ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Bilangan Pecahan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1





Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) adalah proposal yang dibuat oleh peneliti untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di dalam kelas dengan melakukan PTK guna memperbaiki pembelajaran pada kelas yang diteliti dan meningkatkan proses belajar mengajar siswa pada kelas tertentu. Namun tidak semua kelas yang hendak di lakukan PTK, seperti halnya tadi hanya kelas kelas tertentu, misal kelas yang dianggap bermasalah, atau poses blajar mengajar kelas tersebut tidak optimal atau terdapat masalah lainnya.
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Bilangan Pecahan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1
Contoh Proposal PTK: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Bilangan Pecahan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1  

Unsur PTK
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ada beberapa unsur yang terkandung di dalamnya yang sangat khas yaitu sebagai berikut:
1.   PTK di laksanakan oleh pendidik yaitu guru/pengajar, apa bila dalam kelas tersebut terdapat masalah
2.   PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dilakukan bahwa memang benar masalah yang di hadapi oleh guru pada kelas tersebut
3.   PTK memang harus didakan karena masih banyak proses pembelajaran yang harus dimaksimalkan oleh pendidik/guru.

Contoh Proposal PTK 

Berikut ini adalah Contoh Proposal PTK yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pada Bilangan Pecahan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Make A Match Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1 



PENDAHULUAN




A.    Latar Belakang Masalah
Didalam percepatan arus informasi dalam era globalisasi menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan dan strateginya agar sesuai kebutuhan dan tidak ketinggala zaman, sehingga sistsem pendidikan nasional senantiasa harus dikembangkan sesuai engan kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik ditingkat lokal, nasional maupun global (Mulyana, 2007 : 3).
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran anak didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis tetapi miskin aplikasi.
Belajar ilmu seperti matematika, pasti berbeda dengan belajar ilmu sosial. Matematika memiliki obyek kajian yang bersifat abstrak berupa konsep, fakta, operasi, dan prinsip (Gagne alam Nurdin, 2006 : 896). Akibatnya banyak siswa kurang tertarik belajar matematika, sehingga kualitas belajar siswa sangat rendah. Hal ini ditunjukkan pada fakta di lapangan dengan adanya nilai rata-rata hasil belajar matematika siswa relatif rendah dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan dengan cara mengikuti proses pembelajaran mata pelajaran matematika bilangan pecahan yang berlangsung di kelas V, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa di SDN Betek Taman 1 rendah. Sehingga nilai rata-rata evaluasi akhir pelajaran matematika tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 70. Dari 15 siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM sebanyak 10 siswa, sedangkan sisanya 5 siswa diatas KKM. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain :
1.    penyampaian materi oleh guru monoton ;
2.    guru tidak menggunakan media pembelajaran ;
3.    metode yang digunakan guru kurang tepat ;
4.    guru kurang respon terhadap kemampuan masing-masing siswa yang mengakibatkan siswa kurang respon terhadap pembelajaran, sehingga hasil belajar rendah.
Untuk mengatasi permasalahan diatas, peneliti mencari solusi dengan menggunakan salah satu metode pembelajaran yang bisa menumbuhkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan yaitu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif diantaranya adalah Jigsaw, Team games Tournament (TGT), Student Teams Achievement Division (STAD). Group Investation (GI), dan Make A Match (Mencari Pasangan).
Dari berbagai macam model pembelajaran kooperatif yang telah disebutkan diatas, metode pembelajaran Make A Match merupakan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, karena ada beberapa alasan. Anita Lie menyatakan ada 4 alasan yaitu pertama, model pembelajaran ini melibatkan seluruh siswa aktif tanpa harus ada perbedaan status. Kedua, metode ini dapat digunakan semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak. Ketiga, melihat hasil yang pernah diterapkan oleh peneliti terdahulu. Keempat, merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan. 
Pada umumnya siswa akan merasa gembira jika guru menggunakan metode yang didalamnya terdapat unsur permainan. Make A Match dalam pelaksanaannya dapat dikatakan sebagai suatu metode yang memadukan antara belajar dan bermain, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B.     Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang timbul dalam penelitian ini adalah “ Bagaimanakah penggunaan model pembelajaran Kooperatif Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam bilangan pecahan pada Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1 Tahun Pelajaran 2018/2019 ? “. 

C.    Tujuan Penelitian.
Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam bilangan pecahan melalui pengunaan model pembelajaran Kooperatif Make A Match pada Siswa Kelas V SDN Betek Taman 1 Tahun Pelajaran 2018/2019. 

D.    Manfaat penelitian.
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi :
a.    Guru.
1.    Menambah pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh.
2.    Meningkatkan profesionalisme guru.
3.    Sebagai sarana untuk belajar dalam penelitian tindakan kelas  dengan metode yang berbeda sehingga memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dalam penelitian tindakan kelas.
b.    Siswa.
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa lebih tertarik mempelajari matematika.
2. Presentase keberhasilan siswa meningkat.
3. Lebih terbuka pada teman sebaya, sehingga mau berperan dalam kelompoknya.
c.    Sekolah.
1.    Meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.
2.    Memberikan kontribusi yang baik pada sekolah terutama kemajuan
     dan perbaikan pembelajaran.



BAB II
       KAJIAN PUSTAKA
A.    Hasil Belajar
            Menurut Tabrani Rusyan dkk ”Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang menampillan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari. Hasil belajar dapat diientifikasikan dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara permanen yang dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama” (1992:80). Berkaitan dengan hasil belajar, Tabrani Rusyan dkk, mengemukakan sebagai berikut : ” Adapun untuk melihat sejauh mana hasil belajar yang telah dicapai siswa secara tepat dan dapat dipercaya perlu adanya informasi yang didukung oleh fakta-fakta yang obyektif yang memadai tentang indikator-indikator perubahan tingkah lakupeserta didik” (1992:21).
Hasil   belajar   adalah   perubahan  tingkah laku   yang   terjadi  dalam kehidupan diri individu. Suatu perubahan tingkah laku yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya. Perubahan sebagi hasil proses belajar mengajar apat ditunjukkan dalam berbagai berntuk seperti pengetahuan, pemahaman, dan sikap (Slameto, 1995 : 3).
            Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat dilihat dari indikator perubahan tingkah laku peserta didik baik dalam bentuk pengetahuan, pemahaman dan sikap yang dilakukan pada setiap akhir pokok bahasan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
Menurut Suryabrata (1989:249-251), ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu
1.Faktor internal artinya faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor ini terdiri atas faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan), faktor kelelahan (kelelahan jasmaniah).



2.Faktor eksternal artinya faktor yang ada di luar individu. Faktor ini terdiri atas faktor keluarga (cara orangtua mendidik anak, hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi, perhatian orangtua, latar belakanag budaya, faktor sekolah salah satunya adalah media pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran akan mempengaruhi hasil pembelajaran.
Berdasar uraian diatas, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa berasal dari diri siswa dan dari lingkungan sekitar. Salah satu faktor yang datang dari lingkungan adalah cara guru menyajikan materi pelajaran. Hal ini menyangkut media pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, diharapkan guru dapat memilih media yang tepat alam pembelajaran.

B.  Metode Pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajara dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar (Sarifudin, 1996 : 78).
(Joice dan Well dalam Saripudin, 1996 : 8) mengemukakan unsur-unsur model belajar mengajar sebgai berikut : 1) sintakmatik, yaitu tahap-tahao dari model tersebut ; 2) sistem sosial, yaitu situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model tersebut ; 3) prinsip reaksi, yaitu pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya pengajar memberikan respon terhadap mereka, 4) sistem pendukung, yaitu segala sarana, bahan, dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model tersebut, 5) dampak instruksional, yaitu hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai dengan cara mengarahkan siswa, 6) dampak pengiring, yaitu hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para siswa tanpa pengarahan dari guru.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan kerangka atau prosedur untuk mencapai tujuan belajar dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur model belajar mengajar.
1.      Pembelajaran Metode Cooperative Learning.
Pembelajaran Metode Cooperative Learning pertama kali muncul dari para filosof diawal abad Masehi yang mengemukakan bahwa seseorang belajar, ia harus memiliki teman  belajar sehingga teman tersebut dapat diajak untuk memecahkan masalah (Stavin dalam Pambudi, 2002 : 64) dikembangkan kedalam metode pembelajaran kooperatif yaitu suatu model pembelajran berorientasi pada belajar bersama dan dalam suatu kelompok kecil yang heterogen untuk mendiskusikan suatu masalah secara bersama-sama dengan anggota kelompoknya sehingga sulit dapat dipecahkan.
            Menurut Anita Lie (2002 : 12) Metode Cooperative Learning (model pembelajan kooperatif) merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas terstruktur. Pendapat lain mengatakan bahwa paa dasarnya metode pembelajaran kooperatif merupakan suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan anggota kelompok itu sendiri (Satrijono, 2000 : 678).
            Jadi pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada sikap dan perilaku bersama dalam bekerjasama atau membantu diantara sesama pada struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok kecil yang heterogen, terdiri atas dua orang atau lebih untuk mendiskusikan serta memecahkan masalah secara bersama-sama, sehingga siswa mampu mencapai hasil belajar yang optimal.

2.      Keunggulan Model Cooperative Learning.
Menurut Johnson dan Johnson (Nurhadi dkk, 2004 : 63-64) model Cooperative Learning memiliki keunggulan, diantaranya : (1) siswa dimungkinkan dapat saling belajar mengenai sikap, informasi, perilaku, dan penyesuaian sosial ; (2) siswa dapat meningkatkan sikap tenggang rasa, sikap positif dalam belajar, kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif, keterampilan hidup bergotong-royong, kesetiakawanan sosial, kesadaran bertanggungjawab, saling menjaga perasaan, kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, kelas sosial, agama dan jenis kelamin, serta berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan positif antar manusia ; (3) siswa dapat menghilangkan penderitaan siswa akibat kesendirian atau keterasingan serta sifat mementingkan diri sendiri.
Berdasarkan keunggulan metode pembelajaran kooperatif diatas, siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi individu yang bisa memahami kekurangan serta kelebihan orang lain. Menyadari bahwa pendidikan khususnya keterampilan sosial penting diajarkan sejak dini maka perlu dilaksanakan pembelajaran yang beorientasi pada belajar bersama, sehingga kelak akan tercipta kehidupan bermasyarakat yang rukun, damai, harmonis tanpa saling curiga.

C.     Model Pembelajaran Make A Match.

1.      Pengertian Model Pembelajaran Make A Match.
Menurut Rahayu, metode pembelajaran Kooperatif  Make A Match merupakan salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan di dalam kelas. Model Pembelajaran Make A Match yang dikembangkan oleh Lurna Curran ini berawal dari banyaknya siswa di tingkat dasar yang mempunyai kesulitan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa dalam bekerjasama dengan orang lain dalam pelajaran berhitung (matematika). Sebuah organisasi yang bernama The National Council of Teachers of Mathematic (NCTM) memerintahkan kepada guru matematika untuk sering memberikan latihan soal yang dibutuhkan siswa untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika. Guru seharusnya menggunakan variasi pemainan yang lebih sering kepada siswanya dengan harapan mereka mempunyai dasar yang kongkrit dalam memahami pengunaan angka-angka dan persamaan dalam matematika.
Supandi menyatakan, Make A Match (mencari pasangan) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dimana siswa dituntut untuk menemukan pasangan yang sesuai dengan kartu permasalahan yang diperoleh melalui undian secara bebas, Kartu-kartu ini dipersiapkan oleh guru dan dibagikan kepada setiap siswa. Pada prinsipnya siswa dalam kelas dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok yang memecahkan masalah dan kelompok yang membawa kartu soal. Tujuan dari model pembelajaran ini adalah untuk membina keterampilan menemukan informasi dan kerjasama dengan orang lain serta membina tanggungjawab untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui kartu permasalahan.

2.      Langkah-langkah penerapan Model Pembelajaran Make A Match.
Pembelajaran Make A Match menggunaan kartu-kartu. Kartu tersebut terdiri dari kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan tersebut.
Adapun langkah-langkah penerapan metode Make A Match adalah sebagai berikut :
1.         Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban ;
2.         setiap siswa mendapat satu buah kartu ;
3.         tiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang ;
4.         setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban) ;
5.         setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin ;
6.         setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya ;
7.         demikian seterusnyanya ;
8.         guru bersama siswa membuat kesimpulan materi pembelajaran.
Jadi, jika dilihat langkah-langkah pembelajaran Model Pembelajaran Make A Match merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa untuk bekerjasama dan berkomunikasi antar siswa dalam menemukan jawaban atas kartu yang dipegangnya. Selain itu siswa dituntut untuk berpikir secara teliti dan cepat serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

3.      Kelebihan dan kelemahan Model Pembelajaran Make A Match.
a.       Kelebihan dari Model Pembelajaran Make A Match adalah ;
1. untuk melatih ketelitian, kecermatan, dan kecepatan karena setiap siswa dituntut untuk mencari jawaban yang cocok dari kartu yang dipegangnya.
2. siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atas topik dalam suasana menyenangkan.
b. Kelemahan dari Model Pembelajaran Make A Match adalah :
1. waktu yang cepat dan kurang konsentrasi, karena dibatasi oleh waktu yang cepat untuk menemukan kartu yang dipegang pasangannya, maka membuat siswa tergesa-gesa dalam mencari jawaban dari kartu yang dipegangnya sehingga kurang konsentrasi ;
2. ketidak efektifan pembelajaran disaat salah satu pasangan mempunyai kesulitan untuk diajak kerjasama dan dituntut cepat oleh pasangan untuk menemukan pasangan kartu soal.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kelebihan model ini adalah melatih ketelitian, kecermatan, ketepatan serta kecepatan siswa dalam menemukan pasangan yang tepat dalam batas waktu yang ditentukan dan siswa dapat belajar sambil bermain. Sedangkan kekurangannya, terbatasnya waktu, sehingga siswa kurang konsentrasi disaat mencari pasangannya.
            Untuk mengatasi kekurangan ini, peneliti melakukan pengaturan alam pembentukan kelompok kerjasama, yaitu dengan membentuk siswa menjadi enam  kelompok yang terdiri dari 3 kelompok yang memegang kartu jawaban dan tiga kelompok yang memegang kartu soal. Hal ini dilakukan agar siswa dapat terkondisikan pada saat proses belajar mengajar, sehingga waktu yang digunakan efektif dan efisien.

D.    Kartu Bilangan.
Menurut buletin PMRI Th. 2004 : kartu bilangan terbuat dari karton dan spidol. Dengan membuat kartu-kartu sederhana yang bisa digunakan guru. Untuk mengembangkan pembelajaran yang interaktif, bahan ini selain murah juga sangat fleksibel mudah dipindah-pindahkan.
Adapun kelebihan dari kartu bilangan adalah :
  1.  Praktis : dilihat dari cara pembuatan dan penggunaannya kartu bilangan sangat praktis, dalam menggunaan media ini guru tidak memerlukan keahlian khusus.
  2. mudah diingat, karena kartu bilangan membawa pesan singkat/pendek, sehingga memudahkan siswa untuk mengingat.
  3. menyenangkan, media kartu bilangan ini dalam penggunaannya bisa melalui permainan. Misalnya : Siswa berlomba-lomba mengambil 1 kartu bilangan yang bertuliskan bilangan pecahan secara acak, kemudian mencari pasangan dari kartu bilangan tersebut sesuai dengan pesan pendek yang terdapat di belakang kartu tersebut.
Download Contoh Proposal PTK
Untuk unduh atau Download Contoh Proposal PTK ini secara lengkap silakan klik tautan dibawah ini:



Demikian Contoh Proposal PTK yang dapat sobat unduh atau Download semoga bermanfaat.

Artikel Menarik Lainnya



Share This :

0 komentar

 Recent