Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Proposal Skripsi Kualitatif Pendidikan : Peranan Orang Tua Dalam Pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Di Dusun Nglebak Desa Kedunggudel Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi Tahun 2013




PERANAN ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN
AKHLAQUL KARIMAH ANAK DI DUSUN NGLEBAK
DESA KEDUNGGUDEL KECAMATAN WIDODAREN KABUPATEN NGAWI TAHUN 2013

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Untuk Mengadakan Penelitian Skripsi







Disusun Oleh :

Nama               : RUSDATUN NASHIROH

NIMKO          : 2009.4.052.0001.1.02097

Jurusan            : Pendidikan Agama Islam


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH
(STIT) TEMPURREJO NGAWI
2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Berbicara tentang peranan Tuan Guru dalam pembentukan akhlaqul karimah Remaja, maka kita teringat bahwa dalam kehidupan manusia, akhlak sangat memegang peranan penting, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun bangsa atau negara. Akhlak juga sebagai indikator yang dapat menunjukkan kwalitas iman seseorang, masyarakat maupun bangsa.
Tingkah laku selalu tumbuh dan berkembang dan juga senantiasa dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dimana mereka berada, khususnya dalam keluarga yaitu kedua orang tua, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan (sesuai) fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Majusi atau menasranikannya. (Al Asqar, 2002: 27).
Oleh karena itu, untuk membentengi manusia dari berbagai hal yang akan dapat merusak akhlaknya, diperlukan pembinaan akhlak sejak dini secara matang.
Dalam usaha pembinaan akhlak, harus dipertimbangkan apakah nilai-nilai yang akan ditanamkan itu dapat dijadikan sebagai modal dalam hidup dan kehidupannya atau tidak. Islam sebagai agama wahyu yang bersumberkan Al Qur'an dan Al Hadits telah banyak mengatur kehidupan manusia, baik yang hubungannya dengan Allah maupun yang berhubungan dengan tata cara sesama makhluk dalam pergaulan sehari-hari.
Jadi untuk memiliki akhlak yang mulia, maka hendaklah kita selalu berpedoman pada Al Qur'an dan Al Hadits dimana dan kapan saja. Seorang anak akan dapat berakhlak yang mulia jika sejak dini dibiasakan oleh orang tua sejak mereka dalam kandungan dan setelah dilahirkan yaitu dalam keluarga dan dalam masyarakat, dimana peran serta orang tua tak dapat diabaikan karena menjadi pondasi dasar dalam kehidupannya.
Begitu juga akhlak tidak terlepas dari pendidikan budi pekerti, karena budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapi suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan, tetapi ini tidak berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani atau akal atau ilmu atau segi-degi praktis lainnya, tetapi artinya ialah bahwa kita memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak. Seperti juga segi-segi lainnya, peranan orang tua sangat menentukan karena anak-anak sangatlah membutuhkan tuntunan dalam dirinya, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan akhlaqul qarimah, budi pekerti, perasaan, kemauan dan cita-cita dalam kepribadiannya dan tidaklah cukup dengan da'wah (mengajak) seorang anak kepada yang benar, bahkan perlu mendidik anak-anak yang menyambut kebenaran itu. Tidak boleh tidak haruslah mendidik mereka menurut kebenaran ini dan mensucikan jiwa mereka dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan  ulama' menjadi rabbani dalam firmannya 
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
            Betapa pentingnya pendidikan akhlak, sehingga Allah SWT menyeru agar kita menjadi orang-orang rabbani yang artinya orang-orang yang memiliki jiwa sabar dalam mendidik dengan ilmu yang kecil (mudah) sampai yang besar (luas) yang bisa menghiasi jiwa anak berakhlaqul karimah.
Jelasnya akhlaqul karimah adalah penyelamat manusia baik dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Seorang filosof Ibnu Rusdy berkata dalam syairnya :
اِنَّمَاالاُمَمُ الاَخْلاَقُ مَابَقِيَتْ فَاِنْ هَمُوْا ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا
Bangsa-bangsa itu hanya tegak dan jaya selama ada akhlaknya. Kalau mereka kehilangan akhlak, punahlah (hancur) mereka. (Zai-nall Abidin 1994:30).
Dalam kehidupan orang tua merupakan pendidik utama dalam pembentukan dan pembinaan akhlaqul qarimah anak, dengan demikian akan terjadi keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat disebabkan oleh kepribadian anak yang akhlaqul qarimah. Oleh karena itu dari latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk mengangkat tema yang berjudul Peranan Orang Tua Dalam Pembentukan Akhlaqul Karimah Anak di Dusun Nglebak.
B.    Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1.     Bagaimana tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di Dusun Nglebak?
2.     Bagaimana orang tua memberi ketauladanan dan motivasi pada anaknya dalam pembentukan akhlaqul karimah di Dusun Nglebak?
3.     Apa saja masalah-masalah yang dihadapi orang tua dalam upaya pembinaan akhlaq anak di Dusun Nglebak?
C.   Penegasan Judul
Sebelum sampai pada pembahasan pokok skripsi ini terlebih dahulu penulis akan memberikan penjelasan istilah-istilah yang prinsip yang terdapat dalam judul skripsi ini dengan tujuan untuk menghindari kekliruan dalam menafsirkan serta untuk memudahkan dalam memahami pembahasan selanjutnya. Adapun istilah-istilah yang dimaksud adalah:
1.    Peranan
Peranan dapat diartikan sebagi: "Sesuatu yang jadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa)". (WJS Poerwadarminta, 1984 : 734).
2.    Orang Tua
Yang dimaksud dengan orang tua adalah: "Ibu Bapak", jadi yang dimaksud dengan peranan orang tua disini adalah keikut sertaan ibu bapa atau wali yang bertanggung jawab terhadap anak. (WJS Poerwadarminta, 1984 : 688).
3.    Pembentukan
Pembentukan dapat diartikan: "Perbuatan (hal, cara membentuk)". (WJS Poerwadarminta, 1984 : 122).
4.    Akhlak
Perkataan akhlak adalah jama' dari kata khuluq dari bahasa dana agama. Jadi akhlak dapat diartikan sebagai: "Perangai, adat, tabi'at atau prilaku yang dibuat". (DR H.M. Rais, 1993 : 94).
5.    Anak
Anak adalah: "Keturunan yang dilahirkan oleh induk, juga berarti manusia yang masih muda". (WJS Poerwadarminta, 1984 : 38).
Jadi dari definisi pembentukan akhlak dan anak di atas dapat dipahami bahwa dengan pembentukan akhlak anak, maka diharapkan agar mereka dapat mengamalkan syari'at agama Islam dan bergaul dengan masyarakat dengan adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syari'at Islam, atau dengan kata lain dapat mengamalkan agamanya dan bergaul dengan adat kebiasaan yang sesuai dengan masyarakat setempat sesuai dengan adat kebiasaan selama tidak melanggar syari'at Islam.
Dari beberapa pengertian istilah atau kata-kata di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dengan judul skripsi di atas adalah sejauh mana peran dan ikut sertaan orang tua terhadap pembinaan akhlak anaknya sehingga terbentuk akhlak yang mulia dalam mengabdi kepada Allah dan bergaul dengan masyarakat khususnya di Dusun Nglebak, Desa Kedunggudel.
D. Kegunaan Penelitian
Dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan berguna sebagai berikut :
1.  Secara ilmiah atau secara teoritis diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang metode mendidik dan pembinaan akhlaqul karimah dan sebagai motifasi bagi mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan tarbiyah untuk dapat mengangkat masalah pendidikan.
2.   Secara praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi keluarga dan masyarakat khususnya orang tua dalam rangka memberi pendidikan akhlaqul karimah kepada putra putrinya.
E.   Penelitian Terdahulu
              Hasil-hasil penelitian terdahulu/Kajian Empirik. Bagian ini memuat tentang fakta-faktaa atau hasil kajian empirik yang relevan dengan judul/topik penelitian.  Hasil-hasil penelitian terdahulu sangat berguna bagi calon peneliti, khususnya didalam melihat tentang adanya celah penelitian atau riset gap yang bersumber dari jurnal penelitian.
Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti telah menelusuri beberapa hasil penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penenlitian yang peneliti lakukan ini. Dari beberapa contoh judul penelitian terdahulu memang memiliki keterkaitan dari segi masalah yaitu mencari tau tentang hubungan dan pengaruh akan tetapi objek dan sasarannya yang berbeda. Oleh karena itu peneliti memilih masalah tentang Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga Dan Implikasinya Terhadap Penanaman Nilai Budi Pekerti Anak Di Rw 01 Desa Rancahilir Pamanukan Subang. Oleh Munasir, S.Pd.
F. Sistematika Pembahasan
Adapan sistematika pembahasan skripsi ini akan disusun menjadi tiga bagian yaitu :
A.   Bagian muka yang terdiri dari halaman judul, halaman pengesahan, halaman nota dinas, halaman dewan penguji, halaman motto, halaman kata pengantar dan halaman daftar isi.
B.   Bagian isi yang meliputi empat bab yaitu :
BAB I      : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, penegasan judul, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu dan sistematika pembahasan.
BAB II    :     Adalah uraian tentang orang tua dalam pembentukan akhlaq anak yang meliputi : Tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap anak, pengaruh keluarga terhadap akhlak anak, kedudukan akhlak dalam ajaran Islam, Anak yang ideal Menurut Pandangan Islam.
BAB III   :     Merupakan laporan tentang masalah yang akan dibahas meliputi : Ketauladanan orang tua Dalam Pembinaan Akhlak Anak Dusun Nglebak, motivasi orang tua terhadap pembinaan akhlak anak di Dusun Nglebak.
BAB IV  :     Berisi kesimpulan, saran dan penutup.

C.   Bagian ketiga berisi tentang daftar kepustakaan, lampiran-lampiran, dan daftar ralat.

Demikian sistematika pembahasan yang penulis pergunakan dalam pembahasan skripsi ini.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    DESKRIPSI TEORITIS
1.    Pengertian Akhlaqul karimah
Pengertian akhlak (akhlaqulkarimah) adalah jama' dari kata khuluq, menurut bahasa berarti adat, kebiasaan, tabi'at, perangai dan agama. Al Gazali memberikan definisi akhlak sebagai kondisi jiwa yang mantap dalam diri manusia sehingga menimbulkan suatu perbuatan  dengan mudah tanpa memerlukan lagi pemikiran dan pertimbangan untuk berbuat (Amin Rais, 1993:94).
Dalam ajaran Islam perkataan akhlak itu sendiri telah menunjukkan kepada suatu perilaku positif, jadi akhlaqulkarimah adalah sekumpulan tindakan dan perilaku yang baik, muncul secara spontan dalam diri muslim dengan maksud mencari pahala dari Allah SWT, bukan yang lainnya. Kiat-kiat untuk mencapai akhlaqulkarimah diantaranyanya adalah :
-     Memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.
-     Memperbanyak zikir baik jahar maupun siriah.
-     Memperbanyak taubat dan bergaul dengan orang-orang yang alim (sholeh)
Menurut Imam Al Gazali dalam karangan bukunya pilar-pilar rohani; Akhlaqulkarimah bersumber dari tiga sifat sebagai berikut :

a.    Akal beserta kekuatan dan kelurusannya dengan ilmu dan hikmah, hakikat hikmah adalah mengenali yang hak dan yang bathil dalam segenap keyakinan, mengetahui yang benar dari yang dusta dalam segala perkataan dan mengetahui yang baik dari yang buruk dalam segala perbuatan.
b.    Kekuatan emosi yang menolak bahaya, ia diciptakan untuk itu. Kesempurnaan dan kelurusannya akan tunduk pada hikmah, jika hikmah memberikan isyarat kepadanya untuk melebar, ia melebar, atau diisyaratkan untuk mengerut ia mengerut seperti anjing yang terlatih.
c.    Kekuatan syahwat yang menarik manfaat, syahwat diciptakan untuk patuh pada akal, kekuatan syahwat yang baik dan lurus berada dalam ketundukan pada hikmah. (Al-Gazali : 122).
2.    Arti Penting Akhlaqulkarimah
Secara alamiah manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan dapat hidup sendirian. Karena itu ia sangat memerlukan adanya komunikasi dan hubungan dalam hidup dan kehidupannya, bersama orang lain hal ini menuntut adanya seperangkat nilai yang (akhlaqulkarimah) untuk mengatur tingkah laku individu dalam komunikasi masyarakat. Mengenai hal di atas Allah SWT berfirman :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ 
"Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya ALlah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Q.S. Al Hujarat : 13). (Amin Rais, 1993:93).
Allah sebagai pencipta manusia sangat mengetahui keadaan dan segala sesuatu yang diperlukan manusia, serta apa-apa yang baik bagi kemanusiannya dan kemuliannya (akhlaqulkarimahnya) diantara kandungannya berupa ajaran tentang akhlaqulkarimah yang sangat diperlukan oleh manusia pada umumnya dan anak didik pada khususnya bagi individu maupun masyarakat.
Dalam Al Qur'an Allah melukiskan Rasul terakhir sebagai contoh tauladan bagi seluruh ummat manusia untuk berakhlaqulkarimah, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firmannya :
وَاِنّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمٍ. (4)
Dan sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berakhlak yang mulia (agung). (Q.S. Al Qalam : 4). (Amin Rais, 1993:94).
Dalam Islam akhlaqulkarimah adalah cinta kepada Allah dan kehidupan kepada seluruh makhluk, tidak terkecuali makhluk yang durhaka padanya sekalipun, demikian itu tanda-tanda kebesaran Allah yang maha bijaksana (Al Hakim) inilah arti penting akhlaqulkarimah yang perlu ditanamkan kepada semua manusia khususnya pada anak didik usia dini.
3.    Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Akhlak Pertama
Dalam hubungan dengan pendidikan akhlaqulkarimah anak. Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga (orang tua) merupakan dunia pertama yang memberikan moral dan mental serta pisik terhadap hidupnya. Orang tua sebagai pendidikan pertama betul-betul merupakan peletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan bermanfaat atau berperan terhadap pengalaman-pengalaman selanjutnya, yang kemudian dalam ajaran islam bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah anak tersebut membawa potensi untuk berkembang menjadi manusia yang sejati (berakhlaqulkarimah) orangtuanyalah yang paling bertanggungjawab untuk mengembangkan dan mengarahkan serta membimbing anaknya tersebut. (Sadullah:64).

Secara garis besar adab (cara) bergaul dengan anak sebagai berikut: 1) memelihara dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani; 2) bergaul dengan kasih sayang; 3) memberikan bimbingan dan pendidikan agar tumbuh menjadi lebih kuat dan kemudian mampu berdiri di atas kaki sendiri; 4) memberikan perlindungan baik fisik maupun mental kejiwaan; 5) memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. (Zainal Abidin, 1994:53).



4.    Peran Orang Tua Dalam Penanaman Akhlaqul karimah
Dalam pandangan islam tugas serta peran orang tua mempunyai kewajiban terhadap anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi pangan, sandang, perlindungan dan pendidikan, hal yang demikian merupakan tugas mulia yang harus dilakukan dengan ikhlas dan kasih sayang, kemudian akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Hal inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya:
عَنْ جَابِرِبْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: لاَِنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَتَصَدَّ قَ بِصَاعٍ. (روه الترميذ)
Dari Jabir bin Samurah ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda: sesungguhnya bahwa pendidikan yang dilakukan (diberikan) oleh orang tua terhadap anaknya itu lebih baik daripada bersedaqoh satu sha. (HR. Attarmizi).
Dapat dimaklumi bahwa mendidik anak berakhlaqul-karimah lebih utama dibandingkan dengan memberikan nafkah yang sifatnya material, karena memberikan pendidikan kepada anak merupakan amal jariah bagi kedua orang tuanya, manfaatnya diperoleh dari dunia sampai akhirat kelak. (Depag, 1997:22).
Anak akan lurus bia diluruskan dan terjerumus bila dibiarkan. Anak akan selamat bila mempunyai ciri pergaulan yang sopan (berkahlaqul karimah) antara lain :
1.    Tahu batas yang diperbolehkan atau dilarang
2.    Masing-masing pihak mengetahui batas hukum islam
3.    Dapat menjaga diri dari kegelisahan orang tuanya
4.    Tidak berdua-duaan di tempat yang sunyi (baik laki-laki maupun perempuan)
5.    Dapat menjaga norma ketentuan islam
6.    Dapat menjaga norma sosial dan adat istiadat
(Zainal Abidin, 1994:49)
Manusia hidup di dunia ini banyak ragamnya. Ada yang berusaha hanya mempertajam akal, sehingga orang tersebut mempunyai kebijakan dan keutamaan. Adapula yang berusaha betul-betul memerintahkan akhlak dan budi pekerti saja, sehingga ia memperoleh gelar budiman. Adapula orang-orang yang berusaha memperoleh harta, orang tersebut akan berharta (kaya raya) dan memperoleh gengsi. Ada pula orang yang selalu menambah taqwa, yang menjadikan dia orang yang bertaqwa dan tebal agamanya. Sebenarnya semua itu harus dipadukan agar tercermin akhlaqul karimah.
Untuk meningkatkan diri supaya mempunyai pribadi luhur dan harga diri dengan cara sebagai berikut:
1.    Mempunyai cita-cita yang luhur
2.    Tidak berbuat sesuatu yang membuat dirinya terperosot
3.    Jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat menodai dirinya
4.    memegang teguh keyakinan sehingga baik perkataan maupun perbuatan selalu bersih dan ikhlas
5.    Memegang teguh sariat agama islam demi menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi
6.    Berjuang untuk kejayaan ummatnya dengan semangat juang yang ihklas semata-mata mencari ridho Allah SWT
Dan menurut Abu Laits Assamarqandi bahwa Rasulullah telah memberikan kesimpulan semua kebaikan dalam enam hal sebagai berikut:
1.    Berkata benar, baik kepada Allah dan juga pada manusia
2.    Menepati janji baik vertikal maupun horizontal
3.    Menunaikan amanah baik dari Allah maupun sesama
4.    Memelihara kehormatan baik dari subhat maupun haram, juga dari terlihat atau atau melihatnya.
5.    Tutup mata dari hal-hal yang subhat dan haram
6.    Jagalah tanganmu dari hal-hal yang haram, baik mengenai harta dan lainnya.
Untuk penanaman akhlaqulkarimah untuk anak usia dini hendaklah ditanamkan semenjak lahirnya sampai tidak terbatas (dewasa). (Zainal Abidin, 1994:85).

A.    KERANGKA BERFIKIR
1.      Dalam kehidupan orang tua merupakan pendidik utama dalam pembentukan dan pembinaan akhlaqul qarimah anak, dengan demikian akan terjadi keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat disebabkan oleh kepribadian anak yang akhlaqul qarimah.
2.      Secara garis besar adab (cara) bergaul dengan anak sebagai berikut: 1) memelihara dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani; 2) bergaul dengan kasih sayang; 3) memberikan bimbingan dan pendidikan agar tumbuh menjadi lebih kuat dan kemudian mampu berdiri di atas kaki sendiri; 4) memberikan perlindungan baik fisik maupun mental kejiwaan; 5) memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. (Zainal Abidin, 1994:53).
3.      Untuk memiliki akhlak yang mulia, maka hendaklah kita selalu berpedoman pada Al Qur'an dan Al Hadits dimana dan kapan saja. Seorang anak akan dapat berakhlak yang mulia jika sejak dini dibiasakan oleh orang tua sejak mereka dalam kandungan dan setelah dilahirkan yaitu dalam keluarga dan dalam masyarakat, dimana peran serta orang tua tak dapat diabaikan karena menjadi pondasi dasar dalam kehidupannya.
4.      Untuk memperbaiki akhlak mulia seorang anak melalui pendidikan Formal dan non-formal melalui pendidikan Agama Islam.

5.      Akhlak tidak terlepas dari pendidikan budi pekerti, karena budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapi suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Agar dapat mencapai kehidupan yang damai, sejahtera, bahagia di dunia dan di akhirat.
Kerangka Berpikir





BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan dari pada skripsi ini adalah sebagai berikut :
1.     Ingin mengetahui tugas dan tanggung jawab terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di Dusun Nglebak.
2.     Ingin mengetahui mengetahui bagaimana orang tua memberi tauladan dan motivasi kepada anak di Dusun Nglebak.
3.     Ingin mengetahui masalah yang dihadapi orang tua dalam upaya pembinaan akhlaqul karimah anak di Dusun Nglebak.
B.   Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini adalah di Dusun Nglebak Desa Kedunggudel Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi. Menurut hemat penulis penelitian dilakukan di Nglebak disebabkan :
1.    Peneliti merupakan penduduk di Desa tersebut sehingga dipandang perlu untuk mengetahui peranan orang tua dalam pembentukan akhlaqul qarimah anak di Desa Nglebak.
2.    Kurangnya perhatian orang tua terhadap bimbingan akhlaqul qarimah kepada anaknya.
      Adapun waktu penelitian kami lakukan selama enam bulan setelah disyahkannya proposal ini.

A.    Bentuk dan Strategi Penelitian
a.      Bentuk Penelitian
Bentukpenelitian yang penulis gunakan adalah deskriptif kualitatif, karena data yang penulis kumpulkan adalah data dalam bentuk kata-kata, kalimat, pencatatan dokumen maupun arsip yang memiliki arti lebih dari sekedar angka dan frekuensi.
b.      Strategi Penelitian
Strategi penelitian yang penulis gunakan adalah strategi penelitian Tunggal Terpancang, maksudnya penelitian yang diarahkan pada riset yang diarahkan pada lokasi yaitu Dusun Nglebak. Tunggal yaitu 1 lokasi dusun Nglebak.Terpancang apa yang diteliti ,dibatasi pada aspek-aspek yang sudah dipilih.  
B.     Sumber Data
         Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah obyek dari mana data itu diperoleh (Suharsimi Arikunto, 1996:114). Untuk data-data yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan, maka peneliti memandang perlu untuk menjelaskan sumber-sumber data yang peneliti butuhkan terkait dengan judul penelitian yang peneliti angkat, maka yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah penduduk (masyarakat) Nglebak. Adapun untuk mendapatkan data dari subyek penelitian ini tentu sangat membutuhkan orang-orang terentu yang dijadikan sebagai sumber/responden sehingga data yang diharapkan bisa mengenai sasaran sesuai yang peneliti inginkan. Dalam penelitian ini yang dapat dijadikan sebagai sumber atau responden adalah:
1.     Orang tua dan anak yang bersangkutan sesuai dengan judul yang diajukan, ustad atau guru-guru ngaji dan segenap perangkat desa Nglebak.
2.     Segenap guru yang ada di Desa Nglebak.
3.     Guru atau ustadz yang mengisi majelis taklim yang ada di Desa Nglebak.
C.    Populasi dan Teknik Cuplikan
               Menurut Margono (2003: 1998) populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Sedangkan Teknik Cuplikan adalah bersifat selektif yang berkaitan dengan pembatasan jumlah dan jenis dari sumber data yang akan digunakan dalam penelitian kualitatif.
               Dalam penelitian ini penulis nanti akan membatasi populasinya hanya pada kepala keluarga Rt. 03, 04, dan 05 yang memiliki anak yang masih bersekolah. Jumlah kepala keluarga Rt. 03, 04, dan 05 berjumlah 141 kepala keluarga, dengan rincian kepala keluarga Rt. 03 berjumlah 47 KK, Rt. 04 berjumlah 51 KK, Rt. 05 berjumlah 43 KK. Jadi populasi penelitian yaitu sebanyak 141 Kepala keluarga. Dan Adapun yang menjadi sampling pada penelitian ini, penulis mengambil sampel sebanyak 20% dari 141 Kepala keluarga. Jadi sampel yang diambil sebanyak 30 kepala keluarga.



D.    Teknik Pengumpulan Data
                 Pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian bahkan merupakan suatu komponen yang harus mendapatkan perhatian serius dalam setiap penelitian. Dimana sebelum menganalisa suatu karya ilmiah tentunya terlebih dahulu mengumpulkan data-data hasil temuannya di lapangan, baru kemudian hasil temuan yang didapatkan di lapangan tersebut peneliti olah sedemikian rupa dengan berdasarkan suatu ketentuan, baru kemudian peneliti dapat menarik kesimpulan suatu kesimpulan.
                  Menurut hemat peneliti setelah mengkaji data-data yang akan dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa prosedur atau metode pengumpulan data yang sesuai dengan peneliti butuhkan untuk dapat tercapainya data-data yang akurat di lapangan, maka metode yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.   Metode Observasi
                     Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan dan pencatatan dengan sistimatis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki. (Hadi, 1995:136).
      "Observasi disebut juga pengamatan meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan alat indera". (Arikunto, 1992:128).
                     Dari kedua definisi di atas dapat dimabil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metode observasi adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data baik dengan pencatatan atau pengamatan langsung dengan menggunakan sebuah alat indera. Metode observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dalam pengoperasiannya peneliti mengamati secara langsung sumber data. Metode ini peneliti gunakan untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan dengan letak geografis dan sarana-prasaran Dusun Nglebak.
                     Dalam metode observasi ini, peneliti berusaha menyediakan waktu yang lebih baik agar dapat melihat obyek yang diteliti dari berbagai segi. Dari metode observasi ini peneliti dapat mengumpulkan data-data mengenai:
1.   Kelompok pengajian (Diniah) yang ada di Dusun Nglebak.
2.   Fasilitas pendukung dalam upaya meningkatkan akhlaqul karimah.
3.   Kendala-kendala yang dihadapi orang tua dan guru ngaji dalam pembentukan akhlaqulkarimah.
b.   Metode Interview (Wawancara)
                     Selain pengumpulan data dengan cara observasi (pe-ngamatan) peneliti dapat juga memperoleh data dengan menggunakan interview atau wawancara. Dalam hal ini peneliti secara langsung akan memperoleh keterangan dan informasi dari responden atau informan dengan cara tatap muka dan bercakap-cakap secara langsung. Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
                     Interview dapat dipandang sebagai pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistimatik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan (Hadi, 1987:193).
c.   Metode Dokumentasi
                     Menurut Suharsimi Arikunto (1992:200) yang dimaksud dengan dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.
                     Dari pengertian di atas jelas bahwa yang dimaksud dengan metode dokumentasi dalam pelaksanaan penelitian ini adalah usaha mencari data mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam suatu penelitian baik yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, atau yang sejenisnya guna memperkuat data-data yang diperoleh serta dapat dipertangung jawabkan.
                     Dalam penelitian ini tentu peneliti tidak terlepas dari metode dokumentasi, dengan metode dokumentasi yanag peneliti gunakan peneliti dapat menggali data-data tentang :
i.    Jumlah kelompok pengajian di Dusun Nglebak.
ii.   Jumlah anak yang terlibat dalam pengajian/diniah yang ada di Dusun Nglebak.
iii.  Sarana prasarana yang dimiliki Dusun Nglebak.

E.     Validitas data (Trianggulasi Data)
                 Teknik Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.             Triangulasi Data
                                Teknik triangulasi data ini sering disebut sebagai triangulasi sumber. Penelti menggunakan beragam sumber data yang tersedia dengan cara membandingkan hasil observasi dengan hasil wawancara dan membandingkan informasi yang diperoleh dengan hasil wawancara dan membandingkan informasi yang diperoleh dari pihak sekolah dengan pihak keluarga.
                                Untuk memperoleh keabsahan temuan-temuan dan informasi dalam hal pencarian data-data peneliti mengadakan diskusi dengan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang masalah yang akan dikaji yaitu peranan orang tua dalam pembentukan akhlaqul karimah anak khususnya di Dusun Nglebak, hal ini dimaksudkan untuk membahas temuan secara detail dan mendalam.
b.             Trianggulasi Peneliti
                                Sebagai peneliti dalam penelitian kualitatif peneliti akan berusaha memperpanjang kehadiran peneliti di lapangan, sebagaimana fungsi peneliti dalam penelitian ini adalah intrumen kunci dalam pengumpulan data. Oleh karena itu semakin lama peneliti di lapangan, maka semakin banyak data yang diperoleh sehingga kredibilitas data diharapkan dapat mendekati kebenaran.

F.     Teknik Analisis Data
                 Data yang terkumpul selama peneliti melakukan penelitian maka perlu dianalisa dan dinterpretasikan dengan teliti, ulet dan kecakapan sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang obyektif dari suatu penelitian. Bila data dan informasi yang diperoleh itu sudah dianalisa dan di interpretasikan, maka akan diketahui tentang pe-ranan orang tua dalam pembentukan akhlaqulkarimah anak di Dusun Nglebak.
                 Analisis data adalah: Apabila keseluruhan data sudah terkumpul. langkah yang diambil peneliti adalah mengolah dan membuat analisis terhadap data yang sudah terkumpul itu secara kualitatif. Adapun analisa data merupakan tindak lanjut dari proses data yang merupakan kerja seorang peneliti yang memerlukan penelitian dan pencurahan daya pikir optimal. (Suryabrata, 1998:85).
                 Dengan demikian, data yang terkumpul tersebut dibahasakan, ditafsirkan dan dikumpulkan secara dedukatif sehingga dapat diberikan gambaran yang tepat mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi. Mengingat penelitian ini hanya menampilkan data-data kualitatif, maka peneliti menggunakan analisa data filosofis atau logika dengan metode analisis induktif. Guna memperoleh data yang lengkap peneliti lebih dahulu mengumpulkan data, kemudian menganalisa data tersebut dengan prosedur sebagai berikut :


1.   Metode Analisis Interaktif
Langkah-langkah Model analisis interaktif adalah :
1.      Persiapan dengan usaha yakni :
a).  Mengecek kembali sumber data yang diperoleh, apakah dapat dipertanggung jawabkan atau tidak.
b).  Mengecek kelengkapan data yakni menyatukan data-data yang telah dikumpulkan dari lokasi dan memilih data yang sesuai dengan perencanaan peneliti.
2.      Tabulasi (pengelompokan)
               Setelah data dicek dan dikualifikasikan serta disesuaikan de-ngan data yang diperoleh dari kepustakaan, selanjutnya data tersebut ditabulasikan sesuai dengan fokus penelitian.
3.      Analisa induktif yaitu nenganalisa data dengan mengumpulkan data dari yang bersifat khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.

4.      Analisa deduktif yaitu cara memberikan alasan dengan berpikir dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus atau spesifik.



BAB IV

Time Schedule

No
Bulan
Kegiatan
Ket.
1
Desember 2012
Mencari informasi buku-buku perpustakaan dan konsep proposal

2
Januari 2013
Penulisan Proposal, Pengajuan judul

3
Pebruari 2013
Seminar dan Perbaikan Proposal

4
Maret 2013
Pengajuan bab I – III dan Konsultasi dengan pembimbing,

5
April 2013
Bab IV, Bab V dan Konsultasi ke pembimbing

6
Juni 2013
Ujian Munaqosah



DAFTAR PUSTAKA PROPOSAL
Arifin, M., Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di lingkungan sekolah dan keluarga, Jakarta: Bulan Bintang, 1978
Amini, Ibrahim, Agar tidak Salah Mendidik Anak, Jakarta: Al Huda, 2006
Ahmadi, Abu, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: Bima Aksara1998
Al-Abrasy, Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993
Al Hasan, Yusuf Muhammad, Pendidikan Anak Dalam Islam, Jakarta: Darul Haq, 1998
Alwasilah, A. C., Pokoknya Kualitatif Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Bandung: Pustaka Jaya, 2008
Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
Daradjat, Zakiah, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Bandung: CV Ruhama, 1995
_______________, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1991
Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Press, 1996
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Muhammad Naufal, Abu Ahmad, Langkah Mencapai Kebahagiaan Berumah Tangga, Yogyakarta: Al Husna Press, 1994
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004
Nashih Ulwan, Abdullah, Pendidikan anak dalam Islam, Jakarta: Pustaka Amani, 1995
______________________, Kaidah-kaidah dasar (Pendidikan anak menurut Islam), Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara, 2004
Nasution, S. Metode Research (Penelitian ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara, 2003
Rakhmat, Jalaluddin, Keluarga Muslim dalam Masyarakat Moderen, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994
________, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2005
Shaleh, Abdul Rachman, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta: Gemawindu Pancaperkasa, 2000
Subagyo, Joko, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka cipta: 2004
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999

Mungkin Anda Suka:



Berlangganan via Email