Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo





Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah proposal yang dibuat oleh peneliti untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di dalam kelas dengan melakukan PTK guna memperbaiki pembelajaran pada kelas yang diteliti dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas yang hendak di lakukan PTK, seperti halnya tadi hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses blajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau terdapat masalah lainnya.
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik  Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik  Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo 

Unsur PTK
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu sebagai berikut:
1.   PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apa bila dalam kelas tersebut terdapat masalah
2.   PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
3.   PTK memang harus didakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.

Contoh Proposal PTK
Berikut ini adalah Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik  Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo . Contoh Proposal dibawah ini hanya bersifat petikan. Untuk versi lengkap atas Laporan PTK dengan judul diatas silakan Download Contoh Proposal PTK.
………………………………………………………………………..
 A.      JUDUL

Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik  Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo

B.       LATAR BELAKANG DAN IDENTIFIKASI MASALAH
Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari pendidikan dasar. mata pelajaran IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial (Mulyasa, 2006). Dari mata pelajaran IPS ini, siswa diarahkan agar dapat menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, cinta damai, mampu menghadapi tantangan berat di kehidupan masyarakat global. Untuk itu pembelajaran IPS di sekolah khususnya sekolah dasar seharusnya dirancang agar dapat mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis siswa terhadap kondisi sosial masyarakat global. Peran guru sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran haruslah menciptakan pembelajaran yang efektif, menarik dan memudahkan pemahaman siswa dalam mempelajari materi IPS. Pada SDN 1 Sidorejo, kemampuan IPS masih perlu ditingkatkan karena lebih dari 50% siswa nilainya belum mencapai KKM.
Dari pembelajaran yang telah dilaksanakan, ditemukan beberapa penyebab permalahan tersebut yaitu siswa menganggap pembelajaran IPS adalah pembelajaran yang membosankan karena pemilihan strategi yang belum tepat, belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai sehingga siswa merasa bosan dan kurang berminat mengikuti pembelajaran, siswa kurang aktif dalam pembelajaran. 
Pembelajaran yang hanya dilaksanakan dengan ceramah, meringkas, dan menghafalkan sehingga penggunaan media pembelajaran masih sering terabaikan Menurut Gagne (dalam Solihatin, 2007) media pembelajaran merupakan jenis komponen pembelajaran dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Satu dari beberapa manfaat media pembelajaran menurut Keemp dan Dayton (dalam Solihatin, 2007) adalah dapat meningkatkan kualitas prestasi belajar siswa, akan terbantu dalam menyerap lebih dalam materi belajar. Media pembelajaran ada berbagai macam. Menurut Munadi (2008) media pembelajaran dikelompokkan menjadi empat kelompok besar yaitu media audio, media visual, media audio visual dan multimedia. Salah satu bentuk media pembelajaran adalah komik. Komik bisa dijadikan sebagai media dalam pembelajaran. Luasnya popularitas komik telah mendorong banyak guru bereksperimen dengan media ini untuk digunakan dalam pembelajaran. Komik adalah suatu bentuk gambar kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada pembacanya (Sudjana dan Rivai, 2001). Dalam kehidupan sehari-hari sering anak-anak terlihat gembira saat menonton film kartun dan membaca komik. Komik mampu membangkitkan minat para siswa dalam pembelajaran, namun sebaiknya penggunaan komik dipadu dengna metode mengajar sehingga penggunaan komik akan lebih efektif (Sudjana dan Rivai, 2001), atas dasar itulah pemilihan media komik diharapkan akan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.  

C.       RUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Berdasarkan  latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu ”Bagaimana penggunaan media komik untuk meningkatkan prestasi belajar IPS tentang keragaman suku bangsa dan budaya semester I pada siswa KELAS VI di SDN 1 Sidorejo Kec. Sukorejo Tahun Pelajaran 2018/2019?

D.      TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana dampak penggunaan media komik terhadap hasil belajar siswa.

E.       MANFAAT
1.      Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan akan mampu memberikan manfaat teoritis yaitu memperkaya pemahaman pendidik dan pelaku pendidikan lainnya terhadap pemahaman penggunaan media komik dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu juga untuk memperkuat pemahaman bahwa penggunaan media komik mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan agar penelitian ini bisa dimanfaatkan oleh pendidik yang lain di sekolah masing-masing. Selain itu diharapkan mampu memberikan manfaat bagi siswa untuk lebih mudah memahami materi melalui media komik. Dan pada sekolah pada umumnya dapat digunakan sebagai bahan masukan sebagai upaya peningkatan kulaitas belajar mengajar dan pengadaan media pembelajaran di sekolah.

F.        KAJIAN PUSTAKA
1.      Pengertian Prestasi Belajar
Di sebuah lembaga pendidikan atau sekolah, selain dari perubahan tingkah laku hasil belajar siswa juga ditunjukkan oleh prestasi belajar. Menurut Arif Gunarso prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai seseorang setelah melaksanakan usaha belajar. Sedangkan Winkel mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan belajar sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Prestasi belajar memang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar. Kegiatan belajar merupakan proses sedangkan prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar. Prestasi belajar sebagai hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam nilai hasil belajar siswa (raport). Prestasi belajar siswa salah satunya dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi rendahnya prestasi belajar. Wand dan Brown (dalam Djamarah dan Zain, 2002) menjelaskan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Menurut Ny. Dr. Roestiyah. N. K. (dalam Djamarah dan Zain, 2002) evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Angkowo dan Kosasih  (2007) antara lain faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor-faktor dalam diri siswa tersebut menyangkut kemampuan yang dimiliki siswa, selain itu ada juga motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi fisik dan psikis. Selain faktor dalam diri siswa, juga ada faktor yang datangnya dari luar diri siswa seperti faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Clark (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007) bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
Begitu besar pengaruh dari dalam diri siswa terhadap prestasi belajar. Hal ini merupakan suatu hal yang logis dan wajar karena menurut kesimpulan Winkel (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007) belajar merupakan aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan demi menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap. Salah satu faktor lingkungan yang paling dominan mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah nilai tinggi atau rendah atau nilai efektifitas pembelajaran dalam mencapai tujuannya (Angkowo dan Kosasih, 2007). Sedangkan menurut Caroll (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007) bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor bakat belajar, waktu yang tersedia untuk belajar, kemampuan individu, kualitas pengajaran dan lingkungan.
Dari beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan suatu usaha yang dicapai seseorang dalam kegiatan belajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar siswa di sekolah ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh faktor dalam dirinya tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti yang dikemukakan oleh beberapa tokoh di atas. Faktor-faktor dalam diri siswa tersebut antara lain kemampuan siswa, motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi fisik dan psikis. Sedangkan faktor dari luar diri siswa yaitu faktor lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
2.      Media Pembelajaran
Media dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling berkaitan. Media dalam pembelajaran adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (Djamarah dan  Zain, 2002). Munadi (2008) memahami pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang bisa digunakan untuk menyampaiakan pesan secara terencana sehinggamenjadi lingkungan belajar kondusif, dimana pembelajaran akan berlangsung secara efektif dan efisien.
Sedangkan menurut Angkowo dan Kosasih (2007) media dalam pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Gerllach (dalam Sanjaya, 2006) mengemukakan bahwa secara umum media meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Dari berbagai pengertian media di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan untuk menyalurkan pesan pembelajaran kepada siswa sehingga dapat tercipta pembelajaran yang efisien dan efektif. Dengan media pembelajaran akan memudahkan guru dalam menyampaikan pesan, bahan pelajaran mudah dicerna dan dipahami oleh siswa. terutama bahan pelajaran yang sulit.
3.      Media Komik
a.       Pengertian Media Komik
Menurut Sudjana dan Rivai (2001) komik adalah suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan kepada para pembaca. Sedangkan I Wayan Santyasa memaparkan bahwa komik adalah suatu bentuk sajian cerita dengan seri gambar yang lucu, menyediakan cerita-cerita yang sederhana, mudah ditangkap, dipahami isinya dan menarik perhatian, sehingga sangat digemari baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Komik biasanya diterbitkan dalam berbagai bentuk mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, dan ada yang berbentuk buku tersendiri.
Secara garis besar berdasarkan fungsinya, menurut Trimo komik dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu komik sebagai media informasi pendidikan, media advertising, dan sebagai sarana hiburan.
Dengan demikian yang dimaksud dengan komik adalah suatu bentuk gambar kartun yang memiliki karakter dan memerankan suatu cerita. Karena Cerita di dalam komik merupakan cerita sederhana, mudah dipahami dan menarik sehingga banyak dari siswa maupun orang dewasa membacanya tanpa harus dibujuk. Komik juga dikelompokkan ke dalam berbagai jenis berdasarkan fungsinya.
b.      Penggunaan Komik Sebagai Media Pembelajaran
Menurut Sudjana dan Rivai (2001) menyatakan media komik dalam proses pembelajaran dapat menciptakan minat siswa, mengefektifkan proses pembelajaran, meningkatkan minat baca siswa dan menimbulkan minat apresiatif siswa. Popularitas komik sebagai bacaan favorit siswa sangat luas. Komik merupakan suatu bacaan dimana siswa mau membacanya tanpa diminta. Dari fakta-fakta ini mendorong banyak guru menjadikan komik sebagai media dalam pengajaran. Penggunaan komik sebagai media sebaiknya dipadu dengan metode pengajaran, sehingga komik dapat menjadi alat pengajaran yang efektif.
Komik yang digunakan sebagai media pembelajaran dikembangkan sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran disajikan melalui percakapan dari tokoh-tokoh dalam komik. Penggunaan kata-kata dalam teks komik tersebut mengandung pesan-pesan pengetahuan. Sedangkan gambar komik yang digunakan merupakan ilustrasi dari cerita yang disajikan sesuai materi yang diajarkan. Cerita dalam komik pembelajaran bukan disajikan secara utuh melainkan per sub konsep bagian. Dengan demikian tidak perlu meragukan nilai edukatif yang ada di media komik
c.       Kelebihan dan Kekurangan Media Komik
1)      Kelebihan media komik
Kelebihan media komik dalam proses belajar mengajar menurut Trimo adalah bahwa (1) komik dapat memperbanyak perbendaharaan pembacanya; (2) mempermudah siswa memahami rumusan atau hal-hal yang abstrak; (3) seluruh jalan cerita komik menuju satu hal yaitu kebaikan atau studi yang lain dan (4) dapat mengembangkan minat baca anak dan salah satu bidang yang lain 
2)      Kelemahan media komik
Selain memiliki kelebihan komik juga memiliki kelemahan. Menurut Trimo kelemahan komik antara lain adalah:
a)        Kemudahan orang membaca komik membuat malas membaca sehingga menolakan pada buku yang tidak bergambar.
b)        Ditinjau dari segi bahasa komik sering menggunakan kata-kata kotor atau kalimat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
c)        Banyak aksi yang menonjolkan kekerasan dan adegan percintaan.
4.      Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
a.       Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial atau biasa disingkat IPS merupakan salah satu program pendidikan yang diberikan pada tingkat dasar. Istilah pendidikan IPS berasal dari padanan kata Social Studies yang ada di literature pendidikan Amerika Serikat, yang digunakan pertama kali di tahun 1913 dan diadopsi  dari nama sebuah lembaga atau komite yaitu Committee of Social Studies yang mengembangkan kurikulum di Amerika (Solihatin, 2007). Ilmu Pengetahuan Sosial membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya (Solihatin, 2007). Lingkungan yang dimaksudkan adalah lingkungan tempat tinggal siswa, tempat siswa di didik dan tumbuh serta berkembang sebagai bagian dari masyarakat. Lingkungan juga diartikan sebagai tempat siswa dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya.
Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial (pendidikan IPS) secara umum menurut para ahli sering dikaitkan dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari pendidikan IPS itu sendiri. Tetapi pada dasarnya tujuan dari Pendidikan IPS bagi siswa adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Solihatin, 2007).
Konsep dari Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut:
1)      Interaksi yaitu mengenai hubungan antar manusia yang dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal
2)      Saling ketergantungan membahas tentang manusia yang dapat saling bergantung dalam berbagai cara, mulai dari pemeliharaan dan dukungan perasaan sampai pada pertukaran barang dan jasa.
3)      Kesinambungan dan perubahan yaitu mengenai nilai, simbol, dan kebiasaan yang lahir dari satu generasi. Hal ini yang senantiasa dipelihara dan disosialisasikan ke generasi berikutnya.
4)      Keragaman/ kesamaan/ perbedaan yaitu tentang keragaman suatu daerah, keunikan dan ciri-ciri yang dimiliki setiap manusia.
5)      Konflik dan konsensus yaitu suatu peristiwa di masyarakat yang ditimbulkan oleh berbagai sebab.
6)      Pola yaitu suatu corak, model atau bentuk yang sama yang ditiru, terulang dan bersifat repetitif. Setiap pribadi memiliki pola hidup yang berbeda-beda.
7)      Tempat (lokasi)
8)      Kekuatan yaitu kemampuan membuat orang lain melakukan sesuatu sesuai yang dikehendaki.
9)      Nilai kepercayaan yaitu sesuatu yang berharga dan diyakini oleh masyarakat serta dipegang dan dilaksanakan dari generasi ke generasi selanjutnya karena memiliki karakteristik tertentu.
10)  Keadilan dan pemerataan yaitu kesamaan perlakuan yang diterima seseorang dalam jumlah yang sama dengan orang lain secara merata.
11)  Kelangkaan yaitu mengenai kurang terpenuhinya kebutuhan masyarakat akibat meningkatnya permintaan terhadap sesuatu.
12)  Kekhususan yaitu sejumlah konsep yang mengarah pada hal-hal yang khusus. Contohnya adalah karena perubahan pola hidup maka dibutuhkan dokter yang tidak hanya dokter umum tetapi juga dokter spesialis seperti dokter spesialis mata, kulit, jantung dan lain-lain.
13)  Budaya yaitu mengenai segala sesuatu yang dihasilkan manusia dan wajib dipertahankan oleh generasi berikutnya.
14)  Nasionalisme yaitu tentang rasa cinta tanah air setiap warga negara kepada negaranya
Dari berbagai konsep IPS di Indonesia untuk itu rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat (Solihatin, 2007)
b.      Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
IPS adalah bidang studi yang mempelajari dan menelaah serta menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat ditinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu (Ischak, 2001). Secara umum IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu global ( Mulyasa, 2006). Sedangkan khusus pada tingkat dasar, mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
Pembelajaran IPS sebaiknya dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis. Tujuan dari mata pelajaran IPS di SD antara lain adalah memiliki kemampuan sebagai berikut:
1)      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
2)      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan ketrampilan dalam kehidupan sosial.
3)      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4)      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.
5.      Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar
Menurut Nasution (dalam Djamarah, 2002) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebalas atau dua belas tahun. Pada masa sekolah dasar biasanya anak akan mengenal sejarah baru dalam kehidupannya yang akan mengubah sikap dan tingkah lakunya. Pada masa ini juga anak-anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Anak-anak akan mengalami perkembangan yang membantu anak untuk dapat menerima bahan bahan yang diajarkan oleh gurunya.
Menurut Suryobroto (dalam Djamarah, 2002) masa usia sekolah dianggap sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah secara relatif anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini menurut suryobroto diperinci menjadi dua fase yaitu
a.       Masa Kelas-Kelas Rendah Sekolah Dasar
1)      Adanya korelasi positif tinggi antara kesehatan pertumbuhan jasmani dan prestasi sekolah
2)      Sikap cenderung untuk mematuhui peraturan
3)      Cenderung memuji diri sendiri
4)      Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain
5)      Tidak dapat menyelesaikan satu soal maka soal itu dianggap tidak penting
6)      Anak menghendaki nilai raport yang baik tanpa mengingat bagaimana prestasinya.
b.      Masa Kelas-Kelas Tinggi Sekolah Dasar
1)      Timbul minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2)      Ingin tahu, ingin belajar dan realistik
3)      Menjelang masa akhir ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus



4)      Sampai umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya
5)      Gemar membentuk kelompok sebaya.
Dengan demikian karakteristik anak sekolah dasar secara umum terjadi pada saat anak memasuki usia sekolah. Di mana  pada masa ini sikap dan tingkah laku anak akan terpengaruh. Dan pada masa ini pula anak akan mulai berinteraksi dengan kehidupan baru.

G.      METODE PENELITIAN
1.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN 1 Sidorejo Kecamatan Sukorejo Tahun Pelajaran 2018/2019.
2.      Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Pengamatan menggunakan instrument yang digunakan yaitu:
a.       Lembar observasi diskusi kelompok siswa untuk mengamati kegiatan kelas selama mengikuti proses perbaikan pembelajaran. Pada lembar observasi diskusi kelompok, ada 8 aspek yang diamati dengan skor maksimal 4 untuk kriteria baik, skor 3 untuk kriteria cukup baik, skor 2 untuk kriteria kurang baik, dan skor 1 untuk kriteria tidak baik. Prosentase yang didapat yaitu dari skor perolehan dibagi skor maksimal (32) dikalikan 100%.
 

Dengan kategori sebagai berikut:
86%-100% sangat baik
71% - 85% baik
56% - 70% cukup baik
31% -55%  kurang baik
<       30%  tidak baik
Indikator yang ingin dicapai berhasil apabila prosentase minimal mencapai baik.
b.      Lembar observasi guru untuk mengamati kegiatan guru selama proses pembelajaran. Pada lembar observasi guru, ada 14 aspek yang diamati dengan skor maksimal 4 untuk kriteria baik, skor 3 untuk kriteria cukup baik, skor 2 untuk kriteria kurang baik, dan skor 1 untuk kriteria tidak baik. Prosentase yang didapat yaitu dari skor perolehan dibagi skor maksimal (56) dikalikan 100%
 

Dengan kategori sebagai berikut:
86%-100% sangat baik
71% - 85% baik
56% - 70% cukup baik
31% -55%  kurang baik
<       30%  tidak baik
Indikator yang ingin dicapai berhasil apabila prosentase minimal mencapai baik.
c.       Tes evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kemampuan siswa.
 Adapun tes dalam penelitian ini berupa tes tertulis dengan jumlah 10 butir soal. Untuk pemberian skor tiap butir soal, jika jawaban benar tiap butir soal diberi skor 10, nilai maksimal adalah (10 x 10)= 100.
Indikator yang ingin dicapai terlaksana apabila nilai minimal mecapai KKM/ 70.
3.      Teknik Analisis Data
Data-data yang diperoleh selama perbaikan pembelajaran dikumpulkan, data yang terkumpul berupa data kuantitatif dan dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif.
a.       Lembar observasi diskusi kelompok siswa
Lembar observasi pada siklus I dan siklus II dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Jika prosentase hasil observasi mengalami peningkatan dari siklus satu ke siklus II, dengan prosentase lebih dari 70% maka diasumsikan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan telah berhasil meningkatkan kegiatan belajar siswa.
b.      Lembar observasi guru.
Lembar observasi guru pada siklus I dan siklus II dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Jika prosentase hasil observasi mengalami peningkatan pada siklus II, dengan prosentase lebih dari 70% maka diasumsikan guru berhasil dalam pembelajaran dan telah berhasil meningkatkan kegiatan belajar siswa.
c.       Tes evaluasi belajar
Analisis hasil evaluasi belajar adalah berupa tes akhir, apabila hasil tes pada siklus I  dan siklus II  mengalami peningkatan maka dapat diasumsikan bahwa penerapan penggunaan media komik dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi peristiwa sekitar proklamasi pada mata pelajaran IPS.
4.      Langkah-langkah/ Skenario PTK
a.       Perencanaan
Perencanaan dilakukan berdasarkan kegiatan identifikasi dan analisis masalah . Kagiatan yang akan dilaksanakan  yaitu:
1)      Menetapkan perencanaan dan tujuan pembelajaran.
2)      Menyusn Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang akan dilakukan.
3)      Menyusun kegiatan yang terdiri dari:
a)      Memilih bahan yang relevan.
b)      Menentukan langkah pembelejaran (kegiatan awal, inti dan kegiatan akhir).
c)      Memilih metode pembelajaran
d)     Memilih alat peraga atau media yang sesuai dengan materi pembelajaran.
e)      Menyusun alat evaluasi
4)      Merancang lembar observasi dan menyampaikan materi tindak lanjut
b.      Pelaksanaan
1)      Prosedur pelaksanaan PTK
Dalam penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa siklus, dengan tahapan tiap siklus sebagai berikut:
a)      Mengkondisikan siswa, meliputi mengucapkan salam, mengabsen siswa, dan mengkondisikan siswa agar mengikuti proses pembelajaran yang aktif.
b)      Melakukan apersepsi, meliputi pemberian pertanyaan yang berkaitan dengan materi serta pembentukan kelompok yang terdiri dari 3 orang siswa.
c)      Pemberian materi, meliputi siswa mempelajari komik tentang peristiwa sekitar proklamasi dan membahasnya secara berkelompok pada lembar kerja kelompok.
d)     Evaluasi, yaitu memberikan lembar evaluasi yang terdiri dari 10 soal  isian.
e)      Memeriksa hasil evaluasi tiap siswa dan diberi nilai.
f)       Tindak lanjut, menyimpulkan materi.
2)      Pengamat bertugas mengamatai dan membimbing pelaksanaan praktik pembelajaran di kelas.
c.       Observasi
Observasi/ pengamatan dilakukan dengan berpedoman pada instrumen yang telah disiapkan meliputi:
1)      Lembar observasi diskusi kelompok siswa untuk mengamati kegiatan kelas selama mengikuti proses perbaikan pembelajaran. Pada lembar observasi diskusi kelompok, ada 8 aspek yang diamati dengan skor maksimal 4 untuk kriteria baik, skor 3 untuk kriteria cukup baik, skor 2 untuk kriteria kurang baik, dan skor 1 untuk kriteria tidak baik. Prosentase yang didapat yaitu dari skor perolehan dibagi skor maksimal (32) dikalikan 100%.
 
Dengan kategori sebagai berikut:
86%-100% sangat baik
71% - 85% baik
56% - 70% cukup baik
31% -55%  kurang baik
<       30%  tidak baik
Indikator yang ingin dicapai berhasil apabila prosentase minimal mencapai baik.
2)      Lembar observasi guru untuk mengamati kegiatan guru selama proses pembelajaran. Pada lembar observasi guru, ada 14 aspek yang diamati dengan skor maksimal 4 untuk kriteria baik, skor 3 untuk kriteria cukup baik, skor 2 untuk kriteria kurang baik, dan skor 1 untuk kriteria tidak baik. Prosentase yang didapat yaitu dari skor perolehan dibagi skor maksimal (56) dikalikan 100%.
 
Dengan kategori sebagai berikut:
86%-100% sangat baik
71% - 85% baik
56% - 70% cukup baik
31% -55%  kurang baik
<       30%  tidak baik
Indikator yang ingin dicapai berhasil apabila prosentase minimal mencapai baik.
3)      Tes evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kemampuan siswa
Adapun tes dalam penelitian ini berupa tes tertulis dengan jumlah 10 butir soal. Untuk pemberian skor tiap butir soal, jika jawaban benar tiap butir soal diberi skor 10, nilai maksimal adalah (10 x 10)= 100. Indikator yang ingin dicapai terlaksana apabila nilai minimal mecapai KKM/ 70.
d.      Refleksi
Pada tahap ini peneliti melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi mengidentifikasi dan merumuskan masalah. Kemudian memperbaiki pelaksanaan tindakan kegiatan aktifitas siswa dan minat  siswa selama pembelajaran dengan menggunakan media komik, apabila hasilnya kurang memuaskan  maka dilanjutkan untuk menyusun rencana tindakan pada siklus berikutnya.
Adapun secara umum kegiatan pada perbaikan pembelajaran ini dapat digambarkan pada diagram berikut:


Download Contoh Proposal PTK
Untuk unduh atau Download Contoh Proposal PTK ini secara lengkap silakan klik tautan dibawah ini:

Demikian Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Prestasi Belajar IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Melalui Media Komik  Pada Siswa Kelas VI SDN 1 Sidorejo Ponorogo  semoga dapat sobat unduh atau Download semoga bermanfaat.




Artikel Menarik Lainnya




Berlangganan via Email