Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP). MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI NORMA-NORMA YANG BERLAKU DI MASYARAKAT PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN BERMAIN PERAN

Hasil gambar untuk logo ut


LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL


(Mata Pelajaran Non Eksakta)
Dengan Judul:


MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI NORMA-NORMA YANG BERLAKU DI MASYARAKAT PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN BERMAIN PERAN DI KELAS III SDN KARANGBANYU I KECAMATAN WIDODAREN KABUPATEN NGAWI TAHUN AJARAN 2011 / 2012











OLEH:
DZUN NURAINI
NIM. 819534273





UNIVERSITAS TERBUKA
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SURABAYA
POKJAR S-1 PGSD KABUPATEN / KOTA NGAWI

TAHUN 2011







LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL


MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI NORMA-NORMA YANG BERLAKU DI MASYARAKAT PADA MATA PELAJARAN PKn MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN BERMAIN PERAN DI KELAS III SDN KARANGBANYU 1 KECAMATAN WIDODAREN KABUPATEN NGAWI TAHUN AJARAN 2011/2012
Nama Mahasiswa                    : Dzun Nuraini
NIM                                        : 819534273
Program Studi                         : S-1 PGSD
Tempat Mengajar                    : SDN Karangbanyu 1
Tempat dan Tgl Pelaksanaan  : Mapel (Non Eksakta)
SDN Karangbanyu 1, Siklus I: 15 Agustus 2011
Siklus I: 22 Agustus 2011
Masalah yang menjadi fokus penelitian:
1.   Prestasi dan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih rendah dan perlu adanya perbaikan.
2. Kemampuan pemahaman norma-norma yang berlaku di masyarakat siswa kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren kabupaten Ngawi rendah dan perlu adanya perbaikan dengan penggunaan suatu metode.
3. Penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran dalam usaha peningkatan kemampuan pemahaman norma-norma yang berlaku di masyarakat siswa kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren kabupaten Ngawi.


         Ngawi, 09 Oktober 2011
Mengetahui
Supervisor,                                                                                         Mahasiswa,


Dra. Endah Rahmawati, M.Pd                                                       Dzun Nuraini
NIP. 19640930 199003 2 003                                                            NIM. 819534273




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) berfungsi mengembangkan kecerdasan warga negara (civic intelligence), membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility) dan mendorong partisipasi warga negara (civic participation). Kecerdasan warga negara yang dikembangkan untuk membentuk warga negara yang baik bukan hanya dimensi rasional melainkan juga dalam dimensi spiritual, emosional dan sosial (Supriya, Udin S Winata Putra, 2009).
Kemampuan memahami dan menerapkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat merupakan salah satu hal yang mutlak ditanamkan kepada anak-anak usia SD mengingat kelak mereka akan kembali berbaur dengan masyarakat karena manusia merupakan makhluk sosial. Untuk melaksanakan hal tersebut diperlukan pemahaman (understanding) dan keahlian (skill). Pemahaman merupakan suatu proses dimana siswa mengeksplorasi segenap kemampuan fisik dan psikisnya untuk dapat mengerti apa yang telah, sedang dan akan dialaminya. Sedangkan keahlian (skill) merupakan tahap lanjutan dari pemahaman yang memungkinkan siswa dapat memposisikan dirinya kepada suatu suasana hati, perasaan dan perlakuan yang sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat sekitarnya. Pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh pada tingkat permulaan pembelajaran pemahaman ini akan menjadi dasar peningkatan dan kemampuan siswa selanjutnya, sehingga kertampilan ini bukanlah suatu yang dapat diajarkan melalui teori atau penjelasan saja. Siswa tidak akan biasa memaksimalkan pemahamannya jika siswa hanya datang, duduk dan mendengarkan serta mencatat penjelasan guru saja, akan tetapi siswa akan mengerti melalui hal-hal yang nyata dijumpainya baik di sekolah maupun di rumah.




Salah satu materi yang harus dipahami siswa adalah memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma merupakan seperangkat aturan atau pedoman tenntang bagaimana seharusya manusia berperilaku dalam kehidupan, dan harus dipatuhi. Siapa saja yang melanggar norma akan mendapatkan hukuman / sanksi dari masyarakat. (Joko Mumpuni, 2011: 8 )
Meskipun materi pemahaman terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat ini merupakan materi sederhana dan riil dalam kehidupan sehari-hari siswa, namun secara teoritis dan praktis siswa masih banyak yang kurang biasa memahami dikarenakan metode mengajar guru masih konvensional.
Kondisi Riil ini juga dialami dalam mata pelajaran PKn siswa kelas III SDN Karangbanyu 1, kecamatan Widodaren, kabupaten Ngawi. Dari hasil pengamatan yang dilakukan penulis, dibantu teman sejawat berdasarkan hasil evaluasi proses dan akhir menunjukkan bahwa kemampuan siswa memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan bukti atau data bahwa kemampuan pemahaman siswa masih rendah berdasarkan hasil-hasil ulangan harian mereka.
Tabel 1.1 Data Ulangan Harian Siswa
No
Kemampuan Memahami Norma
Jumlah Siswa
Kriteria
1
Pegertian norma
5 (16%)
Baik
2
Macam – macam norma di masyarakat
10 (32%)
Baik
3
Manfaat / kegunaan norma
5 (16%)
Baik
4
Contoh aturan-aturan yang berlaku di masyarakat
3 (10%)
Baik
5
Pelaksanaan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat
8 (2%)
Baik

Total Siswa
31

Dari tabel 1.1. diatas dapat dilihat bahwa prosentase siswa yang dapat dikatakan sudah dapat memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat masih rendah (<50%). Kemampuan pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat ditinjau dari pemahaman pengertian norma hanya 16% (5 siswa) yang tuntas, dari segi macam-macam norma yang berlaku di masyarakat hanya 32% (10 siswa) yang tuntas, dari segi manfaat atau kegunaan norma hanya 16% (5 siswa) yang tuntas, dari segu contoh aturan-aturan tang berlaku di masyarakat hanya 10% (3 siswa) yang tuntas dan pemahaman dari segi pelaksanaan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat hanya 26% (8 siswa).
Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap rendahnya kemampuan pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat antara lain siswa merasa jenuh terhadap metode pengajaran guru yang monoton dan nihil akan inovasi serta kondisi lingkungan sekolah yang kurang mendukung.
Berdasarkan dari hasil refleksi awal penulis, diskusi dengan teman sejawat, dan bimbingan supervisor, salah satu alternative yang bisa dilakukan peneliti untuk membantu siswa dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat ialah melalui penggunaan metode pembelajaran sebagai cara yang nyata untuk memperjelas informasi yang disampaikan guru, metode-metode tersebut ialah metode demonstrasi dan metode bermain peran dengan didukung adanya media gambar.
Penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran ini disasarkan pada alasan dan pertimbangan bahwa akan memberikan dorongan dan motivasi bagi siswa dalam menuangkan imajinasi dan pikirannya dalam pemahaman terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat. metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Peragaan suatu proses dapat dilakukan oleh guru sendiri atau dibantu beberapa siswa dapat pula dilakukan oleh sekelompok siswa. Metode ini dapat membantu pelajaran lebih jelas dan konkrit sehingga diharapkan siswa menjadi lebih memahami. Sedangkan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman suatu konsep.



B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang ditemukan dikelas V SDN Pandean 5, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
  1. Siswa belum terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Kurangnya fokus perhatian siswa pada proses pembelajaran
  3. Dalam pembelajaran IPS kelas V kurang bervariasi dalam menggunakan metode dan model pembelajaran.
  4. Hasil belajar IPS rendah yang dibuktikan perolehan rata-rata nilai hasil belajar sebesar 55
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, masalah perbaikan pembelajaran ini dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaiamana penggunaan metode simulasi dengan model bermain peran mampu meningkatkan kemampuan pemahaman arti penting keutuhan NKRI Siswa kelas V SDN Pandean 5, kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi?
2.      Bagaiamana tingkat ketuntasan kemampuan pemahaman arti penting keutuhan NKRI melalui penggunaan metode simulasi dengan model bermain peran Siswa kelas V SDN Pandean 5, kecamatan Karanganyar kabupaten Ngaw?
C.    Tujuan Perbaikan
Tujuan Perbaikan pembelajaran ini adalah:
1.      Mendiskripsikan penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran dalam meningkatkan pemahaman norma-norma yang berlaku di masyarakat siswa kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren kabupaten Ngawi.
2.      Mendiskripsikan tingkat ketuntasan kemampuan pemahaman norma-norma yang berlaku di masyarakat melalui penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran siswa kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren kabupaten Ngawi?
D.    Manfaat Perbaikan
Manfaat dari Perbaikan ini adalah:
  1. Bagi guru sebagai peneliti adalah untuk memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya, mengembangkan diri secara professional, lebih percaya diri dan berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sendiri.
  2. Bagi siswa adalah meningkatkan kemampuan pemahaman terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat melalui metode demonstrasi dan bermain peran.
  3. Bagi sekolah adalah dapat digunakan sebagai bahan refrensi dalammeningkatkan pengelolaan pembelajaran di sekolah.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Tentang Memahami Norma
1.      Pengertian Memahami
Sebagai salah satu tujuan pembelajaran, memahami merupakan proses dan hasil dimana seseorang berkembang dari yang semulanya belum tahu menjadi tahu. Menurut Mariyadi, S.Pd, “Seseorang yang telah mendapatkan hasil dalam proses tersebut dan mampu berkembang dari yang semulanya belum tahu menjadi tahu dapat dikatakan paham”.
Dari definisi tentang pengertian memahami diatas dapat disimpulkan bahwa memahami merupakan suatu proses yang sangat esensial dalam pembelajaran siswa dan sebagai titik tolak dan titik lanjutan untuk mempelajari materi dan atau ilmu selanjutnya.
2.      Pengertian Norma
Norma adalah seperangkat aturan atau pedoman tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam kehidupan, dan harus dipatuhi. (Joko Mumpuni, dkk: 2010:8).
Pendapat lain mengemukakan bahwa, “Norma merupakan seperangkat aturan yang mengikat tiap-tiap warganegara yang menduduki suatu kawasan tertentu”. Aturan adalah ketentuan yang mengikat warga/ setiap orang dalam masyarakat. Aturan digunakan sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku manusia di masyarakat. Aturan di masing-masing daerah tidaklah sama.
3.      Macam-macam Norma
Menurut Joko Mumpuni, dkk dalam (Buku Ajar siswa Sekolah Dasar kelas III, 1998: 8), norma-norma yang berlaku dimasyarakat terdiri dari:
a)      Norma Agama
Norma Agama adalah norma yang berasal dari tuhan Yang Maha Esa, berisi perintah yang harus dipatuhi, larangan ataupun anjuran-anjuran bagi umat manusia. Orang yang melanggar norma agama akan



mendapatkan hukuman kelak di akhirat berupa dosa, dan bagi yang melaksanakan norma agama akan mendapatkan pahala. Contohnya, menghormati orang tua, beribadah, dilarang berbuat riba dan sebagainya.
b)      Norma Kesopanan
Norma Kesopanan adalah norma atau aturan atau tuntunan seseorang harus bertingkah laku yang baik di dalam masyarakat. Norma kesopanan bersumber dari kebiasaan atau tata pergaulan di dalam masyarakat. Norma ini dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antar sesama. Orang yang melakukan pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan sanksi dari masyarakat berupa sanksi cemoohan, celaan atau dikucilkan dari pergaulan. Contoh, menghormati orang yang lebih tua, tidak meludah disembarang tempat, menerima sesuatu dengan tangan kanan.
c)      Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan disebut juga moral. Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani manusia yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Tujuan norma kesusilaan agar manusia berbuat baik. Orang yang melaksanakan norma ini dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang baik, sedangkan yang tidak melaksanakannya, dianggap sebagai orang yang tidak baik, atau tidak bermoral. Contohnya, menyayangi sesama manusia, berlaku jujur dan bertindak adil. Pelanggaran terhadap norma ini pelakunya akan memiliki perasaan bersalah, malu, menyesal karena ia dihukum oleh hati nuraninya. Sebaliknya, orang yang berbuat baik, ia akan merasa puas.
d)     Norma Hukum
Norma hukum adalah norma yang dibuat oleh lembaga yang berwenang. Misalnya, MPR, DPR dan Presiden. Norma hukum berisi perintah dan larangan, berlaku bagi seluruh warga nwgara yang bersangkutan. Norma hukum dimuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat tertulis. Bagi yang melaksanakan norma hukum dianggap sebagai warga negara yang taat. Sebaliknya bagi yang melanggar norma hukum akan mendapat hukuman, misalnya penjara, kurungan, atau denda. Contohnya, mentaati rambu-rambu lalu lintas, dilarang mencuri, merampok dan lain-lain. Norma hukum adalah aturan yang dibuat oleh negara, sehingga bersifat mengikat dan memiliki kekuatan hukum bagi seluruh warga negaranya (memaksa). Hal ini berarti semua warga negara harus mentaatinya.



4.      Manfaat Norma
Manfaat Norma di masyarakat antara lain
a)      Menciptakan keharmonisan dan ketenangan.
b)      Mengurangi perselisihan
c)      Menciptakan ketentraman dan kedamaian.
B.     Kajian Tentang Metode
1.      Pengertian Metode
Menurut Wojowasito dan Purwadarminta dalam (Kamus Lengkap Inggris-Indonesia: 1997: 113), Metode berasal dari bahasa inggris yaitu “method” yang berarti cara dan teknik melaksanakan sesuatu. Dalam dunia pendidikan, metode adalah cara dan teknik dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dari pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa metode adalah cara dan teknik dalam pelaksanaan pembelajaran. Metode turut berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan dengan cara merangsang minat siswa untuk mempelajari materi pelajaran karena menggunakan metode yang bervariasi dan sesuai dengan minat siswa serta materi pelajaran.
2.      Jenis-jenis metode pembelajaran
a)Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak di pilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa.
b)      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode yang memancing siswa untuk bertanya kepada guru tentang pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dalam tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sudah di rencanakan sebelumnya. Perencanaan pertanyaan dapat berdasarkan pada konsep yang ingin diperoleh atau dipahami siswa.
c)Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Metode diskusi ini sering dipertukarkan dalam penggunaannya dengan metode tanya jawab. Dalam diskusi dapat saja muncul pertanyaan, tetapi pertanyaan tersebut tidak di rencanakan terlebih dahulu. Dalam diskusi terjadi tukar menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat.
d)     Metode Kooperatif
Pada metode belajar kooperatif ini siswa berada dalam kelompok kecil dengan anggota sebanyak 4-5 orang. Dalam belajar secara kooperatif ini terjadi interaksi antar anggota kelompok. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktifitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. Metode ini sering digunakan dalam kegiatan praktikum dan diskusi


e)Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Peragaan suatu proses dapat dilakukan oleh guru sendiri atau dibantu beberapa siswa, dapat pula dilakukan oleh sekelompok siswa. Metode ini dapat membantu pelajaran menjadi jelas dan lebih konkrit, sehingga diharapkan siswa lebih mudah memahami.
f) Metode karyawisata atau widyawisata
Metode karyawisata atau widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Widyawisata ini suatu kunjungan yang di rencanakan kepada suatu objek tertentu untuk di pelajari atau untuk memperoleh informasi yang diperlukan.
Karyawisata dapat dilakukan di sekitar sekolah atau di tempat lain. Kegiatan belajar di luar kelas ini mungkin dipimpin oleh guru sendiri atau oleh pembimbing lain seperti petugas lapangan di kebun raya, museum dan sebagainya.
g)      Metode Penugasan
Pembelajaran dengan menggunakan Metode Penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa masalah yang harus di pecahkan dan prosedurnya tidak di beritahukan. Metode penugasan ini dapat mengembanngkan kemandirian siswa, merangsang ,untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggungjawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi. Kekurangan metode ini terletak pada sulitnya mengawasi mengnenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
h)      Metode Eksperimen
Metode Eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen berarti siswa melakukan kegiatan yang mencakup pengendalian variabel, pengamatan, melibatkan pembanding atau kontrol, dan penggunaan alat-alat praktikum. Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan eksperimen ini siswa diberikan kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri.
i)  Metode Bermain Peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep.


3)      Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan suatu proses kejadian. Peragaan suatu proses dapat dilakukan oleh guru sendiri atau dibantu beberapa siswa, dapat pula dilakukan oleh sekelompok siswa. Metode ini dapat membantu pelajaran menjadi jelas dan lebih konkrit, sehingga diharapkan siswa lebih mudah memahami.
4)      Metode Bermain Peran
Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep.
Dalam metode demonstrasi dan bermain peran penulis menentukan syntax (langkah-langkah) pembelajaran sebagai berikut:
No
Fase
Peran Guru
1.
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
Menjelaskan TPK, informasi latar belakang dan pentingnya pelajaran serta mempersiapkan siswa untuk belajar
2.
Mendemonstrasikan pengetahuan atau ketrampilan.
Mendemonstrasikan ketrampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
3.
Membimbing pelatihan.
Merencanakan dan memberikan bimbingan latihan tahap awal
4.
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
Mengecek keberhasilan siswa dan memberikan umpan balik.
5.
Memberikan kesempatan latihan lanjutan dan penerapan.
Mempersiapkan latihan lanjutan dengan perhatian khusus dan penerapan pada situasi yang lebih kompleks (hidup sehari-hari).

C.    Kerangka Berfikir
Proses pembelajaran akan dapat mencapai hasil lebih baik jika siswa terdorong untuk melakukannya. Adapun beberapa upaya agar siswa terdorong untuk belajar diantaranya adalah penyajian materi yang menarik perhatian sehingga menumbuhkan minat bahkan dorongan untuk belajar. Menurut Briish Audio Visual (1985:52) dalam Arief Sukardi Sadiman (1986:52) pengetahuan paling besar, diperoleh dari indera penglihatan 75%.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat dioptimalisasi bahwa penggunaan metode yang menarik perhatian siswa diharapkan dapat memperkuat ingatan siswa. Hal ini akan terlihat jika seseorang terus menerus melihat dan memegang  suatu benda, maka orang tersebut akan hafal dan ingat dengan sendirinya walaupun suatu saat ia tidak melihat.
Penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran mendorong siswa dapat memahami dan menafsirkan apa yang mereka pelajari. Ilmu yang sudah mereka kuasai akan melekat dalam ingatan mereka dalam jangka waktu yang lama untuk meningkatkan prestasi.
Berdasarkan teori yang telah diuraikan diperoleh kerangka pemikiran dalam penelitian sebagai berikut:
1.      Dengan metode demonstrasi dan bermain peran dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu I tahun pelajaran 2011/2012.
2.      Dapat menemukan solusi atau cara untuk meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu I tahun pelajaran 2011/2012.
D.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir, maka dapat dirumuskan tindakan kelas sebagai berikut:
  1. Dengan penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran maka prestasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu I tahun pelajaran 2011/2012 akan meningkat.
  2. Dengan penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran dapat menemukan cara (solusi ) untuk meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu I tahun pelajaran 2011/2012.



BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.    Lokasi dan Subyek Perbaikan
Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diadakan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren kabupaten Ngawi tahun ajaran 2011/ 2012. Jumlah subyek yang diteliti sebanyak 31 siswa yang terdiri dari 18 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki.
Tabel 3.1 Daftar Siswa kelas III SDN Karangbanyu I
( Tahun Ajaran 2011/ 2012)
No
Nama
Jenis Kelamin
1
Yulia Arviana
Perempuan
2
Suparmi
Perempuan
3
Mohammad Abdul Hakim
Laki-laki
4
Indana Saisary laili
Perempuan
5
Yuda Adik Pradita
Laki-laki
6
Adi Angkoso Putro
Laki-laki
7
Ade Nova Aer langga
Laki-laki
8
Azeriky Irawan
Laki-laki
9
Aldiansyah
Laki-laki
10
Anggi Meilani
Perempuan
11
Agustina Sofiatus Sholihah
Perempuan
12
Alfian Zaki Prayoga
Laki-laki
13
Anggik Setiyowati
Perempuan
14
Dewi Astutik
Perempuan
15
Eko Utomo
Laki-laki
16
Fajar Kurniawan M
Laki-laki
17
Galuh Rizkia Meilani
Perempuan
18
Kholif Auliahadi
Perempuan




19
Kenza Forestina
Perempuan
20
Linda Kurniawati
Perempuan
21
Latifatul Khoirunnisa
Perempuan
22
Mustika Aprilia
Perempuan
23
Gunawan Haum M
Laki-laki
24
Mohammad Waliyudin
Laki-laki
25
Risma Nur Karimah
Perempuan
26
Radiyan Dwi Cahyono
Laki-laki
27
Selviana
Perempuan
28
Tyas Novitasari
Perempuan
29
Zahra Auliana Firdani
Perempuan
30
Yeni Agustina
Perempuan
31
Shinta Ayu Puspita
Perempuan

Perbaikan Pembelajaran ini dilaksanakan pada:
Ø  Siklus I dilaksanakan  pada tanggal 15 agustus 2011
Ø  Siklus II dilaksanakan  pada tanggal 22 agustus 2011
B.     Deskripsi Per Siklus
Gambaran secara umum pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini dilakukan menggunakan langkah-langkah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang mencakup 4 tahapan: Rencana (Planning), Tindakan (Action), Pengamatan (Observation) dan Refleksi (Reflection). Secara skema ditunjukkan oleh gambar berikut:









Rancangan
Tindakan I
 
 


Pelaksanaan
Tindakan III

 

Rancangan
Tindakan II

 

Rancangan
Tindakan II

 

Pelaksanaan
Tindakan I
 

Refleksi II

 

Gambar 3.1 Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Empat tahap dalam satu putaran pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren, kabupaten Ngawi, adalah:
1.      Rencana (Plan)
Sebelum melaksanakan penelitian, pada tahap ini peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan penelitian serta membuat rencana tindakan yang akan dilaksanakan pada proses belajar mengajar. Selain itu pada tahap ini juga dipersiapkan instrument penelitian dan perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar.
2.      Kegiatan dan Pengamatan
Pada tahap ini tindakan yang harus dilakukan oleh peneliti sebagai upaya untuk melaksanakan perbaikan. Kegiatan belajar mengajar serta mengamati hasil dan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh teman sejawat.
3.      Refleksi (Reflection)
Pada tahap ini peneliti bersama guru dan pengamat melihat dan mempertimbangkan hasil dan dampak dari tindakan yang telah dilakukan.
4.      Revisi (Plan Revised)
Berdasarkan hasil refleksi, peneliti bersama guru membuat revisi rancangan yang berupa tindakan-tindakan perbaikan yang akan dilakukan pada putaran selanjutnya.
C.    Prosedur Pelaksanaan Per Siklus
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus ini dapat di deskripsikan sebagai berikut:

v  Pelaksanaan perbaikan siklus 1
1.      Perencanaan
Adapun kegiatan perencanaan yang dilakukan pada siklus 1 ini bersama teman sejawat dan supervisor, penulis menganalisis hasil belajar yang dicapai siswa kemudian mulai mengidentifikasi masalah, menganalisa dan mencari alternatif pemecahan masalahnya. Berdasarkan hasil tersebut diatas penulis menyusun perencanaan sebagai berikut:
a)      Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP Siklus 1) yang difokuskan pada perencanaan langkah-langkah perbaikan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat.
b)      Menyiapkan metode dan mengkondisikan kelas.
c)      Membuat instrument penelitian berupa:
1)      Lembar observasi yang akan digunakan penulis dan teman sejawat untuk mengamati:
·   Ketepatan dan kesesuaian metode demonstrasi dan bermain peran yang digunakan sesuai dengan manfaat dan tujuan penggunaannya,
·   Aktifitas guru dalam penggunaan  metode demonstrasi dan bermain peran,
·   Aktifitas siswa dalam mempelajari dan memahami norma.
2)      Lembar Kegiatan Siswa
3)      Lembar respon/tanggapan siswa terhadap penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran.
4)      Lembar evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa memahami norma
d)     Menentukan kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran.
 Dalam penelitian ini perbaikan pembelajaran dapat dikatakan berhasil:
1)      Dari aspek proses: perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila: (a) Ketepatan dan kesesuaian metode demonstrasi dan bermain peran yang digunakan sesuai dengan manfaat dan tujuan penggunaannya mencapai 75% dari seluruh indicator yang ditetapkan, dan (b) 80% 24 siswa menyatakan bahwa metode demonstrasi dan bermain peran membantu mereka mampu memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat dengan baik;
2)      Dari aspek hasil: Perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila LKS san evaluasi akhir menunjukkan siswa secara individual mencapai skor minimal 65 dengan tingkat ketuntasan klasikal 75%.
Kriteria yang digunakan untuk menilai kemampuan siswa memahami norma adalah:
1.  Kesesuaian pengertian norma                                               Skor 20
§ Pengertian terlalu luas
§ Pengertian terlalu sempit
2.  Menyebutkan macam-macam norma                                    Skor 20
3.  Menyebutkan manfaat/kegunaan norma                               Skor 20
4.  Menyebutkan contoh norma yang berlaku                            Skor 20
di masyarakat sekitar Siswa                           
5.      Menunjukkan sikap yang seharusnya dilakukan                  Skor 20
terhadap norma yang berlaku di masyarakat sekitar Siswa
Berdasarkan kriteria penilaian guru menentukan kwalitas pemahaman norma yang diadaptasi dari kurikulum SD 2004 sebagai berikut:
1.      Sangat Baik                                         (81-90)
2.      Baik                                                     (71-80)
3.      Cukup                                                 (61-70)
4.      Kurang                                                            (51-60)
5.      Sangat Kurang                                                (0-49)
2.      Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan siklus I, penulis dibantu teman sejawat melaksanakan rencana pembelajaran sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan bersama sebelumnya dengan langkah-langkah perbaikan pembelajaran, yaitu:
a)      Kegiatan Awal
Ø  Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, do’a, memeriksa kehadiran siswa, mengkondisikan siswa untuk siap belajar serta mempersiapkan metode, media dan sumber belajar.
Ø  Guru menyampaikan indicator yang akan dicapai.
b)      Kegiatan Inti.
Ø  Menjelaskan pengertian norma.
Ø  Menjelaskan macam-macam norma yang berlaku di masyarakat.
Ø  Guru memberi contoh norma-norma yang berlaku di masyarakat, manfaat/kegunaan norma dan sikap yang harus dilakukan terhadap aturan yang berlaku di masyarakat.
Ø  Siswa di bagi dalam 6 kelompok .
Ø  Guru memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok untuk memperhatikan penjelasan guru dengan seksama
Ø  Guru mendemonstrasikan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Ø  Guru meminta siswa untuk menirukan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat yang telah di demonstrasikan oleh guru.
Ø  Tiap-tiap kelompok diminta maju ke depan kelas secara bergiliran untuk bermain peran.
o   Satu siswa sebagai orang tua
o   Satu siswa sebagai remaja
o   Dua siswa sebagai anak kecil
Mereka bermain peran sesuai dengan perannya masing-masing. Ini adalah metode bermain peran untuk memahami norma kesopanan dam norma kesusilaan, dst.
Ø  Penilaian guru terhadap peran yang diperankan
c)      Kegiatan Akhir.
Ø  Siswa mengerjakan soal evaluasi
Ø  Guru menutup pelajaran dengan salam
3.      Pengumpulan Data
Data penielitian yang dikumpulkan adalah :
a)      Data proses
Data proses dikumpulkan menggunakan lembar observasi, meliputi : aktivitas guru dan siswa memahami norma yang berlaku di masyarakat menggunakan metode demonstrasi dan bermain peran
b)      Data hasil
Data hasil dikumpulkan dengan LKS dan lembar evaluasi akhir.
Berupa hasil pengamatan selama pembelajaran dan demostrasi dan bermain peran berlangsung (evaluasi dalam proses) dan setelah perbaikan pembelajaran (evaluasi akhir)
4.      Refleksi
Pada tahap ini penulis bersama dengan teman sejawat melakukan analisis terhadap proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa, masalah, kesulitan atau dampak perbaikan pembelajaran terhadap guru dan siswa. Refleksi didasarkan pada catatan penulis dan teman sejawat agar data hasil yang berupa pengamatran dan evaluasi dalam proses dan setelah perbaikan pembelajaran (evaluasi hasil belajar). Adapun hasil refleksi ditunjukkan oleh table berikut:
Tabel 3.2. Hasil refleksi siklus I
No
Nama
Jenis Kelamin
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
Perempuan
30
TT
2
Suparmi
Perempuan
30
TT
3
Mohammad Abdul L
Laki-laki
40
TT
4
Indana Saysary laili
Perempuan
30
TT
5
Yuda Adiik Pradita
Laki-laki
40
TT
6
Adi Angkoso Putro
Laki-laki
70
T
7
Ade Nova Airlangga
Laki-laki
90
T
8
Azarudi Irawan
Laki-laki
50
TT
9
Aldiansah
Laki-laki
80
T
10
Anggi Mailani
Perempuan
50
TT
11
Agustina Sifiatus S
Perempuan
50
TT
12
Alfian Zaki Prayoga
Laki-laki
50
TT
13
Anggik Setiyowati
Perempuan
80
T
14
Dewi Astutik
Perempuan
50
TT
15
Eko Utomo
Laki-laki
60
TT
16
Fajar Kurniawan M
Laki-laki
70
T
17
Galuh Riskia Melani
Perempuan
50
TT
18
Kholif Auliahadi
Perempuan
70
T
19
Kensa Forestina
Perempuan
90
T
20
Linda Kurniawati
Perempuan
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
Perempuan
80
T
22
Yustika Aprilia
Perempuan
80
T
23
Gunawan Halim M
Laki-laki
30
TT
24
Mohammad Waliyudin
Laki-laki
60
TT
25
Risma Nur Karimah
Perempuan
60
TT
26
Radiyan Dwi Cahyono
Laki-laki
40
TT
27
Silviana
Perempuan
40
TT
28
Tyas Novitasari
Perempuan
80
T
29
Zahra Auliana Firdani
Perempuan
80
T
30
Yeni Agustina
Perempuan
40
TT
31
Shinta Ayu Puspita
Perempuan
50
TT
Hasil evaluasi pada table diatas menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus I belum dapat mencapai target yang diinginkan, karena dari 30 siswa hanya 12 siswa atau 40% yang memperoleh nilai>60.
Refleksi difokuskan pada tingkat ketercapaian kriteria-kriteria keberhasilan perbaikan sebagaimana ditetapkan diatas. Hasil dari refleksi ini selanjutnya penulis dan teman sejawat gunakan sebagai acuan bagi perencanaan dan pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

v  Pelaksanaan perbaikan siklus II
1.      Perencanaan
Dalam tahap perencanaan pada sikluus II ini, kegiatan yang akan dilakukan didasarkan dari hasil refleksi dan analisis penulis dengan teman sejawat dan supervisor terhadap data proses dan hasl belajar siswa pada siklus I.
Dari hasil refleksi terhadap proses dan hasil belajar siswa pada siklus I, maka perencanaan ulang perbaikan pembelajaran siklus II ditambahkan dengan penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran untuk menguatkan pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat. Upaya ini diharapkan agar dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas serta memudahkan siswa memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat berdasarkan penafsiran dan pengalamannya mereka sendiri.
Secara keseluruhan perencanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II adalah sebagai berikut:
a)      Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) siklus II yang sudah disempurnakan berdasarkan RPP siklus I. pada siklus II ini akan diitnensifkan penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran menguatkan pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat, sehingga diharapkan akan meningkatkan dan menguatkan pemahaman siswa.
b)      Menyiapkan metode dan mengkondisikan kelas untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan metode demonstrasi dan bermain peran.
c)      Menyiapkan instrument pengumpul data yang sudah digunakan pada siklus I, juga digunakan pada siklus II ini berupa:
1)      Lembar observasi yang digunakan penulis dan teman sejawat untuk mengamati:
·   Ketepatan dan kesesuaian metode demonstrasi dan bermain peran yang digunakan sesuai dengan manfaat dan tujuan penggunaannya,
·   Aktifitas guru dalam penggunaan  metode demonstrasi dan bermain peran,
·   Aktifitas siswa dalam mempelajari dan memahami norma.
2)      Lembar Kegiatan Siswa
3)      Lembar respon/tanggapan siswa terhadap penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran.
4)      Lembar evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa memahami norma.
2.      Pelaksanaan
Aktifitas penulis pada tahap ini dengan dibantu teman sejawat adalah melaksanakan perbaikan berdasarkan rencana pembelajaran  siklus II dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Menjelaskan kembali pengertian norma.
b)      Menjelaskan kembali macam-macam norma yang berlaku di masyarakat.
c)      Guru memberi contoh norma-norma yang berlaku di masyarakat, manfaat/kegunaan norma dan sikap yang harus dilakukan terhadap aturan yang berlaku di masyarakat.
d)     Siswa di bagi dalam 6 kelompok .
e)      Guru memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok untuk memperhatikan penjelasan guru dengan seksama.
f)       Guru mendemonstrasikan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
g)      Guru meminta siswa untuk menirukan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat yang telah di demonstrasikan oleh guru.
h)      Tiap-tiap kelompok diminta maju ke depan kelas secara bergiliran untuk bermain peran.
·   Satu siswa sebagai orang tua
·   Satu siswa sebagai remaja
·   Dua siswa sebagai anak kecil
Mereka bermain peran sesuai dengan perannya masing-masing. Ini adalah metode bermain peran untuk memahami norma kesopanan dam norma kesusilaan, dst.
i)        Penilaian guru terhadap peran yang diperankan
3.      Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan sama dengan siklus I yaitu:
a)      Data proses
Data proses dikumpulkan menggunakan lembar observasi, meliputi : aktivitas guru dan siswa memahami norma yang berlaku di masyarakat menggunakan metode demonstrasi dan bermain peran
b)      Data hasil
Data  hasil dikumpulkan dengan LKS dan lembar evaluasi akhir .
Berupa hasil pengamatan selama pembelajaran dan demostrasi dan bermain peran berlangsung (evaluasi dalam proses) dan setelah perbaikan pembelajaran (evaluasi akhir).
4.      Refleksi
Pada tahap refleksi siklus II ini penulis bersama dengan teman sejawat kembali melakukan analisis terhadap proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa, masalah, kesulitan atau dampak perbaikan pembelajaran terhadap guru dan siswa. Refleksi didasarkan pada catatan penulis dan teman sejawat agar data hasil yang berupa pengamatran dan evaluasi dalam proses dan setelah perbaikan pembelajaran (evaluasi hasil belajar). Adapun hasil refleksi ditunjukkan oleh tabel berikut:
Tabel 3.3. Hasil refleksi siklus II
No
Nama
Jenis Kelamin
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
Perempuan
60
TT
2
Suparmi
Perempuan
60
TT
3
Mohammad Abdul L
Laki-laki
70
TT
4
Indana Saysary laili
Perempuan
60
TT
5
Yuda Adiik Pradita
Laki-laki
70
TT
6
Adi Angkoso Putro
Laki-laki
80
T
7
Ade Nova Airlangga
Laki-laki
95
T
8
Azarudi Irawan
Laki-laki
70
TT
9
Aldiansah
Laki-laki
90
T
10
Anggi Mailani
Perempuan
80
TT
11
Agustina Sifiatus S
Perempuan
80
TT
12
Alfian Zaki Prayoga
Laki-laki
80
TT
13
Anggik Setiyowati
Perempuan
80
T
14
Dewi Astutik
Perempuan
70
TT
15
Eko Utomo
Laki-laki
80
TT
16
Fajar Kurniawan M
Laki-laki
80
T
17
Galuh Riskia Melani
Perempuan
70
TT
18
Kholif Auliahadi
Perempuan
80
T
19
Kensa Forestina
Perempuan
90
T
20
Linda Kurniawati
Perempuan
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
Perempuan
80
T
22
Yustika Aprilia
Perempuan
80
T
23
Gunawan Halim M
Laki-laki
60
TT
24
Mohammad Waliyudin
Laki-laki
80
TT
25
Risma Nur Karimah
Perempuan
80
TT
26
Radiyan Dwi Cahyono
Laki-laki
70
TT
27
Silviana
Perempuan
70
TT
28
Tyas Novitasari
Perempuan
80
T
29
Zahra Auliana Firdani
Perempuan
80
T
30
Yeni Agustina
Perempuan
60
TT
31
Shinta Ayu Puspita
Perempuan
70
TT
Pada tabel 3.3. diatas terlihat bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus II dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, karena 80% siswa mencapai ketuntasan belajar, terjadi peningkatan 40% dibandingkan dengan siklus I, sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan yaitu 80% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai  60. Peningkatan juga terlihat pada perolehan nilai terrendah yang meningkat dari 30 menjadi 60 dan rata-rata kelas meningkat dari 60,5 menjadi 83,5.
Hasil dari refleksi ini selanjutnya penulis dan teman sejawat gunakan sebagai acuan bagi perencanaan dan pelaksanaan ujian praktik PKP.




BAB IV
HASIL PERBAIKAN DAN PEMBAHASAN


A.    Deskripsi Hasil Per Siklus
Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas III SDN Karangbanyu 01 ini, difokuskan pada perbaikan pembelajaran untuk pemahaman terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Secara lebih rinci hasil yang diperoleh dalam perbaikan pembelajaran pada siklus I ini adalah sebagai berikut :
·   Hasil Perbaikan Siklus I
1.      Rencana Tindakan
a)      Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang terdiridari rencana pelajaran 1, soal evaluasi dan pengaturan penerapan metode.
b)      Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2011 di kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren, kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 31 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.  Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi soal evaluasi I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:





Tabel 4.1. Hasil Evaluasi siklus I
No
Nama
Jenis Kelamin
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
Perempuan
30
TT
2
Suparmi
Perempuan
30
TT
3
Mohammad Abdul L
Laki-laki
40
TT
4
Indana Saysary laili
Perempuan
30
TT
5
Yuda Adiik Pradita
Laki-laki
40
TT
6
Adi Angkoso Putro
Laki-laki
70
T
7
Ade Nova Airlangga
Laki-laki
90
T
8
Azarudi Irawan
Laki-laki
50
TT
9
Aldiansah
Laki-laki
80
T
10
Anggi Mailani
Perempuan
50
TT
11
Agustina Sifiatus S
Perempuan
50
TT
12
Alfian Zaki Prayoga
Laki-laki
50
TT
13
Anggik Setiyowati
Perempuan
80
T
14
Dewi Astutik
Perempuan
50
TT
15
Eko Utomo
Laki-laki
60
TT
16
Fajar Kurniawan M
Laki-laki
70
T
17
Galuh Riskia Melani
Perempuan
50
TT
18
Kholif Auliahadi
Perempuan
70
T
19
Kensa Forestina
Perempuan
90
T
20
Linda Kurniawati
Perempuan
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
Perempuan
80
T
22
Yustika Aprilia
Perempuan
80
T
23
Gunawan Halim M
Laki-laki
30
TT
24
Mohammad Waliyudin
Laki-laki
60
TT
25
Risma Nur Karimah
Perempuan
60
TT
26
Radiyan Dwi Cahyono
Laki-laki
40
TT
27
Silviana
Perempuan
40
TT
28
Tyas Novitasari
Perempuan
80
T
29
Zahra Auliana Firdani
Perempuan
80
T
30
Yeni Agustina
Perempuan
40
TT
31
Shinta Ayu Puspita
Perempuan
50
TT
Hasil evaluasi pada table diatas menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus I belum dapat mencapai target yang diinginkan, karena dari 30 siswa hanya 12 siswa atau 40% yang memperoleh nilai>60.
Berdasarkan hasil pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat, yang berbentuk LKS guru menganalisis dengan mencari kelemahan umum yang terdapat pada hasil perolehan nilai siswa. Kelemahan-kelemahannya adalah:
1)      Siswa belum dapat memahami pelaksanaan norma yang berlaku di masyarakat.
2)      Siswa kesulitan membedakan macam-macam norma
3)      Siswa kesulitan menyebutkan kegunaan norma di masyarakat.
Contoh;
1.      Aturan diciptakan untuk menjaga ….(rumah)
2.      Norma yang berlaku memaksa dan memiliki sanksi tegas adalah norma…(agama)
3.      norma yang ada di masyarakat harus dilaksanakan oleh….(pembuatnya)
4.      norma yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa adalah norma….(susila)
5.      orang yang dikucilkan dari pergaulan, adalah sebagai akibat dia melanggar norma….(kesopanan)
Berdasarkan kriteria penilaian pemahaman siswa tentang norma diperoleh data:




                                                                        Tabel 4.2.
                                 Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kualifikasi Penilaian
Kualifikasi
Jumlah Siswa
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
-
3
9
16
3
Jumlah Siswa
31
Dari tabel 4.2. dapat diketahui bahwa ada 12 siswa (40%) yang mendapat nilai lebih dari 65 dari 31 siswa kelas III.
Sejalan dengan uraian pada implementasi dan evaluasi, peneliti mempertimbangkan hasil dari Penelitian Tindakan Kelas. Dalam hal ini teman sejawat memberikan masukan kepada peneliti sebaiknya mengatur siswa agar duduk di tempat duduknya masing-masing dan menggunakan metode berdasarkan pengalaman pribadi. Dalam RPP tidak dicantumkan metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Siswa belum memahami dan bingung dalam memahami apa yang di demonstrasikan.
Proses pembelajaran siklus I perlu diperbaiki. Berdasarkan hasil pengamatan, masih muncul aktifitas yaitu:
Ø  Guru tidak menggunakan metode demonstrasi dan bermain peran secara konsisten.
Ø  Siswa kurang berani bertanya kepada guru sehingga siswa mayoritas belum memahami materi yang disajikan oleh guru.
Ø  Guru kurang membimbing anak yang mengalami kesulitan.
Berdasarkan aktifitas pada siklus I guru berusaha memperbaiki teknik dan suasana yang yang lebih mendukung seperti:
Ø  Guru akan menggunakan metode secara konsisten dalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Ø  Guru lebih memotivasi dan mengarahkan siswa.
Ø  Guru akan membantu siswa yang bermasalah.
c)      Pengamatan dan pengumpulan data
Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan data, data yang diperoleh dari hasil pengamatan perbaikan pembelajaran siklus I sebagai berikut:
                                             Tebel 4.3.
                           Hasil Lembar Kerja Siswa (LKS)
Kelompok
Nilai
I
60
II
65
III
60
IV
70
V
60
Rata-rata
56, 5
*Ditargetkan rata-rata > 70
Sementara dari evaluasi hasil belajar pada akhir siklus I, diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata siswa 56,60, dan jumlah siswa yang nilainya > 65 adalah 12 siswa (40%). Dengan demikian siswa belum tuntas belajar.
                                                   Tebel 4.4.
                                       Hasil Evaluasi Belajar
No
Nilai
Jumlah Siswa
Keterangan
1
30
4
Tidak Tuntas
2
40
5
Tidak Tuntas
3
50
7
Tidak Tuntas
4
60
3
Tidak Tuntas
5
70
3
Tuntas
6
80
7
Tuntas
7
90
2
Tuntas
Jumlah
31

Nilai Rata-rata
58, 6

Catatan: Batas ketuntasan adalah 70% siswa dengan nilai >60
Hasil evaluasi pada tabel diatas menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus I belum dapat mencapai target yang diinginkan, karena darin 30 siswa hanya 12 siswa atau 40% yang memperoleh nilai > 60.
d)     Refleksi
Berdasarkan hasil analisis dan refleksi penulis bersama teman sejawat terhadap seluruh data hasil perbaikan siklus I, beberapa aspek yang menjadi penyebab belum maksimalnya hasil perbaikan siklus I adalah:
1)      Guru kurang mampu membimbing demonstrasi dan bermain peran secara kelompok.
2)      Penjelasan guru menggunakan metode yang digunakan belum maksimal
3)      Siswa belum terbiasa belajar menggunakan metode yang digunakan.
4)      Penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran sudah sangat tepat untuk memancing kreatifitas siswa namun belum maksimal.
5)      Respon siswa terhadap penggunaan metode demonstrasi dan bermain peran baik (60%), siswa merasa sangat terbantu (25%) dan ada 15% siswa yang masih menganggap tidak ada pengaruhnya.
Dari data diatas dapat diketahui bahwa siswa masih melakukan penyesuaian dengan metode yang relatif baru ini. Dan untuk selanjutnya kekurangan-kekurangan ini akan diperbaiki dan dimaksimalkan pada siklus II.





                                                Tabel 4.5.
Tanggapan Siswa terhadap cara guru dalam menjelaskan norma
No
Kriteria
Jumlah Siswa
Prosentase
1
Biasa saja
5
15%
2
Baik
18
60%
3
Sangat membantu
8
25%

·   Hasil Perbaikan Siklus II
1.      Rencana Tindakan
a)      Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang terdiridari rencana pelajaran II, soal evaluasi dan pengaturan penerapan metode.
b)      Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2011 di kelas III SDN Karangbanyu I, kecamatan Widodaren, kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah 31 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.  Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi soal evaluasi II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil evaluasi tersebut dijelaskan dalam table berikut:






Tabel 4.6. Hasil evaluasi siklus II
No
Nama
Jenis Kelamin
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
Perempuan
60
TT
2
Suparmi
Perempuan
60
TT
3
Mohammad Abdul L
Laki-laki
70
T
4
Indana Saysary laili
Perempuan
60
TT
5
Yuda Adiik Pradita
Laki-laki
70
T
6
Adi Angkoso Putro
Laki-laki
80
T
7
Ade Nova Airlangga
Laki-laki
95
T
8
Azarudi Irawan
Laki-laki
70
T
9
Aldiansah
Laki-laki
90
T
10
Anggi Mailani
Perempuan
80
T
11
Agustina Sifiatus S
Perempuan
80
T
12
Alfian Zaki Prayoga
Laki-laki
80
T
13
Anggik Setiyowati
Perempuan
80
T
14
Dewi Astutik
Perempuan
70
T
15
Eko Utomo
Laki-laki
80
T
16
Fajar Kurniawan M
Laki-laki
80
T
17
Galuh Riskia Melani
Perempuan
70
T
18
Kholif Auliahadi
Perempuan
80
T
19
Kensa Forestina
Perempuan
90
T
20
Linda Kurniawati
Perempuan
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
Perempuan
80
T
22
Yustika Aprilia
Perempuan
80
T
23
Gunawan Halim M
Laki-laki
60
TT
24
Mohammad W
Laki-laki
80
T
25
Risma Nur Karimah
Perempuan
80
T
26
Radiyan D C
Laki-laki
70
T
27
Silviana
Perempuan
70
T
28
Tyas Novitasari
Perempuan
80
T
29
Zahra Auliana F
Perempuan
80
T
30
Yeni Agustina
Perempuan
60
TT
31
Shinta Ayu Puspita
Perempuan
70
T
Pada tabel 4.6. diatas terlihat bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus II dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, karena 80% siswa mencapai ketuntasan belajar, terjadi peningkatan 40% dibandingkan dengan siklus I, sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan yaitu 80% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai  60. Peningkatan juga terlihat pada perolehan nilai terrendah yang meningkat dari 30 menjadi 60 dan rata-rata kelas meningkat dari 60,5 menjadi 83,5.
Untuk menindaklanjuti temuan-temuan dan kelemahan yang masih ada pada siklus I, maka pada siklus ke II ini perbaikan pembelajaran juga difokuskan pada menjelaskan sekali lagi tentang prosedur metode demonstrasi dan bermain peran serta memancing pemahaman siswa dengan memberikan berbagai contoh agar pemahaman siswa menjadi maksimal. Serta dalam siklus ke II ini guru didalam memberikan contoh dilakukan secara rinci dan bertahap, dan juga diupayakan siswa secara aktif menirukan. Dengan demikian siswa diharapkan semakin terampil mendemonstrasikan dan memainkan perannya masing-masing. Dengan demikian juga guru secara aktif mengarahkan siswa untuk mendiskusikan dan mendemonstrasikan dalam menyelesaikan LKS.
Dengan strategi perbaikan tersebut, maka diharapkan akan terjadi peningkatan pemahaman konsep dan ketuntasan belajar bagi siswa, khususnya untuk Mata Pelajara Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya pada pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Berdasarkan LKS yang dikerjakan siswa diperoleh data sebagai berikut:
            Tabel 4.7.Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Kualifikasi Penilaian
Kualifikasi
Jumlah Siswa
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
5
15
7
4
-
Dari tabel 4.7. diatas dapat diketahui bahwa dari 31 siswa terdapat 22 siswa yang dapat dinyatakan mengalami peningkatan hasil, dimana yang memperoleh nilai lebih dari 65.
Dari hasil perbaikan pada siklus II ini, yang ada adalah guru lebih memberikan penjelasan kepada siswa dengan disertai contoh-contoh memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat dengan menggunakah metode demonstrasi dan bermain peran.
c)      Pengamatan dan pengumpulan data
Pada siklus II dalam memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat, hasil pengerjaan LKS siswa dan pengamatan guru menunjukkan adanya peningkatan antara lain:
1)      Siswa sudah dapat memahami pelaksanaan norma yang berlaku di masyarakat.
2)      Siswa sudah dapat membedakan macam-macam norma
3)      Siswa sudah dapat menyebutkan manfaat/kegunaan norma di masyarakat.
Setelah perbaikan pembelajaran siklus IIdiperoleh bahwa terjadi peningkatan yang cukup memuaskan dari hasil perbaikan pembelajaran pada siklus II ini. Peningkatan ini terjadi karena siswa lebih bersemangat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dan guru semakin mengintensifkan pembimbingan dalam pemahaman terhadap norma yang berlaku di masyarakat. Penjelasan yang demikian ini menyebabkan peningkatan kerjasama, keaktifan dan tanggung jawab sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar lebih giat.
                                                   Tabel 4.8.
                                       Hasil Lembar Kerja Siswa
Kelompok
Nilai
I
70
II
80
III
80
IV
85
V
70
Rata-rata
75
Dalam tabel 4.8. diatas terlihat bahwa hasil yang dicapai dari perbaikan pembelajaran siklus II sangat memuaskan. Jika pada siklus I dari hasil penyelesaian LKS rata-ratanya hanya 56,5 maka pada siklus II ini meningkat menjadi 75. hasil ini dicapai karena meningkatnya penjelasan guru, aktifitas dan kerjasama siswa yang baik dalam berdemonstrasi dan bermain peran.
Sementara dari evaluasi hasil belajar diperoleh data sebagai berikut:
                                                         Tabel 4.9.
Hasil Evaluasi Belajar
No
Nilai
Jumlah Siswa
Keterangan
1
60
5
Tidak Tuntas
2
70
8
Tuntas
3
80
15
Tuntas
4
90
2
Tuntas
5
95
1
Tuntas
Jumlah
31

Nilai Rata-rata
78, 45

Catatan: Batas ketuntasan adalah 75% siswa dengan nilai >60
Pada tabel 4.9. diatas terlihat bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus II dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, karena 80% siswa mencapai ketuntasan belajar, terjadi peningkatan 40% dibandingkan dengan siklus I.
Dari hasil ini terlihat bahwa perbaikan pembelajaran siklus II dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan yaitu 80% dari jumlah siswa memperoleh nilai . 60. Peningkatan juga terlihat pada perolehan nilai terrendah yang meningkat dari 30 menjadi 60 dan rata-rata kelas meningkat dari 60,5 menjadi 83,5.
d)     Refleksi
Dari hasil analisis dan refleksi bersama antara penulis dan teman sejawat terhadap seluruh data hasil perbaikan siklus II, keberhasilan proses dan hasil diskusi kelompok serta hasil tes akhir secara maksimal dan tercapainya ketuntasan belajar sesuai dengan yang diiharapkan ini terjadi karena:
§ Perhatian dan bimbingan guru sudah terfokus dan merata kepada seluruh kelompok, sehingga seluruh kelompok mendapatkan perhatian dan bimbingan dari guru yang memadai;
§ Sebelum diskusi kelompok dan bermain peran berlangsung guru terlebih dulu memberikan penjelasan agar seluruh siswa di dalam bekerja kelompok beraktifitas dan bekerjasama  dengan baik bersama kelompoknya;
§ Guru menjelaskan dengan rinci tentang pemahaman terhadap pemahaman norma-norma yang berlaku di masyarakat dengan menggunakan metode demonstrasi dan bermain peran, terdapat 70% siswa merasa sangat terbantu dalam memahami konsep.
                                                   Tabel 4.10.
Tanggapan siswa terhadap cara guru dalam membimbing memahami norma
No
Kriteria
Jumlah Siswa
Prosentase
1
Biasa saja
0
0%
2
Baik
6
20%
3
Sangat membantu
25
80%

B.     Pembahasan
  1. Interpretasi hasil pengamatan dan Pengumpulan Data
Hasil perbaikan pembelajaran siklus I dan II menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar siswa. Secara garis besar hasil perbaikan menunjukkan hasil yang memuaskan seperti dalam tabel berikut:
                                       Tabel 4.11.
Rangkaian Hasil Tes Akhir Siklus I dan Siklus II
Kualifikasi
Jumlah Siswa
Siklus I
Siklus II
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang
-
3
9
16
3
5
15
7
4
-
Setelah guru melakukan evaluasi pada siklus I dari 31 siswa yang mendapat nilai > 65 sebanyak 12 siswa. Pada siklus II dari 31 siswa yang mendapat nilai > 65 sebanyak 22 siswa.
Apabila digambarkan dalam grafik, maka ketuntasan belajar siswa selama penelitian adalah sebagai berikut:

Grafik 4.1. Ketuntasan Belajar Siswa Selama Penelitian

                                   
         Siswa yang tidak tuntas


            Siswa yang tuntas
 
Text Box: Ketuntasan siswa




BAB V
KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT


A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa:
  1. Penggunaan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat.
  2. peningkatan pemahaman siswa terhadap pemahaman siswa dalam memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat dengan memanfaatkan metode Demonstrasi dan Bermain Peran secara keseluruhan mengalami peningkatan dari sebelum dilakukan perbaikan pembelajaran. Pada siklusI nilai rata-rata siswa 56,5 secara kelompok dan 58,6 secara individu dengan ketuntasan 40% (12 siswa)  dengan responden / siswa 85% menyatakan sangat terbantu dengan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran yang dipakai dan pada siklus ke II nilai rata-rata secara kelompok 75 dan secara individu 78 dengan ketuntasan 80% dengan semua siswa merasa sangat terbantu dengan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran yang digunakan dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat.
B.     Saran dan Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan disarankan;
  1. Untuk mempermudah menanamkan konsep dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap norma-norma ang berlaku di masyarakat, seharusnya guru melakukan inovasi pembelajaran, seperti Penggunaan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran sebagai sumber inspirasi dan imajinasi bagi siswa.
  2. Dengan adanya metode siswa akan trmotivasi belajar. Oleh karena itu metode pembelajaran harus terus dikembangkan.

Lampiran 1
Format Kesediaan Teman Sejawat  Dalam
Penyelenggaraan PKP

Kepada
Kepala UPBJJ Surabaya
Di Surabaya

Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa:
Nama                     : Yuli Restu Wilujeng, S.Pd
NIP                       : 19790729 200501 2 013
Tempat Mengajar : SDN Karangbanyu I
Alamat Sekolah     : Jl. Raya Ngawi-Solo, kec. Widodaren, kab. Ngawi.
Telepon                 : (0351) 673404
Menyatakan bersedia sebagai teman   sejawat untuk mendampingi dalam pelaksanaan  PKP atas nama:
Nama                     : Dzun Nuraini
NIM                      : 819534273
Program Studi       : S-1 PGSD
Tempat Mengajar : SDN Karangbanyu I
Alamat Sekolah     : Jl. Raya Ngawi-Solo, kec. Widodaren, kab. Ngawi.
Telepon                 : (0351) 673404
Demikian agar surat pernyataan ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ngawi, 09 Oktober 2011
Mengetahui
Kepala SDN Karangbanyu I,                                            Teman sejawat,


P A R T I N I, S.Pd                                                   YULI RESTU W, S.Pd
NIP. 19540402 197501 2 001                                                NIP.19790729 200501 2 013

Lampiran 2

SURAT PERNYATAAN


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama                     : Dzun Nuraini
NIM                      : 819534273
Program Studi       : S-1 PGSD
Tempat Mengajar : SDN Karangbanyu I
Alamat Sekolah     : Jl. Raya Ngawi-Solo, kec. Widodaren, kab. Ngawi.
Telepon                 : (0351) 673404I
Menyatakan bahwa:
Nama                     : Yuli Restu Wilujeng, S.Pd
NIP                       : 19790729 200501 2 013
Tempat Mengajar : SDN Karangbanyu I
Alamat Sekolah     : Jl. Raya Ngawi-Solo, kec. Widodaren, kab. Ngawi.
Telepon                 : (0351) 673404
Adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran, yang merupakan tugas kuliah PDGK 4501 Pemantapan Kemampuan Professional (PKP).

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.


Ngawi, 09 Oktober 2011
Yang membuat pernyataan
Teman sejawat,                                                              Mahasiswa


YULI RESTU W, S.Pd                                               DZUN NURAINI
NIP.19790729 200501 2 013                                        NIM. 819534273

Lampiran 3
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN SIKLUS I

Mata Pelajaran            : Pendidikan Kewarganegaraan
Jenjang Pendidikan     : Sekolah Dasar
Kelas / Semester          : III (Tiga) / I (Satu)
Hari / Tanggal             : Senin, 15 Agustus 2011
Alokasi Waktu            : 1x 35 menit
Lokasi                         : SDN Karangbanyu 1

A.    Standar Kompetensi
Melaksanakan norma yang berlaku di masyarakat
B.     Kompetensi Dasar
Mengenal aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar
C.    Indikator
Menjelaskan pengertian norma
D.    Tujuan Perbaikan Pembelajaran
Siswa dapat menjelaskan pengertian norma
E.     Materi Pokok
Aturan-aturan lingkungan masyarakat
F.     Metode Pembelajaran
1.   Ceramah
2.   Diskusi
3.   Demonstrasi
4.   Bermain Peran
G. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (5 menit)
a)      Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, doa, memeriksa kehadiran siswa, mengkondisikan siswa untuk siap belajar serta menyiapkan media dan sumber belajar.
b)      Guru menyampaikan apersepai dengan mengadakan tanya jawab secara umum dengan siswa, misalnya :
§ Anak-anak pada pelajaran PKN kemarin kalian mempelajari tentang apa ?
c)   Guru menyampaikan indikator yang akan dicapai
2. Kegiatan Inti (20 menit)
a)      Menjelaskan pengertian norma.
b)      Menjelaskan macam-macam norma yang berlaku di masyarakat.
c)      Guru memberi contoh norma-norma yang berlaku di masyarakat, manfaat/kegunaan norma dan sikap yang harus dilakukan terhadap aturan yang berlaku di masyarakat.
d)     Siswa di bagi dalam 6 kelompok .
e)      Guru memberikan tugas kepada tiap-tiap kelompok untuk memperhatikan penjelasan guru dengan seksama.
f)       Guru mendemonstrasikan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
g)      Guru meminta siswa untuk menirukan sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat yang telah di demonstrasikan oleh guru.
h)      Tiap-tiap kelompok diminta maju ke depan kelas secara bergiliran untuk bermain peran.
·      Satu siswa sebagai orang tua
·      Satu siswa sebagai remaja
·      Dua siswa sebagai anak kecil
            i)    Penilaian guru terhadap peran yang diperankan
        3. Kegiatan Akhir (10 menit)
a)        Siswa mengerjakan soal evaluasi
b)      Guru menutup pelajaran dengan salam

H.    Sumber dan Media Belajar

1.     Sumber Belajar
   Buku Ajar fokus untuk SD/MI Penerbit Pusat Perbukuan Departemen   Pendidikan Nasional BSE.
2.     Media Belajar
   Gambar tentang anak yang mematuhi norma keluarga.
I.       Penilaian
Ø  Penilaian Awal  : Pretes : lisan
Ø  Penilaian Proses : Kelompok
Ø  Penilaian Akhir  : Tes tertulis (terlampir)



Mengetahui,                                                    Karangbanyu, 15 Agustus 2011
Kepala SDN Karangbanyu 1                                         Mahasiswa



PARTINI S. P.d                                                          DZUN NURAINI
NIP. 19540402 197501 2 001                                       NIM. 819534273





LEMBAR PENILAIAN

No
Nama
Jumlah Salah
Jumlah Benar
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
7
3
30
TT
2
Suparmi
7
3
30
TT
3
Mohammad Abdul L
6
4
40
TT
4
Indana Saysary laili
7
3
30
TT
5
Yuda Adiik Pradita
6
4
40
TT
6
Adi Angkoso Putro
3
7
70
T
7
Ade Nova Airlangga
1
9
90
T
8
Azarudi Irawan
5
5
50
TT
9
Aldiansah
2
8
80
T
10
Anggi Mailani
5
5
50
TT
11
Agustina Sifiatus S
5
5
50
TT
12
Alfian Zaki Prayoga
5
5
50
TT
13
Anggik Setiyowati
2
8
80
T
14
Dewi Astutik
5
5
50
TT
15
Eko Utomo
4
6
60
TT
16
Fajar Kurniawan M
3
7
70
T
17
Galuh Riskia Melani
5
5
50
TT
18
Kholif Auliahadi
3
7
70
T
19
Kensa Forestina
1
9
90
T
20
Linda Kurniawati
2
8
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
2
8
80
T
22
Yustika Aprilia
2
8
80
T
23
Gunawan Halim M
7
3
30
TT
24
Mohammad Waliyudin
4
6
60
TT
25
Risma Nur Karimah
4
6
60
TT
26
Radiyan Dwi Cahyono
6
4
40
TT
27
Silviana
6
4
40
TT
28
Tyas Novitasari
2
8
80
T
29
Zahra Auliana Firdani
2
8
80
T
30
Yeni Agustina
6
4
40
TT
31
Shinta Ayu Puspita
5
5
50
TT




LEMBAR PENILAIAN

No
Nama
Jumlah Salah
Jumlah Benar
Skor
Ketuntasan
1
Yulia Arfiana
4
6
60
TT
2
Suparmi
4
6
60
TT
3
Mohammad Abdul L
3
7
70
T
4
Indana Saysary laili
4
6
60
TT
5
Yuda Adiik Pradita
3
7
70
T
6
Adi Angkoso Putro
2
8
80
T
7
Ade Nova Airlangga
0,5
9,5
95
T
8
Azarudi Irawan
3
7
70
T
9
Aldiansah
1
9
90
T
10
Anggi Mailani
2
8
80
T
11
Agustina Sifiatus S
2
8
80
T
12
Alfian Zaki Prayoga
2
8
80
T
13
Anggik Setiyowati
2
8
80
T
14
Dewi Astutik
3
7
70
T
15
Eko Utomo
2
8
80
T
16
Fajar Kurniawan M
2
8
80
T
17
Galuh Riskia Melani
3
7
70
T
18
Kholif Auliahadi
2
8
80
T
19
Kensa Forestina
1
9
90
T
20
Linda Kurniawati
2
8
80
T
21
Latifatul Khoirunnisa
2
8
80
T
22
Yustika Aprilia
2
8
80
T
23
Gunawan Halim M
4
6
60
TT
24
Mohammad Waliyudin
2
8
80
T
25
Risma Nur Karimah
2
8
80
T
26
Radiyan Dwi Cahyono
3
7
70
T
27
Silviana
3
7
70
T
28
Tyas Novitasari
2
8
80
T
29
Zahra Auliana Firdani
2
8
80
T
30
Yeni Agustina
4
6
60
TT
31
Shinta Ayu Puspita
3
7
70
T



RANGKUMAN MATERI


1.      Norma adalah seperangkat aturan atau pedoman tentang bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam kehidupan, dan harus dipatuhi.
2.      Macam-macam Norma
a)      Norma Agama
Norma Agama adalah norma yang berasal dari tuhan Yang Maha Esa, berisi perintah yang harus dipatuhi, larangan ataupun anjuran-anjuran bagi umat manusia. Orang yang melanggar norma agama akan mendapatkan hukuman kelak di akhirat berupa dosa, dan bagi yang melaksanakan norma agama akan mendapatkan pahala. Contohnya, menghormati orang tua, beribadah, dilarang berbuat riba dan sebagainya.
b)      Norma Kesopanan
Norma Kesopanan adalah norma atau aturan atau tuntunan seseorang harus bertingkah laku yang baik di dalam masyarakat. Norma kesopanan bersumber dari kebiasaan atau tata pergaulan di dalam masyarakat. Norma ini dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antar sesama. Orang yang melakukan pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan sanksi dari masyarakat berupa sanksi cemoohan, celaan atau dikucilkan dari pergaulan. Contoh, menghormati orang yang lebih tua, tidak meludah disembarang tempat, menerima sesuatu dengan tangan kanan.
c)      Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan disebut juga moral. Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani manusia yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Tujuan norma kesusilaan agar manusia berbuat baik. Orang yang melaksanakan norma ini dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang baik, sedangkan yang tidak melaksanakannya, dianggap sebagai orang yang tidak baik, atau tidak bermoral. Contohnya, menyayangi sesama manusia, berlaku jujur dan bertindak adil. Pelanggaran terhadap norma ini pelakunya akan memiliki perasaan bersalah, malu, menyesal karena ia dihukum oleh hati nuraninya. Sebaliknya, orang yang berbuat baik, ia akan merasa puas.
d)     Norma Hukum
Norma hukum adalah norma yang dibuat oleh lembaga yang berwenang. Misalnya, MPR, DPR dan Presiden. Norma hukum berisi perintah dan larangan, berlaku bagi seluruh warga nwgara yang bersangkutan. Norma hukum dimuat dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat tertulis. Bagi yang melaksanakan norma hukum dianggap sebagai warga negara yang taat. Sebaliknya bagi yang melanggar norma hukum akan mendapat hukuman, misalnya penjara, kurungan, atau denda. Contohnya, mentaati rambu-rambu lalu lintas, dilarang mencuri, merampok dan lain-lain. Norma hukum adalah aturan yang dibuat oleh negara, sehingga bersifat mengikat dan memiliki kekuatan hukum bagi seluruh warga negaranya (memaksa). Hal ini berarti semua warga negara harus mentaatinya.
3.      Manfaat Norma
Manfaat Norma di masyarakat antara lain
a)      Menciptakan keharmonisan dan ketenangan.
b)      Mengurangi perselisihan
c)      Menciptakan ketentraman dan kedamaian.




Lampiran 4
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN SIKLUS II

Mata Pelajaran            : Pendidikan Kewarganegaraan
Jenjang Pendidikan     : Sekolah Dasar
Kelas / Semester          : III (Tiga) / I (Satu)
Hari / Tanggal             : Senin, 22 Agustus 2011
Alokasi Waktu            : 1x 35 menit
Lokasi                         : SDN Karangbanyu 1

A.    Standar Kompetensi
Melaksanakan norma yang berlaku di masyarakat
B.     Kompetensi Dasar
Mengenal aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar
C.    Indikator
Menjelaskan pengertian norma
D.    Tujuan Perbaikan Pembelajaran
Siswa dapat menjelaskan pengertian norma
E.     Materi Pokok
Aturan-aturan lingkungan masyarakat
F.     Metode Pembelajaran
1.   Ceramah
2.   Diskusi
3.   Demonstrasi
4.   Bermain Peran
G. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (5 menit)
a)      Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, doa, memeriksa kehadiran siswa, mengkondisikan siswa untuk siap belajar serta menyiapkan media dan sumber belajar.
b)      Guru menyampaikan apersepai dengan mengadakan tanya jawab secara umum dengan siswa, misalnya :
§ Anak-anak, kalian apakah memahami norma?
c)   Guru menyampaikan indikator yang akan dicapai
2. Kegiatan Inti (20 menit)
a)      Menjelaskan kembali pengertian norma.
b)      Menjelaskan kembali macam-macam norma yang berlaku di masyarakat.
c)      Guru memberi contoh sekali lagi norma-norma yang berlaku di masyarakat, manfaat/kegunaan norma dan sikap yang harus dilakukan terhadap aturan yang berlaku di masyarakat.
d)     Guru memberikan tugas untuk memperhatikan penjelasan guru dengan seksama.
e)      Guru mendemonstrasikan ulang sikap-sikap yang harus dilakukan terhadap aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
        3. Kegiatan Akhir (10 menit)
a)        Siswa mengerjakan soal evaluasi
b)        Guru memberikan PR untuk tindak lanjut.
c)      Guru menutup pelajaran dengan salam
H.    Sumber dan Media Belajar
1.     Sumber Belajar
   Buku Ajar fokus untuk SD/MI Penerbit Pusat Perbukuan Departemen   Pendidikan Nasional BSE.
2.     Media Belajar
   Gambar tentang anak yang mematuhi norma keluarga.
I.       Penilaian
Ø  Penilaian Awal  : Pretes : lisan
Ø  Penilaian Akhir  : Tes tertulis (terlampir)



Mengetahui,                                                    Karangbanyu, 22 Agustus 2011
Kepala SDN Karangbanyu 1                                         Mahasiswa



PARTINI S. P.d                                                          DZUN NURAINI
NIP. 19540402 197501 2 001                                       NIM. 819534273

SOAL EVALUASI

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!
1.      Aturan-aturan di masyarakat disebut ……….
2.      Norma kesusilaan disebut ………..
3.      Setiap daerah memiliki ……….
4.      Aturan diciptakan untuk menjaga ……….
5.      Norma yang ada di masyarakat harus dilaksanakan oleh …….
6.      Norma yang berlakunya memaksa dan memiliki sanksi tegas adalah  …..
7.      Norma yang berasal dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa adalah norma ……
8.      Akibat dari melanggar norma agama adalah ………
9.      Jika kita melanggar aturan akan mendapat ……….
10.  Kegiatan yang berulang-ulang disebut ………

KUNCI JAWABAN
1.      Norma
2.      Hati nurani manusia
3.      Peraturan atau aturan
4.      Ketertiban
5.      Masyarakat
6.      Hukum
7.      Agama
8.      Berdosa
9.      Sanksi atau hukuman
10.  Kebiasaan



PEDOMAN PENSKORAN
Nilai = Jumlah Betul X 100
Jumlah soal




SOAL EVALUASI

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!
1.      Aturan-aturan di masyarakat disebut ……….
2.      Sopan santun  termasuk contoh aturan ……
3.      Setiap daerah memiliki ……….
4.      Aturan diciptakan untuk menjaga ……….
5.      Norma yang ada di masyarakat harus dilaksanakan oleh …….
6.      Norma yang berlakunya memaksa dan memiliki sanksi tegas adalah  …..
7.      Norma yang berasal dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa adalah norma ……
8.      Akibat dari melanggar norma agama adalah ………
9.      Jika kita melanggar aturan akan mendapat ……….
10.  Upacara pembakaran mayat di bali disebut ………

KUNCI JAWABAN
1.      Norma
2.      Norma kesopanan
3.      Peraturan atau aturan
4.      Ketertiban
5.      Masyarakat
6.      Hukum
7.      Agama
8.      Berdosa
9.      Sanksi atau hukuman
10.  Ngaben



PEDOMAN PENSKORAN
Nilai = Jumlah Betul X 100
Jumlah soal



Lampiran 5                             DOKUMENTASI







Berlangganan via Email