Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Penjumlahan Dua Pecahan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo





Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah proposal yang dibuat oleh peneliti untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di dalam kelas dengan melakukan PTK guna memperbaiki pembelajaran pada kelas yang diteliti dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas yang hendak di lakukan PTK, seperti halnya tadi hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses blajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau terdapat masalah lainnya.
 
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Penjumlahan Dua Pecahan  Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Penjumlahan Dua Pecahan  Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo


Unsur PTK
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu sebagai berikut:
1.   PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apa bila dalam kelas tersebut terdapat masalah
2.   PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
3.   PTK memang harus didakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.

Contoh Proposal PTK
Berikut ini adalah Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Penjumlahan Dua Pecahan  Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo. Contoh Proposal dibawah ini hanya bersifat petikan. Untuk versi lengkap atas Laporan PTK dengan judul diatas silakan Download Contoh Proposal PTK.
………………………………………………………………………..
 F.     Kajian Pustaka


1.  Hakikat Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melui pengalaman.
Surya, Mohammad (1992 : 23), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya, karena tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Menurut Slameto (2010 : 3-5), ciri-ciri perubahan tingkah laku yang termasuk dalam pengertian belajar, yaitu : (1) perubahan yang terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu, atau paling tidak dia merasakan bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan; (2) perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, artinya suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya  dan akan berguna lagi bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya; (3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, artinya perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu lebih dari sebelumnya; (4) perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, artinya bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap; (5) perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, artinya bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai; dan (6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, artinya bahwa perubahan yang diperoleh seseorang melalui proses belajar.
Kesimpulan dari penjelasan mengenai defininisi belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Menurut Slameto (2010 : 54), ada beberapa factor yang mempengaruhi belajar, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (intern) dan faktor yang berasal dari luar individu (ekstern).
Dalam faktor intern dikelompokkan menjadi 3 faktor antara lain factor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh, factor psikologis yang meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan sedangkan faktor terakhir adalah faktor kelelahan.
Dalam faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar dikelompokkan menjdi 3 faktor yaitu : faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Faktor keluarga meliputi orang tua, relasi anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah meliputi metode mengajar yang dilakukan oleh guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Sedangkan di dalam faktor masyarakat hal yang mmpengaruhi belajar siswa antara lain kegiatan siswa di masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Dari uraian mengenai faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dikatakan bahwa antara faktor intern yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor ekstern yang berasal luar diri siswa memiliki hubungan yang sangat erat dan keduanya saling mempengaruhi. 

2.   Hakikat Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal, yang terjadi di dalam diri seseorang. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan kognitif atau pengetahuan kemudian berpengaruh kepada perilaku. Perilaku belajar seseorang didasarkan pada tingkat pengetahuan terhadap sesuatu yang dipelajari kemudian dapat diketahui melalui tes.
Menurut Dimyanti dan Mudjiono (2006:3-4) hasil belajar  merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Hasil interaksi itu menyebabkan perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan tingkah laku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar.

b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang dating dari luar diri siswa (faktor eksternal). Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi kemampuan yang dimilikinya , motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa meliputi faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.

3. Matematika Realistik
a. Hakekat Pendekatan Matematika Realistik
Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan  menerpakan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Matematika Realistik (MR). Realistic Mathematica Education (RME) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak yang relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa, (Gravencher (Suharta, 1 : 2005).
Seperti yang dikatakan Zulkardi (2001 : 1) bahwa Realistic Mathematic Education (RME) atau pendekatan matematika realistik adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal real. Realistic dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa, Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.
Dua jenis matematisasi diformulasikan oleh Traffers yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertical (Suharta, 1 : 2005). Dalam bermatematika secara horizontal, siswa mengidentifikasi bahwa soal kontstektual harus ditransfer ke dalam soal bentuk matematika untuk lebih dipahami. Menurut Gravemeijer dan Traffers (Suharta,1: 2005) melalui penskemaan, perumusan, dan pemvisualisasian,  siswa mencoba menemukan dan hubungan soal dan mentransfernya kedalam bentuk model matematika formal dan tidak formal. Peran guru adalah membentuk siswa menemukan model-model formal dan nonformal dengan memberikan gambaran model-model yang cocok untuk mempresentasikan soal tersebut.
Sedangkan dalam matematika secara vertical, siswa menyelesaikan bentuk matematika formal atau tidak formal dari soal kontekstual dengan menggunakan konsep, operasi dan prosedur matematika yang berlaku dan dipahami siswa. Guru membantu siswa menunjukkan hubungan dari rumus yang digunakan, membuktikan aturan matematika yang berlaku, membandingkan model, menggunakan model yang berbeda, mengkombinasikan dan menerapkan model, serta merumuskan konsep matematika dan menggeneralisasikannya.
b.  Langkah-Langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Wahyudi dan Kriswandani (2007 : 52) mengemukakan bahwa langkah-langkah pembelajaran dalam pendekatan matematika realistic adalah sebagai berikut :
1.   Memahami masalah / soal konteks, guru memberikan masalah / persoalan kontekstual dan meminta peserta didik untuk memahami masalah tersebut.
2.   Menjelaskan masalah kontekstual, langkah ini dilakukan apabila ada peserta didik yang belum paham dengan masalah yang diberikan.
3.   Menyelesaikan masalah secara kelompok atau individu.
4.   Membandingkan dan mendiskusikan jawaban. Guru memfasilitasi diskusi dan menyediakan waktu untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dari soal secara kelompok.
5.   Menyimpulkan isi diskusi.

4.    Pecahan
Menurut Mustaqim dan Ary (2008 : 163), pecahan merupakan bagian dari keseluruhan. Materi pecahan adalah salah satu materi yang di ajarkan pada kelas IV Sekolah Dasar. Adapun materi yang dipelajari  meliputi :
a. penjumlahan pecahan berpenyebut sama.
Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Kemudian tuliskan hasilnya dalam bentuk paling sederhana.
b. penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama.
Penjumlahan pecahan yang berpenyebut berbeda dilakukan dengan cara menyamakan penyebutnya dengan KPK kedua bilangan, jumlahkan pecahan baru seperti pada penjumlahan pecahan berpenyebut sama.




G.    Metodologi Penelitian
Penelitian Peningkatan Hasil Belajar Matematika pada Materi Pecahan dan Operasinya  dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik (MR) pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk mengatasi suatu permasalahan atau memperbaiki suatu pembelajaran di dalam kelas.

1.  Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian tindakan ini mengambil bentuk penelitian tindakan kelas kolaborasi, dimana peneliti berkolaboasi dengan guru yang tergabung dalam satu tim untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam praktik pembelajaran. Hubungan antara peneliti dan guru bersifat kemitraan, sehingga kedudukan peneliti dan guru adalah sama untuk mengupayakan persoalan-persoalan yang akan diteliti. Dengan demikian peneliti dituntut untuk bisa terlibat secara langsung dalam PTK ini. Adapun yang melaksanakan pembelajaran adalah siswa dan peneliti, sedangkan guru sebagai pengamat.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, dimana pengambilan data dilakukan secara alami dan data yang diperoleh berupa kata-kata dan gambar. Sesuai dengan pengertian penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistic dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

2.   Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2018-2019 yaitu pada Oktober sampai Desember 2018.
2. Tempat Peelitian
Penelitian ini di lakukan di kelas IV SDS Maarif Ponorogo, kecamatan Ponorogo, kabupaten Ponorogo.

3. Instrumen Penelitian
Instrument penilaian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Dalam penelitian ini, untuk kepentingan mengumpulkan data digunakan beberapa instrument, antara lain:
a. Lembar observasi
Lembar observasi berisi catatan yang menggambarkan aktivitas peneliti dan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Format lembar observasi yang digunakan adalah format observasi sistematis yang berbentuk isian untuk mengetahui tindakan selama proses pembelajaran.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan tidak terstruktur kepada siswa, artinya wawancara hanya dilakukan kepada siswa yang dipilih tentang aktivitas, tanggapan, dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika realistik.
c. Jurnal harian
Jurnal harian berisi catatan kejadian yang belum terdapat dalam lembar observasi. Jurnal harian ini digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran serta untuk mendeskripsikan aktivitas siswa maupun pengajar selama proses pembelajaran.
d. Bahan ajar
Bahan ajar terdiri dari buku guru, buku siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
e. Lembar evaluasi
Lembar evaluasi ini berupa soal ulangan isian sebagai tolak ukur kompetensi siswa terhadap materi yang telah dipelajari.
            Lembar instrument tersebut sebenarnya tercakup dalam sebuah instrument pokok yakni peneliti itu sendiri. Penelitian tindakan kelas sebagai peneliti bertradisi kualitatif dengan latar atau setting yang wajar dan alami yang diteliti, memberikan peranan penting kepada penelitnya yakni sebagai satu-satunya instrument karena manusialah yang dapat menghadapi situasi yang berubah-ubah dan tidak menentu.

4. Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Personel yang terlibat
Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru dalam satu tim. Guru sebagai observer sedangkan peneliti dan siswa sebagai pelaksana pembelajaran. Semua tindakan didiskusikan antara peneliti dan guru.
b. Penyusunan instrument pembelajaran
Instrument pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan ajar terdiri dari buku guru, buku siswa, lembar kegiatan siswa (LKS), dan lembar evaluasi.
c. Skenario tindakan
1. Penyusunan perencanaan (planning)
Peneliti melakukan observasi awal, wawancara, dan diskusi dengan guru untuk mengetahui permasalahan yang ada dalam pembelajaran matematika di kelas. Setelah peneliti mengetahui permasalahan yang terjadi, peneliti bersama guru yang tergabung dalam tim kolaborasi menyusun rencana tentang tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap siswa yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Solusi yang diterapkan adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik.
2. Pelaksanaan tindakan (acting)
Peneliti melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan realistik berdasarkan pada rencana tindakan yang tertuang dalam rencana pembelajaran sebagai upaya perbaikan, peningkatan, dan perubahan yang dihaapkan. Dalam tahap ini sangat dipengaruhi situasi dan kondisi pada waktu pembelajaran berlangsung sehingga perencanaan tindakan bersifat fleksibel.
3. Observasi (observing) dan perekaman tindakan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengamati pelaksanaan dan hasil serta dampak dari tindakan yang dilakukan. Tahap ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Tahap ini dilakukan oleh guru sebagai observer. Catatan dan dampak tindakan diperoleh dari lembar observasi, wawancara, jurnal harian dan dokumentasi berupa foto kegiatan pada saat pembelajaran. Observer hanya melakukan pencatatan atas apa yang dilihat dan didengar. Observer harus bersifat deskriptif dan netral.
4. Refleksi (Reflecting)
Peneliti dan guru menganalisa, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil dan dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan data dari hasil observasi (monitoring) dan perekaman tindakan. Data hasil monitoring dan perekaman tindakan disusun secara urut dan teratur.

5. Teknik analisis data
Analisis data yang digunakan adalah analisis data diskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data hasil observasi tentang proses pembelajaran, hasil wawancara dan jurnal harian. Data tambahan yang diperoleh dari wawancara tidak terstruktur dengan siswa dan data dari foto kamera sebagai pertimbangan. Kemudian data diperoleh dan dianalisis dalam beberapa tahap sebagai berikut :
a. Reduksi data
Tahap ini dilakukan untuk merangkum data, memfokuskan pada hal-hal penting.
b. Triangulasi
Triangulasi adalah suatu cara untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu pengumpulan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Triangulasi pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, data hasil wawancara dengan guru dan diperkuat dengan data dari jurnal harian, wawancara tidak terstruktur dengan siswa dan data dari dokumen kamera.
c. Display data
Data hasil reduksi data dan triangulasi kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Selanjutnya data hasil analisis disajikan dalam bentuk terstruktur sehingga data mudah dipahami secara keseluruhan atau pada bagian tertentu. Selain itu data ditampilkan pula dalam bentuk foto untuk memahami hal-hal yang bersifat subjektif.
d. Kesimpulan
Data yang diperoleh setelah dianalisis kemudian diambil simpulannya apakah tujuan dari pembelajaran sudah tercapai atau belum. Apabila belum tercapai dilakukan tindakan selanjutnya dan apabilasudah tercapai penelitian dihentikan.

6. Indikator keberhasilan
Apabila penggunaan pendekatan matematika realisttik (MR) dalam kegiatan pembelajaran matematika telah meningkat hasil blajar matematika siswa lebih dari 75% maka penelitian akan dihentikan. Angka 75% ini berdasarkan pada hasil  pre test yang dilakukan peneliti.


Download Contoh Proposal PTK
Untuk unduh atau Download Contoh Proposal PTK ini secara lengkap silakan klik tautan dibawah ini:

Demikian Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Penjumlahan Dua Pecahan  Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas IV SDS Maarif Ponorogo semoga dapat sobat unduh atau Download semoga bermanfaat.

Artikel Menarik Lainnya



Berlangganan via Email