Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Volume Bangun Ruang Melalui Model Problem Posing Pada Siswa Kelas V SDN Unggulan Magetan





Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah proposal yang dibuat oleh peneliti untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di dalam kelas dengan melakukan PTK guna memperbaiki pembelajaran pada kelas yang diteliti dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas yang hendak di lakukan PTK, seperti halnya tadi hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses blajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau terdapat masalah lainnya.
 
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Volume Bangun Ruang Melalui Model Problem Posing Pada Siswa Kelas V SDN Unggulan Magetan
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Volume Bangun Ruang Melalui Model Problem Posing Pada Siswa Kelas V SDN Unggulan Magetan


Unsur PTK
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu sebagai berikut:
1.   PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apa bila dalam kelas tersebut terdapat masalah
2.   PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
3.   PTK memang harus didakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.

Contoh Proposal PTK
Berikut ini adalah Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Volume Bangun Ruang Melalui Model Problem Posing Pada Siswa Kelas V SDN Unggulan Magetan. Contoh Proposal dibawah ini hanya bersifat petikan. Untuk versi lengkap atas Laporan PTK dengan judul diatas silakan Download Contoh Proposal PTK.
………………………………………………………………………..
 KERANGKA PROPOSAL PTK

A.    JUDUL PTK
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI VOLUME BANGUN RUANG MELALUI MODEL PROBLEM POSING PADA SISWA KELAS V SDN UNGGULAN MAGETAN

B.     LATAR BELAKANG
Sebuah kegiatan pembelajaran yang baik akan melibatkan siswa  untuk berperanserta secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini diperlukan agar pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki siswa sebagai akibat dari belajar dapat tertanam dengan kuat pada siswa. Selain itu interaksi dengan lingkungan juga sangat diperlukan agar pembelajaran menjadi kontekstual sehingga lebih bermakna. Disini peran guru sangat dominan untuk menciptakan sebuah kegiatan pembelajaran yang inovatif. Guru diharuskan dapat menciptakan sebuah kegiatan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual (disesuaikan dengan lingkungan sekitar siswa). Hal ini sesuai dengan proses pembelajaran di sekolah dasar menurut Kemdikbud (2016: 1) yang menyebutkan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kecakapan dan kemahiran matematika. Kemahiran matematika ini tidak hanya berupa kemampuan dalam mengerjakan soal saja, tetapi juga kemampuan dalam pengembangan penalaran, komunikasi dan pemecahan masalah. Sesuai dengan yang dikemukakan Kemdikbud (2016: 1) bahwa secara umum, pembelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kecakapan atau kemahiran matematika. Kecakapan atau kemahiran matematika merupakan bagian dari kecakapan hidup yang harus dimiliki peserta didik terutama dalam pengembangan penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah (problem solving) yang dihadapi dalam kehidupan peserta didik sehari-hari. Matematika selalu digunakan dalam segala segi kehidupan.
Pada pembelajaran matematika, siswa tidak hanya diarahkan untuk mampu menyelesaikan soal matematika saja. Akan tetapi, siswa juga diarahkan untuk mengembangkan penalaran, berkomunikasi, dan memecahkan masalah matematika yang terdapat pada kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini bertujuan agar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan matematika yang diperolehnya ke dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, dalam pembelajaran matematika guru memiliki peran penting untuk menciptakan suatu kegiatan yang membuat siswa dapat bernalar, berkomunikasi, dan memecahkan masalah matematika dalam kehidupan siswa.
Kegiatan pembelajaran matematika yang dirancang oleh guru dengan metode yang tepat akan mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Hal ini dikarenakan dengan kegiatan pembelajaran yang tepat, maka siswa akan berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Keaktifan siswa disini meliputi keaktifan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, belajar untuk berfikir kreatif, belajar bernalar, belajar berkomunikasi, dan belajar keterampilan lain yang terkait dengan kegiatan pembelajaran. Dengan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, maka hasil belajar siswa akan semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Yustianingrum dkk (2014:1) yang menunjukkan bahwa semakin baik keaktifan dan kemandirian yang dimiliki siswa maka akan semakin tinggi prestasi belajar matematika yang diperoleh siswa. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah keaktifan dan kemandirian yang dimiliki oleh siswa maka akan semakin rendah prestasi belajar matematika yang diperoleh siswa.
Pada kenyataannya, kegiatan pembelajaran matematika yang dilaksanakan di sekolah sebagian besar berfokus memberikan pengetahuan kepada siswa. Pembelajaran yang dilaksanakan kurang memperhatikan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pengetahuan yang didapatkan siswa sebagian besar berupa kemampuan menyelesaikan soal, bukan penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah. Hal ini menyebabkan pengetahuan siswa kurang bermakna dan mudah terlupakan. Selain itu hasil belajar matematika siswa juga masih kurang. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata siswa kelas 6 pada kompetensi dasar 3.1 menghitung luas segi banyak yang merupakan gabungan dari dua bangun datar sederhana yang mendapatkan nilai rata-rata 65.
Salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk mengembangkan penalaran, komunikasi dan pemecahan masalah matematika bagi siswa adalah dengan menggunakan problem posing. Dengan menggunakan problem posing, siswa diarahkan untuk membuat sendiri sebuah soal matematika, untuk kemudian mampu menyelesaikan soal yang dibuatnya. Dalam problem posing menurut Lin (2004: 3) siswa membuat dan membentuk soal berdasarkan konteks, cerita, informasi, atau gambar yang diketahui. Dengan problem posing, siswa akan lebih memahami soal, karena sebelum membuat soal, mereka akan memahami contoh-contoh soal terlebih dulu. Selain itu mereka akan berlatih bernalar dan berfikir kreatif dalam membuat soal dan menyelesaikan soal.
Pembelajaran dengan problem posing akan membuat siswa berlatih bernalar dan berfikir kreatif dalam membuat soal dan menyelesaikan soal. Dengan terbiasa berlatih untuk berfikir secara kritis, kreatif dan berlatih bernalar, maka keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika akan meningkat. Menurut penelitian dari Ulfah (2017: 1) yang menyebutkan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran problem posing akan terbiasa dalam menyusun kalimat matematika menjadi masalah cerita sehingga bisa memfasilitasi siswa untuk memahami tentang cerita. Hal ini sesuai dengan penelitian Kusmanto (2014: 103) yang menyebutkan bahwa dari pembahasan penelitian tentang pengaruh berpikir kreatif terhadap kemampuan memecahkan masalah matematika, dapat dipahami bahwa berpikir kreatif secara teoritis dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah matematika. Dengan meningkatnya kemampuan menyelesaikan masalah, maka diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat. Mengingat pentingnya problem posing dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran, maka dibuatlah penelitian tentang penerapan model pembelajaran problem posing matematika untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

C.    RUMUSAN MASALAH
Hasil refleksi diri yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang dilaksanakan pada materi menghitng bangun ruang balok dan kubus belum efisien dan efektif sehingga pada proses pembelajaran perlu diperbaiki. Untuk itu peneliti perlu menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi volume bangun ruang. Model pembelajaran Problem Posing menjadi salah satu pilihan yang tepat karena model ini cocok untuk diterapkan dalam materi menghitung volume bangun ruang balok dan kubus. Adapun rumusan maalah pada penelitian ini adalah:
1.   Bagaimanakah penerapan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika menghitung volume bangun ruang dalam soal cerita?
2.   Bagaimanakah keaktifan siswa dalam penerapan problem posing dalam pembelajaran matematika menghitung volume bangun ruang dalam soal cerita?
3.   Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa degan penerapan problem posing dalam pembelajaran matematika menghitung volume bangun ruang dalam soal cerita?

D.    TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.   Untuk mengetahui dan menjelaskan penerapan model pembelajaran problem posing dalam pembelajaran matematika menghitung volume bangun ruang dalam soal cerita.
2.   Untuk mengetahui dan menjelaskan keaktifan siswa dalam penerapan problem posing dalam pembelajaran matematika volume bangun ruang dalam soal cerita.
3.   Untuk mengetahui dan menjelaskan peningkatan hasil belajar siswa degan penerapan problem posing dalam pembelajaran matematika menghitung volume bangun ruang dalam soal cerita.




E.  MANFAAT
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, manfaat  penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan sumbangan dalam kegiatan pembelajaran matematika, menjadi salah satu referensi bagi perpustakaan, dan informasi baru dalam penerapan pembelajaran dengan model problem posing. Secara praktis, diharapkan hasil penelitian memberikan manfaat sebagai berikut.
1.   Bagi guru
Sebagai bahan masukan bagi guru untuk merancang kegiatan pembelajaran dengan menggunakan problem posing untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai kurikulum.
2.   Bagi siswa
Menambah motivasi bagi siswa untuk belajar matematika dengan menggunakan metode problem posing untuk mencapai tujuan pembelajaran.
3.   Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran lain yang dapat meningkatkan  serta mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa.

F.  KAJIAN PUSTAKA
1.   Hasil belajar
Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik jika hasil belajar sesuai dengan standar yang diharapkan dalam proses pembelajaran tersebut. Ini mengandung maksud bahwa hasil belajar harus dirumuskan dengan baik agar dapat dievalauasi pada akhir pembelajaran. Itu karena tidak mungkin hasil belajar akan terlihat tanpa seseorang melakukan sesuatu. Hasil belajar menunjukkan perolehan dari sesuatu yang telah dipelajari melalui proses belajar.
Muhibbin Syah (1997: 91-42) menyatakan bahwa hasil belajar juga dapat dilihat dari tiga aspek. Aspek pertama adalah aspek kuantitatif. Aspek ini menekankan pada pengisian dan pengembangan kemmapuan kognitif dengan fakta-fakta yang berarti. Aspek yang kedua adalah aspek institusional. Aspek ini adalah aspek kelembagaan yang menekankan pada ukuran seberapa baik perolehan belajar siswa yang dinyatakan dalam angka-angka. Aspek yang ketiga adalah aspek kualitatif. Aspek kualitatif menekankan pada seberapa baik pemahaman dan penafsiran siswa terhadaplingkungan sekitarnya sehingga dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari uraian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam bentuk tingkat penguasaan siswa terhadap pengetahuan dan ketrampilan. Dengan demikian hasil belajar Matematika harus berkaitan dengan tujuan pendidikan Matematika yang ada pada kurikulum. Hasil belajar Matematika meliputi pencapaian Matematika sebagai produk, proses dan sikap ilmiah.
2.   Problem Posing
2.1  Pengertian Problem Posing
Model pembelajaran problem posing mulai dikembangkan tahun 1998 oleh Lyn D. English, dan awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain. Pembelajaran hendaknya lebih ditekankan pada kegiatan problem posing. Hal ini untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa mengajukan soal. Mengajukan soal merupakan salah satu kegiatan yang dapat menantang siswa untuk lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka.
Menurut Fulgensius (2017), Problem posing terdiri dari dua kata berbahasa inggris yaitu ‘problem’ yang dapat diartikan ‘masalah’ dan ‘posing’ yang diartikan ‘pengajuan’. Masalah dalam pembelajaran dapat berupa soal. Jadi problem posing dapat diartikan pengajuan soal/masalah. Problem posing pada intinya, siswa dituntut untuk membuat soal sendiri.
 Menurut Hobri Problem posing mempunyai arti yaitu,8 (1) perumusan soal sederhana atau perumusan kembali soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai; (2) perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan; (3) perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah memecahkan soal. Problem posing merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa dalam kegiatan pembelajaran diminta menyusun soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan.
Dari berbagai pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa problem posing adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dalam kegiatan pembelajaran diminta menyusun soal berdasarkan situasi atau informasi yang telah diberikan oleh guru.
Adapun situasi dalam pembelajaran problem posing diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu situasi bebas, semi terstruktur dan terstruktur (Stoyanova dan Ellerton, 1996; Abu-Elwan, 2002). Berikut penjelasan dari ketiga situasi tersebut.
1.   Situasi problem posing bebas (Free Problem Posing Situations), siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal.
2.   Situasi problem posing semi terstruktur (Semi-Structured Problem Posing Situations), siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu.
3.   Situasi problem posing terstruktur (Structured Problem Posing Situation), siswa diberi soal atau selesaian soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru.
Pada penelitian ini, problem posing yang digunakan adalah perumusan soal yang sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar menjadi lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka menyelesaikan soal cerita operasi hitung campuran. Penelitian ini menggunakan informasi problem posing yang terstruktur, yaitu informasi berupa soal yang perlu diselesaikan oleh siswa. Berdasarkan soal cerita yang diberikan, siswa menyusun informasi dan kemudian membuat soal berdasarkan informasi yang telah disusun. Selanjutnya, soal-soal tersebut diselesaikan dalam rangka mencari selesaian sebenarnya dari pertanyaan soal cerita yang diberikan.

2.2  Langkah-langkah Pembelajaran Problem Posing
Dengan menggabungkan tahap problem posing menurut pendapat Brown dan Walter (Accepting dan Challenging), dengan pendapat Hamzah Upu (situasi masalah, pengajuan masalah, pemecahan masalah) serta tahap dalam pengembangan berpikir kreatif (Persiapan, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi) dapat disusun langkah-langkah pendekatan problem posing, yaitu (a) Persiapan, penyampaian tujuan pembelajaran dan menggali pengetahuan awal siswa tentang materi; (b) Pemahaman, penjelasan singkat guru tentang materi yang akan dipelajari siswa; (c) Situasi Masalah, pemberian situasi masalah atau informasi terbuka pada siswa, situasi masalah dapat berupa studi kasus atau informasi terbuka berupa teks dan gambar; (d) Pengajuan masalah, siswa mengajukan pertanyaan dari situasi masalah atau informasi terbuka yang diberikan guru; (e) Pemecahan masalah, siswa memberikan jawaban atau penyelesaian soal dari pertanyaan yang telah diajukan oleh siswa; (f) Verifikasi, mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari
Dalam Penelitian ini penulis menggunakan enam langkah seperti yang dikemukakan oleh Era Budi yaitu Persiapan, Pemahaman, Situasi Masalah, Pengajuan masalah, dan Verifikasi.
3.   Pembelajaran Matematika
3.1     Kajian Mata Pelajaran Matematika
3.1.1  Hakikat Matematika
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani Mathematike yang berari Lerating to learning. Perkataan itu mengandung akat kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science) (Suherman, dkk, 2003:15).
Selanjutnya Tinggih dalam Suherman, dkk (2003:16) menyatakan bahwa perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan dengan bernalar. Sementara itu James dan James dalam Suherman (2003:16) menyatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri.



Selaras dengan hal itu Johnson dan Rising dalam Suherman, dkk (2003:17) menyatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik. Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol yang padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Sedangkan Reys, dkk dalam Suherman, dkk. (2003:17) menyatakan bahwa matematika adalah  telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.
3.1.2  Tujuan Mata Pelajaran Matematika
Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BNSP, 2008) Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a.    Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma, secara luwes, akurat, efisiensi dan tepat dalam memecahkan masalah.
b.   Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan, dan pernyataan matematika.
c.    Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d.   Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk menjelaskan keadaan atau masalah.
e.    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam memperjelas matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
4.   Penerapan Perangkat Pembelajaran Problem Posing Matematika
Dalam pembelajaran matematika, problem posing merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada perumusan soal. Dengan bimbingan guru, siswa merumuskan soal dalam rangka memecahkan soal yang lebih kompleks. Brown dan Walter (2005) dalam Nurhidayah, menyatakan bahwa soal dapat dirumuskan melalui beberapa situasi, antara lain: gambar, benda manipulatif, permainan, teorema/konsep, alat peraga, soal, dan solusi dari suatu soal.
Brown dan Walter (2005) dalam Nurhidayah, menyatakan bahwa problem posing dalam pembelajaran matematika memiliki dua tahap kognitif yaitu Accepting (menerima) dan Challenging (menantang). Tahap menerima adalah suatu kegiatan dimana siswa dapat menerima situasi – situasi yang diberikan guru atau siatuasi-situasi yang sudah ditentukan. Tahap menantang adalah suatu kegiatan dimana siswa menantang situasi yang diberikan guru dalam rangka pembentukan atau perumusan soal. Pada tahap menantang ini dilakukan dengan empat kegiatan, yaitu (1) membuat daftar atribut yang ada pada situasi, (2) menantang atribut pada daftar dengan atribut lain yang relevan dengan atribut tersebut, (3) membuat/mengajukan pertanyaan, dan (4) menganalisis pertanyaan.

5.   Keaktifan siswa
5.1     Pengertian Kreativitas
Ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, pengembangan kreativitas sangatlah penting. Banyak permasalahan serta tantangan hidup menuntut kemampuan adaptasi secara kreatif dan kemampuan dalam mencari pemecahan masalah yang imajinatif. Kreativitas yang berkembang dengan baik akan melahirkan pola pikir yang solutif yaitu ketrampilan dalam mengenali permasalahan yang ada, serta kemampuan membuat perencanaanperencanaan dalam mencari pemecahan masalah.
Menurut Munandar kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Lebih lanjut lagi Utami Munandar menekankan bahwa kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang merupakan tempat individu berinteraksi itu dapat mendukung berkembangnya kreativitas individu. Kreativitas yang ada pada individu itu digunakan untuk menghadapi bebagai permasalahan yang ada ketika berinteraksi dengan lingkungannya dan mencari berbagai alternative pemecahannya sehinga dapat tercapai penyesuaian diri secara adekuat.
Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinal sesuai imajinasi atau khayalannya untuk menernukan berbagai alternatif jawaban terhadap suatu permasalahan.
5.2     Tujuan Pengembangan Kreativitas
Menurut Nursisto(1999), kemampuan belajar siswa jadi lebih baik jika kemampuan kreativitasnya juga ikut dilibatkan. Pada dasarnya semua siswa memiliki kreatif dalam dirinya yang harus dikembangkan agar hidup jadi semangat dan produktif. Kesadaran akan kemampuan kreativitas ini harus dilatih untuk memacu keberhasilan siswa demi menyongsong masa depan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Getzels dkk dalam Nursisto yang mengemukakan dalam achievement test, siswa yang memiliki IQ tinggi hasilnya sama bagusnya dengan siswa yang memiliki kreatif tinggi. Ibarat pepatah tiada rotan akar pun jadi, maksudnya tiada IQ tinggi tapi punya kreativitas tinggi akan sama manfaatnya. Menurut Renzulli yang dikutip oleh Munandar kreativitas dapat memunculkan penemuan baru dalam berbagai bidang ilmu dan bidang usaha manusia, yang dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia dimasa yang akan datang.
6.   Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran Matematika anak cenderung susah untuh memahami soal cerita yang rumit. Sehingga anak sulit untuk mencapai standar KKM. Model Problem Posing sangat cocok untuk mengajarkan materi Matematika tentang menghitung volume bangun ruang kubus dan balok dalam soal cerita. Pada penelitian ini, problem posing yang digunakan adalah perumusan soal yang sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar menjadi lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka menyelesaikan soal cerita volume bangun ruang. Metode Problem Posing yang digunakan peneliti untuk mengupayakan agar prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika materi volume bangun ruang meningkat.

Download Contoh Proposal PTK
Untuk unduh atau Download Contoh Proposal PTK ini secara lengkap silakan klik tautan dibawah ini:

Demikian Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Volume Bangun Ruang Melalui Model Problem Posing Pada Siswa Kelas V SDN Unggulan Magetan semoga dapat sobat unduh atau Download semoga bermanfaat.




Artikel Menarik Lainnya




Berlangganan via Email