Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pro dan Kontra Angpao Lebaran

mariyadi.com
Pro dan Kontra Angpao Lebaran






Pro dan Kontra Angpao Lebaran. Tidak terasa Lebaran akan segera datang. Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dinantikan seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Lebaran merupakan nama lain dari Hari Raya umat Islam, dalam hal ini adalah hari raya Idul Fitri yang dirayakan setiap tahun atau setiap bulan Syawal setelah sebulan umat Muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.


Lebaran Idul Fitri atau biasa disebut "Lebaran Mudik" dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri tiba, orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, juga keluarganya setelah menunaikan Salat Ied.



Pada perayaan Lebaran Idul Fitri, ada salah satu hal yang menarik perhatian di kalangan masyarakat selama ini yaitu keberadaan suatu kebiasaan atau tradisi yang terpelihara secara turun menurun mulai dari nenek moyang kita. Hal yang menarik tersebut adalah keberadaan tradisi dari “Amplop hijau” . Menurut Wikipedia, Amplop hijau merupakan adaptasi dari angpau yang digunakan oleh umat Muslim untuk memberikan uang kepada anak-anak yang berkunjung pada hari Lebaran Idul Fitri. Masyarakat juga biasa menyebutnya angpau hijau, di Malaysia disebut sampul hijau atau sampul duit raya. Amplop hijau juga digunakan oleh umat muslim di Brunei Darussalam dan Singapura. Di Negara kita (Indonesia), ada banyak istilah yang dikategorikan dengan persamaan makna dari amplop hijau tersebut. Istilah itu muncul dan berkembang di berbagai pelosok negeri dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya sebagai sedekah, Fitrah, hadiah  angpau lebaran, amplop salam temple dan lain sebagainya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kemajuan peradaban manusia belakangan ini, keberadaan amplop hijau menjadi sorotan dan menjadi topic menarik untuk diperbincangkan. Pro dan kontra " Angpao Lebaran” Untuk anak-anak. Hal itu sudah biasa dan sudah berlangsung lama secara turun menurun.

Isi amplop diisi dengan uang yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sebuah nominal yang standar untuk anak usia sekolah jajan. Berbagi rezeki dengan anak - anak sesuai kemampuan adalah hal yang menyyenangkan bagi sebagian besar orang, yang penting ikhlas.




Bagi sebagian orang, berbagi rezeki ketika lebaran dengan anak - anak, hanyalah moment satu tahun sekali. Mereka sudah mau datang juga sudah sangat disyukuri. Bagi mereka tidak ada masalah, juga tidak ada yang salah berbagi rezeki ketika lebaran kepada anak - anak. Mereka menganggapnya sebagai wujud syukur dari sang pemberi angpao kepada Allah SWT atas limpahan rezeki yang diberikan selama ini. Dengan adanya rezeki dalam bentuk "angpao " menjadi daya tarik anak-anak untuk datang ke rumah-rumah yang menyelenggarakan open house.


Disamping fakta tersebut diatas, ada yang menganggap kebiasaan perANGPAOan tersebut merupakan tradisi yang kurang bermanfaat dan tergolong perbuatan hina. Nyatanya, setiap menjelang lebaran banya orang yang kontra terhadap hal tersebut berramai-ramai membuat status maupun Tagar yang bertopik JANGAN AJARI ANAKMU JADI PENGEMIS DI HARI IEDUL FITRI di media sosial mereka. Dengan membuat berbagai ilustrasi dialog seperti dibawah ini:




Jangan Ajari Anakmu Jadi Pengemis Di Hari Iedul Fitri
"Liat tuh om datang. Salim sana biar dapat uang"
"Ayo kita ke rumah teman ibu. Dia orang kaya, kalo kesana pasti dikasih"
"Mana nih bibi buat ponakannya masa belum dikasih. Bibi kan kerja THR nya pasti banyak"
Dan ucapan-ucapan senada yang kadang masih terucap dari lisan orang tua yg kurang mengerti terhadap etika ketimuran.
Sungguh malang nasibmu, nak. Jika yang orang tuamu ajarkan adalah mental orang2 lemah. Mental peminta-minta yang justru sebenarnya dalam islam sangat dilarang.
“Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidak fakir, maka seakan-akan ia memakan bara api" (HR Ahmad 4/165)
Dalam islam kita diajarkan, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat pada yang lainnya.
Jika kita belum mampu menebar manfaat (berbagi) maka islam juga mengajarkan kita agar memiliki rasa iffah. Yaitu rasa malu dalam takwa. Termasuk malu dalam meminta.
Juga rasa izzah, harga diri yang tinggi sebagai seorang muslim yang membuatnya tak mau merendahkan diri hanya demi rupiah.
Jadi, pilihan bagi muslim yang baik adalah berbagi atau tetap menjaga diri dari meminta.
Tinggikan derajatmu dengan tidak mengajarkan si kecil meminta pada nenek, kakek, om, tante, paman, uwa, dll, dsb, dst di hari nan suci.

Wallahu a'lam




Sementara itu, bagi mereka yang pro terhadap adat tradisi tentang angpao maupun Amplop Hijau menampik dan menyanggahapa yang tidak dibenarkan oleh mereka yang kontra terhadap kebeadaan adat tradisi Amplop Hijau. Misalnya dengan pernyataan yang berhasil saya kutip seperti dibawah ini”

Jangan Gampang Membangun Prasangka
(By: Mas Afif Ridwan)
Sudah menjadi kebiasaan setiap ramadhan para orang tua, kakek-nenek, paman dan bibi menyiapkan uang recehan baru untuk dibagikan kepada anak, cucu, ponakan dan juga tetangga.
Tanpa diminta pun dihari raya idul fitri, para orang tua akan segera memberikan hadiah berupa uang yg besarnya hanya cukup buat beli es kepel kepada anak-anak, sebagai wujud kegembiraan menyambut hari raya Angpau itu terkadang bentuk apresiasi kepada anak atau cucu yang masih kecil, dapat menjalankan puasa sampai tuntas, sehinggal layak diberi hadiah berupa uang.
Jika rejeki berlebih para orang tua rela menukarkan banyak uang dengan uang baru agar kesan memberi menjadi istimewa, inilah tradisi yang sudah melekat puluhan tahun. Jadi yang harus dipahami, tradisi bagi-bagi uang di hari raya itu adalah semangat memberi dari orang tua ke anak-anak bukan sebaliknya anak-anak meminta seperti pengemis kepada yang lebih tua.
Sangatlah lebay jika tiba-tiba tradisi bagi uang itu dikatakan sebagai bentuk mengajarkan kepada anak mental pengemis, sebuah tulisan di FB sedang viral, judulnya sangat bombatis JANGAN AJARI ANAKMU JADI PENGEMIS DI HARI IEDUL FITRI.
Penulis membangun narasi di awal tulisan tanpa data valid, seakan menuduh para orang tua banyak bermental pengemis :
 "Liat tuh Om datang. Salim sana biar dapat uang" "Ayo kita ke rumah teman ayah. Dia orang kaya, kalo kesana pasti dikasih"
Mereka rasa tidak ada orang tua yang seperti itu, mengajarkan anak menjadi mental pengemis di hari raya, terlebih bagi-bagi uang itu hanya terjadi pada lingkungan keluarga dekat, hanya terjadi setahun sekali (ingat yang dibahas di sini dalam konteks hari raya saja ya, bukan diluar hari raya..!!!).
Imajinasi penulis saja yang kebangatan liar, hingga sampai hati menulis seperti ini, di ujung tulisan, penulis membuat kesimpulan ngawur seperti ini
 "Sungguh malang nasibmu, nak. Jika yang orang tuamu ajarkan adalah mental orang2 lemah"
"Mental peminta-minta yang justru sebenarnya dalam islam sangat dilarang."
 "Tinggikan derajatmu dengan tidak mengajarkan si kecil meminta pada nenek, kakek, om, tante, paman, uwa, dll, dsb, dst di hari nan suci. Wallahu a'lam"
What anak-anak diajarkan orang tuannya meminta-minta di hari fitri? Ngawur. Cobalah berpikir dari cara berbeda, para orang tua di hari fitri sedang memberi contoh semangat berbagi kepada anak-anak juga kepada tetangga. Sehingga si anak bisa menauladani semangat berbagi dari orang tuanya. Semangat berbagi itu dilakukan di saat silaturahmi kumpul keluarga, sesuatu yang sulit di lakukan selain hari raya, dalam suasana gembira.
Coba rubah sudut pandang anda menjadi positif terhadap tradisi itu, manakala anak anda di beri uang oleh keluarga bukannya ditolak, karena kurang baik menolak pemberian orang terlebih dari keluarga, tetap diterima seraya kita bilang ke anak. "Nak ucapkan terima kasih ya, kelak kalau sudah dewasa nanti kamu harus mencontoh bapak/kakek/nenek mau berbagi rejeki kepada orang lain".
Sekali lagi, tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya menjadi mental pengemis, terlebih di hari fitri, ada memang anak-anak dan juga orang tua yang sengaja datang ke rumah tetangga yang mampu, untuk silaturahmi sekedar menikmati hidangan istimewa karena di rumahnya mungkin tidak ada, lalu tuan rumah menyambut dengan ceria dan membagikan uang.
Nah itu bukan mental pengemis itu hikmah ramadhan menjadi insan pemberi dan anak-anak yang kurang mampu ingin ikut merayakan kegembiraan bersama orang yang mampu, jangan di generalisir mereka bermental pengemis.
Bagi-bagi uang di hari fitri tidak akan mengakibatkan anak-anak menjadi pengemis atau bermental pengemis, kalaupun anda pernah mendengar, melihat bahkan mengalami sendiri disuruh atau diajarkan melakukan minta uang di hari lebaran oleh orang tua anda diwaktu kecil, kepada kakek-nenek-paman-bibi saya rasa itu hanya sekedar ungkapan kegembiraan, ditengah jalinan silaturahmi keluarga, diungkapkan dengan kalimat guyon bukan serius seperti layaknya pengemis meminta-minta dengan menadahkan tangan.
Toh faktanya anda yang barangkali pernah disuruh meminta uang di hari fitri, setelah dewasa tidak ada yang berfrofesi menjadi pengemis, bukan ajaran mental pengemisnya yang melekat, justru sebaliknya manakala anda sudah bekerja, sudah memiliki penghasilan sendiri, turut melestarikan tradisi ini, dengan menyediakan rejeki membagi angpau kepada para keponakan anda.

Mari rayakan idul fitri dengan mengapresiasi tradisi yang baik, jauhkan prasangka, janganlah gampang sekali membangun narasi dengan sudut pandang pribadi yang ujungnya membuat kesimpulan salah, ngawur dan menimbulkan ketersinggungan bagi yang menjalankan tradisi.





Terlepas dari berbagai sudut pandang tersebut diatas, tentunya kita sebagai pribadi yang bermartabat dapat menempatkan diri dengan arif dan bijaksana tanpa menyakiti maupun merendahkan orang lain di hari raya Iedul Fitri yang kita agungkan ini. Mari kits saling menghormati sesama, mengedepankan toleransi dalam kemajemukan. Pro dan kontra merupakan hal biasa. Mari kita mencari persamaan, bukan perbedaan. Terkait angpau ebaran tersebut, silakan anda menyikapinya. Semoga artikel ini sedikit memberikan pencerahan dan membuka wawasan bagi sobat-sobat semua.

Mungkin Anda Suka:



Berlangganan via Email