belum tercapai dalam pembelajaran. Disinilah PTK dilaksanakan sebagai sebuah penelitian yang digunakan untuk memperbaiki kinerja guru dalam memperbaiki pembelajaran.
Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru kelas IV SDN Manisharjo 4. Yang bertindak sebagai pelaku tindakan adalah guru kelas IV, sedangkan peneliti bertindak sebagai pengamat proses tindakan. Penelitian tindakan dengan menerapkan pendekatan PMRI ini diharapkan mampu memperbaiki proses belajar mengajar matematika di kelas IV SDN Manisharjo 4 serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

C.    Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan model siklus yang tiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi atau pengamatan, dan refleksi. Maksud dari komponen tersebut adalah seorang peneliti harus lebih dulu menyusun rencana atas tindakan yang akan dilakukan. Selama pelaksanaan tindakan, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu peneliti juga harus merefleksi kegiatan selama penelitian, apakah sudah berhasil atau harus dilaksanakan penelitian tahap berikutnya atau siklus selanjutnya.
Penelitian tindakan kelas sebenarnya merupakan penilitian yang diawali dari ditemukannya permasalahan dalam sebuah pembelajaran. Permasalahan tersebut merupakan hasil refleksi guru atas proses pembelajaran yang telah dilakukan. Setelah itu guru mulai melakukan perencanaan perbaikan atas pembelajaran yang dinilai belum berhasil. Selanjutnya guru mempersiapkan semua komponen yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Secara garis besar prosedur kerja tersebut dapat dijelaskan dengan bagan berikut ini:

Gambar 3.1. Bagan Prosedur  Kerja Dalam Penelitian


1.      Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan merupakan persiapan yang dilakukan untuk melaksakan penelitian tindakan kelas. Adapun beberapa hal yang harus direncakan sebelum dilaksanakan penelitian antara lain:
a.       Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mata pelajaran matematika dengan materi pokok luas bangun datar (persegi, persegi panjang, dan segitiga) dengan menerapkan model pendekatan PMRI.
b.      Menyusun instrument observasi yang akan digunakan untuk mengamati aktifitas guru dan aktifitas siswaselama proses pembelajaran.
c.       Membuat alat evaluasi yang berupa soal tes yang akan diberikan pada tiap akhir siklus.
2.      Tahap Tindakan
Tahap tindakan merupakan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan ataupun perubahan dengan berdasarkan RPP yang telah disusun sebelumnya.
3.      Tahap Observasi
Observasi merupakan kegiatan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan tindakan. Peneliti yang bertindak sebagai observer dalam tindakan ini melakukan pencatatan atas hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya tindakan kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan.
4.      Refleksi
Dalam tahap refleksi ini peneliti dan guru kelas melakukan evaluasi atas pelaksanaan tindakan yang telah dilaksanakan. Hasil refleksi digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kembali rencana tindakan perbaikan jika masih diperlukan tindakan pada siklus berikutnya. Refleksi dilakukan disetiap siklus tindakan sampai tujuan dari penelitian berhasil.

D.    Indikator Kinerja
Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan dari proses pembelajaran adalah dengan melihat catatan pada lembar observasi yang dilakukan di kelas.sedangkan indikator untuk mengetahui keberhasilan siswa dlam belajar adalah menggunakan KKM secara kelompok atau ketuntasan belajar kelas berdasarkan pencapaian nilai KKM. Penelitian tindakan kelas ini dapat disebut berhasil jika:
     1.      Aktifitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan PMRI mencapai kualifikasi minimal ≥ baik (70%-84%).
    2.      90% dari seluruh siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 mengalami ketuntasan belajar matematika dengan nilai ≥ KKM (65) dan rata-rata kelas ≥65.

E.     Sumber Data
Sumber data merupakan subjek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
     1.      Siswa
Peneliti mendapatkan sumber data dari siswa melalui kegiatan observasi baik sebelum pelaksanaan tindakan, selama pelaksanaan tindakan, maupun sesudah pelaksanaan tindakan. Data yang diperooleh berupa catatan hasil evaluasi dan lembar pengamatan terhadap aktifitas siswa selama pembelajaran.
      2.      Guru
Data diperoleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi terhadap aktifitas guru dalam pembelajaran dengan menerapkan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI)
      3.      Data Dokumen
Sumber data yang berupa dokumen dari data awal hasil ulangan siswa, hasil pengamatan selama pelaksanaan siklus I dan siklus II, serta daftar nilai siswa.

F.     Teknik Pengumpulan Data
Faktor yang paling penting dalam sebuah penelitian adalah teknik pengumpulan data. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
      1.      Teknik Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan atas setiap kejadian yang berlangsung dan dicatat dengan menggunakan lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk mengamati pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Dengan observasi maka dapat diketahui sejauh mana guru dan siswa dapat mencapai tujuan dari pembelajaran yang ingin dicapai. Berikut ini adalah kisi-kisi lembar observasi aktifitas guru dan siswa yang akan digunakan dlam penelitian.
Tabel 3.2. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktifitas Guru
No.
Aspek yang diamati
Jumlah Item
Nomor Soal
1
Menggunakan masalah kontekstual



a.       Guru mengawali pelajaran dengan menyajikan permasalahan kontekstual yang sederhana.
b.      Guru menggunakan alat peraga atau media konkrit dalam menjelaskan materi.
1


1
1a


1b
2
Melaksanakan matematisasi horizontal dan vertikal



a.       Guru memanfaatkan keadaan nyata berupa alat peraga yang tersedia disekitar siswa yang dapat membawa masalah dari dunia nyata kedalam model matematika.
b.      Guru membimbing dan menfasilitasi siswa dalam menyelesaikan masalah dari dunia nyata yang diberikan dengan cara dan bahasa serta simbol mereka sendiri.
1



1
2a



2b
3
Menggunakan kontribusi siswa



a.       Guru membimbing siswa untuk membangun konsep matematika sendiri.
b.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan temannya dalam memecahkan masalah.
1

1
3a

3b
4
Proses pembelajaran yang interaktif



a.       Guru memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengemukakan pendapat/ jawaban mereka yang berbeda.
b.      Guru memberi kesempatan untuk bertanya kepada siswa yang mengalami kesulitan.
1


1
4a


4b
5
Terkait dengan topik lainnya



a.       Guru mengaitkan materi pelajaran matematika dengan materi matematika lainnya dalam memecahkan masalah yang dipelajari.
b.      Guru mengaitkan materi pelajaran matematika dengan materi pelajaran lainnya dalam memecahkan masalah yang dipelajari.
1


1
5a


5b

Tabel 3.3. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktifitas Siswa
No.
Aspek yang diamati
Jumlah Item
Nomor Soal
1
Menggunakan masalah kontekstual



a.       Siswa menggunakan pengalaman yang dimiliki sebelumnya pada awal pembelajaran untuk mengaplikasikan matematika.
b.      Siswa menggunakan permasalahan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari untuk memahami masalah matematika.
1


1
1a


1b
2
Melaksanakan matematisasi horizontal dan vertikal



a.       Siswa memanfaatkan keadaan nyata berupa alat peraga yang tersedia disekitar siswa yang dapat membawa masalah dari dunia nyata kedalam model matematika.
b.      Siswa berusaha menyelesaikan masalah yang diberikan dengan cara dan bahasa serta simbol mereka sendiri.
1



1
2a



2b
3
Menggunakan kontribusi siswa



a.       Siswa membuat kesimpulan dari materi yang sudah dibahas.
b.      Siswa berani mengemukakan pendapat atau gagasan yang disertai alasannya.
1

1
3a

3b
4
Proses pembelajaran yang interaktif



a.       Siswa melakukan diskusi dan bekerjasama dengan sesama temannya.
b.      Siswa berani mencari informasi dari teman maupun guru untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
1

1
4a

4b
5
Terkait dengan topik lainnya



a.       Siswa mengaitkan materi pelajaran matematika dengan materi matematika lainnya dalam memecahkan masalah yang dipelajari.
b.      Siswa mengaitkan materi pelajaran matematika dengan materi pelajaran lainnya dalam memecahkan masalah yang dipelajari.
1


1
5a


5b




     2.      Teknik Tes
Tes merupakan alat yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika. Alat tes yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal evaluasi yang diberikan kepada siswa di setiap akhir siklus. Soal-soal yang diberikan berupa soal pilihan ganda dan isian. Berikut merupakan kisi-kisi soal post test yang diberikan di akhir siklus.
Tabel 3.4. Kisi-kisi Soal Pos Test
No.
Indikator
Bentuk Soal
Nomor Soal
Jumlah Soal
1
Mengidentifikasi benda-benda sekitar yang berbentuk persegi, persegi panjang, dan segitiga.
Pilihan ganda

Isian
1, 4

-
2
2
Mengidentifikasi sifat-sifat bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga.
Pilihan ganda

Isian
2, 3

11, 15
2

2
3
Menentukan luas bangun persegi dengan satuan luas persegi satuan.
Pilihan ganda

Isian
5

12
1

1
4
Menentukan luas bangun persegi panjang dengan satuan luas persegi satuan.
Pilihan ganda

Isian
6

-
1

-
5
Menentukan luas bangun segitiga dengan satuan luas persegi satuan.
Pilihan ganda

Isian
7

-
1

-
6
Menentukan luas bangun persegi dengan menggunakan rumus yang benar.
Pilihan ganda

Isian
8

-
1

-
7
Menentukan luas bangun persegi panjang dengan menggunakan rumus yang benar.
Pilihan ganda

Isian
-

14
-

1
8
Menentukan luas bangun segitiga dengan menggunakan rumus yang benar.
Pilihan ganda

Isian
9

13
1

1
Jumlah soal pilihan ganda
10
Jumlah soal isian
5
Jumlah soal
15

G.    Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keabsahan dari data yang telah terkumpul maka harus dilakukan analisis terhadap data dari hasil penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan teknik statistik deskriptif. “Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi” (Sugiyono, 2011).
     1.      Analisis data hasil observasi terhadap guru dan siswa
Data hasil observasi terhadap guru dan siswa dalam penelitian ini dianalisis dan diukur menggunakan skala jawaban ya dan tidak. Apabila jawaban ya mendapatkan skor 1, dan jika jawabannya tidak mendapatkan skor 0. Kemudian dari jumlah skor tersebut dihitung persentasenya dengan menggunakan rumus berikut:

Setelah didapatkan persentase dari data hasil observasi kemudian ditetapkan kualifikasinya dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 3.5. Taraf Keberhasilan Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran
                 Dengan Pendekatan PMRI
Taraf Keberhasilan
Kualifikasi
85% - 100%
Sangat Baik
70% - 84%
Baik
55% - 69%
Cukup
≤ 54%
Kurang




    2.      Analisis Data Tes Hasil Belajar Siswa
Analisis data tes hasil belajar digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa setelah dilakukan proses pembelajaran matematika dengan diterapkan pendekatan PMRI. Data hasil tes belajar pada tiap akhir siklus dianalisis dengan cara sebagai berikut:
a.       Nilai rata-rata kelas dihitung dengan menggunakan rumus:

b.      Persentase ketuntasan belajar siswa dihitung dengan rumus:






BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Situasi dan Kondisi Tempat Penelitian (Setting)
Untuk memperoleh data penelitian maka penulis melakukan penelitian yang bertempat di SDN Manisharjo 4 yang beralamat di Dusun Baan Desa Manisharjo Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi dengan posisi geografisnya -7.4896 lintang dan 111.1901 bujur. Sekolah ini merupakan  sekolah  milik pemerintah daerah yang dibangun pada tahun 1984. Sekolah terletak di pinggiran desa dan berbatasan langsung dengan sebuah lahan persawahan. Walaupun terletak di pinggiran desa, tetapi sekolah ini mudah dijangkau dengan beberapa jalan alternatif yang dapat dilalui. Tenaga pendidik dan kependidikan di SDN Manisharjo 4 berjumlah 10 orang, yang terdiri dari 1 Kepala Sekolah, 5 guru kelas PNS, 1 guru PAI, dan 3 tenaga guru honorer. Tenaga pendidik di SDN Manisharjo 4 secara keseluruhan telah memenuhi kualifikasi pendidikan S1/ D4 yang sesuai dengan bidang tugasnya. Perkembangan siswa sampai dengan tahun pelajaran 2018/2019 bervariasi dari jumlah dan prestasinya. Akan tetapi semua masih dalam keadaan yang baik.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas IV SDN Manisharjo 4 dengan jumlah siswa sebanyak 15 orang yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Sebelum dilakukan penelitian ini, peneliti telah melakukan observasi dan wawancara dengan guru kelas IV terkait hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Manisharjo 4. Dari hasil observasi tersebut diperoleh informasi dan data hasil belajar matematika pada materi luas bangun datar (persegi, persegi panjang dan segitiga) masih dibawah KKM. Adapun data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1  berikut ini:
Tabel 4.1. Data Hasil Belajar Matematika Siswa kelas IV (Pra Siklus)
Jumlah Siswa
Ketuntasan
Persentase
Rata-rata Kelas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
15
6
9
40%
60%
61
KKM
65

Dari tabel 4.1 tersebut dapat diketahui dari 15 siswa kelas IV terdapat 9 siswa yang belum tuntas belajar atau sama dengan 60%, dan hanya 4 siswa yang sudah tuntas belajar atau sama dengan 40%. Rata-rata nilai kelas juga masih rendah yaitu 61. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika yang telah dilakukan belum berhasil.
Berdasarkan masalah tersebut dapat digunakan refleksi peneliti bahwa  bediperlukan tindakan perbaikan dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan PMRI. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan agar hasil belajar matematika siswa kelas IV dapat mencapai hasil yang maksimal.

B.     Hasil Penelitian
Dalam penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Pada tiap siklus terdiri dari empat tahap tindakan, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan refleksi. Dari setiap siklus diperoleh data hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan data hasil tes hasil evaluasi siswa. Dengan lembar observasi akan diketahui bagaimana aktifitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan tes evaluasi dilakukan agar dapat diketahui peningkatan hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan di setiap siklusnya.
           1.      Siklus I
a.      Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti menyusun perencanaan kegiatan sebagai berikut:
1)      Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) matematika dengan materi luas bangun datar.
2)      Membuat lembar observasi untuk mengamati aktifitas guru dan siswa.
3)      Menyiapkan media dan alat peraga berupa benda-benda sekitar yang mudah ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Menyusun lembar tes evaluasi belajar siswa.
b.      Tahap Pelaksanaan
Penelitian tindakan ini dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2019 pada siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi. Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan sebagai berikut:
1)      Guru menyiapkan perangkat pembelajaran.
2)      Guru membuka pelajaran serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
3)      Guru melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa “ siapa yang tadi pagi bertugas membersihkan ruang kelas?”, “Benda apa saja yang kalian bersihkan?”.
4)      Gurur menunjuk kearah lantai dan daun pintu sambil bertanya,”Berbentuk bangun apakah benda-benda ini?” hal tersebut dilakukan untuk menggali pengetahuan awal siswa mengenai bangun datar.
5)      Siswa diberi kesempatan untuk menjawab dan mengemukakan pendapat mengenai benda tersebut, serta menyebutkan benda-benda lain yang mempunyai bentuk sama.
6)      Guru kembali bertanya “tahukah kalian bagaimana cara menentukan luas bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga)?”.
7)      Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok diskusi. Tiap kelompok terdiri 3 orang siswa.
8)      Guru mengajak siswa untuk menghitung luas lantai yang dibatasi tali hingga membentuk bangun persegi, persegi panjang, segitiga dengan cara menghitung jumlah ubin.
9)      Guru menggambarkan bangun di papan tulis sama dengan lantai yang dibatasi tali.
10)  Siswa berdiskusi dengan kelompoknya, dengan cara masing-masing untuk dapat menghitung luas lantai.
11)  Tiap siswa atau kelompok mencatat jawaban pada lembar kerja kelompok yang telah dibagikan oleh guru.
12)  siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas secara bergantian. Siswa atau kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi atau bertanya kepada kelompok lain.
13)  Setelah seluruh siswa/ kelompok mempresentasikan hasil diskusi kemudian guru bertanya “jawaban mana yang paling mudah untuk menghitung luas bangun tersebut?”
14)  Bertitik tolak dari berbagai jawaban siswa tersebut, guru mengarahkan siswa untuk menemukan rumus luas bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga.
15)  Guru memberikan contoh penerapan dari rumus luas bangun datar.
16)  Guru memberikan tiga soal yang di tulis di papan tulis berkaitan dengan luas bangun untuk diselesaikan siswa. Guru bertanya “siapa yang yang dapat mengerjakan soal ini?, silahkan maju kedepan”.
17)  Siswa yang mengacungkan tangan diberi kesempatan untuk mengerjakan di papan tulis. Jawaban dari tiap siswa dibahas bersama-sama.
18)  Guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
19)  Guru merefleksi pembelajaran yang telah dilakukan serta menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya siswa akan diajak menghitung luas bangun datar dengan satuan baku. Siswa diminta untuk menyiapkan penggari pada pertemuan berikutnya.
20)  Guru membagikan lembar soal evaluasi.
c.       Observasi
Tahap observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya. Dari hasil observasi terhadap aktifitas guru diperoleh data bahwa proses pembelajaran pada siklus I sudah berjalan dengan baik dengan kualifikasi sangat baik. Hal itu dapat dilihat dari skor yang didapatkan yaitu 9 dengan persentase sebesar 90%.
Sedangkan dari hasil observasi terhadap aktifitas siswa diperoleh data bahwa 80% siswa telah aktif mengikuti pembelajaran. Meskipun aktifitas siswa dalam pembelajaran pada siklus I sudah meningkat akan tetapi hasil belajar siswa belum memenuhi target keberhasilan. Hal tersebut terlihat dari hasil tes evaluasi belajar masih terdapat siswa yang nilainya dibawah KKM, sehingga belum tuntas belajar. Berikut ini adalah tabel hasil belajar siwa pada siklus I:

Tabel 4.2. Data Hasil Belajar Matematika Siswa kelas IV pada Siklus I
Jumlah Siswa
Ketuntasan
Persentase
Rata-rata Kelas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
15
10
5
67%
33%
64,6
KKM
65

d.      Refleksi
Setelah dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dapat diketahui beberapa kekurangan dari pembelajaran pada siklus I diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Pembagian kelompok belum heterogen karena hanya diserahkan kepada siswa sehingga pada saat diskusi kelompok yang terdiri dari siswa berkemampuan tinggi lebih cepat dalam menyelesaikan lembar kerja.
2)      Rasa tanggung jawab siswa masih rendah, sehingga pada saat mengerjakan tugas masih saling lempar tanggung jawab dan bahkan beberapa siswa tidak turut serta mengerjakan tugas dan bermain semaunya.
3)      Siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat maupun bertanya kepada guru.
4)      Motivasi belajar siswa masih rendah karena guru sangat jarang memberikan pujian atas segala tindakan positif siswa.
5)      Persentase ketuntasan belajar siswa masih rendah yaitu sebesar 67% sehingga belum mencapai target ketuntasan belajar yang ditentukan yaitu 90% dari siswa harus tuntas belajar.
Berdasarkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada siklus I secara keseluruhan belum berjalan dengan baik, sehingga peneliti dan guru kelas menyusun rencana perbaikan pada siklus II. Upaya perbaikan yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1)      Pembagian kelompok dilakukan oleh guru agar tidak terjadi kesenjangan kemampuan siswa.
2)      Guru menegaskan agar siswa lebih bertanggung jawab dan meningkatkan kerjasama dalam menyelasaikan tugas kelompok.
3)      Guru memotivasi siswa agar tidak takut dalam menyampaikan pendapat maupun bertanya kepada guru.
4)      Guru harus lebih sering memberikan pujian atas segala tindakan positif siswa.
5)      Guru berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan pembelajaran yang sudah direncanakan bersama dengan peneliti.

     2.      Siklus II
Dikarenakan hasil pembelajaran pada siklus satu masih belum memenuhi target maksimal maka peneliti melakukan perbaikan-perbaikan pada rencana pelaksanaan pembelajaran agar hasil yang diharapkan dapat tercapai. Tahapan pada suklis II yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.      Tahap Perencanaan
Rencana perbaikan yang disusun peneliti bersama dengan guru kelas adalah sebagai berikut:
1)      Pembagian kelompok dilakukan oleh guru agar tidak terjadi kesenjangan kemampuan siswa.
2)      Guru menegaskan agar siswa lebih bertanggung jawab dan meningkatkan kerjasama dalam menyelasaikan tugas kelompok.
3)      Guru memotivasi siswa agar tidak takut dalam menyampaikan pendapat maupun bertanya kepada guru.
4)      Guru harus lebih sering memberikan pujian atas segala tindakan positif siswa.
5)      Guru berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan pembelajaran yang sudah direncanakan bersama dengan peneliti.
b.      Tahap Pelaksanaan
Tindakan siklus II ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2019. Adapun kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran pada RPP, yaitu:
1)       Guru menyiapkan perangkat pembelajaran.
2)      Guru membuka pelajaran serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
3)      Guru melakukan apersepsi dengan bertanya kepada siswa “ siapa yang tadi pagi bertugas membersihkan kaca jendela kelas ini?”
4)      Guru menunjuk kearah kaca jendela sambil bertanya,”Berbentuk bangun apakah kaca ini?” hal tersebut dilakukan untuk menggali pengetahuan awal siswa mengenai bangun datar.
5)      Siswa diberi kesempatan untuk menjawab dan mengemukakan pendapat mengenai benda tersebut, serta menyebutkan benda-benda lain yang mempunyai bentuk sama.
6)      Guru kembali bertanya “tahukah kalian bagaimana cara menentukan luas bangun kaca jendela ini?”
7)      Guru membagi siswa untuk kelompok diskusi. Tiap kelompok terdiri 3 orang siswa.
8)      Guru mengajak siswa untuk mengukur benda-benda yang ada dikelas menggunakan penggaris. Benda yang diukur diantaranya: sampul buku (berbentuk persegi panjang), ubin (berbentuk persegi), dan bendera (berbentuk segitiga).
9)      Siswa mencatat hasil pengukuran tersebut dan selanjutnya menentukan luas dengan menggunakan rumus yang sesuai.
10)  Siswa berdiskusi dengan teman kelompoknya.
11)  Tiap siswa atau kelompok mencatat jawaban pada lembar kerja kelompok yang telah dibagikan oleh guru.
12)  Siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas secara bergantian. Siswa atau kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi atau bertanya kepada kelompok lain.
13)  Setelah seluruh siswa/ kelompok mempresentasikan hasil diskusi kemudian guru memberikan koreksi atas jawaban dari tiap kelompok.
14)  Guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang menjawab benar seluruh soal.
15)  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran.
16)  Guru merefleksi pembelajaran yang telah dilakukan serta menginformasikan bahwa pada pertemuan berikutnya siswa akan diajak menghitung luas bangun datar dengan satuan baku. Siswa diminta untuk menyiapkan penggari pada pertemuan berikutnya.
17)  Guru membagikan lembar soal evaluasi.
18)  Guru menutup pelajaran serta memotivasi agar siswa lebih giat dalam belajar.
c.       Observasi
Berdasarkan hasil observasi dari tindakan pada siklus II secara keseluruhan dapat dikatakan telah berhasil. Pembelajaran matematika dengan penerapan PMRI dapat berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan dari hasil observasi terhadap aktifitas guru telah mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 100% dengan kualifikasi sangat baik. Sedangkan aktifitas siswa pada pembelajaran siklus II mengalami peningkatan dengan taraf keberhasilan mencapai 90% dengan kualifikasi sangat baik.
Pada akhir pembelajaran siklus II, guru melakukan pengambilan data hasil belajar siswa melalui soal tes evaluasi. Dari hasil tes tersebut diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.3.Data Hasil Belajar Matematika Siswa kelas IV pada Siklus II
Jumlah Siswa
Ketuntasan
Persentase
Rata-rata Kelas
Tuntas
Belum Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
15
15
0
100%
0%
78
KKM
65

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari hasil belajar siswa adalah 78. Seluruh siswa juga telah mencapai ketuntasan dalam belajar atau 100% telah tuntas belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II telah mencapai ketuntasan.
d.      Refleksi
Dari hasil refleksi terhadap tindakan yang dilakukan pada siklus II didapatkan catatan sebagai berikut:
1)      Pendekatan PMRI telah diterapkan oleh guru dengan sangat baik, dibuktikan dari hasil observasi aktifitas guru mendapatkan skor 10 atau telah mencapai taraf keberhasilan 100%.
2)      Siswa sudah aktif dalam mengikuti pelajaran matematika.
3)      Seluruh siswa yang berjumlah 15 siswa telah mencapai ketuntasan belajar dengan rata-rata kelas 78.
Berdasarkan catatan tersebut membuktikan bahwa pembelajaran pada siklus II telah memenuhi target yang ditetapkan dan sudah berada diatas indikator yang ditentukan, baik proses maupun hasil belajar siswa. Dengan demikian peniliti memutuskan untuk menghentikan tindakan sampai pada siklus II saja.
C.    Pembahasan
Berdasarkan analisis data hasil penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI) dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil observasi terhadap penerapan pendekatan PMRI yang dilakukan guru dan siswa serta hasil tes belajar yang diperoleh siswa yang menunjukkan peningkatan pada tiap siklusnya.
Hasil observasi terhadap aktifitas guru dalam mengajar pada siklus I mendapatkan skor 9 dengan persentase 90% dan mencapai taraf kualifikasi sangat baik. Kemudian di akhir siklus II aktifitas guru meningkat dengan skor 10 dengan persentase 100% dan berada pada taraf kualifikasi sangat baik. Aktifitas siswa pada siklus I mendapatkan skor 8 dengan persentase 80% dan mencapai taraf kualifikasi baik. Kemudian pada akhir siklus II aktifitas siswa meningkat dengan skor yang dicapai 9 dengan persentase 90% dan berada pada taraf kualifikasi sangat baik.
Pembelajaran pada siklus I masih ditemukan permasalahan-permasalahan yang menyebabkan dilanjutkan tindakan siklus II. Permasalahan yang terjadi pada siklus I diantaranya terjadi kesenjangan kemampuan siswa antar kelompok yang disebabkan pembagian kelompok yang tidak heterogen, rasa tanggung jawab siswa masih rendah, siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat, guru jarang member pujian sehingga siswa kurang termotivasi. Permasalahan tersebut kemudian diperbaiki pada tindakan siklus II.
Pada tindakan siklus II pembelajaran dapat berjalan dengan sangat baik karena pembagian kelompok sudah heterogen berdasarkan kemampuan akademik siswa. Pembagian kelompok diskusi yang terdiri dari siswa dengan berbagai tingkatan akademik dianggap lebih efektif, siswa berkemampuan akademik tinggi dapat memberi inspirasi terhadap siswa yang berkemampuan rendah. Siswa mulai aktif mengikuti pembelajaran karena guru sering meberikan pujian kapada siswa yang berani tampil, bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Guru  selalu memberi motivasi kepada siswa yang kurang percaya diri. Hal tersebut sesuai dengan peranan guru sebagai motivator yaitu guru harus merangsang dan memberikan dorongan agar siswa dapat menunjukkan potensi sumber daya yang dimilikinya.  Siswa juga mulai memiliki rasa tanggung jawab dengan adanya pembagian tugas secara jelas karena dengan adanya pembagian tugas kelompok melatih anak untuk berdisiplin dan bertanggung jawab serta melatih kerja sama.
Hasil belajar siswa setelah diterapkan pendekatan PMRI juga meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 33%. Pada siklus I terdapat 10 siswa atau sebesar 67% telah mecapai ketuntasan belajar, dan masih terdapat 5 siswa atau sebesar 33% belum tuntas dengan nilai rata-rata 64,6. Pada siklus II siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar terdapat 15 siswa atau seluruh siswa telah mencapai kentutasan belajar dengan persentase ketuntasan sebesar 100%, dengan nilai rata-rata kelas 78.
Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan menerapkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia pada pembelajaran matematika mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Meningkatnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan pendekatan pendidikan matematika realistik mampu membuat siswa mengalami secara langsung proses pembelajaran. Hal tersebut memberikan bukti bahwa pembelajaran langsung mampu memberikan  kesan yang bermakna kepada siswa. Selain itu aktivitas siswa dalam proses matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal juga mampu membuat siswa berpikir kritis, membangun sendiri pemahamannya sehingga ketika permasalahan yang baru diberikan, siswa mampu menyelesaikannya berdasarkan pengalaman belajar yang telah dialami.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan PMRI mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Hasil analisis tindakan ini mendukung hipotesis tindakan yang diajukan yaitu dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe tahun pelajaran 2018/ 2019.






BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasar pada pembahasan dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa dengan penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI) mampu meningkatkan proses pembelajaran serta hasil belajar Matematika siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi. Hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika siklus I dan siklus II. Pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 67 dan kemudian meningkat pada siklus II yaitu 78. Ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan hingga 33%, yang awalnya sebanyak 9 siswa atau sebanyak 67% pada siklus I, meningkat pada siklus II menjadi 15 siswa atau 100% siswa mencapai ketuntasan belajar. Dari hasil tersebut dapat dikatakan telah melebihi batas indikator yang telah ditetapkan yaitu 90% siswa tuntas.

B.     Saran
Setelah dilakukan penelitian ini, penulis menyampaikan beberapa saran kepada pembaca sebagai berikut:
   1. Pada pembelajaran Matematika sebaiknya guru memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui berbagai macam pendekatan. Salah satu pendekatan belajar yang sesuai yaitu dengan pendekatan PMRI.
   2. Seharusnya guru memahami lingkungan sehari-hari siswa karena PMRI menekankan penggunaan benda nyata yang dilihat siswa dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Kreatifitas guru dalam menyusun soal-soal yang disajikan dalam diskusi merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan.
Artikel Menarik Lainnya




Share This :

0 komentar

 Recent

Website ini Dilindungi oleh DMCA