Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Siapakah Mariyadi ? Kisah Inspiratif Untuk Negeri Pemilik www.mariyadi.com





Di dunia ini tentu saja banyak sekali orang yang merasa kurang beruntung, hidup penuh kesialan, hidup miskin, hidup tak berguna dan lain sebagainya. Jika hal itu terjadi biasanya mereka menyalahkan orang tua sebagai penyebaabya. Mengapa orang tua melahirkan mereka dalam keadaan miskin, dalam keadaan serba terbatas? Mengapa tidak terlahir sebagai anak orang kaya raya yang jika ingin apa-apa tinggal minta, ingin belanja tinggal gesek kartu kredit maupun ATM saja?
 
Siapakah Mariyadi ? Kisah Inspiratif Untuk Negeri Pemilik www.mariyadi.com
Bagi orang-orang yang tidak pandai bersyukur tentu akan mengeluarkan ungkapan seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa Allah SWT melahirkan kita ke muka bumi ini lengkap dengan kelebihan dan kekurangan. Allah memberi kita hidup dan memposisikan kita entah itu sebagai orang kaya maupun orang miskin itu merupakan sudah kehendak Allah, dan Allah tahu yang terbaik untuk kita. Kita syukuri saja. Yang perlu kita yakini adaah bahwa hidup, mati, jodoh dan rejeki itu adalah di tangan Allah, segala yang terjadi sudah menjadi takdir sang kuasa sehingga kita tidak bisa mengelaknya. Manusia didunia hanya tinggal menjalani saja dengan sepenuh hati, usaha yang keras dan terus berdoa. Tanpa usaha, doapun tidak akan terkabul begitu juga dengan usaha yang tidak dibarengi dengan doa juga akan sia-sia.


Bagi sobat yang mungkin sedang mengalami keadaan dalam kesusahan dan kekurangan janganlah putus asa. Tetap berdo’a dan berusaha untuk mencapai cita-cita, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha dan berdo’a dengan keras untuk memperbaiki hidupnya. Pada kesempatan ini saya akan memberikan sedikit kisah inspiratif yang mungkin akan berguna bagi sobat semua. Kali ini akan saya sajikan kisah inspiratif dari penulis sendiri yang faktanya pun sudah terjadi dan mungkin bisa menjadi penguat hati sobat. Artikel ini saya beri judul, "Siapakah Mariyadi ? Kisah Inspiratif Untuk Negeri Pemilik www.mariyadi.com"





Pada saat itu terlahirlah saya bernama Mariyadi di sebuah gubuk kecil nan reyot di kaki gunung Lawu. Tepatnya di sebuah dukuh Mangir, desa Ngrendeng, kecamatan Ngrendeng, kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur.
Foto penulis dari masa ke masa
Anak dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai seorang pedagang Tape singkong yang biasa berjualan di pasar Walikukun. Sebuah profesi mulia yang sudah ditekuni kurang lebih 30 tahun. Seorang bapak yang berprofesi sebagai seorang perangkat desa tepatnya polo uceng di desa Ngrendeng. Namun entah karena alasan apa, profesi itu tiba-tiba dicopot oleh otoritas setempat tanpa diketahui apa penyebabnya. Setelah kehilangan pekerjaan yang selain menjadi ladang pencarian rejeki juga sebagai tempat untuk beramal dalam bidang kemasyarakatan hilang begitu saja, bapak mengalamai depresi berat hingga akhir hayatnya. 27 tahun lebih bapak mengalami hal itu.

Saya empat bersaudara. Dibesarkan oleh seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang tape yang hasilnya cukup kurang untuk ukuran enam anggota keluarga tentunya sangat kurang. Sebagai anak paling kecil, saya tahu persis betapa kerasnya usaha kakak-kakak saya untuk turut bekerja membanting tulang membantu perekonomian keluarga. Sampai mereka tak menghiraukan masa depan mereka sendiri. Kakak yang pertama tak lulus SD, almarhum kakak kedua hanya lulus SMP, sedangkan kakak ketiga saya yang merupakan stu-satunya kakak perempuan saya pada saat dia masih kelas 3 SD terpaksa dititipkan orang tua untuk diasuh oleh bude saya yang tinggal di Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar karena tak mampu membiayai hidupnya meskipun sekedar memberi makan.

Saya termasuk telat masuk sekolah SD. Jika idealnya usia masuk SD adalah usia 5-6 tahun, pada usia sekitar 8 tahun saya baru berkesempatan untuk bersekolah. Pada waktu itu, ibu memutuskan untuk menitipkan saya di sebuah sekolah swasta di desa Blibar yang bernama MI Muhammadiyah Ngrendeng. Masuk tahun 1991 dan lulus tahun 1997. Saya sangat tak berprestasi dalam bersekolah. Maklum, tiap hari hanya makan singkong, kadang ketemu nasi dengan lauk tempe bosok pun sudah bersyukur.


Memasuki kelas 3 SD saya harus sudah kenal dengan apa itu yang namanya kerja keras. Untuk biaya sekolah, membantu orang tua maupun untuk membeli makan. Kerja buruh petik cengkeh, cari rumput untuk kemudian dijual, buruh ngosek srapah bahan utama pembuatan tape, buruh angkut pikul batu, batu bata maupun genteng kepada tetangga juga saya  kerjakan.

Sebelum buruh ke tetangga, saya terlebih dulu mengutamakan pekerjaan saya sendiri yaitu membersihkan kotoran kambing dan mencari rumput untuk ternak kambing saya. Pada pagi hari sekitar pukul 03.00, dan itu saya lakukan setiap pagi, dimana untuk anak-anak seumuran saya sedang terlelap dalam tidurnya dan sedang bermimpi indah, saya harup bangun untuk memikul 2 tenggok tape yang mempunyai berat antara 30-40 Kg. Jarak yang haru saya tempuh cukup jauh. Antara 5-6 km dari rumah saya. Saya pikul pelan-pelan dari rumah menuju tempat lapang dipinggir jalan raya Ngrambe – Sine tepatnya di jembatan Mbaron denga penerangan seadanya. Kadang  obor,  kadang senter jika punya uang untuk beli batrei. Sebuah pekerjaan berat untuk anak usia saya pada waktu itu. Hal itu saya lakukan dengan alasan yang sangat responsive. “Daripada tape-tape ini dinaikkan mobil angkutan mending saya pikul saja supaya uang angkutnya bisa buat bayar SPP sekolah saya dan beli beras”.




Tahun 2007 lulus dari MI Muhammadiyah Ngrendeng dengan bekal niat kuat untuk belajar saya mendaftar sekolah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggal saya. Yah, saya bersekolah di MTsN Ngrambe yang berlokasikan di desa Sambirejo. Bersekolah disana tak juarapun juga gak apa. Saya memaklumi akan keadaan saya. Kerja keras sepulang sekolah hingga berangkat sekolah lagi dengan uraian saya diatas sangat tidak mungkin bagi saya untuk mendapatkan ranking di sekolah.

Tahun 2000 lulus dari MTsN Ngrambe yang berlokasikan di desa Sambirejo, saya kebingungan. Mau kemana ya saya??

Namun dalam hati kecil saya rasa ingin untuk melanjutkan sekolah lagi itu ada.
Ibu saya telah lama menderita harus kerja keras sendiri dengan menekuni pekerjaannya. Dia menyuruh saya untuk  pergi mencari kerja di Jakarta. Entah itu jadi pelayan took, jadi kacuung maupun jadi apalah yang penting dapat kerjaan dan dapat membantu perekonomian keluarga.

Sejak  kelas 1 SMP, saya juga buruh mememelihara sapi kakak kedua saya yang bekerja di Bogor sebagai tukang kebun di Villa. Jika didaerah saya, istilah kerja seperti itu namanya “Nggadoh” sapi. Yang mana system bagi hasil anak yang dilahirkan sapi itu.

Saat lulus dari MTsN Ngrambe saya berkeinginan melanjutkan sekolah karena pada saat itu saya mendapat bagian separuh dari seekor anak sapi yang istilahnya adalah “Pedhet”. Jika dinominalkan, bagian saya adalah sekitar 1,5 juta. Cukup besar dimasa itu. Keinginan saya untuk bersekolah semakin besar dikala saya melihat anak-anak SMA yang mengenakan seragam putih abu-abu.

Namun keinginan itu ditolak mentah oleh ibu saya yang berkeinginan untuk menyuruh saya bekerja saja. Namanya anak muda, saya sempat ngamuk saat itu. Itulah yang saya sesali hingga saat ini. Sempat saya mengambil linggis untuk saya buat membunuh anak sapi bagian saya jika saya tidak boleh menjualnya untuk biaya sekolah di SMA.

Akhirnya, ibu luluh. Saya boleh jual anak sapi bagian saya itu.  Namun ibu tidak mampu biayai. Hanya do’a tulus ikhlaslah yang senantiasa ia berikan pada saya.

Dengan mengantongi ijin dan restu dari ibu saya melanjutkan sekolah di SMA N 1 Sine. 
SMA N 1 Sine merupakan sekolah tingkat atas yang sangat saya favoritkan. Banyak orang yang mencibir saya yang memutuskan untuk bersekolah disana. Bukan cibiran jelek yang berisi profokasi tentang kredibilitas sekolah. Namun, satu hal yang mereka ragukan dari saya  yang memutuskan sekolah disana.

Mampukah saya bersekolah disana?

Kuatkah saya membayar biayanya?

Bisakah saya bergaul dengan siswa-siswa lain disana?

Mengingat, SMA N 1 Sine merupakan sekolah bonafit dan memiliki guru-guru professional dan system pembelajaran level Internasional. SMA N 1 Sine terkenal sebagai sekolah dimana tempat bersekolah anak-anak orang kaya, anak-anak orang pintar, bukan tempat bersekolah untuk orang seperti saya yang sejak kecil selalu dijejali makan tempe bosok.

Dengan perasaan agak minder, saya sulit mendapatkan teman disana. Maklum, dikala teman-teman mendapatkan waktu istirahat pada setiap harinya mereka menu ke kantin bu slamet maupun mbah metal untuk jajan. Sedangkan saya, buruh yang gak punya cukup uang untuk mengikuti kebiasaan itu cukup masuk perpustakaan. Bukan untuk membaca, bukan untuk mencari artikel pendidikan, semata saya lakukan untuk menutupi rasa malu dikala teman-teman bertanya mengapa di jam istirahat saya tidak ke kantin? Apakah saya tidak haus? Apakah saya tidak lapar?

Saya mulai punya teman ketika saya ikut ekstra pramuka. Suatu ajang penuh manfaat yang telah membentuk karakter saya hingga saat ini. Mereka diantaranya Purwoko, Heri Susanto, Ucik Winarti dan banyak lagi.
ikut prmuka dan saka bhayangkara untuk melatih mental
Tiba saatnya pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2003. Saya termasuk lulus. Dengan hasil pas-pasan, saya sangat bersyukur. Seorang anak bakul tape seperti saya yang selalu diejek sebagai penunggu rombong bakso ternyata bisa lulus dari sekolah bonafit semacam SMA N 1 Sine.

Awal mula istilah rombong bakso adalah, setiap pagi saya bangun jam 3 untuk memikul tape sampe jembatan baron yang jaraknya antara 5-6 kilometer jauhnya. Setelah iu saya harus nimpal kotoran sapid an melakukan pekerjaan rumah lain. Setelah itu saya berangkat ke sekolah dengan jalan kaki yang jaraknya hamper 6 kilometer sampai tempat pemberhentian bus di desa Sambirejo. Tempat pemberhentian bus itu dekat dengan warung bakso milik Lek suhodo sambirejo. Salah satu guru terbaik saya, Bapak Hadi Suharso (Guru Sejarah) memberikan predikat sebagai penunggu rombong bakso karena sering terlambat sampai sekolah.

Menjelang lulus SMA, teman-teman saling bertanya satu sama lain.
Kamu kuliah dimana?
Kamu kuliah dimana?
Kamu kuliah dimana?
Ada yang jawab kuliah di UNS, UGM, Madiun maupun di perguruan tinggi lain.

Sementara saya?
Saya pasti tidak bisa kuliah. Melihat latar belakan diatas, sangat mustahil bagi saya untuk mengikuti niat hati untuk bisa merasakan kuliah.

Namun sobat semua, bersekolah ditempat anak-anak orang kaya memberikan inspirasi dan motivasi kepada saya untuk bisa mengikuti mereka. Kalau saya tidak bisa kuliah sekarang, saya kan bisa kuliah tehun-tahun berikutnya.


Lulus SMA saya merantau ke Jakarta. Bersama saudara sepupu saya  yang bernama supri Ndayu saya ikut bekerja di proyek. Saat itu saya kerja di proyek pembangunan Mall Artha Gading. Dua minggu kerja, saya gak betah. Mungkin karena belum terbiasa kali ya? Kerja di proyek, badan kotor penuh debu dan bermandikan matahari, tidur di bedeng atau barak yang ratusan orang penghuninya seperti di penjara, jika mandi airnya asin, WC pada melua semua. Saya jatuh sakit. Akhirnya saya pulang kampung.




Sampai rumah, saya jadi pengangguran. Lama-kelamaan saya tidak nyaman. Banyak kerjaan tapi gak ada yang bayar.

Besar rasa ini untuk kembali ke perantauan. Mengingat, saya punya cita-cita untuk diraih. Ingin kuliah seperti teman-teman dari SMA N 1 Sine. Jika saya dirumah terus, kapan saya bisa mengumpulkan uang untuk bisa kuliah?

Saat itu tiba-tiba angina segar datang. Kawan sekampung saya yang merantau ke bandung yang bernama Kardi mendot pulang. Dia kerja sebagai supir toko bangunan sinar megah. Saya diajak ke bandung untuk cari kerja disana. Dengan naik kereta pasundan kami  bertolak dari stasuin walikukun menuju stasiun kiara condong, Bandung.

Sesampai disana saya tak kunjung dapat pekerjaan. Selama 2 minggu lebih hidup saya ditanggung kawan saya ini. Sampai sekarang saya masih berhutang budi baiknya yang tulus dan belum bisa membalasnya. Akhirnya, saya dititipkan oleh kawan saya itu untuk kerja di sebuah rumah makan padang yang bernama Rumah Makan Sari Bundo di bagian dapur pusatnya. Saya diposisikan sebagai tukang cuci piring dan peralatan masak. Rumah makan padang yang bernama Rumah Makan Sari Bundo mempunyai 4 cabang. Gerlong, titimplik, antapani dan diponegoro. 2 bulan kerja disana, saya mendapat gaji Rp. 400.000.

Pada malam hari saya berfikir dan membandingkan penghasilan saya. Jika saya kerja disini 2 bulan dapat 400.000, kapan saya akan bisa mengumpulkan uang kuliah?
Penghasilan saya dulu di proyek 300.000 untuk 2 minggu.

Saat lebaran tiba. Saya turut mudik.
Dengan penuh harap diajak kerja di proyek lagi, saya memohon pada sepupu saya yang bernama supri untuk diajak lagi kerja di proyek Jakarta.

Dia setuju.
Setelah lebaran tahun 2003 kami berdua bertolak menuju Jakarta untuk kerja di proyek lagi.

Saat berangkat kami udah dapat firasat bahwa kami akan mendapat kesialan pada keberangkatan ini. Saat itu, tiket kereta api masih bebas tempat duduk. Harga tiket 33.000 rupiah. Mendapat tempat di wc pun sudah beruntung. Namun keberuntungan itu tidak berpihak pada kami. Kami, dari walikukun sampai stasiun tanah abang dapat tempat di bagian atas lokomotif. Dapat  dibayangkan kan betapa panasnya? Penuh asap, debu, suara  ising mesin kereta api.

Di semarang, sandal teman saya hilang satu. Wah, firasat buruk ini….
Pada masa itu di Jakarta masih banyak preman, tukang palak, copet dan orang jahat. Saya sangat takut. Namun tak seperti supri dia berani melawan kepada mereka saat memalak kami. Saya salut pada dia sampai sekarang.

Tiba di Jakarta, kesialan kami dapat. Proyek tempat yang kami tuju tidak menerima kuli lagi. Kalau hanya supri saja (kuli lama) dia terima. Namuntidak bersama saya. Supri mengalah jika saya gak diterima, dia juga pilih tidak kerja.

Kemudian, saya dan supri memilih menjadi gelandangan di ibu kota. Saatt itulah saya mempercayai bahwa “sekejam-kejamnya ibu tiri, tak sekejam ibu kota”. Supri orangnya supel, punya banyak kawan. Saya diajak berjalan keliling Jakarta cari proyek yang butuh kuli. Namu taka da yang terima karena abis lebaran para mandor sudah pada ngangkat kuli dari daerah masing-masing. Kami jalan terus. Tidur di kolong jembatan, pasar, emperan toko, pinggiran sungai hingga dibawah pohon. Sesekali  supri mengajak saya berkunjung ke rumah kakaknya yang tinggal  di lenteng agung yang bernama mbak Yati.
Sosok supri, teman ngamen dan nguli di Ibu Kota

Bekal uang pun habis. Kami harus bertahan hidup. Supri mengajak saya ngamen. Kami ngamen di perempatan Cililitan Jakarta. Tepatnya depan Pusat Grosir Cililitan yang saat itu sedang dibangun. Saya punya banyak teman baru saat ngamen. Dari betawi, ambon, sunda dan seluruh pelosok negeri yang bertahan hidup sebagai pengamen. Meskipun ngamen, kami tetap meluangkan waktu untuk cari kerja di proyek. 2 bulan lamanya ngamen. Uang hanya cukup beli makan nasi warteg 2000 rupiah perbungkusnya.

Akhirnya kami diterima kerja di proyek yang mana Bapak Edy Lapiyo dari purwodadi sebagai pemborongnya. Proyek pertama yang dibangun adalah Plaza Asia setinggi 25 lantai yang lokasinya di depan pintu satu Gelora Bung Karno Jakarta. Gaji pertama saya 18.000 perhari. Saya kerja dengan rajin. Jika ada lemburan, saya selalu ikut. Karena saya ingat cita-cita saya untuk kuliah. I must be like my friends who can study in University. I must be like them. Saya gak ingin terus terusan hidup susah. Dengan berpendidikan tinggilah saya bisa menggenggam dunia ini. Saya menuliskan sumpah saya itu di setiap buku harian saya supaya saya tidak terlena oleh gemerlapnya kehidupan di kota. Ingat. Cita-cita saya adalah bisa jadi sarjana. Perlu diketahui bahwa selama saya merantau ke bandung dan Jakarta saya menulis buku diary. Untuk jurnal perjalanan hidup saya. Selama 3 tahun ada 6 buku tebal yang berhasil saya tulis. Sampai sekarang saya simpan baik-baik dan saya posisikan sebagai kitab kedua saya setelah Al-Qur’an.

Selama 3 tahun di proyek ada banyak gedung penting di Jakarta yang saya turut andil dalam pembangunannya. Diantaranya adalah
Mall Artha GAading
Plaza Asia
Plaza Sudirman
Mall Simprug
ITC dan WTC Mangga Dua
Plaza Senayan
Apartemen permata hijau
Dealer mobil lenteng agung
Gedung 2 DPR/MPR Jakarta
Piazza Asia Never Sleep (pernah dikeroyok orang sekampung etnis sunda)
Pakubuwono Mension
Gedung menteri keuangan lapangan banteng, senen Jakarta
Apartemen elite setia budi
Dan banyak gedung tinggi Jakarta lainnya

Proyek terakhir yang saya kerjakan adalah Apartemen elite setia budi. Sudah tiba waktunya saya pulang. Target saya 3 tahun kerja cari biaya kuliah udah usai. Selama di Jakarta banyak suka duka yang saya alami. Kehilangan uang hasil 3 bulan kerja sebanyak 1,5 juta, dikeroyok preman, kehilangan HP Nokia 3650, kena paku, sakit dan lain sebaganya. Namun banyak sahabat yang saya dapat selama di Jakarta dan hingga kini masih tetap aktif berkomunikasi. Diantaranya Mas gunadi, Mas Muh, Mas Imron, Hadi koplak dari purwodadi. Yang dari gubug ada Kliwon (sekarang sukses bisnis kayu ekspor dan ketua klub Toyota Rush Indonesia), pethal dari lampung, sopiyani, bogel, uncil (Ali mustopa), cempe, tikno, jepri.

Dengan bekal uang hasil proyek 7 juta hasil kerja proyek Jakarta saya pulang dengan niat keras untuk mulai kuliah.

Kemudian saya mendaftar kuliah di STKIP PGRI Ngawi jurusan bahasa inggris. Anjiir, baru dapat 4 semester uang saya abis. Gimana saya bayar kuliah semester berikutnya nih??
Saya tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa disana. Alhamdulillah, saya masuk nominasi penerima bantuan beasiswa PPA dari kopertis Surabaya. Dapat tuk biaya kuliah 2 semester.

Untuk melanjutkan kuliah dan penopang bensin transportasi, mulai semester satu ketika kuliah saya menjadi tenaga sukarelawan untuk menjadi guru bahasa inggris di SDN Jagir 5 sine. Semester berikutnya dapat job lagi di SMK PGRI 9 Sine, semester berikutnya saya diterima ngajar di SMP Islamiyah Walikukun yang dikepalai Bu Situ Rudjiah yang arif dan bijaksana pada saya dan dilanjutkann puterinya Bu Masyfu’ati Masyrofah yang sampai saat ini menjadi inspiratory saya akan perjuangannya dan kepandaiannya. 
Guru-guru SMP Islamiyah foto bareng Bapak Bupati Ngawi

Dalam waktu yang bersamaan ketrima ngajar di SMP Islamiyah Walikukun, saya diajak ngajar  di Bimbel milik sahabat saya guru SMP Islamiyah juga yang bernama Pak Agus Suhartono, S.Si., kursus bahasa inggris di rumah bapak Suwarno bernama Cemara English Course (Guru saya semasa MI sekarang beliau guru favorit MAN Ngrambe).
Kuliah di STKIP lanjut ke Univ. PGRI Madiun

Dari itulah, saya bisa lanjut kuliah hingga lulus. Jika saya hitung-hitung, setelah wisuda saya menghabiskan biaya transportasi dan kuliah hamper 30 juta. Mulai kuliah bekal saya hanya 7 jutaan saja, setelah lulus habisnya sekian banyaknya. Uang darimana itu? Itu adalah uang dari Allah yang diberikan melalui teman teman terbaik saya. Disini saya buktikan sendiri bahwa Allah maha adil, maha kaya, maha agung. Hitung-hitungan manusia tidak akan ketemu jika dibandingkan dengan hitung-hitungan Allah.

Dalam hitungan manusia, 1 + 1= 2. Namun bagi Allah, 1 + 1 = bisa 5, 15 bahkan seribu. Tergantung usaha dan do’a kita dalam meraih cita-cita.

Pada prinsip saya, hidup harus optimis. Jangan takut sama bayangan sendiri. Yang penting, dimanapun kita berada, pada siapapun kita bekerja, kita harus memegang tehu sifat jujur, sopan, rendah hati, tekun. Insyaallah kita akan disayangi orang-orang disekitar kita.

Waktu berlanjut. Tahun 2010 ada pembukaan seleksi CPNS. Saya ikut mendaftar dan mengikuti tes tersebut. Saya saat itu sudah menikah. Saya menikahi gadis canti pujaan hati saya benama Dzun Nuraini putri kedua dari bapak kyai dengan domisili brejing, widodaren. Saya dan istri mengadu nasib ikut tes CPNS di blora. Berangkat ujan-ujanan, cari penginapan dan akhirnya zoonk gak keterima. Gak apa. Yang penting udah usaha. Uaha adalah wajib, hasil Allah yang menentukan.

Tahun 2013 ada pembukaan seleksi CPNS dari tenaga honorer. Nama saya termasuk dalam kuota database itu. Berbekal usaha belajar mati-matian dan do’a orang tua, Alhamdulillah saya lolos. Tahun 2014 akhir  saya menerima SK Pengangkata CPNS. Tempat yugas saya ya ampuuuun, di pelosok banget. Tepatnya di dukuh kebonwaru, dusun ngambilan desa pandean kecamatan karanganyar kabupaten ngawi. Jarak perjalanan 40 kilometer dari rumah satu jam penuh perjalanan naik sepeda motor. Namun semua itu tetap saya syukuri.

Saya ngajar 3 tahun dan 3 bulan disana. Kemudian saya diajak mutasi oleh bapak Bambang Riwanta kepala sekolah yang dulu ke sekolah yang lebih dekat yaitu di SDN Sekarjati 1 Kecamatan Karanganyar hingga kini.
mulai tugas




Kata kunci saya dan yang sobat-sobat perlu ketahui adalah:
1.  Jangan minder, meskipun kita miskin gak mungkin kita gak bisa berubah
2.  Belajarlah diwaktu pagi, supaya bisa bekerja diwaktu siang, dan dapat makan diwaktu sore dan bisa tidur nyenyak dimalam hari
3.  Mengukir diatas batu akan lebih awet dan abadi daripada mengukir diatas air
4.  Allah tidak tidur
5.  Allah maha adil
6.  Allah tidak akan lupa memperhitungkan kerja keas kita
7.  Mari bekerja sebai-baiknya dimanapun kita berada dan apapun profesi kita. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung
8.  Kerjo egla-egle kui yo kongelan. Kerjo tenanan yo kongelan. Ayo maksimalkan potensi kita, sobatkuu. Supaya kita punya nilai lebih dimata orang-orang disekeliling kita dan dimata Allah.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Saya, anak bakul tape, punya bapak depresi hingga akhir hayatnya, anak orang miskin, makan pake sambel tempe bosok,  ternyata bisa menjadi sarjana dan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kawan-kawan saya ketika sekolah di SMA N 1 Sine sekolah favorit saya dan seluruh masyarakat ngawi. Dan insyaallah tahun depan saya akan melanutkan pendidikan saya ke jenjang S2 di salah satu perguruan tinggi negeri. Semoga Allah meridhoi. Aamiin…

Alhamdulillah dengan kerja keras, jujur, tekun sekarang setidaknya hidup saya bisa lebih baik. Kalo kaya sih tidak. Cuma, Alhamdulillah cukup dan gak kekurangan. Karena bukan harta yang menjadi ukuran kesuksesan saya. Karena saya tahu bahwa “mengejar dunia itu ibarat makan kwaci, Kenyang enggak tapi capek iya”. Punya istri solikhah, punya anak cantik bernama Tiffany Erum Latifa.
Kisah Inspiratif Untuk Negeri 
Artikel ini saya tulisuntuk menginspirasi Indonesia.
Saya dedikasikan untuk ibu saya tercinta, kakak-kakak saya, guru-guru saya dan sahabat-sahabat saya.


Sekian, semoga bermanfaat
Siapakah Mariyadi ? Kisah Inspiratif Untuk Negeri Pemilik www.mariyadi.com
Mariyadi.com

Berlangganan via Email