ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Pengaruh Penggunaan Media Realia Terhadap Prestasi Belajar IPA Materi Bagian Tumbuhan Dan Fungsinya Kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi

Monday, September 2, 2019




PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA REALIA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA MATERI BAGIAN TUMBUHAN DAN FUNGSINYA KELAS IV SDN MANISHARJO 4  KECAMATAN NGRAMBE KABUPATEN NGAWI



SKRIPSI



Contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Pengaruh Penggunaan Media Realia Terhadap Prestasi Belajar IPA Materi Bagian Tumbuhan Dan Fungsinya Kelas IV SDN Manisharjo 4  Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi





OLEH:
RINTO PRAYITNO
NIM. 1702101314 P





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2019



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam berhubungan langsung dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA tidak hanya berfokus pada  pengusaan pengetahuan yang berupa fakta , konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. “Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah” (Amalia Sapriati, dkk, 2009: 8.23). Oleh karena itu pembelajaran IPA SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung. Proses belajar langsung yang dimaksud disini siswa benar-benar menemukan jawaban tentang alam dengan menggunakan panca indra secara langsung dalam proses pembelajaran tanpa adanya proses imajinasi. Proses belajar tersebut menjadikan siswa lebih termotivasi untuk belajar karena kegiatan pembelajaran lebih menarik dan aktif. Seperti yang yang diungkapkan Marzano yang dikutip Raka joni (dalam Amalia Sapriati, dkk,  2009: 2.5) “bahwa titik pusat hakikat belajar, pengetahuan pemahaman terwujud dalam bentuk pemberian makna oleh siswa kepada pengalaman melalui berbagai bentuk kegiatan pengkajian yang memerlukan pengarahan berbagai keterampilan kognitif di dalam mengolah informasi yang diperolehnya melalui alat panca indra”. Peran guru tidak hanya sekedar memberi informasi saja melainkan harus mampu menjadi seorang fasilitator, motivator bagi siswa.
“Keberhasilan proses belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri siswa  dan faktor eksternal merupakan faktor  yang berasal dari  luar diri siswa” (Ibadullah Malawi, Sri Budiartati, 2011: 66). Faktor internal meliputi keadaan fisik, keadaan psikologis, pemenuhan gizi (nutrisi). Faktor eksternal lingkungan tempat anak itu berada, secara garis besar ada tiga macam yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan sekolah merupakan faktor penting yang mendukung proses keberhasilan proses pembelajaran faktor ini meliputi; kondisi kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan antar siswa, iklim sekolah. “Kondisi kurikulum memegang peran penting dalam proses pembelajaran karena pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujunan pendidikan” (Asep Herry Hernawan, 2011: 2.7). Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu model mengajar yang sesuai dengan konteks pembelajaran dan  didukung oleh metode dan media pembelajaran.
Media merupakan faktor yang penting dalam pembelajaran, karena dengan menggunakan media yang tepat siswa akan lebih mudah memahami apa yang disampaikan guru tanpa harus menghafal materi. Heinich (dalam Amalia Sapriati, dkk, 2009:5.3) “dalam merencanakan dan menyelenggarakan pembelajaran hal yang perlu dilakukan adalah menentukan metode, format media yang cocok atau tepat dan menggunakan media dalam pembelajaran”. Pemilihan media yang tepat akan mempermudah guru dalam menyampaikan materi dan mempermudah siswa dalam menerima materi.
Pembelajaran IPA kelas IV materi bagian tumbuhan dan fungsinya lebih diarahkan menggunakan media nyata atau media realia yang mendorong siswa belajar aktif, baik secara fisik, sosial, maupun psikis. Guru hendaknya menjadikan siswa sebagai pusat aktifatas belajar. Dengan mengunakan media realia siswa akan menggunakan panca indranya dalam proses pembelajaran, mereka akan secara lansung menemukan jawaban atas pertanyaannya dengan bantuan media belajar yang real atau nyata. Dengan demikian terciptalah suatu proses pembelajaran bermakna yang nantinya akan berpengaruh pada peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pada pembelajaran IPA.
Setelah penulis yang juga bertindak sebagai peneliti mengadakan pengamatan pada bulan Oktober selama satu minggu berturut-turut, penulis menemukan fakta awal yaitu rendahnya prestasi belajar siswa kelas IV di SDN Manisharjo 4 pada pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya semester I Tahun Pelajaran 2013-2014. Penulis menemukan fakta bahwa sebanyak 60% siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran IPA yaitu 70. Hal ini terjadi karena guru masih menggunakan model mengajar konvensional yang dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran guru tidak menggunakan media pembelajaran. Sehingga selama proses pembelajaran berlangsung siswa menjadi kurang aktif, hanya beberapa siswa yang memperhatikan penjelasan guru dan sebagian siswa lainnya hanya pasif bahkan berbicara dengan teman sebangkunya. Kepasifan terjadi karena tidak adanya interaksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa yang mengarah pada kegiatan pembelajaran. Hal ini mengakibatkan kegiatan pembelajaran menjadi tidak efektif bahkan timbul kebosanan pada diri siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti beranggapan bahwa pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya lebih tepat jika menggunakan media realia. Dengan menggunakan media realia dalam pembelajaran siswa akan lebih cepat memahami materi pelajaran, karena siswa terlibat langsung dengan obyek nyata yang dipelajarinya. Untuk menjawab anggapan tersebut penulis mengadakan penelitian dan kemudian disajikan dalam bentuk penulisan judul “Pengaruh Penggunaan Media Realia Terhadap Prestasi Belajar IPA Materi Bagian Tumbuhan dan Fungsinya Kelas IV SDN Manisharjo 4  Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi”.



B.     Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diketahui oleh peneliti, maka peneliti membatasi masalah dalam penelitian ini.
1.      Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah penggunaan media realia (variabel bebas) dan prestasi belajar (variabel terikat).
2.      Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil analisis yang mengungkap berbagai penyebab  munculnya masalah kekurang-berhasilan pembelajaran IPA tersebut di atas, maka masalah yang menjadi fokus penelitian  dapat  dirumuskan sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh penggunaan media realia pada pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya terhadap prestasi belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi”.
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media realia  pada pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya terhadap prestasi belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
E.     Kegunaan Penelitian
Dalam penyusunan laporan ini juga memberikan manfaat bagi beberapa pihak di antaranya sebagai berikut:
1.      Bagi Sekolah
Sebagai masukan dalam usaha peningkatan kualitas dan kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar khususnya dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
2.      Bagi Guru
Sebagai bahan informasi kepada guru untuk mengetahui metode pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran IPA disekolah dasar.

3.      Bagi Siswa
Memberikan motivasi dan mendorong siswa untuk dapat berfikir kritis dalam memahami setiap materi yang diajarkan melalui pengalaman yang telah didapat oleh siswa.
4.      Bagi Orang tua
Memberikan informasi tentang proses belajar mengajar yang dilakukan siswa di sekolah.
5.      Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Untuk memberikan wawasan terkait dengan pengaruh  penggunaan media realia pada  pembelajaran IPA  pada Sekolah Dasar.   
F.     Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan deskripsi tentang variabel yang diteliti. Variabel penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat;
   1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media realia, adalah suatu media pembelajaran yang menggunakan benda asli atau nyata dalam kegiatan pembelajaran.
   2.  Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPA pada materi bagian tumbuhan dan fungsinya. Yang dimaksud prestasi belajar disini adalah hasil proses pembelajaran siswa secara kognitif terhadap materi bagian tumbuhan dan fungsinya.



BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A.    Kajian Teori
           1.      Media Pembelajaran
a.       Hakikat Media Pembelajaran
“Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan saluran atau jembatan dari pesan-pesan pembelajaran (message) yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya” (Sri Anitah W, dkk, 2009: 6.11). Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses atau dialog pada diri siswa. Dengan kata lain, terjadi komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung antara siswa dengan guru. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa proses pembelajaran telah terjadi.
Sri Anitah, dkk. (2009: 6.6) “media pembelajaran selalu terjadi atas dua unsur penting yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software)”. Media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikan pesan, namun yang paling penting adalah bukanlah peralatan melainkan pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media.
“Perangkat lunak adalah informasi atau bahan ajar itu sendiri yang akan disampaikan kepada siswa, sedangkan perangkat keras adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan/ bahan ajar tersebut” (Sri Anitah, dkk.,  2009: 6.6).
“Fungsi utama media pembelajaran, yaitu sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif, dengan demikian media pembelajaran harus dijadikan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran itu sendiri” (Sri Anitah, dkk, 2009: 6.12). Penggunaan media harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan disampaikan. Media tidak boleh digunakan sebagai permaianan atau hanya digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian siswa. 
b.      Media Pembelajaran IPA di SD
Media yang digunakan dalam pembelajaran ipa sangat beragam dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Amalia Sapriati, dkk (2009: 5.5-5.9) Media dalam IPA yang diungkapkan antara lain:
1)      Media tidak diproyeksikan
a)      Objek nyata ( realia) adalah benda sebenarnya yang digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Contoh media untuk pembelajaran IPA adalah (1) bagian dari tumbuhan dan hewan, (2) spesimen, yaitu tumbuhan, hewan atau bagiannya yang telah di awetkan, (3) manusia atau bagian tubuhnya, (4) batuan dan benda yang ada di alam sekitar, (5) barang yang ada dalam kehidupan sehari-hari, (6) artifak, yaitu hewan atau tumbuhan bersejarah yang masih ada ataupun sudah punah. 
b)      Model, adalah representasi benda asli dalam bentuk tiga dimensi. Contoh model untuk pembelajaran IPA antara lain: torso, model mata, model telinga, model tata surya, model bagian daun.
c)      Bahan tercetak adalah buku, majalah, atau bahan bacaan lain yang berisi penjelasan tentang topik dalam pembelajaran IPA.
d)     Bahan ilustrasi yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa gambar yang bersifat fotografik dan nonfotografik.
2)      Media diproyeksikan (projected visual/ media)
a)      Transparasi digunakan dengan memakai alat yang disebut overhead projector (OHP). Tranparasi untuk pembelajaran adalah plastik bening, yang padanya telah tertulis atau tercetak narasi atau ilustrasi yang menjelaskan tentang topik tertentu. Untuk pembelajaran IPA misalnya digunakan untuk menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangbiakan, gambar bagian-bagian bunga, gambar pertumbuhan hewan dan tumbuhan dll.
b)      Slide adalah suatu format kecil transparasi fotografi yang secara individual dipasangkan pada suatu alat proyeksi. Contoh slide pada IPA adalah slide yang berisi pembelahan sel, gambar mikroorganisme,dll.
3)      Media audio untuk mendukung pembelajaran IPA dalam bentuk kaset, rekaman fonograf. Media audio adalah rekaman dan transmisi suara manusia atau lainnya berisi informasi mpenjelasan tentang topik pembelajaran,untuk diperdengarkan pada siswa.
4)      Media gerak adalah bentuk media yang menyajikan topik pembelajaran dalam bentuk narasi dan gambar yang bergerak. Bentuk media gerak dapat berupa film atau vidio. Film adalah bentuk rekaman gambar yang bergerak dan disertai dengan suara manusia atau suara lainnya yang relevan dengan gambar yang disajikan terkait dengan topik pembelajaran IPA tertentu.
5)      Komputer disekolah secara umum digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang ditujukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang disajikan. Media komputer dalam hal ini berupa paket program pembelajaran yang berisi ilustrasi atau gambar beserta pemjelasan atau narasi tentang topik IPA dan penggunaan program tersebut menggunakan komputer.
6)      Media radio, adalah sajian suara manusia atau suara lainnya berisi informasi atau penjelasan tentang topik pembelajaran yang disampaikan secara langsung atau melalui proses rekaman yang disiarkan melalui stasiun radio untuk diperdengarkan kepada siswa.




c.       Media Realia
“Media realia adalah benda sebenarnya yang digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran”(Amalia Sapriati, dkk, 2009: 5.5). “Media realia (benda nyata) merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi membrikan pengalaman langsung kepada siswa. Media pembelajaran ini merupakan model dan objek nyata dari suatu benda seperti tumbuhan, binatang, batuan, ait, dan tanah” (Sri Anitah W, dkk, 2009: 6.43). Penggunaan benda nyata dalam proses pembelajaran sangat dianjurkan sebab siswa akan lebih cepat memahami materi pelajaran.
Menurut Sri Anitah W, dkk. (2009: 6.44) hal yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan media benda nyata (realia) antara lain:
1)      Gunakan objek tersebut sesuai dengan kompetensi/ tujuan yang dicapai dalam proses pembelajaran.
2)      Gunakan objek yang tepat atau cocok dan jangan menggunakan terlalu bermacam-macam objek sebab bisa mengakibatkan kebingungan pada diri siswa.
3)      Apabila menggunakan beberapa objek, objek tersebut harus saling berhubungan.
4)      Memperhatikan bentuk dan ukuran objek yang digunakan agar bisa dilihat oleh kelas secara keseluruhan.
5)      Jangan terlalu banyak memberikan penjelasan, sebab biasanya perhatian siswa tertuju pada objek yang ada bukan kepada penjelasan sehingga penjelasan anda menjadi kurang efektif.
6)      Doronglah para siswa untuk bertanya, berdiskusi atau memberikan tanggapan/ kritik, sebab dengan kegiatan tersebut siswa akan belajar lebih aktif.

Media realia sangat mudah didapat dan dapat membangkitkan minat belajar siswa, media ini dianggap paling ideal karena peserta didik dapat langsung melihat dan mengamati sesuatu yang baru atau asing bagi mereka.
Contoh  media realia dalam pembelajaran IPA adalah:
1)      Bagian dari tumbuhan atau hewan untuk melihat secara lebih dekat tentang struktur dan fungsinya.
2)      Spesimen, yaitu tumbuhan atau hewan atau bagiannya yang sudah diawetkan.
3)      Manusia atau bagian tubuhnya.
4)      Batuan atau benda yang ada disekitar alam.
5)      Barang dalam kehidupan kita setiap hari misal lampu pijar, timbangan, katrol, dll.
6)      Artifak, yaitu hewan atau tumbuhan bersejarah.   
Untuk materi bagian tumbuhan dan fungsinya peneliti menggunakan media realia tumbuhan. Dengan menggunakan media tersebut diharapkan pemahaman siswa akan materi bisa terjadi secara sistematis dan terproses, tidak hanya sekedar mengingat atau menghafal materi.
           2.      Prestasi Belajar IPA
a.       Pengertian Prestasi
 Menurut Djamarah dalam Wijirianto (2012: 1) “prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok”. Poerwadarminta dalam kamus Bahasa Indonesia (1976: 768) berpendapat “prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dsb.)”. Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah yang dikutip Wijirianto (2012: 1) bahwa “prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja”.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang menyenangkan hati dan diperoleh dengan jalan keuletan kerja baik secara individu maupun secara kelompok dalam bidang tertentu.

b.      Pengertian Belajar
Menurut Poerwadarminta (1976: 108) “belajar adalah berusaha supaya mendapat suatu kepandaian”. Sedangkan menurut Gagne dalam Sri Anitah W, dkk. (2009: 1.3) ”belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. “Belajar ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan” (Ibadullah Malawi et al, 2011: 46).
Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Belajar berlangsung melalui pengalaman, baik pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung (melalui pengamatan). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan (lingkungan fisik dan lingkungan sosial). 
“Belajar menurut definisi lama adalah menambah dan mengumpulkan pengetahuan”(Sri Anitah W, dkk, 2009: 2.3). Belajar menurut pengertian ini difokuskan pada pengumpulan pengetahuan dan mengabaikan suatu proses pembelajaran. Siswa dikatakan cerdas apabila dia dapat mengingat semua pengetahauan yang diberikan  tanpa memperhatikan sikap dan keterampilan dalam proses belajar. Kegiatan belajar hanya berkutat pada menghafal dan mengingat-ingat apa yang mereka pelajari, akibatnya aspek pemahaman siswa kurang diperhatikan.
“Belajar menurut definisi modern adalah proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadi interaksi edukatif” (Sri Anitah W, dkk, 2009: 2.4). perubahan belajar yang terjadi bukan akibat dari naluri dan kerusakan organ fisik melainkan dari proses latihan secara bertahap.
Pendapat lain mengemukakan bahwa “belajar adalah proses pengalaman (learning is experiencing), artinya belajar itu proses interaksi antara individu dengan lingkungannya”( Sri Anitah, W, dkk,  2009: 2.4).
Berdasarkan berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar  merupakan suatu proses yang kompleks, terus menerus, dan melibatkan lingkungan sebagai sumber belajar. 

c.       Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Nur Kencana dalam Wijirianto (2012: 2) mengemukakan bahwa “prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh anak berupa nilai mata pelajaran, prestasi belajar ini merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belajar”.
Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan yang akan diukur dan dinilai kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
Untuk mencapai prestasi belajar dalam pelaksanaannya selalu ada faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik yang bersifat mendukung maupun yang bersifat menghambat pencapaian belajar secara optimal.
1)      Faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dibawa sejak lahir, misalnya: kesehatan jasmani, motivasi belajar, intelegensi dan sebagainya.
2)      Faktor yang berasal dari luar diri siswa, misalnya: pengaruh proses belajar di sekolah, disiplin sekolah, pengajar, dan sebagainya.
d.      Hakikat Pembelajaran IPA di SD
IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan dalam hal melaksanakan penyelidikan ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional. Sedang sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah itu saintis memperoleh penemuan-penemuan atau produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori.
Carin (dalam Amalia Sapriati, 2009: 4.32) menyatakan bahwa: (1) IPA tidak hanya sekedar mengetahui materi keIPA-an tetapi terkait pula dengan prosedur pengumpulan fakta dan menghubungkan fakta untuk membuat suatu interpretasi; (2) Keterampilan proses IPA merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat, dapat digunakan untuk belajar berbagai macam ilmu, dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

e.       Tujuan Pembelajaran IPA
Menurut Amalia Sapriati, dkk. (2009: 2.3) tujuan pembelajaran IPA di SD adalah “agar siswa menguasai pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, proses penemuan serta memiliki sikap ilmiah, yang akan bermanfaat bagi siswa dalam mempelajari diri dan alam sekitar”.

BNSP (2006: 37) mata pelajaran IPA bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
1)         Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaban, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2)         Mengembangkan pengetahuan dan pemahamankonsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat di tetrapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3)         Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4)         Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5)         Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
6)         Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7)         Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

Pemberian mata pelajaran IPA bertujuan agar siswa memahami dan menguasai konsep dasar-dasar IPA. Selain itu siswa juga mampu menggunakan metode-metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga siswa lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan sang pencipta.

f.       Ruang Lingkup Pembelajaran IPA
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (2008: 148), Adapun ruang lingkup bahan kajian IPA di SD/MI meliputi aspek-aspek:
1)      Mahkluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
2)      Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi cair, padat dan gas.
3)      Energi dan perubahannya, meliputi gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.
4)      Bumi dan alam semesta, meliputi tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

Berdasarkan aspek-aspek di atas dapat di simpulkan bahwa pembelajaran IPA di SD/MI ditekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Dengan kata lain bahwa pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri).

    3. Materi Bagian Tumbuhan dan Fungsinya
Tumbuhan termasuk dalam makhluk hidup, mengapa? Karena tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang. Bagaimana tumbuhan dapat hidup dan berkembang? Seperti halnya makhluk hidup lain, tumbuhan juga memiliki bagian-bagian yang penting. Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam proses hidupnya. Bagian-bagian tersebut antara lain akar, batang, daun, bunga, dan biji.
a.       Akar
Setiap tumbuhan tentu memiliki akar. Akar ini memiliki peranan penting untuk kelangsungan hidup tumbuhan. Akar terdiri atas rambut atau bulu akar dan tudung akar. Bulu akar berfungsi untuk menyerap air dan mineral dari dalam tanah ke tumbuhan. Tudung akar berguna untuk melindungi akar pada saat menembus tanah.
Ada dua jenis akar, yaitu akar tunggang dan akar serabut. Coba amati akar beberapa tumbuhan yang ada di sekitar halaman sekolah. Apakah termasuk jenis akar serabut atau akar tunggang? Apa perbedaan antara akar serabut dan akar tunggang? Akar serabut adalah akar yang berukuran kecil-kecil yang tumbuh di pangkal batang. Akar seperti ini dimiliki oleh tumbuhan, seperti rumput, padi, jagung, tebu, dan bambu.
Akar tunggang merupakan akar utama kelanjutan dari batang yang tumbuh lurus ke bawah, sedangkan akar-akar yang lainnya merupakan cabang dari akar tunggang. Contoh tanaman yang memiliki akar tunggang, yaitu mangga, jeruk, tomat, durian.
Akar tunggang maupun akar serabut ada yang digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan, contoh pada tanaman ketela pohon, wortel, ubi jalar, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga akar tumbuhan yang berfungsi membantu penyerapan oksigen di udara, seperti pada tumbuhan bakau.
Dari uraian di atas, maka fungsi akar adalah sebagai berikut:
1)      Menunjang berdirinya tumbuhan.
2)      Menyerap air dan mineral dari dalam tanah.
3)      Menyimpan cadangan makanan.
4)      Bernapas.

b.      Batang
Batang merupakan bagian tumbuhan yang ada di atas tanah. Batang merupakan tempat keluarnya daun, bunga dan buah. Batang juga berperan dalam pengangkutan air dan zat makanan dari akar ke daun. Batang dapat dikelompokkan menjadi batang berkayu, batang rumput, dan batang basah.
Tumbuhan berbatang kayu contohnya mangga, rambutan, durian, pinus, dan lain-lain. Berbatang rumput antara lain padi, jagung, tebu, dan tumbuhan berbatang basah misalnya pohon pisang.
Batang memiliki buku dan ruas, pada setiap buku melekat sehelai daun atau lebih. Adapun batang tumbuhan berkayu tersusun dari jaringan primer yaitu kulit luar, kulit pertama, kulit dalam, dan silinder pusat.
Pada tumbuhan dikotil batang dapat mengalami perubahan menjadi jaringan primer antara lain bakal daun, tunas ketiak, epidermis korteks, ikatan pembuluh dan empulur. Pertumbuhan xilem terus menerus tetapi karena adanya perubahan musim, maka terjadi pertumbuhan yang kecepatan dan ukuran sel-selnya berbeda sehingga terbentuk lingkaran tahun. Batang monokotil berkembang menjadi bakal daun, bakal tunas ketiak, epidermis, ikatan pembuluh tersebar, di tengah lingkaran terdapat empulur yang mungkin hilang, kecuali pada buku-buku.
Fungsi batang adalah:
1)      Penyokong tubuh tumbuhan.
2)      Mengangkut air dan mineral dari akar ke daun.
3)      Mengangkut makanan ke seluruh tubuh tumbuhan.
4)      Tempat tumbuhnya daun, bunga, dan buah.
5)      Tempat menyimpan cadangan makanan (seperti pada kentang dan tebu).
c.       Daun
Daun tumbuh di batang dan tidak terdapat pada akar. Daun amat erat hubungannya dengan batang dan dianggap sambungan dari batang.
1)      Bagian-bagian daun
Berdasarkan bagiannya daun dibedakan menjadi dua macam, yaitu daun lengkap dan daun tidak lengkap. Daun dikatakan lengkap jika terdiri atas tiga bagian, yaitu pelepah, tangkai, dan helaian daun. Contoh tumbuhan yang memiliki daun lengkap adalah pisang. Daun tanaman pisang terdiri atas bagian pelepah, tangkai, dan helaian daun. Daun tidak lengkap adalah daun yang hanya tersusun atas 1-2 bagian saja. Contoh tumbuhan yang memiliki daun tidak lengkap adalah mangga. Daun pohon mangga hanya terdiri atas bagian tangkai dan helaian daun saja.
2)      Jenis daun dan klasifikasinya
Pada umumnya bagian daun yang paling kelihatan adalah helai daun. Bentuk helai daun dipengaruhi oleh susunan tulang daun. Berdasarkan bentuknya, tulang daun terdiri dari tulang dan menyirip, tulang daun menjari, tulang daun sejajar, dan tulang daun melengkung. Tulang daun menyirip dapat dijumpai pada daun mangga, jambu, dan nangka. Tulang daun menjari banyak dijumpai pada daun singkong, papaya, dan ilalang. Berbagai jenis rerumputan memiliki daun dengan bentuk tulang daun sejajar. Seperti daun tebu, jagung dan padi. Tulang dan melengkung dapat dijumpai pada daun tumbuhan sirih dan genjer.
Berdasarkan jumlah helai daun, daun dikelompokkan menjadi dua yaitu daun tunggal dan daun majemuk. Daun tunggal adalah daun yang memiliki satu helai daun pada setiap tangkainya, contohnya daun mangga. Daun majemuk adalah daun yang memiliki beberapa helai daun pada setiap tangkainya, contohnya daun putri malu.
3)      Fungsi daun adalah:
§  Sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis
§  Penguapan air
§  Pertukaran oksigen dan karbon dioksida (alat pernapasan pada tumbuhan)
d.      Bunga
Sebenarnya bunga merupakan pucuk yang mengalami perkembangan. Bunga sangat penting untuk perkembangbiakkan tumbuhan karena pada bunga terdapat alat-alat reproduksi, yaitu putik dan benangsari.
Bunga terdiri atas beberapa bagian, yaitu tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, putik, dan benang sari. Tangkai bunga  merupakan bagian yang menghubungkan bunga dengan batang. Mahkota bunga merupakan perhiasan bunga yang memiliki warna yang indah. Di dalam mahkota bunga terdapat putik dan benang sari. Putik merupakan alat kelamin betina, sedangkan benang sari merupakan alat kelamin jantan.
Berdasarkan jenisnya, bunga dikelompokkan menjadi dua yaitu bunga lengkap dan bunga tidak lengkap. Apabila bunga memiliki kelopak bunga, mahkota bunga, putik, dan benang sari maka disebut bunga lengkap. Sebaliknya, jika bunga tidak memiliki salah satu bagian tersebut maka merupakan bunga yang tidak lengkap.
Berdasarkan benang sari dan putik, bunga dikelompokkan menjadi dua, yaitu bunga sempurna dan tidak sempurna. Bunga sempurna merupakan bunga yang memiliki benang sari dan putik. Apabila hanya memiliki salah satu di antaranya, maka termasuk bunga tidak sempurna.
Pada tumbuhan bunga berperan sebagai tempat berlangsungnya perkembangbiakan. Peristiwa penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari ke atas kepala putik merupakan awal terjadinya perkembangbiakan pada tumbuhan. Fungsi utama bunga adalah untuk membentuk biji agar tanaman dapat ditanam kembali sehingga keturunannya jadi bertambah banyak.
e.       Biji
Biji merupakan hasil dari proses penyerbukan pada bunga. Biji berfungsi untuk memperbanyak keturunan dari tumbuhan. Apabila biji kita tanam maka akan tumbuh menjadi tumbuhan baru.
Berdasarkan kepingannya biji dibedakan menjadi dua yaitu berkeping satu disebut monokotil dan berkeping dua disebut dikotil. Biji monokotil terdapat pada jagung, padi, gandum. Sedangkan dikotil dapat kita lihat pada biji mangga, rambutan, kacang-kacangan, dll.



B.     Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori dan beberapa buku referensi yang telah dibahas maka dapat disusun suatu kerangka agar lebih jelas dan lebih memahami maksud penelitian ini. Alur kerangka berpikir yang penulis kembangkan dalam penelitian dalam kerangka berpikir.
Dapat diketahui bahwa antar variabel mempengaruhi variabel terikat yaitu prestasi belajar IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya. Perubahan pada variabel media realia ini akan berpengaruh pada variabel prestasi belajar IPA.
 C.  Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka berfikir yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: “Ada pengaruh media realia terhadap prestasi belajar IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya kelas IV SDN Mansiharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi”.


BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat  Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas IV SDN Manisharjo 4 yang terletak di lereng sebelah utara Gunung Lawu yang tepatnya berada di Desa Manisharjo Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi. Desa Manisharjo merupakan wilayah pedesaan yang masih banyak terdapat lahan sawah, ladang dan perkebunan. Lokasi sekolah ini terpisah dengan pemukiman penduduk bahkan berbatasan langsung dengan lahan sawah dan perkebunan sehingga dapat memberikan ketenangan kepada siswa dalam belajar. Berbagai macam tanaman masih banyak tumbuh di sana, sehingga media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diteliti lebih mudah didapatkan.
SDN Manisharjo 4 ini memiliki siswa yang relatif homogen dilihat dari latar belakang ekonomi orang tua yang dapat digolongkan ke dalam kelompok ekonomi menengah ke bawah. Sebab kebanyakan pekerjaan orang tua siswa adalah petani dan peternak. Namun tidak sedikit juga diantaranya yang hanya bekerja sebagai buruh tani. Keadaan ekonomi membuat sebagian orang tua siswa harus rela meninggalkan anak untuk pergi merantau ke kota demi memenuhi kebutuhan hidupnya.  Hal ini mengakibatkan sebagian besar siswa kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Yang membuat peneliti merasa senang dan bangga adalah kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk tetap belajar.
2.      Waktu Penelitian  
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IV semester I SDN Manisharjo 4 Tahun Pelajaran 2013-2014 dimulai dari bulan Oktober tahun 2013 sampai dengan Januari tahun 2014. Pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada tebel berikut ini.
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No.
Uraian Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
1.
Observasi Awal
21-26 Oktober 2013
2.
Pemberian Pre-Test
25 Januari 2014
3.
Pemberian Treatmen
26 dan 27 Januari 2014
4.
Pemberian Post-Test
28 Januari 2014

B.     Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik/ metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain pre-test and post-test group design. Peneliti memilih menggunakan metode dan desain tersebut karena dalam penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan adanya kelompok kontrol. Metode ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh antara pembelajaran tanpa media dan pembelajaran yang menggunakan media realia terhadap prestasi belajar IPA siswa. Pada penelitian ini observasi dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen disebut pre-test, dan observasi sesudah eksperimen disebut post-test.
Adapun gambaran mengenai rancangan pre-test and post-test group design (Suharsimi Arikunto, 1999: 84) sebagai berikut,

                                                                O1        X       O2

 
 


Gambar 3.1. Rancangan pre-test and post-test group design
Keterangan :
O1 = tes yang dilakukan sebelum diberikan perlakuan (pre-test)
X  = pemberian perlakuan, yaitu pembelajaran dengan
        menggunakan media realia
O2 = tes yang dilakukan setelah diberikan perlakuan (post-test)
Perbedaan antara O1 dan O2   yakni O2 – O1   diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen.
C.    Sumber Data: Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1.      Populasi
            Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1999: 115). Sedangkan menurut Sugiyono (2007: 55) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
2.      Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (1999: 117) “sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti”. Dalam pengertian lain juga dijelaskan, “sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimilki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2007: 56). Sampel penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 yang berjumlah 25 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh. Menurut Sugiyono (2007: 61) “sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel”.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dalam penelitian ini seluruh siswa kelas IV SDN Manisharjo 4 diajadikan sebagai sampel. Dengan demikian peneliti memberikan hak yang sama kepada setiap subjek untuk berkesempatan menjadi sampel.
D.    Teknik Pengumpulan Data
                  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah siswa memperoleh pengajaran. Tes dilakukan setelah siswa mendapat perlakuan/ tindakan yang berupa pembelajaran dengan menggunakan media realia pada materi bagian tumbuhan dan fungsinya.
E.     Instrumen Penelitian
1.      Tes
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen tes. Tes disusun dalam bentuk pilihan ganda yang berjumlah 30 butir soal  dengan 4 pilihan jawaban. Setiap butir soal yang benar akan mendapatkan skor 1 dan bila salah mendapatkan skor 0. Sebelum pengambilan data terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen tes untuk mengetahui validitas dan reliabilitas butir soal.
Untuk mencapai hasil yang diharapkan maka peneliti mengemukakan kisi-kisi instrumennya sebagai berikut:
Tabel 3.2 Kisi-kisi Uji Coba Instrumen Tes
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Butir Soal
Jumlah Soal
2.      Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya
2.1 Menjelaskan hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan fungsinya
1.  Menyebutkan bagian-bagian akar.
2.  Menjelaskan fungsi akar.
3.  Menyebutkan jenis-jenis akar.
1


2, 3, 4, 10



5, 6, 7, 8, 9
10 soal

2.2  Menjelaskan antara struktur batang tumbuhan dengan fungsinya
1.  Menyebutkan bagian-bagian batang  fungsi dan batang
2.  Menyebutkan jenis batang
11, 14



12, 13, 15
5 soal


2. Uji coba instrumen
            Sebelum instrumen digunakan sebagai alat pengumpul data, maka instrumen tersebut diuji cobakan pada 36 siswa kelas IV SDN Manisharjo 3. Uji coba instrumen dimaksudkan agar instrumen yang berupa tes harus valid dan reliabilitas sebelum disebarluaskan kepada responden.
a)      Validitas Instrumen
                  “Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan sesuatu instrumen” (Suharsimi Arikunto, 1999: 160). Toha Anggoro (2009: 5.28) berpendapat bahwa “suatu alat ukur dikatakan valid atau mempunyai nilai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut memang dapat mengukur apa yang hendak kita ukur”. Oleh karena itu, validitas dilakukan agar dapat mengetahui ketepatan alat penelitian. Validitas instrument dilakukan dengan rumus point biserial (Suharsimi Arikunto, 1999: 270).
Uji validitas instrumen tes sebanyak 30 butir soal, didapatkan soal tidak valid sebanyak 9 soal yaitu butir soal no 1,3,4,5,8,10,14,15,28. Maka soal yang valid sebanyak 21 butir yaitu soal no 2,6,7,9,11,12,13,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,29,30 dan  selanjutnya digunakan sebagai tes berjumlah 20 butir soal. Penghitungan dapat dilihat pada lampiran.
b)      Reliabilitas Instrumen
                  Reliabilitas berasal dari bahasa inggris reliability yang berarti kemantapan suatu alat ukur. Jika alat ukur tersebut digunakan untuk melakukan pengukuran secara berulang kali maka alat tersebut tetap memberikan hasil yang sama (Toha Anggoro, 2009: 5.31). Agar instrumen yang digunakan dalam penelitian dapat diandalkan dan menunjukkan ketepatan, maka reliabilitas instrumen dilakukan dengan rumus K-R 20 (Suharsimi Arikunto, 1999: 182).
Harga tabel r product moment, diketahui bahwa dengan N=36, harga r tabel 5% = 0,329.  Karena r hitung > r tabel = 0,810 > 0,329, maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut reliabel dan dapat dipergunakan sebagai alat pengukuran tes prestasi belajar.

F.     Teknik Analisis Data
                  Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan media realia terhadap hasil belajar IPA siswa, maka pengujian dilakukan dengan uji-t. pada taraf signifikansi α = 0,05.
                  Adapun rumus yang digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (Suharsimi Arikunto, 1999: 300).
Keterangan:
Md            = mean dari perbedaan pre-test dengan post-test (post-test - pre-test).
xd                  = deviasi masing-masing subjek (d-Md)
        = jumlah kuadrat deviasi
N               = subjek pada sampel
d.b.     = ditentukan dengan N – 1
                  Kriteria pengujiannya adalah jika t tabel t hitung  maka Hipotesis ditolak, sedangkan jika t tabel < t hitung maka Hipitesis diterima pada taraf signifikansi α = 0,05 dan dengan derajat kebebasan (db = N-1).




BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.    Deskripsi Data
Penelitian ini menguraikan mengenai pengaruh pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya dengan menggunakan media realia terhadap prestasi belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4. Hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan media realia dalam meningkatkan prestasi belajar IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya siswa kelas IV. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 25 orang siswa dengan metode quasi eksperimen, dengan rancangan pre-test and post-test group design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes soal pilihan ganda sebanyak 20 soal.
Pada deskripsi data yang diperoleh sebelum treatment adalah pre-test, sedangkan data yang diperoleh setelah treatment adalah post-test. Dari hasil pre-test diperoleh nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90. Hasil jawaban setiap butir soal pilihan ganda untuk yang menjawab benar memperoleh skor 1, sedangkan yang menjawab salah memperoleh skor 0. Berdasarkan KKM mata pelajaran IPA kelas IV SDN Manisharjo 4 yaitu 70, maka dapat dinyatakan dengan dua kategori yaitu < 70 tidak tuntas dan 70 dinyatakan tuntas.
Berdasarkan pre-test nilai rata-rata adalah 69 dengan prosentase ketuntasan 32%. Sebanyak 17 siswa mendapatkan nilai dibawah KKM dan dinyatakan tidak tuntas, sedangkan 8 siswa memperoleh nilai diatas KKM dan dinyatakan tuntas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai pre-test kelas IV SDN Manisharjo 4 pada mata pelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya masih dibawah KKM. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.
Hasil dari pre-test nilai yang diperoleh masih belum mencapai KKM, selanjutnya dilakukan perlakuan (treatment) pembelajaran dengan menggunakan media realia, kemudian siswa diberikan post-test.
Berdasarkan post-test nilai rata-rata adalah 80 dengan prosentase ketuntasan 84%. Sebanyak 4 siswa mendapatkan nilai dibawah KKM dan dinyatakan tidak tuntas, sedangkan 21 siswa memperoleh nilai diatas KKM dan dinyatakan tuntas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai post-test kelas IV SDN Manisharjo 4 pada mata pelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya telah mencapai KKM. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.
B.     Hasil Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis ini digunakan untuk menghasilkan suatu keputusan, keputusan untuk menolak hipotesis atau keputusan untuk menerima hipotesis. Jadi, suatu keputusan yang telah dibuat mengandung kepastian, yaitu benar ataupun salah.
Setelah dilakukan penghitungan nilai pre-test dan post-test dengan subyek berjumlah 25 orang, diperoleh harga thitung  = 12,029. Sedangkan harga t tabel dengan signifikansi α = 0,05 dan db=24 adalah 2,064. Jadi t tabel > t hitung  = 2,064 > 12,029. Pengujian hipotesis selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.

C.     Simpulan Hasil Pengujian Hipotesis
Dalam pengujian telah diperoleh hasil bahwa t tabel < t hitung = 2,064 < 12,029, dengan demikian hipotesis di terima. Melihat hasil pengujian hipotesis yang menyatakan bahwa hipotesis diterima, maka dapat ditarik simpulan bahwa ada pengaruh penggunaan media realia terhadap prestasi belajar IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
D.    Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di SDN Manisharjo 4 semester 1 tahun pelajaran 2013-2014. Hal ini dilakukan dikarenakan peneliti melihat prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya masih rendah. Untuk itu peneliti mengadakan penelitian di SD tersebut untuk meningkatkan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya. Peneliti menyusun instrumen tes 30 soal pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Sebelum digunakan, instrumen tersebut diuji cobakan di SDN Manisharjo 3  untuk mengukur validitas, reliabilitas, dan taraf kesukaran pada instrumen tes. Setelah diuji cobakan dan dianalisis terdapat 21 soal yang valid dan kemudian 20 soal dipakai untuk penelitian dengan menggunakan pre-test dan post-test.
Proses meningkatnya prestasi belajar siswa dapat dilakukan dengan memberikan treatment berupa pembelajaran dengan menggunakan media realia. Peneliti memilih media realia dalam pembelajaran karena dengan menggunakan media realia siswa lebih antusias mengikuti pelajaran dan mudah memahami materi. Media realia (benda nyata) merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
Pada penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan rancangan pre-test and post-test group design yaitu terdapat pre-test sebelum diberikan perlakuan. Jadi pada jenis eksperimen ini subyek dikenakan dua kali pengukuran, yang pertama sebelum kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media realia siswa diberikan soal pre-test, dannyang kedua setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media realia siswa diberikan post-test. Dari perhitungan analisis data diperoleh bahwa hasil nilai post-test lebih baik dibandingkan dengan nilai pre-test. Hal ini menunjukkan penggunaan media realia pada pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya dapat memberikan pengaruh meningkatnya prestasi belajar siswa kelas IV SDN Manisharjo 4.


BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media realia berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya kelas IV SDN Manisharjo 4 Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi.
Melalui penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran IPA materi bagian tumbuhan dan fungsinya dengan menggunakan media realia dapat memberikan pengaruh cukup baik terhadap peningkatan prestasi belajar IPA siswa.

B.     Saran
Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan maka peneliti merumuskan beberapa saran sebagai berikut:
   1.      Bagi Sekolah
Sekolah hendaklah lebih memperhatikan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di sekolah agar dapat menunjang kegiatan pembelajaran dan dapat menerapkan rancangan-rancangan pengajaran yang baik dan inovatif agar pengajaran yang dilakukan dapat memberikan makna yang lebih baik bagi siswa, guru maupun masyarakat.


    2.      Bagi Guru
a.       Hendaknya guru dapat melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajaran, agar dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa dalam belajar.
b.      Guru diharapkan senantiasa dapat merancang program pengajaran yang baik, agar hasil yang dicapai dapat meningkatkan mutu dari pengajaran itu sendiri. Dan janganlah pernah malas atau takut dalam melakukan inovasi-inovasi baru dalam mengajar karena siswa lebih menyukai kegiatan pembelajaran yang lebih bervariasi dibandingkan dengan sistem pembelajaran yang cenderung monoton.
  3.  Bagi Siswa
Diharapkan siswa dapat termotivasi untuk dapat berfikir kritis dalam memahami setiap materi yang diajarkan melalui pengalaman yang didapatkan oleh siswa.
  4.  Bagi Orang Tua
Diharapkan orang tua senantiasa memantau perkembangan anak/siswa dalam belajar di sekolah.
  5.  Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Diharapkan ada penelitian lain agar dapat memperkuat teori bahwa penggunaan media realia sangat dibutuhkan pada beberapa materi pembelajaran IPA di SD.


Artikel Menarik Lainnya




Share This :

0 komentar

 Recent