Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo





Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah proposal yang dibuat oleh peneliti untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di dalam kelas dengan melakukan PTK guna memperbaiki pembelajaran pada kelas yang diteliti dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas yang hendak di lakukan PTK, seperti halnya tadi hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses blajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau terdapat masalah lainnya.
 
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo 


Unsur PTK
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu sebagai berikut:
1.   PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apa bila dalam kelas tersebut terdapat masalah
2.   PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
3.   PTK memang harus didakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.

Contoh Proposal PTK
Berikut ini adalah Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo . Contoh Proposal dibawah ini hanya bersifat petikan. Untuk versi lengkap atas Laporan PTK dengan judul diatas silakan Download Contoh Proposal PTK.
………………………………………………………………………..
 PROPOSAL PTK

A.      JUDUL
Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo”
B.       LATAR BELAKANG
Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan perkembangan informasi serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kenyataan di lapangan pada saat ini guru-guru masih sangat senang apabila mengajar IPA hanya berdasarkan urutan buku yang ada, menceramahi siswa berdasarkan buku yang dimiliki oleh guru, sehingga siswa merasa jenuh berada di kelas karena dia sebagai pendengar saja, ada juga cara yang dilakukan yaitu siswa disuruh membaca dalam hati lalu guru membuat pernyataan dari bacaan tersebut.
     Pemecahan masalah pendidikan dengan kondisi di lapangan pada saat ini seperti tersebut diatas, pemerintah (Depdiknas) menjalani kerja sama dengan negara-negera donor yaitu UNESCO, UNICEF untuk mengadakan pelatihan guru untuk mengubah cara mengajar yang konvensional menjadi cara guru untuk mengubah cara mengajar yang istilah PAKEM ialah pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
     Konsekuensi dari semua upaya tersebut, guru merupakan kunci pembahasan dan sekaligus sebagai ujung tombak pencapaian hasil misi pembaharuan pendidikan yang menciptakan suasana belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
     Perkembangan teknologi tidak akan lepas dari perkembangan dalam bidang IPA. Perkembangan dari bidang IPA tidak mungkin terjadi bila tidak disertai dengan peningkatan mutu pendidikan IPA, sedangkan selama ini pelajaran IPA dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Hal ini dapat dilihat dari nilai mata pelajaran IPA yang rata-rata masih rendah bila dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Ini Menunjukkan masih rendahnya mutu pelajaran IPA.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pelajaran IPA. Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.



Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar. Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep IPA.
Pendidikan selalu diarahkan kepada guru sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam operasional pendidikan ditingkat lembaga sekolah dasar, sehingga pendidikan dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas menurunnya kualitas sumber daya manusia, maka secara langsung guru merupakan pihak yang sangat menentukan dan memegang peranan penting terhadap keberhasilan pendidikan. Oleh karenanya peningkatan kemampuan dan wawasan guru menjadi hal yang mutlak yang harus dilaksanakan dengan baik agar menjalankan fungsi dan tugasnya sehingga dapat memperoleh keberhasilan. Keberhasilan dapat terwujud bila guru dapat mengetahui tentang hakikat belajar mengajar, strategi dan metode belajar mengajar.
Perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) di SD Negeri Asembakor I Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, penulis menemukan berbagai permasalahan sebagai berikut :
(a)    Siswa kurang berani mengajukan pertanyaan tentang materi yang diajarkan;
(b)   Penjelasan guru kurang dalam menyampaikan materi;
(c)    Penggunaan metode belajar tepat tetapi perlu disempurnakan langkah-langkahnya;
(d)   Pembelajaran di kelas V SDN Asembakor I Kecamatan Kraksaan kurang menarik siswa, tidak ada saling berinteraksi sesama teman, antara murid dan guru.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran, yaitu metode pembelajaran demonstrasi untuk mengungkapkan apakah dengan metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPA. Penulis memilih metode pembelajaran  ini untuk mengkondisikan siswa agar terbiasa menemukan, mencari, mendikusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran (Siadari, 2001: 4). Dalam metode pembelajaran demonstrasi siswa lebih aktif dalam memecahkan untuk menemukan sedang guru berperan sebagai pembimbing atau memberikan petunjuk cara memecahkan masalah itu.
Berdasarkan masalah diatas maka proses pembelajaran IPA dengan metode Demonstrasi dan pemberian tugas perlu disempurnakan. Dengan demikian peneliti melakukan perbaikan dalam dua siklus dengan menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa sehingga nilainya akan meningkat pula.
C.      RUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Ø Rumusan Masalah
Sesuai dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini secara umum di rumuskan sebagai berikut :
1.    Bagaimana menerapkan metode demonstrasi untuk meningkatkan prestasi belajar IPA tentang cahaya dan sifat-sifatnya pada siswa kelas V SDN Asembakor I
2.    Apakah  metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPA tentang cahaya dan sifat-sifatnya pada siswa kelas V SDN Asembakor I?
Ø Pemecahan Masalah
Pemecahan masalahnya melalui metode demonstrasi. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa sehingga nilainya akan meningkat pula.
Ø Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan pembelajaran ditunjukkan apabila siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan nilai rata-rata kelasnya bisa mencapai 80.
D.      TUJUAN
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran IPA sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar IPA tentang cahaya dan sifat – sifatnya melalui metode demonstrasi pada siswa kelas V di SDN Asembakor I Kabupaten Probolinggo.
E.       MANFAAT
1.  Bagi Peneliti
Menambah khasanah wawasan, pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran IPA dengan menggunakan metode demonstrasi.
2.  Bagi Lembaga SD
Bagi lembaga SD dapat bermanfaat :
(a)   Memberikan bahan masukan dalam rangka pengembangan kurikulum SD agar tidak terpaku pada cara-cara konvensional, namun perlu disesuaikan dengan perubahan atau lebih dikenal dengan inovasi pembelajaran.;
(b) Sebagai upaya yang bervariasi memperbaiki dan mengatasi masalah-masalah pembelajaran, penggunaan metode yang tepat untuk meningkatkan prestasi siswa sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing.
3. Bagi Siswa
Bagi siswa dapat bermanfaat :
(a) Dengan menggunakan metode demonstrasi maka penalaran siswa akan tergali dan mudah memahami materi yang diberikan;
(b) Dengan menggunakan metode demonstrasi, siswa akan tertarik dan senang mengikuti pelajaran IPA;
 (c) Siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran.

F.       KAJIAN PUSTAKA
A.  Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil akhir pembelajaran, hasil belajar tersebut dapat diukur dengan menggunakan tes (tes lisan, tes tertulis, berbentuk objektif dan berbentuk objektif). Sehingga hasil belajar berupa ketrampilan intelektual, ketrampilan motorik serta nilai sikap siswa.
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991:768),  Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dikerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan,  hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa prestasi belajar IPA adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA.
B.  Metode Pembelajaran
Cardille (1986) mengemukakan bahwa metode demontrasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan sebuahtindakan atau prosedur yang digunakan metode ini di sertai dengan penjelasan ilustrasi dan pernyataan lisan (oral)atau perdagangan (visual) secara tepat Menurut Staton (1970) mengemukakan bahwa metode demonstrasi barangkali lebih sesuai untuk mengajarkan ketrampilan tangan dimana gerakan jasmani dan gerakan-gerakan dalam memegang sesuatu benda akan dipelajari.
Pada prosedur pemakaian metode demonstrasi Cardille (1986) mengutarakan bahwa suatu demonstrasi yang baik akan mencakupi; (a)Suatu penjelasan; (b)Jalur pertanyaan-pertanyaan; (c)Lembar-lembar instruksi; (d)Alat bantu visual; (e)Intruksi keamanan; (f)Periode diskusi atau tanya jawab.
Keunggulan metode demonstrasi antara lain adalah :
(1)     Siswa dapat memahami sesuatu dengan obyek sesungguhnya;



(2)     Siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu ;
(3)     Siswa dibiasakan kerja secara sistematis dan dapat mengamati sesuatu melalui proses.
Selain itu metode demonstrasi mempunyai kelemahan diantaranya:
(1)     Dapat menimbulkan berpikir konkrit;
(2)     Bila jumlah murid terlalu banyak , efektifitas demonstrasi sulit dicapai;
(3)     Sangat tergantung pada alat Bantu;
(4)     Bila pelaksanaan demonstrasi tidak sistematis , metode demonstrasi tidak akan berhasil.
C.       Proses Belajar Mengajar IPA
Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000:5).
Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000:5).
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar.
Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000:4).
Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, yaitu rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program tindak lanjut (dalam Suryabrata, 1997:18).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar IPA meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA.
D.       Metode Demonstrasi
1.        Definisi
Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasioan peralatan barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan. Orang yang mendemostrasikan (guru, peserta didik, atau orang luar) mempertunjukkan sambil menjelaskan tentang sesuatu yang didemonstrasikan (Ramayulis, 244:2004).
2.        Kelebihan
Kelebihan Metode Demonstrasi antara lain : (a)Keaktifan peserta didik akan bertambah, lebih-lebih kalau peserta didik diikut sertakan; (b)Pengalaman peserta didik bertambah karena peserta didik turut membantu pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman yang bisa mengembangkan kecakapannya; (c)Pelajaran yang diberikan lebih tahan lama. Dalam suatu demonstrasi, peserta didik bukan saja mendengar suatu uraian yang diberikan oleh guru tetapi juga memperhatikannya bahkan turut serta dalam pelaksanaan suatu demonstrasi; (d)Pengertian lebih cepat dicapai. Peserta didik dalam menanggapai suatu proses adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihat, dan bahkan dengan perbuatannya sehingga memudahkan pemahaman peserta didik dan menghilangkan sifat verbalisme dalam belajar; (e)Perhatian peserta didik dapat dipusatkan dan titik yang yang dianggap penting oleh guru dapat diamati oleh peserta didik seperlunya. Sewaktu demonstrasi perhatian peserta didik hanya tertuju kepada suatu yang didemonstrasikan sebab peserta didik lebih banyak diajak mengamati proses yang sedang berlangsung dari pada hanya semata-mata mendengar saja; (f)Mengurangi kesalahan-kesalahan. Penjelasan secara lisan banyak menimbulkan salah paham atau salah tafsir dari peserta didik apalagi kalau penjelasan tentang suatu proses. Tetapi dalam demonstrasi, disamping penjelasan lisan juga dapat memberikan gambaran konkrit; (g)Beberapa masalah yang menimbulkan petanyaan atau masalah dalam diri peserta didik dapat terjawab pada waktu peserta didik mengamai proses demonstrasi; (h)Menghindari ”coba-coba dan gagal”  yang banyak memakan waktu belajar, di samping praktis dan fungsional. Khususnya bagi peserta didik yang ingin berusaha mengamati secara lengkap dan teliti atau jalannya sesuatu.
3.        Kekurangan
Kekurangan Metode Demonstrasi yaitu: (a)Metode ini membutuhkan kemampuan yang optimal dari pendidikan untuk itu perlu persiapan yang matang; (b)Sulit dilaksanakan kalau tidak ditunjang oleh tempat, waktu dan peralatan.
4.        Mempersiapkan Suatu Demonstrasi
Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan pesiapan yang teliti dan cermat. Sejauh mana persiapan itu dilakukan amat banyak tergantung kepada pengalaman yang telah dilalui dan kepada macam atau demonstrasi apa yang ingin disajikan. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang diperlukan: (1)Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan peserta didik itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang didemonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir. Untuk itu hendaknya guru mempertimbangkan: (2)Apakah metode itu wajar dipergunakan dan merupakan cara paling efektif untuk mencapai tujuan intrusional khusus tersebut; (3)Apakah alat-alat yang diperlukan itu mudah diperoleh dan sudah dibacakan terlebih dahulu atau apakah kegiatan-kegiatan fisik bisa dilakukan dan telah dilatih kembali sebelum demonstrasi dilakukan; (4)Apakah jumlah peserta didik tidak telalu besar yang memerlukan tempat dan tata ruang khsusus agar semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif; (5)Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan. Dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal; (6)Apakah guru terbiasa atau memahami benar terhadap semua langkah-langkah atau tahap-tahap dari demonstrasi yang akan dilakukan; (7)Apakah guru mepunyai pengalaman yang cukup untuk menjelaskan setiap langkah demonstrasi itu; (8)Apakah tidak membutuhkan latihan lanjutan untuk menguasai demonstrasi itu; (9)Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan. Hendaknya guru sudah merncanakan seluruh waktu yang dipakai maupun batas waktu untuk langkah demonstrasi yang akan dilakukan sehingga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini terjawab; Apakah kendalanya juga sudah termasuk waktu untuk memberi kesempatan kepada peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi?Berapa lama waktu yang dipakai untuk memberi rangsangan atau motivasi agar peserta didik berpartisipasi dan melakukan observasi ulang, baik sebagian maupun keseluruhan? Apakah ke dalamnya juga termasuk waktu untuk mengadakan demonstrasi ulang, baik sebagian maupun keseluruhan?
Selama demonstrasi berlangsung guru dapat mempertanyakan kepada diri sendiri apakah: (1)Keterangan-keterangan itu dapat didengar jelas oleh peserta didik; (2)Kedudukan alat atau kedudukan guru sendiri sudah cukup baik sehingga semua peserta didik dapat melihatnya dengan jelas; (3)Terdapat cukup waktu dan kesempatan untuk membuat catatan seperlunya bagi peserta didik.
Mempertimbangkan pengguanan alat bantu pengajaran lainnya, sesuai dengan luasan makna dan isi dari demonstrasi. Untuk itu  dapat dipertanyakan hal-hal berikut: (1)Adakah guru menyimpulkan kegiatan dari setiap langkah-langkah pokok demonstrasi itu; (2)Bagaimana dan kapan dilakukan semua hal-hal itu, sebelum, sesudah atau selama demonstrasi itu berlangsung.
Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan murid. Seringkali perlu telebih dahulu dilakukan diskusi-diskusi dan peserta didik mencobakan kembali atau mengadakan demonstrasi ulang untuk memperoleh kecakapan yang lebih baik.

G.      METODE PENELITIAN
a)   Subyek, Tempat/Lokasi, dan Waktu Penelitian
Ø Subyek Penelitian
Kelas yang menjadi  subyek penelitian ini adalah kelas V dengan jumlah 16 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki – laki dan 3 siswa perempuan. Macam – macam karakteristik siswa secara umum pada kelas V SDN Asembakor I Kabupaten Probolinggo adalah di saat pelajaran berlangsung siswa lebih banyak bercanda dengan temannya dan kurangnya merespon pelajaran. Sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan guru.
Ø Tempat / Lokasi
Lokasi yang saya  pilih untuk penelitian ini adalah di Sekolah Dasar  Negeri Asembakor I Kecamatan Kraksaan, tetapi lebih menekankan pada kelas V. SD Negeri Asembakor I ini  terletak di tengah-tengah masyarakat Asembakor sehingga mudah membaur secara nyata dengan lingkungan.
Ø Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun pelajaran 2018/2019 semester genap.
b)   Rencana dan Pelaksanaan Pembelajaran Per Siklus.
1. Siklus I
a.  Rencana
Penelitian bersama dengan pengamat 1 orang guru SDN Asembakor I, mengidentifikasikan kesulitan, kekurangan dalam proses belajar mata pelajaran IPA (SAINS) yang sering dialami siswa kelas V SD pada umumnya. Kegiatan diawali dengan diskusi tentang metode dan strategi pembelajaran dilanjutkan dengan latihan penerapan dan pengelolahan kegiatan dalam kelas. Penelitian ini menggunakan program Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan karena peneliti ingin meningkatkan prestasi dan motivasi belajar khususnya. Penggunaan metode demontrasi dalam pembelajaran IPA di kelas V ini diharapkan siswa lebih aktif dan termotivasi sehingga siswa dalam memperagakan,suatu praktikum IPA mampu mendapatkan sendiri konsep dan kesimpulan secara nyata.
Tahap perencanaan diawali dengan mengidentifikasi masalah kemudian menganalisa dan merumuskan masalah, setelah itu dilanjutkan dengan persiapan pelaksanaan antara lain :(1)Menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP); (2)Menyusun ringkasan materi, (3)menyusun lembar observasi Proses; (4)Menyusun soal tes dan kunci jawaban dan menyusun Kriteria Penilaian.
b.  Pelaksanaan
Pada kegiatan Pelaksanaan tindakan  pada  Siklus I dilaksanakan  satu kali pertemuan yaitu pada minggu kedua Bulan Februari 2019.
Diskripsi pembelajaran pada siklus I sebagai berikut : Guru melakukan apersepsi ±10 menit yaitu melalui absensi siswa dan mengadakan tanya jawab tentang materi kegunaan cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kegiatan inti  ( 40 menit ), pada tahap ini guru mendemonstrasikan dengan menggunakan alat peraga yang telah tersedia, guru merangsang siswa dengan memancing perhatian sekaligus mencari pengalaman belajar dari demonstrasi yang disaksikan yaitu cara menyebutkan sifat-sifat cahaya dan benda- benda yang dapat di tembus cahaya.
Ternyata melalui contoh yang didemonstrasikan guru, siswa masih kurang mampu menyebutkan sifat-sifat cahaya dan benda-benda yang dapat ditembus cahaya.
Dilanjutkan dengan percobaan yang berikutnya, untuk membuktikan kebenarannya bahwa cahaya merambat lurus, dapat dipantulkan menembus benda bening. Pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan belajar kelompok dari 16 siswa dibagi 3 kelompok belajar dan diberikan LKS.
Masing – masing kelompok melaporkan hasil kerjanya dan hasilnya didiskusikan secara  klasikal  dengan bimbingan guru. Ternyata anak-anak sudah mengerti, dan tahap berikutnya memberikan soal tes secara individu  ( 10 menit ). Selanjutnya hasil tes individu dikumpulkan oleh guru.
Untuk  kegiatan penutup guru memberikan soal PR  sebagai pendalaman materi tentang sifat -sifat cahaya dan benda-benda yang dapat tembus cahaya.
c.  Pengamatan/Pengumpulan Data/Instrumen
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, proses pembelajaran diamati oleh 1 orang guru SDN Asembakor I yang telah memiliki ijazah SI dan akan mengamati bagaimana seorang guru melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi pada mata pelajaran IPA. Juga mengamati proses kegiatan siswa saat melakukan Demonstrasi dengan media yang telah disiapkan.
Penelitian yang dilaksanakan dikelas V SDN Asembakor I ini menggunakan beberapa cara untuk mengumpulkan data selama proses penelitian berlangsung diantaranya :
a)   Metode observasi
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap obyek sasaran. Dengan cara ini peneliti akan memperoleh secara obyektif karena obyek tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diteliti.
b)   Interview (wawancara)
Interview ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang efektifnya metode yang digunakan dalam menyampaikan materi agar tidak banyak memerlukan waktu serta untuk meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap materi yang diajarkan dan data tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan guru yang mengajarkan IPA dikelas V SDN Asembakor I
c)    Lembar kerja siswa
Lembar kerja siswa ini digunakan untuk membantu proses pengumpulan data atau nilai yang diperlukan dalam penelitian.
d)   Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
1.  Kurikulum 2013
2.  Satuan pelajaran
3.  Lembar kerja siswa
4.  Lembar observasi KBM
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui, observasi, aktifitas guru, aktifitas siswa dan lembar kerja siswa. Data yang ingin dikumpulkan di implementasikan kedalam bentuk seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh responden secara tertulis.

2.  Siklus II
a.  Rencana
Berdasarkan refleksi pada siklus I maka pada tahap perencanaan diawali dengan mengidentifikasi masalah kemudian menganalisa dan merumuskan masalah, setelah itu dilanjutkan dengan persiapan pelaksanaan antara lain :(1)Menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP); (2)Menyusun ringkasan materi, (3)menyusun lembar observasi Proses; (4)Menyusun soal tes dan kunci jawaban dan menyusun Kriteria Penilaian.
b.  Pelaksanaan
Pada kegiatan Pelaksanaan tindakan  pada  Siklus II dilaksanakan  satu kali pertemuan yaitu pada minggu keempat Bulan Januari 2019
Deskripsi pembelajaran pada siklus II sebagai berikut: Guru melakukan apersepsi ±10 menit yaitu melalui absensi siswa dan mengadakan tanya jawab tentang materi kegunaan cahaya dalam kehidupan sehari – hari .
Pada kegiatan inti  (40 menit), pada tahap ini siswa mendemonstrasikan dengan menggunakan alat peraga yang telah tersedia, guru merangsang siswa dengan memancing perhatian sekaligus mencari pengalaman belajar dari demonstrasi yang disaksikan yaitu cara menyebutkan sifat – sifat cahaya dan benda – benda yang dapat di tembus cahaya.
Dilanjutkan dengan percobaan yang berikutnya, untuk membuktikan kebenarannya bahwa cahaya merambat lurus, dapat dipantulkan menembus benda bening. Pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan belajar kelompok dari 16 siswa dibagi 3 kelompok belajar dan diberikan LKS.
Masing – masing kelompok melaporkan hasil kerjanya dan hasilnya dideskusikan secara  klasikal  dengan bimbingan guru . Ternyata anak – anak sudah mengerti , dan tahap berikutnya memberikan soal tes secara individu  ( 10 menit ). Selanjutnya hasil tes individu dikumpulkan oleh guru .
Untuk  kegiatan penutup guru memberikan soal PR  sebagai pendalaman materi tentang sifat – sifat cahaya dan benda –benda yang dapat tembus cahaya.

c)    Pengamatan tentang Keberhasilan dan Kegagalan Siklus II
Pengamatan dilaksanakan bersama dengan proses pembelajaran. Wali kelas V SDN Asembakor I  bertindak sebagai pengamat. Pada akhir pembelajaran siswa melaporkan hasil kerja kelompok  dan selanjutnya LKS  dikumpulkan dan dinilai guru, dengan tujuan untuk mengetahui  keberhasilan prestasi siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan.


Download Contoh Proposal PTK
Untuk unduh atau Download Contoh Proposal PTK ini secara lengkap silakan klik tautan dibawah ini:

Demikian Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Prestasi Belajar IPA Tentang Cahaya Dan Sifat-Sifatnya Pada Siswa Kelas V Melalui Metode Demonstrasi SDN Asembakor I Probolinggo  semoga dapat sobat unduh atau Download semoga bermanfaat.

Artikel Menarik Lainnya



Berlangganan via Email