Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Manajemen Sekolah


1. Pengertian dan Fungsi Manajemen
Istilah manajemen memiliki banyak arti, bergantung pada orang yang mengartikannya. Istilah manajemen sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan berbeda; pertama, mengartikan administrasi lebih luas daripada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat manajemen lebih luas dari pada administrasi; dan ketiga, pandangan yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. Dalam tulisan ini kata manajemen diartikan sama dengan kata administrasi atau pengelolaan, meskipun kedua istilah tersebut sering diartikan berbeda. Dalam berbagai kepentingan, pemakaian kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, demikian halnya dalam berbagai literatur, acapkali dipertukarkan. Berdasarkan fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. Karena itu, perbedaan kedua istilah tersebut tidak konsisten dan tidak signifikan.
Secara etimologi, dalam bahasa Indonesia belum ada keseragaman mengenai terjemahan terhadap istilah "management" hingga saat ini terjemahannya sudah banyak dengan alasan-alasan tertentu seperti pembinaan, pengurusan, pengelolaan ketatalaksanaan, manajemen dan management. Hal yang sama dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
a. Menurut M. Manullang bahwa istilah manajemen terjemahannya dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum ada keseragaman. Berbagai istilah yang dipergunakan" seperti: ketatalaksanaan, manajemen, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. 
b. Dalam Kamus Ekonomi, management berarti pengelolaan, kadang¬kadang ketatalaksanaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manajemen berarti penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.
Menurut terminologi, bahwa istilah manajemen hingga kini tidak ada standar istilah yang disepakati. Istilah manajemen diberi banyak arti yang berbeda oleh para ahli sesuai dengan titik berat fokus yang dianalisis. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:
a. Manajemen seperti dikemukakan George. R. Terry adalah
Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources. (manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain).
b. Menurut E. Mulyasa manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang.
Berdasarkan beberapa rumusan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan tertentu melalui atau dengan cara menggerakkan orang-orang lain.
Dalam proses pelaksanaannya, manajemen mempunyai tugas-tugas khusus yang harus dilaksanakan. Tugas-tugas khusus itulah yang biasa disebut sebagai fungsi-fungsi manajemen. Berkaitan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, berikut ini akan dipaparkan beberapa pendapat para ahli manajemen.
1. George R. Terry (Disingkat POAC)
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Actuating (Penggerakan)
d) Controlling (Pengendalian). 
2. Koont O' Donnel and Niclender:
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Stafing (Penyusunan pegawai)
d) Directing (Pemberian bimbingan)
e) Controlling (Pengendalian).
3. Newman
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasi)
c) Assembling (Perwakilan)
d) Resources (Penggalian sumber)
e) Directing (Pemberian bimbingan)
f) Controlling (Pengendalian).
4. Henri Fayol
a) Forecasting and Planning (Forkasting dan perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Commanding (Perintah) 
d) Coordinating (Koordinasi)
e) Controlling (Pengawasan).
5. Herbert G. Hicks
a) Creating (Kreasi)
b) Planning (Perencanaan)
c) Organizing (Pengorganisasian)
d) Motivating (Motivasi)
e) Communicating (Komunikasi)
f) Controlling (Pengawasan).
6. Luther Culick (Disingkat POSDCORB)
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Stafing (Penyusunan pegawai)
d) Directing (Pemberian Bimbingan)
e) Coordinating (Pengkoordinasian)
f) Reporting (Pelaporan)
g) Budgeting (Penganggaran). 
7. James A.F. Stoner
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Leading (Pemimpinan)
d) Controlling (Pengendalian).
8. Harold Koontz
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Stafing (Penyusunan pegawai)
d) Leading (Pemimpinan)
e) Controlling (Pengendalian).
9. Sondang P. Siagian
a) Planning (Perencanaan)
b) Organizing (Pengorganisasian)
c) Motivating (Pemberian motivasi)
d) Controlling (Pengendalian)
e) Evaluating (Penilaian).
Dalam konteksnya dengan manajemen pendidikan bahwa menurut E. Mulyasa manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Proses pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi.
Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efisien. Konsep tersebut berlaku di sekolah yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien. kerangka inilah tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen, yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungj awabkan, mengatur, serta memimpin sumber-sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. Manajemen juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru, serta kebutuhan masyarakat setempat. Untuk itu, perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Selanjutnya, keempat fungsi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: perencanaan merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Perencanaan juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematik disusun dan dirumuskan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat dipergunakan sebagai pedoman kerja. Dalam perencanaan terkandung makna pemahaman terhadap apa yang telah dikerjakan, permasalahan yang dihadapi dan alternatif pemecahannya, serta untuk melaksanakan prioritas kegiatan yang telah ditentukan secara proporsional. Perencanaan program pendidikan sedikitnya memiliki dua fungsi utama, pertama, perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber¬sumber yang dapat disediakan; kedua, perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Rencana yang telah disusun akan memiliki nilai jika dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan, setiap organisasi harus memiliki kekuatan yang mantap dan meyakinkan sebab jika tidak kuat, maka proses pendidikan seperti yang diinginkan sulit terealisasi.
Pengawasan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan; merekam; memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat; serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan, merupakan kunci keberhasilan dalam keseluruhan proses manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu, dan tidak terbatas pada hal-hal tertentu.
Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut dilaksanakannya keempat fungsi pokok manajemen tersebut secara terpadu dan terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan. Melalui manajemen sekolah yang efektif dan efisien tersebut, diharapkan dapat memberikan konstribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran secara keseluruhan.
Adapun maksud fungsi-fungsi manajemen dalam tesis ini yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan controlling dalam peningkatan mutu pembelajaran. Berdasarkan hal itu, tiap fungsi manajemen dapat dirinci yaitu pertama, dalam hal perencanaan maka, apa yang hendak dikerjakan dalam peningkatan mutu pembelajaran, siapa yang mengerjakannya, kenapa dikerjakan, dimana dikerjakannya, kapan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya (5 W + 1 H). Kedua, pengorganisasian menyangkut susunan, pembagian tugas dan wewenang para pengurus dalam peningkatan mutu pembelajaran. Ketiga, penggerakkan menyangkut motivasi, bimbingan, perilaku manusia, kepemimpinan, komunikasi, hubungan manusia dalam peningkatan mutu pembelajaran.
Dengan perkataan lain dalam penggerakkan ini merupakan usaha kepala sekolah untuk mencapai tujuan sekolah dengan cara menggerakkan atau memberikan perintah dan koordinasi kepada seluruh tenaga pendidik dalam peningkatan mutu pembelajaran. Keempat, controlling, maka hal ini menyangkut evaluasi terhadap fungsi-fungsi manajemen dalam peningkatan mutu pembelajaran.

2. Ciri-Ciri Pemimpin dan Kepemimpinan Situasional
Kata "kepemimpinan" terjemahan dari bahasa Inggris "leadership". Kata ini sering terdengar dalam percakapan orang, dalam pertemuan¬pertemuan, dari radio, televisi dan sebagainya. Dalam bahasa Arab disebut dengan istilah khilafah, imarah, ziamah atau imamah. Secara etimologi, kepemimpinan berarti daya memimpin atau kualitas seorang pemimpin atau tindakan dalam memimpin itu sendiri.
Tidaklah mudah untuk merumuskan definisi kepemimpinan, sebab tergantung dari segi mana meninjaunya. Sebagai pegangan awal tidak ada salahnya bila secara umum dan populer, kepemimpinan diberi arti di antaranya: 
a. Menurut George R. Terry
Leadership is the relationship in which one person, the leader, influences others to work together willingly on related taks to attain that which the leader desires.
b. Menurut Heri Joewono, kepemimpinan diartikan sebagai suatu cara dan metode seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain sedemikian rupa sehingga orang tersebut dengan sadar mengikuti dan mematuhi segala kehendaknya.
c. Menurut Hoyt yang dikutip Moekiyat, kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia; kemampuan untuk membimbing orang.
d. Menurut Miftah Thoha, kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari beberapa perumusan yang berbeda tersebut, terlihat bahwa dalam suatu kepemimpinan terdapat tiga unsur:
a. Unsur manusia sebagai pemimpin atau sebagai yang dipimpin. 
b. Unsur sarana merupakan semacam prinsip dan teknik kepemimpinan yang dipakai dalam pelaksanaannya termasuk bekal pengetahuan yang dimiliki.
c. Unsur tujuan yang merupakan sasaran akhir ke arah mana kelompok manusia akan digerakkan.
Muhadi Zainuddin dan Abd Mustaqim menyatakan bahwa unsur¬unsur dalam kepemimpinan antara lain meliputi: 1) Pemimpin. 2) Anggota yang dipimpin, 3) Sistem dan Mekanisme Kepemimpinan, 4) Tujuan atau Visi dan Misi.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan atau seni untuk mempengaruhi perilaku orang-orang yang dipimpin agar mau bekerja menuju kepada satu tujuan yang ditetapkan atau diinginkan bersama.
Fakta-fakta sejarah telah cukup memberi bukti, bahwa kepemimpinan itu sepanjang zaman merupakan persoalan yang penting bagi umat manusia. Kelangsungan hidup atau timbul tenggelamnya suatu bangsa atau negara dalam sejarah itu ternyata amat dipengaruhi oleh para pemimpin-pemimpinnya, yaitu pemimpin-pemimpin negara, pemimpin¬pemimpin agama dan pemimpin-pemimpin lainnya dalam masyarakat. Bahkan tiap-tiap zaman lebih terkenal nama pemimpin-pemimpin daripada nama negara-negaranya, seperti misalnya nama-nama Airlangga, Kartanegara, Jayakatwang, Ken Arok, Pangeran Diponegoro lebih dikenal daripada nama-nama negaranya seperti Kahuripan, Singosari, Kediri yang dipimpinnya. 
Ralph M. Stogdill dalam bukunya Personal Factor Associated with Leadership yang dikutip oleh James A. Lee dalam bukunya Management Theories and Prescriptions, menyatakan bahwa seorang pemimpin harus memiliki beberapa kelebihan:
a). Kapasitas, seperti kecerdasan, kewaspadaan kemampuan berbicara atau verbal facility, kemampuan menilai. 
b). Prestasi, seperti gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan dalam olahraga, dan lain-lain.
c). Tanggung jawab, seperti mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif, dan punya hasrat untuk unggul.
d). Partisipasi, seperti aktif, memiliki sosiabilitas yang tinggi, mampu bergaul, suka bekerja sama, mudah menyesuaikan diri, dan punya rasa humor.
e). Status yang meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi, populer, tenar.
Robert B. Myers melakukan studi tentang hal yang sama dengan Ralph M. Stogdill dengan menghasilkan kesimpulan:
a). Sifat-sifat jasmaniah manusia tidak ada hubungannya dengan leadership.
b). Walaupun pemimpin cenderung untuk lebih tinggi dalam kecerdasan daripada orang yang dipimpinnya, akan tetapi tidak ada hubungan yang berarti antara kelebihan kecerdasan tersebut dengan soal kepemimpinan itu.
c). Pengetahuan yang dimanfaatkan untuk memecahkan problem yang dihadapi kelompok yang dipimpin merupakan bantuan yang sangat berarti pada status kepemimpinan. 
d). Ciri dan watak yang mempunyai korelasi dengan kepemimpinan adalah: kemampuan melihat problem yang dihadapi, inisiatif, kerja sama, ambisi, ketekunan, emosi yang stabil, popularitas, dan kemampuan berkomunikasi.
Kaum Dinamika Kelompok berpendapat, bahwa terdapat ciri-ciri yang harus dimiliki pemimpin secara umum:
a). Persepsi sosial (social perception) :
Yang dimaksud dengan persepsi sosial adalah kecakapan untuk cepat melihat dan memahami perasaan, sikap, kebutuhan anggota kelompok. Persepsi sosial diperlukan untuk melaksanakan tugas pemimpin sebagai penyambung lidah anggota kelompoknya dan memberikan patokan yang menyeluruh tentang keadaan di dalam maupun di luar kelompok. Contoh pts kepala sekolah sd pdf
b). Kemampuan berpikir abstrak (ability in abstract thinking)
Kemampuan berpikir abstrak diperlukan dalam menafsirkan kecenderungan kegiatan di dalam kelompok dan keadaan di luar kelompok dalam hubungannya dengan realisasi tujuan-tujuan kelompok. Untuk itu diperlukan ketajaman penglihatan dan kemampuan analitis yang didampingi oleh kemampuan mengabstraksi dan mengintegrasikan fakta-fakta interaksi sosial di dalam maupun di luar kelompok. Kemampuan tersebut memerlukan adanya taraf inteligensia yang tinggi pada seorang pemimpin.
c). Kestabilan emosi (emotional stability)
Pada dasarnya harus terdapat suatu kematangan emosional yang berdasarkan pada kesadaran yang mendalam tentang-kebutuhan, keinginan, cita-cita serta pengintegrasian semua itu ke dalam kepribadian yang bulat dan harmonis. Kematangan emosi diperlukan untuk dapat merasakan keinginan dan cita-cita anggota kelompok secara nyata dan untuk dapat melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan yang lain secara wajar. 
Selain melakukan penelitian melalui pendekatan sifat dan ciri kepribadian, para ahli juga mengadakan penelitian melalui pendekatan-pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan dari sudut pembawaan
Berdasarkan pendekatan di atas, Gordon Lippit mengemukakan sebagai berikut: "Leader are the great man who are born that who and make history" (Pemimpin itu adalah "orang besar" yang dilahirkan dan membuat sejarah. Dengan kata lain, kepemimpinan itu tidak bisa dibentuk melalui pendidikan dan latihan karena merupakan sifat dan watak bawaan.
2. Pendekatan berdasarkan pada keadaan
Pendekatan ini menggunakan hipotesis bahwa tingkah laku seorang pemimpin dalam suatu keadaan akan berbeda bila ia berada dalam keadaan lain. Melalui pendekatan ini dapat disimpulkan bahwa diperlukan fleksibilitas dalam memilih pemimpin demikian juga kepekaannya dan pendidikannya. 
3. Pendekatan berdasarkan peranan fungsional 
Pendekatan ini menyatakan bahwa kepemimpinan itu terjadi bila berbagai macam tugas pekerjaan dapat dilaksanakan dan dipelihara dengan baik, serta fungsi atau tugas tersebut dapat pula dilaksanakan oleh si terpimpin dengan jalan kerja sama. 
4. Pendekatan berdasarkan gaya kepemimpinan.
Menurut Shaleh, sifat, ciri atau nilai-nilai pribadi yang hendaknya dimiliki oleh pemimpin da'wah itu antara lain adalah sebagai berikut: (1). Berpandangan jauh ke masa depan, (2).Bersikap dan bertindak bijaksana, (3). berpengetahuan luas, (4). bersikap dan bertindak adil, (5). berpendirian teguh, (6).mempunyai keyakinan bahwa missinya akan berhasil, (7).berhati ikhlas, (8). memiliki kondisi fisik yang baik, (9). mampu berkomunikasi. 
Pendekatan atau teori kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard berdasarkan teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Pendekatan situasional biasa disebut juga pendekatan kontingensi. Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung pada atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tiap-tiap organisasi atau lembaga memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau lembaga yang sejenis pun akan menghadapi masalah yang berbeda karena lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda. Situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Karena banyaknya kemungkinan yang dapat dipakai dalam menerapkan perilaku kepemimpinan itu sesuai dengan situasi organisasi atau lembaga, maka pendekatan situasional ini disebut juga pendekatan kontingensi; sesuai dengan kata kontingensi yang berarti kemungkinan.
Sesuai dengan pendapat Hersey dan Blanchard, pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi ini merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat universal, dan pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu.
Salah satu faktor yang menunjukkan adanya perbedaan situasi organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok atau bawahan. Tinggi-rendahnya tingkat kematangan kelompok turut menentukan ke mana kecenderungan gaya kepemimpinan seorang pemimpin harus diarahkan. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan di sini: Seorang kepala sekolah atau kepala kantor yang sebagian besar anak buahnya berpendidikan sarjana, perilaku kepemimpinan yang diterapkannya akan berbeda dengan, misalnya, jika anak buahnya itu pada umumnya hanya berpendidikan SMTP atau SMTA. Seorang kepala sekolah yang memimpin SMA di Jakarta sudah barang tentu akan menerapkan perilaku kepemimpinan yang berbeda dengan kepala SMA di daerah Cianjur, misalnya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan situasi yang ada pada lembaga itu masing-masing.
Demikianlah betapa banyak faktor yang dapat menimbulkan adanya perbedaan-perbedaan situasi tiap organisasi atau lembaga, yang selanjutnya dapat mempengaruhi perilaku kepemimpinan. Dalam hubungan ini, berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan antara lain sifat pribadi pemimpin; sifat pribadi bawahan; sifat pribadi sesama pemimpin; struktur organisasi; tujuan organisasi; kegiatan yang dilakukan; motivasi kerja; harapan pemimpin maupun bawahan; pengalaman pemimpin maupun bawahan; adat, kebiasaan, tradisi, budaya lingkungan kerja; tingkat pendidikan pemimpin maupun bawahan; lokasi organisasi di kota besar, kota kecil, atau desa; kebijaksanaan atasan; teknologi, peraturan perundangan yang berlaku; ekonomi, politik, keamanan yang sedang berlangsung di sekitarnya. 
Para ahli filsafat dan ahli teori sosial telah berusaha untuk menyimpulkan pandangannya dengan mengajukan bermacam-macam tipologi kepemimpinan. Di dalam In The Republic, Plato sebagaimana dikutip Mar'at mengajukan tiga tipe kepemimpinan:
1. Ahli filsafat, negarawan yang memerintah republik dengan penalaran dan keadilan.
2. Militer, untuk mempertahankan negara dan pelaksana kebijaksanaan.
3. Pedagang, menyediakan kebutuhan material penduduk.
Sepanjang diketahui sekarang ini, para pemimpin dalam berbagai bentuk organisasi dapat digolongkan kepada lima golongan (lima tipe pemimpin). Tipe-tipe itu ialah:
a. Tipe pemimpin yang otokratis,
b. Tipe pemimpin yang militeristis,
c. Tipe pemimpin yang paternalistis,
d. Tipe pemimpin yang kharismatis, dan
e. Tipe pemimpin yang demokratis.
(1) Tipe otokratis
Kepemimpinan secara otokratis artinya pemimpin menganggap organisasi sebagai milik sendiri. Ia bertindak sebagai diktator terhadap para anggota organisasinya dan menganggap mereka itu sebagai bawahan dan merupakan sebagai alat, bukan manusia.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah seorang pemimpin yang:
a. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi;
b. mengindentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
c. menganggap bawahan sebagai alat semata-mata;
d. tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
e. terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya; 
f. dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur paksaan dan punitive (bersifat menghukum).
Dari sifat-sifat tersebut di atas jelas terlihat bahwa tipe pemimpin yang demikian tidak tepat untuk suatu organisasi modern dimana hak-hak asasi manusia yang menjadi bawahan itu harus dihormati. Menurut G.R. Terry, kepemimpinan berdasarkan teori ini menekankan perintah-perintah, paksaan-paksaan dan tindakan¬tindakan yang agak arbiter pada hubungan pemimpin yang bersangkutan dengan pihak bawahan.
(2) Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat:
a. dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;         
b. dalam menggerakkan bawahan senang .bergantung kepada pangkat dan jabatannya;
c. senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan ;
d. menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan ;
e. sukar menerima kritikan dari bawahannya;
f. menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Terlihat pula dari sifat-sifat tersebut bahwa seorang pemimpin yang militeristis bukanlah seorang pemimpin yang ideal.
(3) Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seseorang yang:
a. menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
b. bersikap terlalu melindungi (overly protective);
c. jarang memberikan kesempatan mengambil keputusan;
d. jarang memberikan kesempatan mengambil inisiatif;
e. jarang memberikan kesempatan
f. sering bersikap maha tahu.
Harus diakui bahwa untuk keadaan tertentu, seorang pemimpin yang demikian sangat diperlukan, akan tetapi sifat¬sifatnya yang negatif mengalahkan sifat-sifatnya yang positif. Contoh penelitian tindakan sekolah bagi kepala sekolah pdf
(4) Tipe Kharismatis
Hingga sekarang ini para sarjana belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.
Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab-musabab seseorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (superanatural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk kharisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya. Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisiknya sehat. John F. Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki kharisma, meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang "ganteng".
(5) Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern karena:
a. dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;
b. selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya;
c. ia senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya;
d. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan;
e. dengan ikhlas memberikan kebebasan yang, seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian dibanding dan diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, akan tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain;
f. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya
g. berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai. Akan tetapi karena pemimpin yang demikianlah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.
3. Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru di sekolah untuk meningkatkan produktivitas kerja demi mencapai tujuan, dan mewujudkan visi menjadi aksi. Dalam kaitannya dengan peran kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, perlu dipahami bahwa setiap kepala sekolah bertanggung jawab mengarahkan apa yang baik bagi tenaga kependidikan, dan dia sendiri harus berbuat baik. Kepala sekolah juga harus menjadi contoh, sabar dan penuh pengertian. Fungsi pemimpin hendaknya diartikan seperti motto Ki Hadjar Dewantara: Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani (di depan menjadi teladan, di tengah membina kemauan, di belakang menjadi pendorong/memotivasi).
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok dalam usaha menuju pencapaian tujuan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan pada setiap harinya memiliki tugas pokok mempengaruhi, mendorong, mengajak guru-guru dan staf lainnya agar mereka bersedia berbuat sesuatu yang dapat menyokong pencapaian tujuan sekolah sebagai suatu institusi. 
Dalam memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah merupakan kunci keberhasilan yang harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orang tua dan masyarakat tentang sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan mengembangkan hubungan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan yang harmonis ini akan membentuk 1) saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja; 2) saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing; 3) kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah. 
Kepala sekolah profesional tidak saja dituntut untuk melaksanakan berbagai tugasnya di sekolah, tetapi ia juga harus mampu menjalin hubungan/kerja sama dengan masyarakat dalam rangka membina pribadi peserta didik secara optimal. Kerja sama ini penting karena banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sekolah secara sepihak, atau sering terjadi kesalahpahaman, perbedaan persepsi antara pihak sekolah dengan masyarakat. Misalnya, dalam masalah agama yang akhir-akhir ini banyak dipersoalkan dalam RUU, sekolah bisa saja memberikan informasi tentang agama lain kepada peserta didik, misalnya dalam acara ''religion fair", "spiritual fair" atau "pekan raya agama", tetapi mungkin orang tua tidak bisa menerima hal tersebut. Bahkan bisa saja orang tua menyalahkan sekolah, karena memberikan informasi tentang agama lain kepada anaknya. Download penelitian tindakan sekolah sd Lebih parah lagi kalau orang tua langsung mencabut anaknya, dan memindahkannya ke sekolah lain. Ini semua bisa terjadi kalau hubungan antara sekolah dengan masyarakat tidak cair, sehingga orang tua tidak mengerti atau tidak mau mengerti apa yang terjadi di sekolah, dan rencana apa yang akan dilakukan sekolah pada masa yang akan datang.
Hubungan sekolah dengan masyarakat yang selama ini terjadi hanya sebatas pemberitahuan pungutan dana, atau pengambilan buku laporan pendidikan. Itu pun kalau di kota-kota banyak yang diwakili oleh sopir atau pembantu.
Dalam hal ini kepala sekolah harus mampu mencari jalan ke luar untuk mencairkan hubungan sekolah dengan masyarakat yang selama ini terjadi, agar masyarakat khususnya orang tua peserta didik bisa mengerti, memahami dan maklum dengan ide-ide serta visi yang sedang berkembang di sekolah. Hal ini bisa dilakukan oleh pihak sekolah dipimpin oleh kepala sekolah, misalnya melalui dialog rutin antara pihak sekolah dengan orang tua, sehingga mereka bisa memahami kondisi sekolah dengan berbagai permasalahannya.  Lebih dari itu, diharapkan masyarakat bisa membantu sekolah dalam mewujudkan visi dan tujuannya.

Disadari memang bahwa partisipasi masyarakat terhadap pendidikan masih relatif rendah (utamanya dalam hal sumbangan pemikiran), meskipun sudah ada wadah-wadah dan saluran-saluran ke arah peningkatan partisipasi tersebut. Wadah-wadah tersebut antara lain POMG dan BP-3, yang -sekarang berkembang menjadi Komite Sekolah dan Dewan pendidikan. Meskipun wadah yang baru ini berbeda visi dan misinya, tetapi substansinya sama, yakni menjalin hubungan antara sekolah dengan masyarakat. Kita berharap wadah dan saluran atau lembaga-lembaga baru tersebut bisa menjembatani kesenjangan antara sekolah dengan orang tua/masyarakat. Namun demikian, semua itu kembali kepada niat kedua belah pihak dalam memajukan pendidikan dan pembangunan masyarakat pada umumnya, khususnya dalam pengembangan pribadi anak-anak. Oleh karena itu kita (pihak sekolah) harus berani memulai dari awal, sejak penerimaan murid baru (PMB) misalnya. Contoh Laporan PTS doc Dalam hal ini pihak sekolah harus memiliki program yang jelas, yang bisa ditawarkan kepada masyarakat. Selama ini kita maklum bahwa sekolah terlalu berorientasi pada kegiatan-kegiatan kurikuler atau akademis, yang lebih dipersempit lagi pada pemindahan pengetahuan (mengisi kepala anak dengan sejumlah pengetahuan tertentu). Demikian halnya masyarakat, perhatiannya hanya terfokus pada kondisi sekolah, sehingga perhatiannya hanya terfokus pada bagaimana agar anaknya mendapat nilai ujian yang tinggi. Kondisi semacam ini yang telah melahirkan budaya nyontek di kalangan peserta didik, kebocoran¬kebocoran di pihak pengelola, yang pada akhirnya bermuara pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Di sinilah pentingnya kepala sekolah profesional tampil sebagai pigur yang harus mampu memimpin tenaga kependidikan di sekolah, agar bisa bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat pada umumnya.  Karena itulah, kepala sekolah dituntut untuk mampu menciptakan iklim yang kondusif demi lahirnya partisipasi dan kolaborasi masyarakat secara profesional; transparan- dan demokratis. Dengan cara demikianlah, kita akan memulai memperbaiki kualitas pendidikan dan mengembangkan anak bangsa untuk masa depan.

Berlangganan via Email