Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nuzulul Qur'an






Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep-konsep yang dibawa al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun mereka berada.
Pada kenyataannya, al-Quran benar-benar telah mengepung level kecil klasik kesusastraan jahiliyah untuk memperkenalkan pemikiran keagamaan dan konsep-konsep monoteistiknya ke dalam Bahasa Arab. la juga menciptakan design dahsyat dalam Bahasa Arab dengan mengubah instrument-instrument teknis pengungkapannya. Pada satu sisi, ia menggantikan syair metrik dengan bentuk ritmenya sendiri yang tak tertirukan, dan pada sisi lain memperkenalkan konsep-konsep dan tema-tema baru yang mengarah kepada arus besar monoteisme.
Al-Quran juga mengalihkan perhatiannya kepada masa lalu yang jauh dalam sejarah perjalanan ummat manusia sekaligus mengarah ke masa depannya dengan tujuan mengajarkan tugas-tugas masa kini. la melukiskan gambaran dan tanda-tanda yang mengundang manusia untuk segera menarik pelajaran darinya. Setelah pelajaran dapat ditarik kesimpulannya, ternyata jiwa manusia tanpa disadari terseret serta terpesona oleh kedalaman dan keluasan makna al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa al-Quran sebagai mukjizat terbukti menjadi modal kehidupan dunia dan akhirat.
Allah SWT menurunkan al-Quran saat manusia sedang mengalami kekosongan para rasul, kemunduran akhlak dan kehancuran problem kemanusiaan, sosial politik dan ekonomi. Pada setiap problem itu, al-Quran meletakkan sentuhannya yang mujarrab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia selanjutnya yang relevan di setiap zaman. Sejak diturunkannya sampai dengan sekarang al-Quran tidak pernah terlepas dari suatu tradisi yang sedang berjalan. Dengan kata lain, pesan-pesan al-Quran selalu berhubungan dengan pribadi atau masyarakat yang mengganggapnya sakral atau sebagai sentralitas etika universal.  
  
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيْرًا.

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. Al-Isra’ : 9)
Allah Taala juga-lah yang telah memberi petunjuk bagaimana cara memuliakan Al Qur’an sejak langkah awalnya yakni               
                                                      فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Maka apabila engkau hendak membaca Qur’an, mohonlah perlndungan Allah dari Syaitan yang terkut(16:99).

Syaitan telah bertekad akan senantiasa menggoda manusia agar jauh dari ketaqwaan, sementara setiap kata di dalam Al Qur’an mengarahkan manusia agar memperoleh petunjuk hidayah. Inilah sebabnya mengapa Allah Taala mewanti-wanti, untuk mendapatkan kedekatan-Nya, sebelum membaca Kitab ajaran-Nya, berdoa-lah dengan sebaik-baiknya agar dilindungi dari berbagai serangan godaan Syaitan, dan agar diberi kemampuan untuk dapat mempraktekkannya. Syaitan akan senantiasa membuat berbagai halangan; maka apabila setiap niat dan langkah untuk itu tidak disertai dengan mohon perlindungan dari godaan mereka, Syaitan pun akan menjegal kita dalam usaha untuk memahami ilmu Al Qur’an, kemudian dia pun menguasai kita. Inilah sebabnya mengapa orang diperintahkan membaca Al Qur’an hanya setelah ber-Ta'awudz. Jika tidak, mereka pun tidak akan dapat memahaminya dengan benar




A.   Pengertian Nuzulul Qur’an
Para Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata turun atau nuzul dalam konteksnya dengan Al-ur’an.
1.    Menurut jumhur ulama arti kata dari kalimat nuzul al-qur’an tidak perlu menggunakan arti yang hakiki, melainkan perlu arti majazi. Sebab al-qur’an adalah firman Allah yang tidak relavan jika di katakana meluncur dari atas atau turun. Hal ini dikarenakan Allah itu tidak bertempat di langit atau nun jauh di atas sana, sehingga wahyunya harus turun dari atas ke bawah. Allah berfirman yang artinya :
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Qs. Al- Baqoroh: 186)

Bahkan dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah itu lebih dekat dari pada hamba-hambaNya dari pada urat lehernya. Allah berfirman:
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? (Qs. Qof: 6)
Dalam  bahasa indonesiapun biasa digunakan kalimat”Surat keputusan mentri sudah turun” padahal, mentri itu berada di dekat saja dengan orang yang diberi SK.namun karena kedudukan mentri itu lebih tinggi dari pada yang di beri SK, maka tepatlah bila digunakan kata turun.

2.    Sebagaian ulama, antara alin Imam Ibnu Taimiyyah, mengatakan pengertian Nuzulul Qur’an tidak perlu di alihkan dari arti hakiki karena arti majazi, sebaba arti itu sudah bisa di gunakan dalam bahasa arab. Contohnya firman Allah:
                                                                                                                      
“Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”. (Al-|A’rof:26)
Nuzulul Qur'an artinya adalah turunnya Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang petama kalinya biasa diperingati oleh umat Islam yang dikemas dalam suatu acara ritual yang disebut dengan Nuzulul Qur'an. Turunnya Al-Qur'an untuk yang pertama kalinya merupakan tonggak sejarah munculnya satu syari'at baru dari agama tauhid yaitu agama Islam. Sebagai penyempurna dari agama-agama tauhid sebelumnya.
 Al-Qur'an turun sebagai pemecah kebuntuan di saat bejatnya moral bangsa Arab sudah sampai pada puncaknya, budaya jahiliyah lagi merajalela, barbarismenya hukum padang pasir dengan filosofi siapa yang kuat dialah yang menang dan hancurnya tatanan kemasyarakatan karena tidak adanya aturan hukum yang baku. Oleh karena itulah Allah membuat satu penyelamatan dengan sebuah skenario yang jitu yang menyelamatkan bangsa Arab dari kehancuran dengan diutusnya seorang nabi akhir zaman yaitu Muhammad saw. 

A.   Tahapan Turunnya Al-Qur’an dan Hikmahnya
Tidak seperti halnya kitab-kitab suci sebelumnya, al- Qur’an dari sisi allah kepada nabi Muhammad SAW, secara bertahap , sehingga betul-betul menunjukan kemukjizatannya. Al-Quran di tutrunkan melelui tiga tahap:
1.    Tahap pertama (at-tanazul al-awwal)
Al-qur’an di turunkan atau di tempatkan ke al-lauh al-mahfudz, suatu tempat di mana manusia tidak bisa mengetahui secara pasti. Firman Allah:




“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,  Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.(Qs.Al-Buruj:21-22)

Adapun mengenai sejak kapan Al-Qur’an di tempatkan di al-Lauh al-mahfudz adalah hal gaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.

Hikmah dari tahap pertamaini adalah seperti halnya hikman dari eksistensi al-Lauh al-Mahfudz sendiri dan fungsinya sebagai tempat catatanumum dari segala hal yang telah di tentukan atau diputuskan oleh Allah dari segala makhluk, alam dan semua kejadian. Al-Lauh al-mahfudz iniah yang menunjukan sebagai data dan fakta serta argumentasi yang membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah, keluasan ilmu-Nya, kekuatan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. 

2.    Tahap kedua (at-tanazzul ats-tsani)
Tahap kedua, al-Qur’an turun dari al-lauh al-mahfudz ke baitul al-‘izzah di langit dunia. Firman Allah:
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.(Qs. Ad Dukhon:3)
“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”(Qs. Al-Qodr:1)
Hikmah diturunkannya Al-Qur’an dari Al-Lauh al-Mahfudz ke baitul ‘Izzah ada tiga hal:
a.    menunjukan kehebatan dan kemuliaan Al-Qur’an, yang turunnya tidak sama dengan kitab-kitab suci lainnya.
b.    Menjelaskan kebesaran Nabi Muhammad sebagai penerima kitab suci Al-Qur’an tersebut.
c.  Memberitahukan kepada para, para nabi dan para rosul terdahulu mengenai kemuliaan dan ketinggian Nabi Muhammad sebagai rosul terakhir dan kitab suci terakhir yang diterimanya.

3.   Tahap ketiga (at-tanazzul ats-tsalist)
Pada tahap ini al-Qur’an turun dari bait al-‘izzah di langit dunia langsung ke pada nabi Muhammad SAW, baik melaalui perantara malaikat jibril atau secara langsung ke dalam hati sanubari nabi maupun dari balik tabir, secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. 

Menurut tarikh Islam, Al-Qur'an turun untuk pertama kalinya pada tanggal 17 Ramadhan di saat Muhammad sedang berkhalwat (semedi) di gua Hira. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya(Al-Qur'an) pada malam kemuliaan"(97:1). Yang dimaksud dengan malam kemuliaan menurut para ulama adalah malam lailatul qadar. Atau dalam ayat lain Allah mengatakan: "Haa miim [Demi kitab (Al-Qur'an ) yang menjelaskan]. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan" (44 : 1 - 3). Gua Hira yaitu gua yang terletak di Jabal Nur kurang lebih 2 km dari kota Makkah. Di gua itulah Muhammad merenung dan berfikir meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk merubah moral bangsanya yang sudah melebihi batas toleransi. Saat itulah beliau didatangi Malaikat Jibril yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu untuk yang pertama kalinya, dan saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Yang paling menarik dari proses turunnya wahyu itu adalah disaat Jibril memerintahkan kepada Muhammad untuk iqra(membaca). Jibril mengatakan: "Iqro yaa Muhammad !" (Bacalah hai Muhammad). Saat itu Muhammad menjawab: "Maa ana biqori ?" Untuk pengertian ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa pengertiannya adalah "Bukanlah aku orang yang bisa baca?". Atau ada juga yang mengartikan "Apa yang harus aku baca?". Konotasinya adalah jika kita mengambil pengertian yang pertama berarti kita menganggap Muhammad tidak bisa membaca (bodoh). Sedangkan pengertian yang kedua konotasinya adalah bahwa Muhammad bisa baca tapi dia bingung apa yang harus dibacanya.

Turunya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi mengandung beberapa hikmah:
a.    Memudahkan pembacaan dan penyampaian kepada umat manusia
b.    Memudahkan penghafalan
c.     Memudahkan pemahaman
d.    Memudahkan praktek pelaksanaan
e.  Member kesempatan kepada umat untuk bias menyesuaikan diri dengan aturan-aturan hokum dari Al-Qur’an


B. CARA TURUNNYA AL-QUR’AN
Dalam surat Asy-Syra ayat 51 Allah berfirman:

Berdasarkan ayat tersbut, dapatlah di ketahui bahwa cara turunnya Wahyu adalah sebagai berikut:
1.       Dengan cara pemberitahuan langsung kepada Nabi. Cara ini sering di sebut Ar-ra’yu Ash-shohihah atau impian nyata contohnya impian nabi Ibrohim as.
2.       Dengan cara menyampaikan dari balik ta’bir, yakni bisikan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad dari celah-celah gemerincingnya suara lonceng. Termasuk cara ini adalah pembicaraan Allah kepada Nabi Musa di Bukit Tursina dan pembicaraan Allah dengan Nabi Muhammad di waktu peristiwa Isra’ dan Mi’roj
3.       Dengan cara melalui malaikat Jibril, baik dengan cara Nabi masuk ke alam malaikat dan ini terasa sangat berat bagi Nabi atau Malaikat Jibril menjelma menjadi Manusia.

D. KANDUNAGAN AL-QUR’AN
A. Fungsi al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang di turunkan oleh allah keoada nabi Muhammad SAW, sebagai petunjuk bagi umat manusia.
B. Pokok-pokok kandungan al-Qur’an
Paling tidak ada lima pokok kandungan al-Qur’an:
v  Tauhid : ini adalah ajaran terpenting yang di bawa oleh nabi kita mrnghadapi kaumnya yang memiliki banyak sesembahan sebagai sekutu Allah. Maka tauhid mengajak manusia untuk selalu bersikap, bertindak dan beribadah hanya kepada Allah.
v  Ibadah : yakni semua perbuatan yang di senangi dan di ridoi oleh Allah serta di lakukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Nya. Ibadah-ibadah ini yang akan menjasikan tauhid akan semakin hidup di dalam hati dan semakin mantap di dalam jiwa.
v  Janji dan ancaman : janji adalah balasan pahala yang akan di berikan kepada orang-orang yang mau menjalankan ajaran-ajaran Allah, sedangkan ancaman adalah balasan siksa bagi orang-orang yang menentang Allah.
v  Penjelasan-penjelasan untuk meraih kebahagian di dunia dan akherat.
v  Kisah-kisah : meliputi kisahnya orang-orang yang menjalankan ajaran-ajaran Allah, seperti para nabi, rosul, dan orang-orang soleh atau kisah orang-orang yang mengingkari Allah. 





Berlangganan via Email