Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

KARYA TULIS ILMIAH

HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI KOPERASI INDONESIA
MATA PELAJARAN EKONOMI MELALUI METODE
PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD
(STUDENT TEMS ACHIEVEMENT DIVISION)
PADA SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 WARU SIDOARJO


Diajukan guna melengkapi sebagai persyaratan
Usulan Angka Kredit dari golongan IV /a ke golongan IV/b

















Disusun oleh :

Tri Mugiarti, S.Pd

NIP. 131 561 314




PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 WARU SIDOARJO
 2006

KATA PENGANTAR



Rasa syukur yang sedalam-dalamnya kehadirat Allah SWT karena dapat terselesaikan karya tulis ilmiah ini dan didukung kesehatan sehingga selesai tepat waktu. Penyusunan karya tulis ini semata-mata didasari oleh keinginan meningkatkan profesionalisme di dunia pendidikan sekaligus untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan golongan. Terwujudnya karya tulis ini bukan murni merupakan hasil pemikiran penulis, akan tetapi karena dukungan dan sumbangan dari banyak pihak yang ikut membantu mengarahkan karya tulis ini sehingga dapat terselesaikan
Penulis menyadari bahwa penyusunan hasil penelitian tindakan kelas ini terdapat ketidak sempurnaan, oleh karena itu penulis sangat menghargai dan menerima kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi penyempurnaan hasil penelitian ini maupun penelitian-penelitian berikutnya.
Semoga laporan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat bermanfaat bagi semua pihak mengelola dalam bidang pendidikan.

Sidoarjo,      Juli 2006


Penulis

 

DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL …………………………………………………………        i
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………...       ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………………     iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….      iv
ABSTRAK …………………………………………………………………….      vi
BAB I     PENDAHULUAN                                                                                     
1.1    Latar Belakang    ………………………………………………..       1
1.2    Rumusan Masalah ……………………………………………….      5
1.3    Tujuan Penelitian   ………………………………………………       5
1.4    Manfaat Penelitian   …………………………………………….       6
1.5    Hipotesis Tindakan …………………………………………….       6
1.6    Ruang Lingkup …………………………………………………       7
BAB II   TINJAUAN PUSTAKA                                                                    
2.1    Teori Tentang Pembelajaran Kooperatif   ………………………       8
A.    Pembentukan Tim Heterogen     …………………………….     12
B.     Presentasi Isi ……………………………………………….     14
C.     Diskusi Kelompok dan Latihan ……………………………     16
D.    Menilai Penguasaan atau Pemahaman Murid Terhadap         
Materi Secara Individu ……………………………………..     17
E.     Menilai Score Perkembangan Tim dan Penghargaan             
Kelompok   ………………………………………………….     20
2.2    Hasil Belajar ……………………………………………………     23
BAB III METODE PENELITIAN                                                                            
3.1    Tempat dan Subyek Penelitian    ………………………………..     26
3.2    Batasan Operasional Variabel ………………………………….     26
3.3    Tindakan Pendahuluan    ………………………………………..     27
3.4    Rencana Tindakan   ……………………………………………..     28
3.5    Metode Pengumpulan Data ……………………………………     36
3.6    Analisis Data   …………………………………………………..     40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN                                         
4.1    Tindakan Pendahuluan …………………………………………     43
4.2    Pelaksanaan Siklus I  ……………………………………………     45
4.3    Pelaksanaan Siklus II ……………………………………………     57
4.4    Temuan Penelitian   ……………………………………………..     65
4.5    Pembahasan  ……………………………………………………     69
BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN                                                                  
5.1    Kesimpulan …………………………………………………….     73
5.2    Saran ……………………………………………………………     74
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN












ABSTRAK


Judul       :           Peningkatan hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Materi Pokok Bahasan Koperasi Indonesia Kelas XI Semester II Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Divison) Studi Kasus Di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Pelajaran 2005 / 2006.

Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa dalam pembelajaran salah satunya ditentukan oleh metode mengajar yang digunakan oleh guru. Salah satu alternatif metode pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan metode STAD (Student Teams Achievement Divison). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 Semester Genap SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Pelajaran 2005/2006 melalui penerapan metode pembelajaran Kooperatif model STAD. Subyek penelitian yang digunakan siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Pelajaran 2005/2006. Metode Pengumpulan data berupa metode observasi, metode dokumentasi, metode wawancara dan metode tes. Pengambilan data dilakukan tanggal 2 s/d 6 Mei 2006. berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Ekonomi pokok bahasan Koperasi Indonesia yaitu dapat mencapai ketuntasan secara klasikal dan individual dimana 84% yang mendapat nilai rata-rata > 65 dan ketuntasan secara klasikal sebesar 88,8% ketercapaian pada siklus II

Kata Kunci   :  Metode Pembelajaran Kooperatif dengan Model STAD dan hasil belajar siswa.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Untuk mewujudkan perubahan dalam sistem pembelajaran, terdapat dua konsep yangtak dapat dipisahkan satu sama lain yaitu belajar dan mengajar. Menurut Sudjana, (1992:2) “ Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subyek yang meenrima penjelasan, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar”. Dua konsep belajar dan mengajar ini akan terpadu manakala terjadi interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru merupakan salah satu faktor yang sangat mempengeruhi keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu hendaknya guru meenrapkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi kelas dan mata pelajaran.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam era globalisasi sekarang ini akan membawa perubahan dalam segala bidang termasuk di bidang pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan salah satunya menyangkut hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa dalam. Perubahan pada guru, dapat merubah penggunaan pembelajaran yang masih bersifat individualistik dan kompetititf yang mewujudkan ketidaknyamanan siswa dalam belajar dan diharapkan dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang bisa mewujudkan keaktifan siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.


Pembelajaran ekonomi adalah salah satu ilmu sosial yang dihubungkan dengan lingkungan dan mengembangkan kemampuan ssiwa dalam melakukan kegiatan ekonomi dengan mengenali berbagai peristiwa ekonomi, memberikan pemahaaman tentang konsep dan teori ekonomi serta melatih siswa untuk memecahkan masalah ekonomi sehari – hari baik yang terjun di lingkungan masyarakat ataupun tempat lain (Depdikbud 1994). Jadi pelajaran ekonomi memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai perekonomian masyarakat secara nyata yang akhirnya membuat siswa tertarik untuk mempelajarinya.
Kondisi pembelajaran  di SMA Negeri I Waru Sidoarjo khususnya siswa kelas XI masih memerlukan perhatian yang serius. Hal ini dapat dilihat pada saat peneliti melakukan observasi awal pada bulan Mei tahun 2006 dengan cara mengikuti proses pembelajaran pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1. Untuk melihat tingkah laku siswa selama pembelajaran ekonomi berlangsung dan untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dan instropeksi bagi peneliti. Hasil yang diperoleh bahwa aktifita siswa selama mengikuti pelajaran, cenderung duduk diam dan tidak aktif yang ditunjukkan dengan bicara sendiri antar teman sebangku, kurang bergairah dan enggan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Kurang aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan seorang guru maih menggunakan metode ceramah dan penugasan terhadap siswa.
Di samping peneliti melakukan observasi awal juga berusaha mengumpulkan data mengenai prestasi belajar siswa. Menurut data yangdiperoleh dari guru mata pelajaran ekonomi terlihat prestasi yang diraih siswa masih rendah yang dapat dilihat pada nilai ulangan harian kelas XI IPS 1 materi pokok Koperasi Indonesia. Adapun nilai rata – rata masing – masing kelas di kelas XI IPS 1 yaitu sebagai berikut, kelas XI. IPS 1 = 60, kelas XI IPS 2 = 68. Jadi dari hasil belajar siswa kelas XI tersebut maka semua siswa kelas XI IPS masih memerlukan perhatian khusus guna memperbaiki nilai mereka yang masih dibawah Standard Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM), namun karena keterbatasan waktu dan kemampuan, maka peneliti memutuskan untuk mengambil salah satu kelas yang paling rendah hasil belajarnya yaitu kelas XIIPS 1 dengan nilai rata – rata terendah diantara kelas yang lain pada mata pelajaran ekonomi yaitu mencapai nilai rata – rata 60 dengan ketuntasan klasikal 54,20%. Nilai tersebut belum memenuhi kriteria ketuntasan secara klasikal. Adapun kriteria ketuntasan hasil belajar dapat dinyatakan sebagai berikut :
1.      Daya serap perorangan. Siswa disebut telah tuntas belajar bila mencapai skor > 65
2.      Daya serap klasikal, kelas disebut telah tuntas belajar jika dikelas tersebut terdapat > 85 % dari jumlah siswa yang telah mencapai nilai > 65. (Depdikbud, 1996:2)
Strategi pembelajaran yang baik adalah apabila seorang guru mempunyai perangkat mengajar lengkap dan menguasai materi. Menurut Djamarah (1996:6) salah satu strategi dasar penting sebagai pedoman melaksanakan strategi pembelajaran agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan, diperlukan strategi pemilihan metode dan model pengajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Selama ini strategi pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode pembelajaran ceramah secara klasikal. Sistem pengajaran yang klasikal, akan membuat siswa merasa bahwa pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tertalu sepat sehingga mereka cenderung ketinggalan dengan teman mereka yang pintar dalam proses menyerap pelajaran.
Adapun strategi pembelajaran yang dapat mendorong semangat belajar siswa, agar siswa tidak bosan dan memperhitungkan karateristik siswa sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif (Ibrahim, 2000). Metode pembelajaran kooperatif terdapat model TGT (Team games Turnament). Dan STAD ( Student Teams Achievement Division). Model pembelajaran STAD adalah salah satu cara dalam metode pembelajaran kooperatif yang dapat menumbuhkan kemampuan kerjasama, berfikir kritis dan dapat membantu teman dalam memahami maetri pelajaran secara bersama – sama.
Berdasarkan pengertian model pembelajaran STAD di atas maka secara garis besar pembelajaran STAD ini dapat mewujudkan sistem pembelajaran yang memudahkan siswa dalam memahami dan mengingat materi pelajaran secara bersama – sama tanpa danya persaingan yang tidak berarti antar siswa. Harapan yang diwujudkan jika diterapkan model pembelajaran STAD yang menekankan pada kebersamaan dan kegotongroyangan pada pelajaran ekonomi adalah meningkatkan hasil belajar dan memudahkan siswa memahami konsep ekonomi. Selain itu dengan adanya pelajaran ekonomi yang telah ditempuh siswa di sekolah, mereka bisa mempraktekan konsep teori ekonomi dari sekolah tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.
Hal tersebut merupakan pendorong peneliti untuk mencoba meneliti tentang : “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI semester ganjil Materi Pokok Koperasi Indonesia Melalui Model Pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division). Di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Ajaran 2006 – 2007

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : “ Apakah penerimaan metode pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Division). Pada mata pelajaran ekonomi materi pokok Koperasi Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI semester ganjil di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Ajaran 2006 – 2007.
  
1.3  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dengan diterapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD pada siswa kelas XI semester ganjil mata pelajaran ekonomi materi pokok Koperasi Indonesia di di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo Tahun Ajaran 2006 – 2007, maka hasil belajar siswa dapat meningkat yang memenuhi standart kriteria ketuntasan belajar baik secara individu dan secara klasikal yang ditunjukkan dengan 85 % dari jumlah siswa dapat mencapai nilai rata – rata > 65.




1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat yang dicapai dari hasil penelitian ini adalah :
  1. Bagi guru ekonomi
Sebagai acuan dalam pengelolaan pembeloajaran terciptanya kualitas pembelajaran dan sebagai sumbangan tentang bagaimana cara meenrapkan metode pembelajaran dengan model STAD pada pelajaran ekonomi.
  1. Bagi Siswa
Untuk mengetahui hasil belajar pelajaran ekonomi mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  1. Bagi sekolah atau Lembaga Pendidikan
Sebaga sumbangan pemikiran demi meningkatkan mutu pendidikan
  1. Bagi Peneliti Lain
Sebagai motivasi dan rangsangan untuk melakukan penelitian yang sejenis sekaligus pengembangannya

1.5  Hipotesis Tindakan
Jika menggunakan metode pembelajaran kooperatif model STAD maka hasil belajar siswa pada materi Koperasi Indonesia, pelajaran Ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Waru, Sidoarjo Tahun 2005/2006 dapat meningkat. Peningkatan hasil belajar diukur dengan prosentase ketuntasan belajar secara klasikal yaitu >  85 % (Depdikbud 1995). Peningkatan hasil belajar siswa dapat ditunjukkan melalui nilai hasil ulangan harian yang berupa pre tes dan post tes


1.6  Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Waru, Sidoarjo Tahun Ajaran 2005 / 2006. Tindakan yang dilakukan adalah pada pembelajaran ekonomi maetri pokok Koperasi Indonesia dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa dan mengembangkan pola berfikir melalui permainan.


















BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Teori Tentang Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang sekarang sangat populer, sebagai pencerminan perubahan kurikulum baru. Kurikulum baru menekankan pada keaktifan dan keikut sertaan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa mampu menciptakan ide – ide pemikiran sendiri mengenai konsep pelajaran yang diikuti, oleh karena itu diperlukan penggunaan metode yang mampu memudahkan siswa memahami teori. Hal ini sesuai dengan tujuan kurikulum SMU 1994 dan Suplemen 1999 pada mata pelajaran ekonomi, pembelajaran ekonomi diterapkan dengan maksud untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam melakukan konsep ekonomi sebagai sarana pemecahan masalah ekonomi dalam masyarakat (Depdikbud, 1999). Jadi manfaat siswa mengikuti  pelajaran ekonomi dengan metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar mampu menjadi bekal terjun dalam masyarakat.
Menurut Pambudi (2002 ; 64) “Pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran yang berorientasi pada belajar bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah secara bersama dengan anggota kelompok, sehingga masalah yang sulit dapat terpecahkan”. Berdasarkan karateristik pembelajaran kooperatif tersebut, dapat disimpulkan bahwa ; pertama pembelajaran kooperatif mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis, gotong royong dan aktif dalam memecahkan permasalahan materi kelompok bersama  -sama, kedua pembelajaran kooperatif berbeda dengan kerja kelompok biasa, yang biasa diasumsikan sebagai aktivitas kerja kelompok dimana siswa diharapkan berkelompok untuk menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan. Kerja kelompok dalam pembelajaran kooperatif memunculkan rasa tanggung jawab untuk keberhasilan bersama dan menumbuhkan rasa sosial pada diri siswa, ketiga tidak setiap kegiatan kerja kelompok dapat dikatakan pembelajaran kooperatif walau pembelajara kooperatif terjadi dalam suasana kerja kelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat Badeni (2002 : 143) bahwa hanya kerja kelompok yang memenuhi kriteria karaktersitik pembelajaran kooperatif yang dapat dikataka bahwa kerja kelompok adalah sebagai pembelajaran kooperatif.
Metode pembelajaran kooperatif terdiri dari dua model pembelajaran yaitu model pembelajara STAD (Student Tams Achievement Divinision) dan TGT (Team Games Tournament) (saminan, 2002 : 132) model STAD merupakan palig sederhana ari pembelajaran kooperatif, dimana setelah berlangsung pembelajaran secara kooperatif siswa diberi tes I dan II untuk mengetahui kemampuan akademik secara individual.
2.1.1         Teori tentang model pembelajaran STAD (Student Tams Achievement Divinision)
Model pembelajaran STAD merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Slavin di John Hopkins University pegertian model pembelajaran STAD adalah siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil dengan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran lain untuk mentuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami materi pelajaran melalui tutorial, kuis dan diskusi (Lestari, 2004 : 25)
Berdasarkan penegrtian STAD seperti di atas dapat disimpulkan dalam pebelajaran STAD, siswa dibentuk untuk belajar dalam kelompok, bergotong royong untuk memecahkan permasalahan materi secara bersama dan berusaha membantu siswa memahami konsep-konsep materi yang sulit sehingga mewujudkan pengembangan keterampilan sosial diri siswa. Adapun ciri-ciri pembelajaran STAD menurut Carin (dalam Aisyah N, 2000 : 58) sebagai berikut :
a.       Setiap anggota mempunyai peran
b.      Terjadi interaksi langsung diantara siswa
c.       Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga tim-tim yang sekelompoknya
d.      Peranan guru adalah membantu siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok
e.       Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran STAD di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD merupakan model pembelajaran yang dibentuk untuk tugas belajar bersama, menjalankan tugas yang diberikan dalam bentuk lembar kegiatan siswa sebagai panduan belajar. Selain itu siswa diharapkan mampu belajar bertanggung jawab atas peran yang diperoleh masing-masing siswa dan meraih sukses tim. Yang perlu diperhatikan lagi oleh siswa, kelompok mereka akan sukses apabila semua anggota tim berpedoman pada peraturan yang ada. Peraturan tersebut adalah berupa peran-peran yang harus diemban siswa pada saat diskusi kelompok berlangsung.
Peran seperti yang diungkapkan ahli diatas, digunakan siswa dalam rangka mengerjakan lembar kerja kegiatan siswa dalam kelompok agar tidak terjadi  kegaduhan dan agar tercipta interaksi yang positif yaitu segala tingkah laku siswa tercermin dari peran yang diembannya. Sistem kerja dalam pembelajaran model STAD siswa merupakan peran tersendiri sehingga kemungkinan siswa yang terlihat santai tidak ada. Harapan bagi siswa agar selalu berinteraksi antar teman dan mempunyai kesadaran untuk bersama-sama bertanggungjawab atas kesuksesan tim karena mereka bukan saja mengerjakan sesuatu di dalam kelompok tetapi yang lebih penting adalah bagaimana bisa belajar dalam kelompok. Bagi guru sebagai fasilisator, pembimbing siswa bila diperlukan dan apabila siswa merasa mengalami kesulitan dalam memahami materi pokok bahasan Koperasi indonsia dalam diskusi.
2.1.2         Langkah-langkah model pembelajaran STAD
Langkah-langkah dalam model pembelajaran disni adalah untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran model STAD dalam kelas. Langkah-langkah penerapan pembelajaran STAD ini mengacu pada komponen-komponen pembelajaran model STAD yang diambil dari pendapat ahli.
Menurut Cooper (1999 : 284) model pembelajaran STAD mempunyai lima dasar komponen, antara lain :
1)      Pembentukan tim heterogen
2)      Presentasi isi
3)      Kegiatan belajar dalam kelompok
4)      Menilai penguasan atau pemahaman murid terhadap materi secara individu
5)      Menghitung nilai atau score kemajuan perkembangan tim dan penghargaan prestasi yang dicapai.
Berdasarkan komponen pembelajaran STAD tersebut, dapat dijelaskan bahwa komponen-komponen tersebut sekaligus digunakan peneliti sebagai langkah-langkah dalam menerapkan model STAD. Selain itu pembelajaran model STAD merupakan usaha atau prosedur yang digunakan oleh guru untuk mencdapai ketuntasan belajar siswa yang merata, melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Harapan terhadap siswa adalah lebih mementingkan sikap daripada tehnik yaitu partisipasi aktif agar penerapan model pembelajaran ini lancar dan dapat dengan yang diharapkan yaitu hasil belajar yang meningkat.

A.    Pembentukan Tim Heterogen
Pembelajaran dengan menerapkan model STAD, siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok dalam satu kelas. Menurut Cooper (1999 : 284), “to form learning teams, the teacher first computes the current achievement level of each student-in the whole class and ranks, student by achievement”. Maksud dari kutipan tersebut adalah untuk membentuk kelompok belajar, pertama guru memperhitungkan nilai rata-rata ketercapaian siswa tersebut. perhitungan rangking dan ketercapaian tersebut sangat penting yaitu sebagai dasar pembentukan kelompok belajar. Penilaiannya pengelompokkan dalam pembelajaran karena adanya perbedaan karakteristik individu masing-masing siswa. Dari perbedaan itulah diharapkan siswa bisa belajar bersama dan bercampur dalam keragaman.
Menurut Badeni (2002 : 143) “dalam pembentukan kelompok para guru pelru mengorganisir siswa menjadi lebih banyak kelompok dengan maksud agar siswa dapat tercampur secara heterogen atas dasar kemampuan akademik, status sosial ekonomi, suku, agama, gender, dan sebagainya”. Sedangkan menurut Slavin (dalam As’ari, 2001 : 1) pembentukan kelompok didasarkan pada anggota yang heterogen seperti ada yang pintar, sedang, rendah pria-wanita, latar belakang etnis yang berbeda, serta para siswa dibagi kedalam kelompok empatan.
Berdasarkan uraian pendapat para ahli diatas tentang pembentukan kelompok, pada umumnya siswa dibentuk dalam perbedaan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan etnis, hal ini bisa dijadikan pedoman bagi peneliti dalam mengambil keputusan pembentukan kelompok. Pertama, setiap kelompok tersusun atas 5 siswa yang merupakan persalingan dari kelompok prestasi akademik, jenis kelamin, suku yang berbeda. Kedua, pementukan kelompok dengan menyebarkan siswa yang pandai kedalam beberapa kelompok yang berbeda, siswa yang kemampuan belajar menengah dan rendah diminta untuk memilih salah satu kelompok dengan tidak terlepas dari awasan peneliti. Tujuan penyebaran siswa secara heterogen disini adalah membiasakan siswa belajar dengan semua teman dalam satu kelas tanpa ada perbedaan sehingga tumbuh kesadaran dan kepekaan sosial atas pribadi siswa.
Secara umum kelompok heterogen sangat disukai oleh para guru dalam pembelajaran karena beberapa alasan, menurut Lie (2002 : 50) adalah sebagai berikut :
1)        Kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung
2)        Kelompok ini meningkatkan relasidan interaksi ras, etnis, gender
3)        Kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu sistem untuk setiap tiga orang.
Dalam penelitian ini, yang merupakan tujuan dan fungsi utama dari pembentukan kelompok serta hal-hal yang sesuai dengan pendapat di atas adalah untuk meyakinkan bahwa semua anggota kelompok benar-benar belajar dan mengharapkan semua anggota tim belajar dengan baik. Selain itu, untuk memastikan semua anggota bisa mengerjakan soal, peneliti menunjuk salah satu siswa yang pintar menjadi asisten guru atau disebut tutor. Dengan adanya tutor diharapkan mampu membantu guru untuk memberikan penjelasan, motivasi kepada teman dalam satu kelompok yang belum bisa memahami materi pelajaran.
Menurut Djamarah, (2002 : 114) motivasi sangat diperlukan dalam pembelajaran karena seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungin melakukan aktivitas belajar. Aktivitas belajar sangat dibutuhkan selama proses belajar kelompok, selain itu adanya tim yang tampak dan mempunyai semangat serta motivasi dapat digunakan sebagai sarana mencapai tim yang sukses.
B.     Presentasi Isi
Dalam presentasi isi yang menjadi sumber belajar atau yang mendominai adalah guru. Guru menjelaskan secara ceramah kepada murid tentang bagaimana pembelajaran STAD akan diterapkan dan mengenai materi pelajaran, untuk itu diperlukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran STAD agar sesuai dengan konsep penerapan pembelajaran. Adapun langkah-langkah kegiatan dalam presentasi isi, menurut As’ari (2000:5) antara lain :
(1)   Pembukaan, yaitu bangkitkan motivasi siswa melalui masalah-masalah sehari-hari, meminta siswa membentuk kelompok dan kaji segala macam keetrampilan dan informasi prasaryarat.
(2)   Pengembangan, demonstrasikan konsep secara aktif dengan menggunakan ata bantu, menilai pemahaman siswa, jelaskan mengapa jawaban salah atau benar, pindah ke konsep berikutnya jika siswa telah menguasainya
(3)   Latihan terbimbing meminta siswa mengerjakan soal, panggil siswa secara acak.
Berdasarkan langkah-langkah dalam presentasi isi tersebut, peran seorang guru pada saat mempresentasikan materi yang akan didiskusikan adalah guru menyampaikan materi pelajaran secara garis beasar dan menyajikan konsep-konsep ekonomi yang bersifat sebagai pengantar diskusi siswa. Bagi siswa hal yang harus diperhatikan selama guru menjelaskan materi yang berhubungan dengan sistem pembelajaran ini, siswa harus bersungguh-sungguh memperhatian dan benar-benar paham materi yang disampaikan guru, karena hal ini akan menolong mereka dalam mengerjakan tugas kelompok dan akan menentukan keberhasilan kelompok mereka. Jadi siswa secara nyata harus serius mengikuti petunjuk-petunjuk guru sebagai pertanggung jawaban atas perolehan nilai akhir individu dan kelompok pada akhir pembelajaran.



C.    Diskusi Kelompok dan Latihan
Langkah ketiga dari pembelajaran model STAD adalah tahapan inti atau kegiatan belajaran kelompok. Pertama guru memberikan peran atas bagi setiap anggota dalam kelompok. Adapun peran yang harus dikerjakan oleh siswa itu sendiri menurut Rusmansyah (2003 : 185) “Di dalam belajar kelompok setiap siswa akan mendapat tugas dan peran sendiri-sendiri, tugas tersebut secara umum meliputi antara lain :
a.       Siswa 1      :  membaca eprtanyaan, informasi apa yang diberikan apa yang masih bisa digunakan untuk menjawabnya ?
b.       Siswa 2      :  mencari,. Menjelaskan dan menuliskan informasi yang didapatkan dari anggota kelompok yang lain ;
c.       Siswa 3      :  menuliskan jawaban-jawaban atau informasi yang didapat dari setiap anggota kelompok
d.      Siswa 4      :  mengecek jawaban
Peran tersebut di atas diharapkan setiap anggota kelompok harus dijalani hingga semua siswa termotivasi untuk memulai diskusi dan bisa memacu motivasi siswa pandai untuk lebih bertanggung jawab pada kelompoknya karena peran sebagai tutor yang diembannya membuat dia lebih terbuka diri untuk memantu teman sekelompoknya dalam menyelesaikan tugas kelompok. Adapun langkah kedua dari kegiatan ini adalah guru menyebarkan tugas dalam kepada setiap kelompok berupa lembar kerja sebagai latihan dan anduan mereka dalam belajar kelompok. Belajar di dalam tim, kegiatan yang dilakukan siswa adalah mencoba masalah-masalah dan dipraktekkan secara bersama-sama juga serta secara perorangan menjelaskan solusi-solusi mereka, mengkomentari cara pemecahan satu sama lain dan membagi pandangan-pandangan mereka tentang inti permasalahan dari lembar kerja. Untuk melihat apakah siswa tersebut belajar sesuai dengan peran dalam kelompok. Untuk melihat apakah siswa tersebut belajar sesuai dengan peran dalam kelompok, ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan oleh siswa agar mencapai tim yang sukses, yaitu seperti yang diungkapkan oleh Rumansyah (2003 : 186) antara lain :
a.        Setiap siswa mempunyai tanggung jawab untuk meyakinkan bahwa setiap anggota kelompoknya telah mempelajari materi ;
b.        Tidak seorang pun menghentikan belajarnya sampai semua anggota menguasai materi
c.        Bertanya kepada semua anggota kelompok untuk membantu sebeum menanyakannya kepada guru
d.       Setiap anggota kelompok harus berbicara satu sama lain dengan sopan
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan berhasil apabila semua murid mencapai pemahaman materi baik secara individu maupun kelompok dan dapat secara gotong royong saling membantu untuk mencapai keberhasilan dalam menguasai materi dari kesuksesan bersama dalam satu tim belajar.

D.    Menilai Penguasaan atau Pemahaman Murid Terhadap Materi Secara Individu
Tahap kegiatan keempat dari pembelajaran kooperatif model STAD adalah tahapan mengukur pemahaman murid setelah diskusi atau kegiatan inti dilakukan.
1)      Tahapan menguji kinerja individu
Setiap siswa harus mendapatkan pengakuan nilai dari kegiatan belajar yang telah dilalui bersama. Untuk menentukan nilai mereka harus melalui suatu tes yang dalam pengerjaanya tidak ada bantuan dari teman yaitu bekerja sendiri. Pada tahap pemberian tes setiap siswa tidak diperkenankan untuk saling membantu seperti pada waktu diskusi, mereka berusaha untuk bertanggung jawab secara individual. Tes dilakukan guna melihat sampai sejauh mana tingkat keikutsertaan siswa dalam pembelajaran yang telah diikuti sehingga apabila hasil tes baik dan mengalami berarti siswa berhasil dalam mengikuti pembelajaran dengan model STAD ini. Oleh karena itu dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui bagaimana menguji kinerja siswa dalam diskusi yang telah dilakukannya, pada umumnya dilakukan tes individu secara serentak. Arti daripada tes itu sendiri menurut Arikunto, (2001 : 53) menyatakan bahwa, “Tes adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”.
Berdasarkan pengertian tersebut nantinya hasil daripada tes digunakan dan diperlukan guru mengetahui tingkat ketercapaian siswa baik sebelum dan sesudah pembelajaran. Untuk mengetahui nilai kinerka individu, pada saat evaluasi guru memberikan skor pada setiap nomer soal yang akan diteskan dan setiap nomor tes, skornya tidak sama. Jumlah skor tes merupakan nilai kinerka individu, yang nantinya bisa digunakan sebagai sumbangan individu siswa terhadap kelompoknya. Jadi baik buruknya atau apakah tim tersebut mendapatkan penghargaan dan sukses, tergantung dari sumbangan skor kinerja individu siswa sebagai anggota kelompok dalam suatu tim belajar.
2)      Penskoran peningkatan individu
Penskoran peningkatan individu adalah skor yang dicapai siswa yang berasal dari selisih antara skor dasar dengan skor tes setelah penerapan STAD. Siswa pada akhir pembelajaran dapat mengetahui peningkatan skor atas kegiatan pembelajaran dengan model STAD yang telah mereka lakukan. Menurut Rumansyah (2003 : 186) mentakan bahwa “Tujuan memberikan skor peningkatan individu adalah memberikan kesempatan bagi hasil kerja maksimal yang telah dilakukan setiap individu untuk kelompoknya”. Untuk menentukan skor yang diperoeh oleh siswa yaitu dengan melihat selisih perolehan skor tes terdahulu atau tes pendahuluan dengan skor tes setelah diadakan tindakan. Skor tes terdahulu adalah tes pendahuluan yang diambil dari pre tes sebelum tindakan dimulai.
Adapun prosedur penskoran dalam model STAD sesuai dengan pendapat brahim (2005 : 57) adalah dapat dilihat dalam tabel 1 berikut ini :
Tabel 1 : Pola peningkatan individu
Nilai Ulangan
Poin
Nilai melebihi 10 poin skor dasar
Nilai kurang dari 10 poin dibawah nilai awal
Nilai sama atau lebih dari 10 poin dari nilai awal
Nilai melebihi 10 poin di atas nilai awal
Pekerjaan sempurna (tanpa melihat skor dasar)
0 poin
10 poin
20 poin
30 poin
30 poin
Sumber : Ibrahim
Tabel diatas dijadikan patokan guru dalam memberikan poin peningkatan individu apakah siswa mengalami peningkatan nilai setelah diadakan tes I, II dan seterusnya, yang menjadi acua adalah nilai skor dasar yaitu nilai tes pendahuluan. Misalnya, apabila jumlah skor siswa pada tes pendahuluan adalah mencapai nilai 71, kemudian pada tes 1 jumlah skornya turun menjadi 39, maka siswa terseut poin yang dicapai turun lebih dari 10 poin maka dia mendapatkan nilai 0 poin tidak ada peningkatan hasil belajar. 

E.     Menilai Score Perkembagan Tim dan Penghargaan Kelompok
Penghitungan skor perkembangan tim dan penghargaan pada setiap kelompok dilakukan setelah kegiatan penghitungan skor peningkatan individu selesai dan setelah siswa dinyatakan mendapatkan poin peningkatan individu. Besarnya poin yang disumbnagkan tiap siswa kepada timnya ditentukan oleh berapa skor siswa setelah tindakan melampaui rata-rata skor tes diwaktu lalu. Hasil tes skor dan setiap individu diberi poin perkembangan. Poin perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada beberapa jauh skor itu melampaui rata-rata siswa yang lalu. Selanjutnya poin yang diperoleh individu siswa tersebut disumbangkan ke kelompok  dan dijumlahkan untuk membuat skor tim dan tim yang memenuhi kriteria terbaik berhak mendapatkan hadiah sebagai penghargaan atau reward.
Menurut Rumansyah (2003 : 186), “Penghargaan kelompok atas poin perkembangan kelompok yang telah diperoleh”. Perkembangan kelompok berasal dari besar kecilnya poin yang disumbangkan tiap siswa kepada timnya. Untuk menentukan kelompok yang berhak mendapatkan perhitungan adalah ada tiga kriteria pemberian penghargaan diberikan seperti yang diungkapkan oleh Ibrahim, (2000 : 60) menyatakan bahwa “ada tiga tingkat penghargaan didasarkan pada rata-rata nilai kelompok yaitu dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 : Kriteria penghargaan kelompok
Kriteria
Penghargaan
15 – 20
21 – 25
26 – 30
Cukup baik
Baik
Terbaik
Sumber : Ibrahim
Berdasarkan tabel tersebut diatas, untuk menyatakan bahwa kelompok tersebut mendapatkan penghargaan cukup baik, baik dan terbaik adalah dengan cara menjumlahkan poin individu telah disumbangkan setiap anggota kelompok. Hasil penjumlahan tersebut bagi dibagi dengan jumlah siswa tersebut dalam satu kelompok yang berjumlah 5 siswa, dari hasil bagi tersebut misalnya apabila hasilnya dibawah kriteria 15 berarti kelompok tersebut di beri penghargaan sebagai tim yang “cukup baik”. Penghargaan kelompok diberikan dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi siswa agar melakukan yang terbaik dalam belajar dan untuk kesuksesan tim. Untuk mendapatkan tim yang terbaik dan bisa memperoleh penghargaa, mereka harus saling kerjasama tolong menolong dan saling membantu dalam usaha menguasai materi yang dijasikan oleh guru. Model pembelajaran STAD ini sangat berguna untuk membantu siswa menumuhkan kemampuan kerjasama, berfikir kritis, dan kesadaran dalam membantu teman.
Penerapan pembelajaran model STAD ini selain diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar juga sebagai upaya mengurangi gap atau pemisah antara siswa yang pandai dan rendah, juga mewujudkan kesadaran sikap sosial yang baik dan memberikan pengertian bahwa mnausia itu adalah sama serta agar semua murid yang belajar mempunyai rasa bersatu untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Apabila hal-hal seperti di atas dilaksanakan dengan baik maa tujuan pembelajaran kooperatif tercapai.
Tujuan pembelajaran kooperatif secara umum adalah mengefektifkan pembelajaran dan berusaha membaurkan siswa agar bisa belajar bersama. Untuk mewujudkan hal tersebut diterapkanlah model pembelajaran yang mampu mewujudkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Model terseut adalah pembelajaran model STAD, dimana selain bisa mengefektifkan dan membaurkan siswa dalam belajar, juga mempunyai kelebihan-kelebihan yang nantinya dapat dijadikan sebagai faktor pendukung keberhasilan siswa.
Adapun kelebihan penerapan model STAD adalah seperti yang diungkapkan oleh Muhamad (dalam Fauziah, 2002 : 10) antara lain :
1)      dapat mengerjakan tugas dengan cepat individu yang lebih besar ;
2)      menumbuhkan kemampuan bersama ;
3)      penerimaan terhadap ketergantungan individu yang lebih besar ;
4)      adanya saling ketergantungan yang positif karena tanggung jawab hasil belajar seluruh anggota kelompok ;
5)      materi yang diajarkan siswa melekat untuk periode waktu yang lebih lama ;
6)      siswa dapat berfikir kritis
berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan model STAD dapat menumbuhkan rasa sosial dan gotong royong dalam belajar dan menumbuhkan rasa kesadaran untuk menerima keberadaan yang akhirnya timbul motivasi untuk saling membantu dan semangat dalam belajar. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, seorang guru dalam usaha menerapkan sistem pembelajaran tidak terlepas dari berbagai hambatan yang berarti dan dapat sedikit mempengaruhi usaha guru dalam menerapkan strategi pembelajaran. Hambatan yang ada tidak dihiraukan begitu saja namun dapat dijadikan sebagai pertimbangan dan sebagai faktor penggangu dalam kegiatan penerapan strategi pembelajaran.
Adapun faktor pengganggu atau dapat disebut juga kelemahan dari strategi pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:
1)            Membutuhkan banyak waktu, untuk mengatasi hal ini dengan cara mengoptimalkan kerja kelompok.
2)            Guru tidak dapat memberikan bimbingan secara individu karena pembelajaran kooperatif merupakan kerjasama kelompok (Muhammad dalam Fauziah, 2002)

2.2  Hasil Belajar
Kegiatan pembelajaran dapat dikatakan berhasil atau tidak dapat dilihat dari hasil usaha yang yelah dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Untuk melihat hasil belajar yang telah dicapai siswa dapat dilakukan melalui evaluasi belajar. Pengertian hasil belajar itu sendiri menurut Sudjana (1999 : 22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia meneria pengalaman belajarnya. Jadi guru bisa melihat peningkatan hasil belajar, kemampuan siswa secara maksimal dapat diukur setelah dilakukan tindakan pembelajaran.
Dalam penelitian ini yang diukur adalah tingkat pemahaman atau kemampuan siswa atas pengetahuan yang telah disampaikan guru dalam proses pembelajaran. Jadi sampai sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi dapat diukur melalui tes. Dari tes ini kemudian dilakukan suatu evaluasi. Menurut Irawan, (2001 : 25) “ Secara umum ada dua macam evaluasi yang kita kenal yaitu evaluasi belajar atau evaluasi substantif dan sering pula disebut ts atau pengukuran hasil belajar dan evaluasi proses belajar mengajar yang disebut evaluasi manajeral”. Jadi obyek evaluasi yang termasuk dalam komponen hasil atau output adalah hasil belajar siswa (bagaimana prestasi belajar siswa?), evaluasi terhadap hasil proses belajar mengajar adalah hasil belajar siswa yaitu tes atau pengukuran hasil belajar.
Adapun tes itu sendnri menurut Zuriah, (2003 : 1398) “Adalah serentatan pertanyaan atau atihan atau alat lain yang digunakan untuk mengkur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu maupun kelompok”. Jadi tes berperan sebagai alat ukur kemampuan siswa atas materi yang telah dibahas. Peneliti menggunakan tes sebagai pedoman untuk melihat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran Ekonomi baik setelah diterapkan pembelajaran STAD maupun belum diadakan pembelajaran dengan menerakan pembelajaran model STAD  sebagai tes pendahuluan
Untuk mengatakan apakah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD dapat berhasil sesuai dengan tuntutan ketercapaian belajar secara maksimal yaitu dengan ditandai oleh perubahan perilaku yang telah dilakukan, selain itu keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat jika dua faktor terpenting menurut Djamarah dan Zain (2002 : 120) dapat dicapai antara lain :
a.        Daya serap terhadap bahan yang didasarkan mencapai prestasi tinggi baik secara individu maupun kelompok


b.       Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran instruksional khusus telah dicapai siswa, baik secara individu maupun kelompok
Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa keberhasilan belajar siswa dapat diketahui dari tingkat daya serap siswa melalui hasil belajar ulangan harian dan ulangan semester, serta dapat dilihat dari perubahan perilaku siswa secara individu maupun kelompok yang lebih baik dibanding sebelum pembelajaran.

















BAB III
METODE PENELITIAN


3.1    Tempat dan Subyek Penelitian
3.1.1        Tempat Penelitian
Penentuan tempat penelitian menggunakan metode purposive yaitu tempat penelitian ditentukan dengan sengaja. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo. Adapun pertimbangan yang mendasari peneliti memilih tempat penelitian di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo karena sekolahan tersebut belum pernah dilakukan penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran STAD terhadap peningkatan hasil belajar. Selain itu berdasarkan pada observasi awal yang dilakukan, bahwa SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo sangat cocok apabila diterapkan model STAD, karena rata-rata nilai ulangan harian mata pelajaran ekonomi masih rendah, khususnya di kelas XI IPS 1.

3.1.2        Penentuan Subyek
Penentuan subyek penelitian menggunakan metode populasi yaitu seluruh siswa kelas XI IPS 1 semester genap di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo dengan siswa laki-laki sebanyak 20 dan siswa perempuan sebanyak 19, jadi jumlah siswa keseluruhan sebanyak 39 siswa.

3.2    Batasan Operasional Variabel
Variabel dalam
1.      Model pembelajaran  STAD  (Student Teams Achievement Division)
Model pembelajaran STAD dalam penelitian ini merupakan salah satu cara metode pembelajaran kooperatif yang diterapkan pada materi pelajaran ekonomi pokokbahasan koperasi Indonesia dengan cara siswa bekerja dalam kelompok dalam suatu kelompok kecil dengan menggunakan lembar kegiatan sebagai sarana belajar dan siswa saling membantu satu sama lain dalam memahai materi pelajaran melalui tutorial, tes, dan diskusi
2.      Hasil Belajar
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil usaha yang diraih siswa yang diperoleh dengan belajar yang berhubungan dengan materi pelajaran ekonomi yang dipelajarinya dalam bentuk nilai ulangan harian yang diadakan 3 kali tes yaitu 1 kali pre tes sebelum diterapkan model pembelajaran dan 2 kali pos tes setelah diterapkan model pembelajaran STAD

3.3    Tindakan Pendahuluan
Tindakan pendahuluan dilakukan sebelum diadakan pelaksanaan siklus untuk mengetahui hasl belajar siswa sebelum tindakan dan sebagai upaya untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Adapun kegiatan yang diambil dalam tindakan pendahuluan meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1.       observasi ketika pembelajaran ekonomi berlangsung untuk mengetahui cara guru bidang studi ekonomi mengajar dan cara belajar siswa.
2.       wawancara dengan guru ekonomi kelas XI IPS 1 untuk mengetahui tingkatan prestasi siswa kelas XI IPS 1
3.       pemberian tes awal terhadap salah satu kelas di kelas XI IPS 1 yang diambil sebagai penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang pengalaman siswa terhadap materi ekonomi dengan pokok bahasan Koperasi Indonesia. Soal yang diujikan sebanyak 6 butir berbentuk essay. Berdasarkan hasil tes awal, diklasifikasikan siswa yang mengalami kesulitan dengan melihat kutantasan belajar siswa secara individu. Siswa yang mencapai skor dari 65 dikatakan tuntas dalam belajar, sedangkan siswa dengan pencapaian skor dibawah skor 65 dikatakan belum tuntas dan masih mengalami kesulitan dalam belajar.
Berdasarkan data yang diperoleh dalam tindakan pendahuluan yang berupa hasil observasi awal terhadap guru dan siswa dalam pembelajaran serta hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dengan menerapkan pembelajaran model STAD, maka dapat disajikan peneliti sebagai tola ukur untuk mengatasi permasalahan pembelajaran dengan mencoba menerapkan model pembelajaran STAD.

3.4    Rencana Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka mendapatkan data yag akurat serta agar pelaksanaan peneliti dapat diselenggarakan dengan baik sehingga mewujudkan hasil yang diharapkan yaitu peningkatan hasil belajar siswa. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka peneliti mempersiapkan terlebih dahulu suatu perencanaan dan desain penelitian yang sistematis.adapun rencana dan langkah-langkah yang dapat diambil dengan membuat dan menyusun desain prosedur tindakan atau implementasi dengan model spiral Lewin’s dengan menggunakan 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.



Keempat fase tersebut ditunjukan dengan siklus sebagai berikut :
 










Gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins
(Dalam Tim Penilaian Proyek PGSM, 1997 : 7)

Berdasarkan gambar model spiral diatas, penelitian tindakan kelas yang akan peneliti terapkan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri dari atas 4 fase yaitu perencanaan, melakukan tindakan mengamati dan merefleksikan.
Adapun hal-hal yang akan dilaksanakan dalam keempat tahap tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
3.4.1        Perencanaan
Perencanaan tindakan dirancang sebagai langkah-langkah yang diambil dalam rangkah pemecahan masalah yang hendak dilaksanakan dalam penelitian.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti pada tahap perencanaan meliputi 2 tahap yang harus dilakukan yaitu tahap perencanaan sebelum tindakan dan tahap perencanaan pada saat pelaksanaan tindakan yang ada pada siklus.

A.    Perencanaan Sebelum Tindakan
Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap perencanaan sebelum tindakan meliputi persiapan rencana awal dari penelitian yang disesuaikan dengan pendapat Sunardi, (2001 : 7), yaitu
1.       Konsultasi dengan guru bidang studi ekonomi kelas XI dan kepala sekolah berkenaan dengan ijin penelitian dan pelaksanaan tindakan nantinya.
2.       survei alokasi waktu mata pelajaran ekonomi pada saat proses pembelajaran pada tiap-tiap pertemuan
3.       survei awal dikelas XI untuk menentukan masalah yang akan diteliti dan kelas nama yang akan dijadikan obyek penelitian
4.       dari berbagai permasalahan yang ditemukan, menentukan permasalahan yang akan diteliti yaitu masalah rendahnya hasil belajar siswa dari kelas XI
5.       melakukan observasi awal terhadap tingkat ketercapaian siswa kelas XI sehingga didapat salah satu kelas di kelas XI yang memiliki tingkat ketercapaian hasil belajar yang tidak seimbang dan terendah dibanding dengan kelas lain.

B.     Perencanaan Pelaksanaan
Kegiatan pada tahap perencanaan pelaksanaan, pertama sebelum merencanakan pelaksanaan tindakan peneliti menyusun program satuan pelajaran (SP) dan rencana pengajaran (RP) atas materi pokok bahasan Koperasi Indonesia, merinci alokasi waktu pada tiap-tiap pertemuan yaitu 2 x 45 menit, dan menyiapkan alat pemantauan berupa lembar observasi untuk mencatat segala kegiatan yang berlangsung serta membuat persiapan pedoman wawancara untuk siswa, kedua, peneliti merencanakan langkah-langkah pelaksanaan tindakan dengan menerapkan model pembelajaran STAD.
Adapun langkah-langkah yang diambil peneliti untuk melaksanakan tindakan mengacu pada pendapat As’ri (2001 : 1) adalah sebagai berikut :
1.      Menyusun daftar kelompok siswa menjadi 9 kelompok berdasarkan perbedaan kemampuan akademik, jenis kelamin dan suku
2.      mempersiapkan presentasi materi Koperasi Indonesia
3.      membuat daftar peran siswa sebagai pedoman kegiatan belajar dalam tim
4.      membuat lembar tugas sebagai sarana belajar siswa dalam kelompok
5.      menyusun tes pendahuluan, pos tes berupa tes I dan tes II

3.4.2        Pelaksanaan tindakan dan observasi
1.      Pelaksanan Tindakan
Pada pelaksanaan tindakan ini peneliti berperan sebagai guru pertama menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian memberikan motivasi pada siswa agar mempelajari materi pelajaran melalui buku-buku pelajaran ekonomi dan lembar kerja siswa yang telah diberikan. Kegiatan selanjutnya guru menerapkan strategi pembelajaran dengan model pembelajaran STAD.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian akan dilakukan sebanyak dua siklus, jika pada siklus I telah tercapai seperti yang diinginkan yaitu dicapai ketuntasan klasikal, maka pelaksanaan siklus dihentikan, tetapi jika hasil yang dicapai belum mencapai yang diinginkan, maka dilanjutkan pada siklus II dengan mengoptimalkan kerja keras peneliti dalam menerapkan model pembelajaran STAD sehinga tujuan yang diharapkan tercapai. Tujuan yang ingin dicapai tersebut adalah pencapaian ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85% dan setiap siswa telah mencapai skor tes 65 atau lebih, jadi kemampuan siswa disini dibedakan menjadi tuntas dan tidak tuntas. Sebelum pelaksanaan siklus I peneliti melakukan tindakan pendahuluan.
A.    Siklus I
1.      Peneliti melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan alokasi waktu yang telah diterapkan pada tahap perencanaan pelaksananan dengan pertama memberikan tes dasar atau tes pendahuluan untuk mengetahui tindakan kemampuan dasar siswa
2.      membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil dan masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa yang telah terdaftar pada saat perencanaan pelaksanaan
3.      Guru mempresentasikan materi pelajaran pokok bahasan Koperasi Indonesia kepada siswa
4.      memberikan peran dan tugas yang akan diemban setiap siswa pada masing-masing kelompok antara lain, siswa kesatu berperan membacakan pertanyaan informasi apa yang bisa digunakan untuk menjawab, siswa kedua menjelaskan informasi yang didapat dari semua anggota kelompok, siswa ketiga menuliskan jawaban, siswa keempat mengecek jawaban, dan untuk siswa yang terakhir berperan sebagai tutor.
5.      menginformasikan kepada siswa untuk belajar atas tugas yang harus dipelajari dan dikerjakan secara bersama-sama dengan kelompok. Mereka boleh saling bergantian menanyakan kepada temannya atau saing berdiskusi mengenai masalah yang dianggap sulit sebelum bertanya kepada guru secara disiplin. Siswa juga disuruh mempelajari konsepnya dan diberitahu bahwa dianggap belum selesai mempelajarinya, sampai semua anggota kelompok memahami konsep materi ekonomi tersebut ;
6.      Siswa diberi tes individual yang meliputi tes I diberikan setelah 1 kali pertemuan, tes II diberikan pada pertemuan keempat. Pemberian kuis tersebut untuk mengetahui tingkat kinerja siswa dan skor peningkatan siswa yang berupa poin.
7.      setiap siswa diberikan poin perkembangan yang besarnya ditentukan dari beberapa besar skor siswa melampaui skor dasar atau siswa pada tes yang lalu. Pada skor dasar siswa pada saat tes pendahuluan sedangkan skor dasar siswa ets II adalah skor dari tes I dan seterusnya. Poin perkembangan siswa digunakan untuk menentukan keberhasilan
8.      pemberian penghargaan yang berupa hadiah kepada kelompok yang memiliki poin tertinggi setelah dilaksanakan berbagai tes, berupa alat-alat tulis 
selama kegiatan berlangsung peran guru pamong disini hanya sebagai observer terhadap peneliti. Peran peneliti selain menerapkan model pembelajaran juga sebagai motivator, fasilisator dan memberikan bimbingan kepada setiap siswa atau kelompok apabila ada kesulitan atau apabila diperlukan saja. Disini antara peneliti dan guru memantau terus kerja siswa agar tidak gaduh dan peneliti mengajak beberapa orang teman untuk mengobservasi setiap kelompok. Tugas observer disini memantau terus tingkah laku siswa melalui pedoman observer yang memuat hal-hal seperti keaktifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab mereka selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka seorang peneliti atau guru bisa merancang diskusi perbaikan pembelajaran yang bersumber pada hasil observasi yag menyangkut kajian catatan proses peneliti dalam menggunakan strategi pembelajarannya dan siswa berdasarkan pada peningkatan pemahaman siswa, hasil belajar, kesulitan siswa dalam memahami materi pelajaran.
B.     Siklus II
Langkah-langkah yang diambil dalam penerapan pembelajaran model STAD sama dengan penerapan pada siklusI, namun bertoak dari ketidakberasilan siklus I dan faktor-faktor yang mempengaruhinya maka pelaksanaan siklus II merupakan kegiatan perbaikan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien. Adapun materi yang disampaikan sama dengan materi pada saat tindakan pada siklus I yaitu pokok bahasan Koperasi Indonesia dan bahan observasi sama yaitu melihat peningkatan hasil belajar dan melihat perubahan tingkah laku siswa berupa aktivitas, kemauan, kemampuan, tanggung jawab siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan penerapan model STAD. Siklus II ini dilakukan sama dengan siklus I yaitu pembelajaran dilakukan selama 4x pertemuan dengan 2x pertemuan digunakan untuk tindakan dan 2x pertemuan dilakukan untuk pelaksanaan tes I dan tes II.

2.      Observasi
Kegiatan observasi ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan berlangsung yang dibantu oleh guru maka pelajaran ekonomi dan bebeapa orang tema peneliti. Adapun maksud diadakan observasi adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi (perubahan aktivitas, kemauan, kemampuan, dan tanggung jawab siswa) pada setiap kelompoknya, untuk memperlejas data apa sebenarnya yang perlu dikumpulkan, jadi disini peneliti membutuhkan observer untuk masing-masing kelompok. Kegiatan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran ekonomi adalah mengamati kegiatan peneliti apakah peneliti benar-benar menerapkan pembelajaran dengan model STAD. Tugas daripada observer disini adalah mengamati perubahan aktivitas, kemauan belajar, kemampuan, tanggung jawab siswa. Disini antara guru, peneliti dan observer memeprhatikan siswa dan membimbing dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras menguasahakan agar siswa tidak gaduh dan mempunyai semangat belajar tinggi.

3.4.3        Refleksi
Tahapan refleksi diperlukan untuk mengkaji segala hal yag telah terjadi selama kegiatan dan observasi berlangsung. Dengan mengkaji kembali, maka peneliti mengetahui kegiatan yang telah dihasilkan dan yang belum tercapai dan saat kegiatan dan observasi. Hasil daripada refleksi ini digunakan peneliti sebagai diskusi balikan untuk merencakan dan mengadakan perbaikan pada pelaksanaan tindakan berikutnya. Kegiatan yang dilakukan pada tahap refleksi ini yaitu menganalisis, menjelaskan dan mengumpulkan hasil-hasil dari observasi dan hasil-hasil dari observasi dan hasil tes siswa yang digunakan untuk mengetahui apakah dengan elaksanaan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar pada siklus I. Apabila belum dicapai maka dapat digunakan untuk mempersiapkan tindakan perbaikan yang akan dilakukan siklus kedua. 

3.5    Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi empat yaitu tes, wawancara, observasi dan dokumentasi (Hadjar, 1995 : 50). Cara pengumpula data yang dikemukakan oleh peneliti tersebut akan digunakan sebagai cara pengumpulan data pada penelitian ini.

3.5.1        Metode Observasi
Metode Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadpa gejala yang tampak pada obyek penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung (Margono, 1997 : 158)
Adapun metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi secara langsung, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung kepada subyek yang diteliti yaitu gejala-gejala yang terjadi dan perubahan-perubahan aktivitas, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab siswa serta hasil belajar siswa. Observasi dilakukan bukan hanya pada saat tindakan dan pendahuluan berlangsung. Observasi dalam tindakan pendahuluan bertujuan untuk mengumpulkan dan mengetahui data tentang cara belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dan persiapan pelaksanaan tes pendahuluan, serta untuk mengetahui metode mengajar yang digunakan guru ekonomi.
3.5.2        Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data secara tertulis tentang tempat penelitian yang nantinya dapat menunjang penelitian. Data terebut diperoleh dari kepala bagian tata usaha dan guru wali kelas serta guru mata pelajaran ekonomi. Adapun yang diperlukan atau hal-hal keperluan data yang bersifat penting antara lain meliputi denah lokasi SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo, data tentang prstasi mereka pada saat kelas XI sebagai gambaran tingkat kemampua mata pelajaran ekonomi, nilai ulangan harian pelajaran ekonomi pada pokok bahasan Koperasi Indonesia, data tentang karakteristik siswa atau latar belakang mereka, yang kesemuannya nanti sebagai acauan penelitian ini.

3.5.3        Metode wawancara
Metode wawancara atau interviu adalah suatu alat bentuk komunikasi verbal. Jadi semacam percakapan yang betujuan untuk memperoleh informasi (Nasution, 2003 : 11). Wawancara merupakan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan langsung kepada sumber informasi
Menurut Marzuki (2003 : 64) membagi wawancara menjadi dua bentuk yaitu antara lain sebagai berikut   :
1)         Unterviu yaitu tiap kali wawancara seorang interviu berhadapan dengan seorang interviewer atau lebih dengan cara ini memungkinkan untuk memperoleh data yang intensif sangat besar.
2)         Interviu kelompok yaitu seorang pewawancara atau lebih berhadapan langsung dengan interviewer atau lebih.
Berdasarkan pendapat diatas peneliti ini menggunakan bentuk wawancara individu, karena wawancara melakukan sendiri wawancara terhadap beberapa orang siswa sebagai perwakilan yang tidak tuntas belajar pada tes terakhir dan yang tuntas belajar serta guru bidang studi ekonomi kelas XI.
Adapun metode wawancara yang digunakan peneliti menggunakan metode wawancara terpimpin yaitu wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan eprperinci seperti yang dimaksudkan dalam wawancara terstruktur (Arikunto, 1993 : 127)
Berdasarkan pada pendapat tersebut, pelaksanaan penelitian ini pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besarnya saja yang nantinya sebagai acuan saat wawancara dengan perwakilan siswa yang tidak tuntas dan tanggapan siswa yang telah tuntas belajar terhadap pelaksanaan pembelajaran STAD. Garis-garis daripada pedoman wawancara tersebut adalah menggali masalah kesulitan siswa dalam memahami materi yang telah diajarkan yaitu mengenai materi pokok bahasan Koperasi Indonesia. Wawancara dengan guru bidang studi untu mencari informasi tentang bagaimana bimbingan dan tuntutan terhadap siswa dalam menyelesaikan soal dan untuk mengetahui ketingkatan prestasi siswa. Khususnya kelas yang akan dijadikan sebagai kelas tindakan penelitian.






3.5.4        Metode Tes
Salah satu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat angka atau nilai hasil belajar adalah dengan mengadakan tehnik pengukuran untuk melaksanakan evaluasi hasil belajar, kita memerlukan alat yang akan kita gunakan untuk mengumpulkan data yang kita lakukan, alat atau instrumen tersebut tergantung dari metode evaluasi yang dipakai. Pada penelitian disini tehnik pengukuran yang akan dipakai adalah menggunakan tes proses evaluasi hasil belajar kita menggunakan tehnik atau metode tes, maka alat penilaiannya berupa tes.
Adapun jenis tes yang digunakan pada umumnya digolongkan menjadi dua yaitu lisan dan tes tulis. Menurut Mudjiono dan Dinyati (2000 : 257) mengatakan bahwa “Tes tertulis terdiri dari tes essay dan tes obyektif”.
Berdasarkan pendapat tentang jenis dan bentuk tes diatasm dalam penelitian ini untuk mengetahui kemampuan siswa yang mengacu pada tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus digunakan tes dalam bentuk essai. Dimana peneliti membuat test sendiri yang mengacu pada kisi-kisi soal
Adapun pelaksanaan tes pertama peneliti mengadakan ts pendahuluan atau tes yang bertujuan untuk mengetahui awal siswa sebelum penerapan model pembelajaran STAD sebanyak 6 butir soal essai, kemudian peneliti melakukan tes I dan tes II setelah tindakan pembelajaran pada pokok bahasan Koperasi Indonesia setelah dua kali pertemuan. Tujuan dilakukan tes I adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atas materi dengan penerapan model pembelajaran STAD, dengan melakukan analisis pembahasan soal secara bersama setelah tes dengan lokasi waktu yang telah tersedia. Pengadaan tes II dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan skor yang dicapai siswa setelah dilakukan pembahasan kembali atas soal tes I yang dianggap siswa sulit.

3.6    Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yang berusaha menerapkan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara serta menjelaskan data tentang hasil belajar siswa yang masih bersifat kuantitatif secara lengkap, baik sebelum dilakukan tindakan dan sesudah tindakan
Langkah pertama guru dalam menganalisis hasil penelitian yang membuat perencanaan untuk membuat rancangan analisis data dengan mendapatkan data tentang tingkah laku siswa, peneliti menggunakan lembar observasi berdasarkan Djamali (2001 : 126) yang berisi tentang aspek-aspek yang haus diamati pada saat penerapan model pembelajaran STAD seperti pada tabel 3 berikut :

Tabel 3 : lembar observasi siswa
No
Aspek Penilaian
Keaktifan
Kemauan

Kemampuan

Tanggung jawab
SR
R
T
ST
SR
R
T
ST
SR
R
T
ST
SR
R
T
ST
1.
2.
3.
dst
















Sumber : Djamali



Keterangan :
SR    : Sangat rendah
R       : rendah
T       : tinggi
ST     : Sangat tinggi
Untuk dapat mengetahui prosentase keaktifan, kemauan, kemampuan, tanggung jawab siswa dalam satu kelas seperti pada tabel diatas digunakan rumus seperti berikut ini : (misalnya keaktifan siswa)
   (Depdikbud 1994 : 18)
berdasarkan rumus prosentase tingkah laku siswa diatas hasilnya akan digunakan sebagai bahan diskusi balikan dan ebagai tindak lanjut pada siklus berikutnya. Tindakan selanjutnya adalah peneliti melakuan refleksi berdasarkan hasil observasi dan tindakan. Proses analisis data dalam refleksi disini berpedoman pada Sunardi (2001 : 5) yang meliputi tidak tahap yaitu reduksi data, paparan data dan penyimpulan data
pertama, reduksi data yaitu menganalisis data dari data yang telah dikumpulkan (tes pencatatan kegiatan lapangan atau observasi, wawancara). Kedua, paparan data yaitu proses menyusun hasil dari analisis dalam reduksi data seberapa besar hasil perkembangan dan peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran STAD. Informasi tersebut meliputi catatan proses tentag pembelajaran, peningkatan pemahaman siswa, kesulitan siswa serta hasil yang diperoleh setelah pemberian tindakan. Ketiga, penyimpulan data yang merupakan penarikan ksimpulan kegiatan analisis yang berupa semua kegiatan yang dilakukan berdasarkan penyajian data.
Berdasarkan hasil analisis data, akan ditentukan ketuntasan belajar siswa. Jika data mengenai observasi yang meliputi keaktifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab siswa serta ketuntasan belajar secara klasikal siswa mencapai sebesar 85% atau lebh, maka dikatakan berhasil atau tercapai tujuan yang diinginkan. Untuk mencari prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal digunakan rumus :
keterangan :
E       : Tingkat ketuntasan belajar siswa
N      : Jumlah siswa tuntas belajar
P       : Jumlah semua siswa











BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini akan membahas tentang hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan oleh peneliti berupa data mentah yang masih bersifat kuantitatif yang hasil belajar siswa dan hasil observasi pada saat tindakan. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis menjadi sebuah laporan berupa diskriptif kualitatif yang meliputi langkah-langkah kerja sebagai berikut :

4.1    Tindakan Pendahuluan
Sebagai langkah awal sebelum penelitian dilaksanakan pada hari senin tanggal 2 s/d 16 Mei 2006 untuk menentukan kelas yang akan digunakan sebagai penelitian, membuat jadwal penelitian tentang materi yang akan diterapkan. Berdasarkan hasil pertimbangan, kesepakatan dengan guru ekonomi yang lain diperoleh :
a.         Kelas yang digunakan dalam penelitian ditetapkan di kelas XI hal ini dikarenakan kelas tersebut merupakan kelas yang memiliki tingkat kemampuan siswa yang beragam, mempunyai tingkat ketercapaian hasil belajar secara klasikal terendah dibandingkan dengan kelas lain pada mata pelajaran ekonomi.
b.         Pengambilan data dimulai tanggal 2 Mei 2006 sampai selesai
c.         Materi yang peneliti terapkan disesuaikan dengan materi poko yaitu Koperasi Indonesia.
Tanggal 2 Mei 2006 peneliti mengumpulkan data antara lain mengenai tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin dan suku siswa, hal ini dapat diperoleh dari rapot dan hasil ulangan harian siswa kelas XI pada pokok bahasan Koperasi Indonesia. Maksud dilakukan pengumpulan data yaitu sebagai dasar pembagian atau pembentukan kelompok, karena penerapan pembelajaran dengan menggunakan model STAD, pembentukan kelompok sangat diperlukan. Data yang telah terkumpul berupa hasil ulangan harian tentang pokok bahasan Koperasi Indonesia hasilnya kurang memuaskan. Masih banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah 65. nilai tersebut belum memenuhi kriteria ketuntasan secara individu yaitu siswa dikatakan tuntas belajar jika mencapai nilai rata-rata > 65. setelah data terkumpul pada tanggal 4 Mei 2006 peneliti langsung membuat pembagian kelompok belajar, setiap kelompok terdiri dari 5 siswa lengkap dengan siswa yang berbeda, baik kemampuan akademik, jenis kelamin dan suku.
Observasi terhadap guru mengajar dilaksanakan pada minggu pertama Mei 2006 untuk mengetahui pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti, melihat tingkah laku siswa selama pembelajaan ekonomi berlangsung. Dari hasil observasi diketahui guru dalam menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan penugasan terhadap siswa. Penugasan dilakukan pada akhir pembelajaran dengan mengerjakan LKS. Saat guru menyampaikan materi siswa cenderung tidak memperhatikan, hal ini ditunjukkan dengan beberapa siswa yang duduk di belakang cenderung bicara sendiri dengan teman dan sesekali menggambar.
Berdasarkan hasil observasi diatas penyebab kegagalan siswa tidak berhasil belajar karena guru menggunakan metode yang tidak sesuai dengan kondisi siswa. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dan berdampak pada nilai hasil belajar.
Langkah selanjutnya setelah observasi dilakukan pertemuan pertama diadakan tes pendahuluan. Sebelum dilakukan tes pendahuluan guru memberitahuka kepada siswa untuk belaja di rumah mengenai materi yang akan diteskan yaitu materi Koperasi Indonesia. Tujuan diadakan tes pendahuluan adalah untuk mengetahui kemampuan dasar siswa terhadap materi yang diajarkan. Berdasarkan pelaksanaan tes pendahuluan, ternyata hasilnya kurang memuaskan. Masih banyak siswa yang mendapatkan nilai dibawah 65. siswa yang lainnya masih dibawah 65 sebanyak 13 siswa atau 34% dari 39 siswa. Ketuntasan klasikal yang dicapai dari hasil tes pendahuluan adalah 25%
Berdasarkan analisis hasil tes pendahuluan tersebut terlihat siswa masih belum mencapai nilai yang diharapkan. Hal ini disebabkan penggunaan strategi pembelajaran dari guru belum mampu membuat siswa aktif, yang terjadi pembelajaran bersifat monoton sehingga siswa cenderung santai dalam belajar. Untuk itu peneliti merasa tertarik untuk mencoba meningkatkan hasil belajar tersebut dengan cara menerapkan pembelajaran dengan model STAD pada materi Koperasi Indonesia.

4.2    Pelaksanaan Siklus I
4.2.1        Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan tindakan dilakukan beberapa persiapan. Persiapan tersebut meliputi ; Penyusunan Satuan Pelajaran (SP), Perencanaan Pengajaran (RP), Pedoman Observasi, Menyusun daftar kelompok siswa, menyusun daftar peran siswa dalam kegiatan belajar, penyusunan lembar tugas sebagai panduan belajar dalam kelompok, menyiapkan tes pendahuluan soal tes 1 dan tes 2 serta kunci  jawaban.

4.2.2        Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
1.      Pelaksanaan Tindakan
A.    Pertemuan Pertama
Berdasarkan rencana yang telah disusun dan dipersiapkan, Maka pelaksanaan tindakan pertama dilaksanakan pada pertama Mei 2006 dikelas XI di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo. Pelaksanaan tindakan pertama ini mulai diterapkan pembelajaran dengan model STAD pada Materi poko Koperasi Indonesia. Adapun langkah yang diambil pengertian dalam menerapkan pembelajaran dengan model STAD pada pertemuan I adalah sebagai berikut :
(1)        Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan menjelaskan sekilas tentang model pembelajaran STAD serta meningkatkan kembali tentang model pembelajaran STAD serta, meningkatkan kembali tentang peran masing-masing siswa dalam kelas, dimana sebelum tindakan peneliti telah mengumumkan peran tersebut.
(2)        Siswa dengan bimbingan peneliti dan guru dibimbing untuk duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing telah tersedia.
(3)        Peneliti mengadakan presentasi mengenai materi pokok bahasan ketentuan-ketentuan dan memberikan sebagai pengantar ssiwa dalam memahami materi dan memberikan motivasi agar siswa selalu berdiskusi dan bertanya serta terbuka pada setiap anggota kelompok. Motivasi tersebut berupa ilustrasi mengenai manfaat yang akan diperoleh setiap individu dan kelompok,setelah materi selesai diajarkan terhadap kelompok dan siswa yang mempunyai poin perkembangan tertinggi.
(4)        Peneliti sebagai guru membagi lembar tugas I mengenai materi ketentuan-ketentuan pokok koperasi pada masing-masing kelompok. Siswa diberi waktu 10 menit untuk membaca buku paket yang dimiliki dan selanjutnya mereka mulai mengerjakan, belajar mendiskusikan tugas yang ada dalam lembar kerja bersama teman kelompoknya sampai semua anggota mengerti dan memahami materi, peneliti selalu meningkatkan peran yang harus diemban terhadap siswa dalam kelompok agar mereka selalu aktif berdiskusi.pertemuan I ini peneliti melakukan bimbingan dan pendekatan kepada siswa agar siswa dalam kelompok yang peneliti terapkan. Pada akhir pembelajaran siswa mengumpulkan lembar tugas dan sebelum menutup pelajaran guru memberikan tugas merangkum materi yang akan diajarkan. Saat belajar dalam kelas peneliti tidak lupa selalu memberikan fasilitas kepada siswa untuk selalu bertanya kepada peneliti apabila ada materi yang sulit untuk dipahami. Kemampuan besarnya diberikan seluas-luasnya kepada siswa terhadap peneliti. Terlihat siswa bertanya mengenai materi yang mereka belum bisa memahami dan bertanya tentang peran mereka dalam kelompok. Saat inilah peneliti dengan kerja keras membimbing dan mengarahkan mereka sampai mereka hafal akan peran materi pelajaran.
B.     Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua langkah-langkahnya sama dengan pertemuan I yang guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Pertemuan ini dilaksanakan pada minggu kedua Mei 2006 dengan melaksanakan model pembelajaran STAD tahap kedua. Adapun materinya adalah materi pokok kedua yaitu ; Pembinaan dan Pembubaran Koperasi Indonesia dengan alokasi waktu 2 x 45 menit. Pembelajaran materi pembinaan yang sama dengan penerapan pada pertemuan pertama, yaitu ; model pembelajaran STAD akhir pembelajaran peneliti memberi tugas kepada siswa untuk menerangkan pelajaan yang telah dipelajari mengenai materi ketentuan-ketentuan pokok koperasi dan pembinaan dan pembubaran koperasi. Hal ini bertujuan agar siswa mempelajari kembali materi yang telah diajarkan peneliti. Selain itu peneliti mengumumkan kepada siswa untuk mempersiapkan diri belajar di rumah karena pada pertemuan selanjutnya diadakan tes. Untuk memeprmudah melihat pemahaman siswa terhadap materi, peneliti mengadakan 2 kali pertemuan untuk tes, diharapkan waktu yang tersisa digunakan peneliti untuk mengulas kembali soal tes.






C.     Pertemuan Ketiga
Pada minggu ketiga 2006 dilakukan tes I dengan materi pokok koperasi dan pembinaan, pembuaran koperasi selama satu kali pertemuan yaitu 10.00-10.45 WIB dengan jumlah soal 10,5 soal subyektif dan 5 soal berbentuk essai. Waktu yang tersisa setelah tes I dilaksanakan, untuk satu jam berikutnya yaitu 10.45-11.30 WIB diadakan pembahasan terhadap soal-soal yang diberikan. Siswa cenderung antusias karena telah mengetahui kesalahan dan kebenaran jawaban yang merea berikan pada tes. Kesempatan untuk bertanya diberikan kepada siswa dan ada satu siswa yang bertanya yaitu Fasial. Pertanyaan yang diajuan mengenai hak dan kewajiban anggota Koperasi Indonesia. Sebagai penutup pertemuan kedua guru tidak lupa kembali memberikan motivasi dan harapan supaya pada tes berikutnya siswa tidak mengulangi kesalahan-kesalahan menjawab soal seperti pada ts I. Peneliti mengumumkan apabila diantara mereka saat tes mendatang hasilnya melebihi skor hasil tes I maka mereka akan mendapatkan poin peningkatan individu dan poin tersebut disumbangkan kepada kelompok. Sumbangan terbesar untuk kelompok dapat menciptakan kelompok yang mendapatkan sebutan sebagai kelompok terbaik dan mendapatkan penghargaan berupa hadiah.



2.      Observasi
Selama kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti dengan menerapkan model pembelajara STAD berlangsung, pada pertemuan I siswa sudah terlihat tanggap untuk menuju kelompoknya masing-masing sehingga proses mempelajarinya materi bisa langsung diterapkan, pada saat kegiatan kelompok terlihat peneliti dan guru memberikan bimbingan dan penghargaan kepada siswa agar aktif menjalankan peran dalam belajar kelompok. Pada pertemuan ke II siswa mulai antusias dan aktif. Antusias karena mereka mulai menerima pembelajaran dengan guru baru, mulai mengerti manfaat belajar dengan menerapkan model pembelajaran STAD. Aktif karena mereka ingin mendapatkan nilai tugas serta selalu ingin melaksanakan apa yang diminta dan disuruh oleh peneliti sebagai guru baru. Kondisi semacam ini tidak disia-siakan oleh pneliti untuk selalu melakukan pendekatan terhadap siswa. Suasana pada pertemuan pertama siswa untuk beberapa menit melakukan transisi ke kelompoknya masng-masing dan aktif bertanya pada peneliti tentang bagaimana cara pelaksanaan metode pembelajaran yang akan peneliti terapkan.
Peran peneliti selain sebagai guru dalam kelas juga sebagai motivator, fasilitator pada siswa saat dibutuhkan. Adapun guru bidang studi ekonomi mengamati dalam menerapkan pembelajaran model STAD. Dinsi juga terdpaat 2 orang observer yang juga bertugas mengamati aktivitas siswa yaitu Drs. T.A Adi Sasongko dan Suyono, S.Pd. tugas utama observer untuk kemampuan dan tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran
Dan hasil observasi yang dilakukan observer pada pertemuan I yaitu diperoleh data mengenai tingkah laku siswa dengan hasil analisis data observer sebagai berikut :
Keaktifan               =
Kemauan                =
Kemampuan           =
Tanggung Jawab    =
Hasil analisis data lembar obsrvasi diatas menunjukkan siswa masih belum menunjukkan keaktifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab dalam mengikuti pelajaran. Ini terlihat dari ketercapaian tingkah laku siswa masih rendah yaitu dibawah 65% hal ini disebabkan masih ada beberapa siswa yang kurang aktif karena mereka belum bisa meninggal kebiasan belajar dengan mendengar ceramah guru sehingga mereka cenderung diam. Dari sisi peneliti telah mengetahui beberapa siswa yang cenderung diam dan takut untuk mengemukakan ide karena takut salah, akhirnya permasalahan tersebut dapat dijadikan patokan untuk memperbaiki sikap siswa dengan dilaksanakan tindakan tahap kedua sebagai implementasi menuju perbaikan dari kekurangan-kekurangan siswa dalam mengikuti pembelajaran
Pertemuan kedua siswa sudah mulai terbiasa dengan kondisi pembelajaran yang diterapkan peneliti. Mereka mulai aktif dan mempunyai tanggung jawab atas peran dan keberhasilan kelompok masing-masing. Pada pertemuan ketiga posisi siswa sebelum pembelajaran berlangsung tanpa disuruh sudah bergabung dengan kelompok masing-masing secara melingkar, sehingga guru dapat dengan mudah mulai mengadakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD dengan tenang. Adapun hasil observasi pada pertemuan kedua adalah sebagai berikut :
Keaktifan               =
Kemauan                =
Kemampuan           =
Tanggung Jawab    =
Hasil analisis data hasil observasi diatas menunjukkan siswa sudah memperlihatkan tingkah laku yang positif terhadap penerapan pembelajaran STAD. Kekatifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab mereka sudah mencapai 76% lebih. Pada pembelajaran pertemuan kedua ini siswa mulai menjalankan peran masing-masing dalam kelompok seperti membaca, menulis dan mencari informasi atas soal-soal dalam lembar kerja, saling memberitahu jawaban berdasarkan ide-ide masing-masing anak dalam kelompok. Namun demikian masih ada beberapa siswa cenderung diam karena takut salah dan karena belum berbiasa dengan teman satu kelompoknya. Biasanya pembelajaran yang diikuti siswa belajar dengan membentuk kelompok yang sesuai dengan kemauan mereka.
Akhir kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan motivasi danarahan pada siswa untuk belajar karena akan menghadapi tes. Motivasi tersebut berupa pengumuman kepada siswa bahwa bagi mereka yang mendapat nilai bagus akan mendapatkan poin perkembangan yang akan disumbangkan pada kelompoknya masing-masing dan kelompok yang mendapatkan poin tertinggi akan mendapatkan hadiah. Pelaksanaan tes berlangsung lancar meskipun pada tes I ada siswa yang menyontek, karena posisinya yang memungkinkan duduk dibelakang. Tetapi hal ini dapat diatasi denga cara observer mendekati bangku belakang dan lebih ketyat pengawasannya.
Hasil observasi pada pertemuan II pada siklus I telah mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan pertemuan I. Untuk melihat peningkatan prosentase hasil analisis data dari lembar observasi yang meliputi keaktifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab pada pertemuan I dan pertemuan ke II pada siklus I didapat dilihat pada tabel berikut ini :
PROSENTESAE TINGKAT KETERCAPAIAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN DAN II PADA SIKLUS I DAN PENINGKATNYA
Kategori
Tingkat Ketercapaian
Pertemuan I
Pertemuan I
Peningkatan
Keaktifan
Kemauan
Kemampuan
Tanggung jawab
61%
74%
72%
54%
76%
82%
89%
89%
15%
8%
17%
35%
Sumber : hasil lembar observasi siklus I diolah

Berdasarkan hasil observasi pertemuan I dan II pada siklus pada tabel diatas, dapat disimpulan bahwa yang dominan mengalami peningkatan dan menunjukkan tingkah laku yang positif terhadap penerapan pembelajaran dengan model STAD. Hal ini disebabkan karena siswa telah mengerti tentang pentingnya mengikuti pembelajaran dengan model STAD, yaitu dengan adanya reward dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih keras dan bertanggung jawab untuk memperbaiki nilai sendiri dan kelompok. Keinginan siswa untuk mendapatkan kriteria sebagai kelompok yang terbaik menumbuhkan tanggung jawab mereka terhadap kesuksesan kelompok masing-masing. 

4.2.3        Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa telah tertarik pada saat kegiatan pendahuluan dan kegiatan inti berlangsung. Pada saat prosentasi isi pertemuan ke-2 sudah terlihat siswa bertanggung jawab terhadap kelompoknya yang ditunjukkan dengan selalu bertanya tentang materi dan langkah-langkah kerja yang belum dimengerti. Keaktifan, tanggung jawab siswa tercermin pada saat kegiatan belajar. Dimana mereka sudah terlaith melakukan peran masing-masing untuk menyelesaikan dan mendisukusikan soal-soal yang ada pada lembar tugas. Peran tutor siswa sudah terlihat selau memberikan penjelasan kepada temannya agar mengerti dan memahami maksud materi secara bersama-sama. Namun masih ada siswa yang kurang antusias belajar dalam kelompok karena teman satu kelompoknya bukan teman akrab, sehingga masih mempengaruhi faktor psikologis belajar siswa. Pada saat pertama guru membawa buku pelajaran, jadi dengan model STAD masih ada siswa yang tidak membawa buku pelajaran, jadi siswa tersebut belum optimal mengikuti pembelajaran yang peneliti terakan. Untuk mengatasi hal itu peneliti melakukan pendekatan pada mereka, memberi sangsi pada mereka yang telah membawa perlengkapan sekolah.
Hasil analisis tes pada siklus I yang dilaukan setelah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD, hasilnya siswa masih kurang memahami materi pokok koperasi serta materi pembinaan dan pembubaran koperasi. Hal ini dapat dilihat pada hasil analisis tes I terlihat dari 39 siswa terdapat 13 siswa yang belun tuntas belajarnya yang memperoleh nilai < 65, sedangkan dari analisis tes kedua terdapat 10 siswa yang belum tuntas belajarnya dari 39 siswa yang memperoleh nilai > 65. adapun taraf pencapaian ketuntasan belajar secara klasikal pada tes I dan tes II (siklus I). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD belum mencapai tujua hasil belajar yang diharapkan, yaitu ketuntasan klasikal > 85%. Walaupun ketercapaian secara klasikal masih dibawah ketentuan yang berlaku namun telah ada sedikit peningkatan. Wawancara dilakukan terhadap perwakilan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar baik secara individual maupun secara klasikal. Wawancara dilakukan terbatas sampai 2 siswa dari 10 siswa yang tidak tuntas belajar. Ke-2 siswa yang diwawancarai tersebut adalah, Agus Saudi dan Rizal Febrian. Hasil wawancara dapat dilihat pada lampiran. Hasil wawancara menunjukkan, pada dasarnya siswa senang belajar ekonomi dengandietrapkan model pembelajaran STAD, karena mendapatkan latihan-latihan sial yang dapat mereka gunakan sebagai tambahan belajar dan memudahkan mereka dalam menghafalkan materi, menambah keakraban antar teman. Namun masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal antara lain mengenai materi jenis-jenis koperasi menurut unit usahanya mengenai badan usaha koperasi dengan lembaga gerakan koperasi. Mengenai rapat anggota kebanyakan dari siswa mengatakan bahwa yang merupakan kekuasaan tertinggi dari koperasi adalah pengawas bukan rapat anggota. Faktor yang mempengaruhi adalah karena mereka kurang siap menghadap tes dan sebagian besar ssiwa tidak menulis kembali dan membaca lagi dirumah mengenai hasil diskusi yang telah dilakukan pada saat pembelajaran. Hasil diskusi dibawah oleh salah satu siswa dalam kelompok ynag berperan sebagai penulis.
Berdasarkan hasil observasi, hasil tes dan wawancara dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perbaikan pembelajaran pada siklus II terutama karena hasil tes I dan ke 2 pada siklus I belum mencapai ketuntasan klasikal. Tindakan perbaikan mengacu pada kekurangan pada tindakan siklus I yang mencakup beberapa penemuan fakta yang harus diperbaiki menyangkut kinerja peneliti dalam pembelajaran dan perubahan tingkah laku dan hasil belajar siswa. Penemuan fakta tersebut berupa (1) siswa kurang akrab dengan sesama teman belajar karena faktor psikologis, hal ini dapat diatasi dengan peneliti lebih memperhatikan dan memberika pendekatan secara intensif (2) masih ada siswa yang tidak membawa buku ekonomi, peneliti harus tanggap dan mengharuskan siswa untuk membawa perlengkapan sekolah yang lengkap (3) masih ada beberapa siswa yang terlihat dian dan sulit diajak diskusi, karena belum terbiasa dengan mengikuti pembelajaran yang peneliti terapkan, dengan kerja keras peneliti kahirnya hal ini bisa diatasi (4) hasil belajar siswa masih rendah pada siklus I karena kebanyakan siswa tidak mencatat lagi hasil belajar sehingga tidak siap dalam kegiatan kelompok bukan hanya menjalankan peran tapi semua anggota kelompok juga mencatat hasil diskusi.
Perbaikan penerapan model pembelajaran oleh peneliti lebih mengoptimalkan pengemabngan lembar kerja yang mengacu pada kesulitan-kesulitan siswa atas materi sehingga bisa lebih mengaktifkan siswa. Harapan pada tindakan perbaikan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan merubah tingkah laku siswa menjadi positif terhadap pembelajaran ekonomi. Akhirnya peneliti memutuskan untuk melakukan tindakan penelitian ulang tahap kedua yaitu dengan dilaksanakan siklus II.

4.3    Pelaksanmaan Siklus II
4.3.1        Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan hal-hal yang perlu dipersiapkan sebagai tindak lanjut penemuan dan indeitifikasi fakta hasil pembelajaran pada siklus I meliputi merevisi rencana pembelajaran pada siklus I dengan lebih menekankan pada pembuatan lembar kerja terutama pada pengembangan uraian materi dan soal yang ada pada lembar kerja, dengan mengacu pada kendala-kendala yang menjadi kelemahan siswa dalam menjawab soal-soal tes I dan tes II. pada penerapan tindakan peneliti menambah peran siswa dengan setiap siswa harus mencatat hasil diskusi kelompok suoaya siswa mendapatkan tambahan untuk belajar. Dari peneliti disini lebih mengoptimalkan pelaksanaan model pembelajaran STAD dengan lebih keras lagi dan selalu melakukan pendekatan dan bimbingan yang insentif kepada setiap kelompok sampai kelompok tersebut aktif dan menjalankan tugas dengan baik.

4.3.2        Pelaksanaan tindakan dan observasi
1.      Pelaksanaan tindakan
a)      Pertemuan pertama
Tahap ini, kegiatan yang dilakukan tidak berbeda dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I yaitu tanggal 2 Mei 2006  dilaksanakan peneliti pembelajaran dengan materi pokok Koperasi Indonesia. Pertama guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan memebrikan motivasi agar saling bekerja sama dalam belajar kelompok. Untuk lebih mengaktifkan siswa agar selalu mengikuti dengan seksama materi yang harus dipelajari dalam kelompok, dianjurkan setiap anggota kelompok menulis jawaban sendiri-sendiri dibuku masing-masing. Hal ini dilakukan karena pengalaman pada pelaksanaan siklus I tidak berhasil mengaktifkan dan meningkatkan nilai siswa, siswa cenderung tidak mencatat lagi dirumah setelah melaksanakan diskusi sehingga mereka lupa hasil yang didapat dari siklus. Motivasi lain yang diberikan, peneliti mengumumkan bahwa setelah 2 kali pertemuan diadakan tes secara individu tanpa bantuan dari teman lain. Dalam tes diberitahukan bahwa mereka akan memperoeh poin perkembangan yang besarnya ditentukan oleh seberapa besar skor siswa pada tes tersebut nantinya melebihi skor pendahuluan. Selanjutnya poin tersebut ditambahkan untuk membentuk skor tim dan tim yang memenuhi yang memenuhi kriteria pencapaian skor tertinggi berhak mendapatkan hadiah
Langkah selanjutnya guru memberikan sedikit penekanan pada materi yang dianggap siswa sulit untuk dipahami, yaitu lebih menekankan pada jenis-jenis koperasi dimana mereka masih sulit membedakan jenis-jenis koperasi menurut unit usaha koperasi dan usaha koperasi. Sebagai penutup pertemuan pertama peneliti mengumumkan kepada siswa untuk belajar dirumah mengenai materi pelajaran yang akan dibahas dan didiskusikan pada pertemuan mendatang yaitu materi pembinaan dan pembubaran koperasi. Selain itu peneliti tidak lupa selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang telah dipelajari. Akhirnya karena keterbatasan waktu yang mengajukan pertanyaan hanya 3 siswa Novi Marvatim, Anisa Setya Dewi dan Sunifatul Jannah. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah perbedaan unit usaha koperasi dan usaha koperasi itu sendiri. Dari pertanyaan tersebut peneliti menjelaskan kepada siswa yang bertanya dan menjelaskan secara perkelompok atas materi yang mereka anggap sulit hingga mereka pahyam betul.
b)      Pertemuan kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan tanggal 9 Mei 2006, dengan sub pokok bahasan pembinaan dan pembubaran koperasi Indonesia. Pada pertemuan kedua ini sama dengan langkah-langkah yang diambil pada pertemuan pertama yaitu menerapkan model pembelajaran STAD. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan ini berlangsung selama 2 x 45 menit yaitu dari pukul 10.00-11.30 WIB. Peneliti lebih bekerja keras mewujudkan agar siswa selalu aktif dan melaksanakan segala ketentuan dan tugas atau peran yang ada pada pembelajaran dengan model STAD. Sebelum dilaksanakan diskusi peneliti membagi lembar kerja kepada setiap kelompok untuk dipelajari bersama dalam kelompok. Selain itu penleiti memberikan bimbingan dan melakukan pendekatan kepada setiap kelompok untuk memberikan motivasi, peringatan agar selalu melaksanakan peran serta tugasnya. Terakhir peneliti mengumumkan tentang skor yang dicapai siswa pada siklus I, dan memberikan pengharapan agar siswa lebih keras belajar dirumah karena akan diadakan tes lagi pada pertemuan berikutnya
c)      Pertemuan ketiga
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2006, pertemuan ketiga ini adalah pertemuan terakhir dengan melaksanakan 1 x tes yaitu tes I. Kondisi sisaw dalam mengikuti tes I ini sudah tampak tertib dan lanar, sunyi, mereka terlihat serius meghadapi tes karena ingin berlomba-lomba untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk kelompoknya.

2.      Observasi
Selama pelaksanaan pembelajaran siklus II dengan model STAD berlangsung dengan kerja keras yang telah dilakukan peneliti dan guru kahirnya siswa sudah etrlihat aktif dan antusias dibandingkan dengan dilaksanakan pembelajaran siklus I. Hal ini karena mereka sudah paham belajar dengan mengikuti pembelajaran model STAD. Setiap kali pertemuan dengan menerapkan pembelajaran model STAD, siswa telah siap duduk membentuk kelompok masing-masing tanpa disuruh. Siswa telah terlihat menjalankan tugas-tugas yang harus diemban selama pembelajaran berlangsung.
Pada siklus ini proses pengelompokan kelas sudah baik, sehingga siswa terlihat disiplin. Pembelajaran pada siklus II ini waktu yang digunakan efektif dan pembelajaran diterapkan dengan maksimal antara kerja guru dan aktifitas sisaw. Hal ini disebabkan dengan karena siswa sebelum tindakan sudah duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing dan hafal mengenai tugas serta peran yang harus mereka emban sehingga peneliti tinggal melakukan strategi pembelajaran model STAD dan melakukan bimbingan serta pendekatan pada setiap kelompok. Melalui pendekatan dan bimbingan kepada siswa, tingkah laku siswa meliputi keaktifan, kemauan, kemampuan dan tanggung jawab dan hasil tes memberikan hasil maksimal. Hal ini dapat ditunjukkan pada lembar observasi yang dilakukan oleh observer. Adapun hasil observasi yang dilakukan observer pada pertemuan I dan siklus II tersebut diperoleh data sebagai berikut :
Keaktifan               =
Kemauan                =
Kemampuan           =
Tanggung Jawab    =
Analisis hasil observasi diatas menunjukkan siswa mulai menunjukkan tingkah laku positif terhadap penerapan pembelajaran dengan model STAD, dibandingkan dengan siklus I. Hal ini ditunjukkan oleh kerja siswa sudah sesuai dengan perannya. Siswa dengan tugas sebagai tutor membantu temannya yang berkemampuan sedang untuk menuntaskan materi, dengan tujua agar teman sekelompoknya dapat memberikan sumbangan nilai bagi keberhasilan kelompok mampu membawa teman sekelompok memahami materi namun masih ada saja siswa yang terlihat malas dan sulit untuk diajak kerja sama dan belajar.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD pada siklus I sama dengan pelaksanaan siklus I yaitu diadakan 2 kali pertemuan
Berdasarkan hasil lembar observasi tersebut diperoleh data seagai berikut :
Keaktifan               =
Kemauan                =
Kemampuan           =
Tanggung Jawab    =
Hasil analisis lembar observasi diatas menunjukkan siswa sudah 94% lebih menunjukkan tingkah laku yang diharapkan dan memahami peningkatan apabila dibandingkan dengan hasil observasi pada pertemuan I. Hal ini dapat ditunjukkan yaitu pada saat pertama pneliti melakukan presentasi isi, siswa sudah memperhatikan dan tertarik. Faktor yang menunjang lagi adalah karena peneliti selalu memberikan imbauan, bimbingan dan penjelasan terhadap materi yang siswa sulit untuk memhamai sebagai bekal dalam mengikuti tes dan pada saat belajar kelompok. Ketertarikan siswa karena termotivasi dan telah mempunyai rasa tanggung jawab untuk mensukseskan kelompoknya. Pada saat kegiatan belajar kelompok telah tampak keseriusan siswa dalam mediskusikan soal-soal yang ada pada lembar tugas, sehingga kegiatan belajar lancar.
Berdasarkan hasil observasi antara pertemuan I dan pertemua II pada siklus II diatas, telah terjadi peningkatan pada setiap indikator pengamatan tingkah laku siswa.
Untuk melihat prosentase tingkat ketercapaian hasil observasi pertemuan I, pertemuan II dapat siklus II dan peningkatanya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
PROSENTESAE TINGKAT KETERCAPAIAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN I DAN II PADA SIKLUS II DAN PENINGKATNYA
Kategori
Tingkat Ketercapaian
Pertemuan I
Pertemuan II
Peningkatan
Keaktifan
Kemauan
Kemampuan
Tanggung jawab
89%
94%
97%
97%
94%
97%
87%
89%
7%
3%
10%
8%
Sumber : hasil lembar observasi siklus II diolah
Berdasarkan hasil analisis perhitungan ketercapaian pembelajaran atas data observasi pertemuan I dan II pada siklus II ini dapat disimpulkan bahwa yang dominan mengalami peningkatan tingkah laku yang positif terhadap pembelajaran ekonomi dengan diterapkan model pembelajara STAD adalah terdapat pada keaktifan siswa yang mengalami peningkatan tertinggi yaitu 18% dari indikator tingkah laku yang lain. Jadi prosentase tingkat ketercapaian hasil observasi pada pertemuan I dan II pada siklus II, semua indikator pengamatan dalam lembar observasi mengalami peningkatan. Adapun peningkatan tertinggi pada siklus II ini adalah pad aaspke keaktifan siswa, dimana hal ini ditunjukkan dengan keaktifan ssiwa dalam mengikuti pembelajaran ekonomi dengan menerapkan strategi pembelajaran model STAD. Walaupun demikian masih ada beberapa siswa yang menunjukkan sikap pasif sehingga berpengaruh pada hasil belajar. Kepasifan tersebut karena mereka takut untuk bertanya dan terbiasa untuk belajar dari mendengarkan ceramah dari guru.
Pelaksanaan tes I pada siklus II siswa terlihat tertib dan serius dalam mengerjakan tes. Terlihat lebih dari separuh siswa sudah selesai mengerjakan sebelum waktu yang ditentukan.setelah peneliti melihat hasil tes yang mereka kumpulan sudah terlihat banyak yang benar, jadi peneliti tidak mengulas kembali tes yang dikerjakan karena waktu yang terbatas.

4.3.3        Refleksi
Berdasarkan analisis terhadap observai dapat diketahui bahwa sebagai siswa meras antusian saat presentasi ini berlangsung. Antusian dan ketertarikan siswa terlihat dalam hal mengeluarkan pendapat dan betrnaya saat membeirkan orientasi atau presentasi mengenai manfaat mempelajari materi koperasi Indonesia serta saat peneliti memotivasi siswa dengan memperlihatkan pada mereka nilai yang telah mereka peroleh saat pelaksanaan siklus I yang masih terlihat jelek sehingga memunculkan dorongan kepada mereka untuk berusaha meningkatkan hasil belajar.
Berdasarkan analisis terhadap hasil pekerjaan siswa, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah dapat menyelesaikan soal-soal materi koperasi Indonesia dengan baik. Pada mulanya pada siklus I siswa belum menguasai untuk materi dengan baik walau sudah terlihat ada peningkatan nilai yang dicapai. Untuk pelaksanaan tes pada siklus II dilaksanakan hanya 1 kali tes karena hasil yang dicapai dari tes tersebut sudah menunjukkan nilai yang sesuai dengan kriteria ketuntasan baik secara klasikal maupun secara individu. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk pengadaan tes I dalam siklus II adalah tes terakhir. Hasil analisis tes I dapat diketahui sudah sebagian siswa telah memahami konsep dan soal-soal materi koperasi Indonesia dengan baik, yang ditunjukkan dengan penurunan ketidaktuntasan siswa secara perseorangan dan peningkatan hasil belajar secara klasikal lebih dari 58% yaitu mencapai 88,8%. Hasil tes I menunjukan ada 5 siswa yang memperoleh nilai <  65 dan sebanyak 39 siswa atau sebesar 48% yang memperoleh nilai > 65
Untuk melihat analisis hasil ulangan tes I pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 20, sedangkan taraf ketercapaian ketuntasan secara klasikal pada tes I siklus II. hasil akhir yang dicapai masih ada 5 siswa yang merasa kesulitan dalam mengerjakan soal karena kurang siap menghadapi tes dan mereka sulit merubah kebiasaan belajar dengan mendengarkan penjelasan guru. 

4.4    Pertemuan Penelitian
Berdasarkan pelaksanaan siklus penelitian, dimulai dari tindakan pendahuluan sampai pada tindakan siklus yang meliputi 2 siklus diperoleh beberapa temuan penelitian. Secara umum beberapa temuan penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian adalah :
1.      dari hasil tes pendahuluan dapat dilihat bahwa 34% siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yaitu memberikan contoh koperasi menurut jenisnya. Hal ini dikarenakan siswa belum memahami dengan baik materi koperasi Indonesia dan belum diajarkan sebelumnya.
2.      pada pelaksanaan siklus diikuti oleh 39 ssiwa. Tes terakhir menunjukkan ketuntasan klasikal mencapai 74,4%. Dari 39 ssiwa tersebut ada 10 orag yang masih mendapatkan nilai dibawah 65. berdasarkan hasil wawancara dengan 2 orang siswa sebagai perwakilan siswa yang belum tuntas, terdapat kesulitan yang dihadapi siswa yaitu kurangnya kesiapan dalam mengikuti pembelajaran dengan model STAD, siswa masih cenderung takut dan malu bertanya pada guru dan teman dalam kelompok selain itu mereka masih terlihat dalam masa transisi. Kesimpulan yang diperoleh akhirya pelaksanaan pembelajaran pada siklus I belum berhasil maka penelitian dilanjutkan pada siklus II
3.      pada siklus II, tetap diikuti oleh 39 siswa dan hasil pelaksanaan tes diperoleh ada 5 ssiwa yang belum tuntas belajarnya, sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 88,8%. Hasil kegiatan pembelajaran pada siklus II ini menjadi lebih baik yang ditunjukkan semakin aktifnya siswa dalam berargumentasi dan bekerja sama.
4.      pada presentasi kelas, siswa lebih berani mengemukakan keinginannya untuk bertanya jika belum paham dengan materi dan prosedur pelaksanaan diskusi. Kesulitan yang tampak pada sebagia kecil siswa terhadap materi terdapat pada cara membedaka jenis-jenis koperasi berdasarkan unit dan usaha koperasi.
5.      pelaksanaan kegiatan pada siklus I siswa masih cenderung belajar menerapkan peran dan diskusi, adanya salah satu anggota kelompok yang pendidikan karena merasa takut salah dan masih kurang akrabnya mereka dalam satu kelompok. Hal ini bisa ditolelir oleh peneliti pada pertemuan berikutnya. Pada siklus II sudah terlihat siswa duduk sesuai kelompoknya masing-masing tanpa gaduh karena mereka sudah terbiasa belajar pelajaran ekonomi dengan berkelompok sesuai permintaan peneliti. Dengan kesiapan ssiwa sebelum pelajaran dimulai membuat pelaksanaan pembelajaran yang peneliti terapkan berjalan lancar dan siswa sudah bisa dikondisikan. Saat belajar kelompok, siswa aktif dalam mempelajari dan mendiskusikan soal-soal yang ada pada lembar tugas sehinga tampak adanya kerjasama antara mereka untuk bersama-sama berusaha memahami materi. Keaktifan ssiwa ini muncul akibat dari motivasi yang diberikan peneliti tanpa pengumuman nilai yang telah dicapai yaitu masih banyak yang dibawah nilai 65 sehingga mereka berupaya memperbaiki nilai. Hal ini memotivasi poin tertinggi yang dapat disumbangkan untuk menunjang keberhasilan kelompok masing-masing
6.      hasil analisis tes I dan II pada siklus I, diketahui bahwa rata-rata kesalahan yang dilakukan siswa dikarenakan mereka kurang memahami dan mengerti maksud soal sehingga pekerjaan siswa kurang sempurna. Merasa kesulitan memahami dan menghafal materi jenis-jenis koperasi.
7.      dari hasil analisis tes I dan tes II pada siklus diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 34% untuk tes I dan 74,4% untuk tes II. hal ni menunjukkan bahwa peenrapan pembelajaran model STAD pada siklus I belum berhasil. Karena pada siklus I belum berhasil maka penelitian melanjutkan tindakan ulang tahap II pada siklus II. hasil analisis tes I pada siklus II diperoleh ketuntasan secara klasikal sebesar 88,8%. Dari hasil tes I menunjukkan siswa telah mencapai hasil diatas kriteria ketuntasan maka peneliti mengambil hanya 1 kali tes. Dengan keberhasilan siswa pada tes I menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD telah berhasil dan telah dapat membawa siswa pada hasil belajar yang semakin meningkat yang ditunjukkan dengan adanya ketuntasan secara individu dengan nilai rata-rata >  65 dan secara klasikal > 85% ketercapaian
8.      hasil wawancara terhadap 2 siswa dapat diketahui bahwa emreka yang kurang aktif dalam kegiatan belajar kelompok karena belum terbiasa belajar bersama teman yang bukan teman akrabnya dan salah satu faktor pendukung kurang aktifnya siswa yang tidak membawa buku pegangan dan sulitnya siswa mengubah kebiasaan belajar dengan mendengar ceramah guru.
Berdasarkan penemuan dari fakta yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas diatas maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnnya siswa merasa senang dan tertarik belajar dengan mengikuti penerapan model pembelajaran STAD karena dapat dengan mudah menghafalkan materi, saling bekerja sama dalam memcahkan soal-soal yang mereka anggap sulit dan menambah keakraban antar teman.adanya pelaklsanaan tes yang terjadwal membuat siswa mempunyai waktu untuk belajar dalam rangka menghadapi tes. Adanya pemberian hadiah pada kelompok yang mendapatkan krietria sebagai kelompok terbaik membuat semua siswa dalam kelas berlomba-lomba dan bertanggung jawab untuk keberhasilan dirinya sendiri dan kelompok. Keberhasilan individu dapat memberikan sumbangan keberhasilan pada kelompoknya.
4.5    Pembahasan
Upaya peningkatan hasil belajar siswa yang dilakukan peneliti pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan Koperasi Indonesia di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo pada akhirnya berjalan lancar dan berhasil, meskipun pad awal pembelajaran suasana kelas tampak masih dalam taraf latihan untuk siswa mengikuti pembelajaran yang peneliti terapkan. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa belajar dengan pengaturan tempat duduk yang melingkar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Namun dengan adanya, kerja keras dan bimbingan yang diberikan peneliti dengan guru, hal ini dapat ditolelir.
Pada saat pelaksanaan siklus I yang diawali dengan presentasi isi siswa masih terlihat aktid bertanya mengenai langkah-langkah pembelajaran dan materi yang sedang dipelajari dalam kelompok. Dengan bantuan guru peneliti kahirnya bisa melakukan tindakan pada tahap pertama. Tindakannya dilakukan selain menerapkan pembelajaran dengan model STAD, peneliti juga memberikan motivasi dan sedikit bekal materi untuk dipelajari dalam kelompok.  Suasana presentasi isi pada siklus II siswa tampak lebih aktif menyampaikan ide dan bertanya tentan materi yang mereka anggap sulit. Siswa lebih aktif dikarenakan mereka sudah meulai terbiasa belajar dengan mengikuti anjuran peneliti dan mengerti mengenai manfaat secara umum dari mempelajari koperasi Indonesia adalah mereka mengetahui antara badan usaha yang berorientasi pada keuntungan untuk perorangan atau golongan dan bertujuan untuk mensejaterahkan anggota.
Pada saat kegiatan kelompok berlangsung, semakin lama siswa terlihat antusias dan aktif dalam melakukan diskusi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dibandingkan dengan awal pelaksanaan kegiatan kelompok pada siklus I. Hal yang membuat siswa tidak berhasil dalam belajar pada siklus I karena siswa masih terlihat enggan untuk bertanya pada teman satu kelompok yang mereka belum kelihatan akrab namun dengan seiring waktu, bimbingan dan penerapan pembelajaran yang diterapkan secara maksimal oleh peneliti maka hal ini dapat diantisipasi. Selain itu peran siswa sebagai penulis ada pada beberapa konsep jawaban siswa dalam kelompok membuat anggota lain tidak mempunyai kosep jawaban hasil diskusi sehingga mereka banyak yang tidak mempunyai bahan yang penting untuk dipelajari sebelum tes. Hal ini dapat ditolelir peneliti pada pelaksanaan siklus II. kegiatan kelompok selain siswa harus menjalankan perannya masing-masing, juga dianjurkan setiap anggota kelompok mencatat sendiri-sendiri hasil diskusi atas soal-soal yang diberikan dalam lembar tugas.
Dalam rangka menuntaskan materi secara kelompok, dalam siklus II telah terlihat ssiwa menjalankan perannya dengan baik yang ditunjukan oleh ssiwa dengan kemampuan tinggi berusaha memberikan penjelasan kepada temannya yang belum dapat memahami materi. Mereka saling berusaha agak kalompoknya mendapatkan penghargaan dan mendapatkan predikat sebagai kelompok terbaik.
Pelaksanaan tes pada siklus I siswa masih merasa kesulitan dan ada yang berusaha bertanya kepada teman satu bangku. Berdasarkan hasil tes I terdapat 10 siswa yang tidak tuntas belajar sehingga ketuntasan klasikal yang diperoleh adalah 64,4%. Poin perkembangan yang dipersembahkan siswa terhadap kelompoknya sudah menunjukkan perkembangan yang baik, bila dibandingkan dengan tes pendahuluan sebagai skor dasarnya. Kelompok yang mempunyai poin perkembangan terbaik ada 5 kelompok yaitu kelompok V, VI, VII, VIII, IXI, sehingga kelima kelompok tersebut mendapatkan penghargaan sebagai kelompok “terbaik”
Hasil analisis dari tes II terdapat 10 siswa yang belum tuntas , sehingga mencapai ketuntasan klasikal sebesar 88,8%. Antara tes I dan II maih memberikan hasil belajar berada dibawah kriteria ketuntasan klasikal walau terlihat sudah ada peningkatan sebesar 14%. Hasil analisis tes I pada siklus II terdapat 5 siswa yang tidak tuntas sehingga ketuntasan klasikal mencapai 88,8%. Poin perkembangan yang dicapai pada hasil analisis tes I apabila dibandingkan skor dasarnya tes pendahuluan cukup bagus dan semua kelompok memiliki tingkat penghargaan yang sama yaitu sebagai kelompok ‘Terbaik’ kecuali kelompok I dan VII sebagai kelompok kriteria ‘baik’. Pemberian poin perkembangan pada tes I siswa cenderung menurun apabila dibandingkan dengan skor dasarnya yaitu tes II (siklus II), sehingga berakibat tingkat penghargaan pada tes I hanya ada 2 kelompok yang mendapatkan tingat penghargaan ‘Terbaik’ (kelompok IV dan IXI)
Poin perkembangan siswa pada siklus I diberikan berdasarkan seberapa ebsar skor mereka melampoi atau menyamai skor dasar siswa pda tes yang lalu. Dalam penelitian ini skor dasar pada tes I ditetapkan dari skor dasar siswa pada saat pendahuluan, sedangkan skor dasar pada tes II diambil berdasarkan skor siswa pada tes I. Sedagkan untuk siklus II  pemberian poin perkembangan diberikan berdasarkan pada skor dasar tes pendahuluan dan skor dasar tes II (siklus II)
Berdasarkan analisis hasil belajar siswa dari siklus I dan siklus II, menunjukkan bahwa setelah pembelajaran model STAD diterapkan, siswa merasa terbiasa dan senang belajar dengan cara berkelompok dan termotivasi untuk selalu menemukan suatu konsep dengan saling berinteraksi dengan teman satu kelompok. Sedangkan mengenai kesalahan siswa dalam menyelesaikan tes materi Koperasi Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, siswa cenderung kurang teliti, kurang bisa membedakan materi tentang jenis-jenis koperasi berdasarkan unit usaha dan usaha koperasi itu sendiri.
Pembelajaran model STAD ini membutuhkan kemampuan guru untuk bisa mengola kelas dengan baik, karena titik kesulitan awal penerapan guru model pembelajaran STAD ini adalah saat pengaturan kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang membuat siswa ribut pindah tempat duduk. Oleh karena itu kesiapan dan kematangan materi yang diterapkan harus tepat.
Berdasarkan pembahasan diatas, hasil kegiatan pembelajaran pada siklus II menjadi lebih baik dari pembelajaran pada siklus I. Penerapan pembelajaran model STAD berhasil meningkatkan kemampuan dan meningkatkan keaktifan siswa sebesar 96% menumbuhkan kesadaran untuk selalu menegakkan kerjasama dalam memcahkan permasalahan secara bersama-sama sehingga terwujud rasa sosial yang tinggi antar teman dalam sekolahan.







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pembelajaran model STAD dalam proses pembelajaran, hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi pokok bahasan Koperasi Indonesia kelas XI IPS 1 semester 2 tahun 2005/2006 di SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo meningkat. Hasil belajar siswa sudah dapat memenuhi standart keberhasilan yaitu > 85% ketuntasan klasikal, walaupun pada siklus I hasil belajar siswa baik secara individu maupun klasikal masih dibawah standart ketuntasan. Perolehan nilai pada siklus I mengalami sedikit peningkatan. Jadi sebagian besar siswa kelas XI IPS 1 sudah memahami materi Koperasi Indonesia.
Hasil analisis data observasi siswa menunjukkan prosentase ketercapain tingkah laku yang positif terhadap pembelajaran ekonomi dengan menerapkan pembelajaran model STAD terus meningkat sampai 97% ketercapaian. Adapun peningkatan terbesar terdapat pada indikator keaktifan sebesar 15% dari indikator pengamatan yang lain. Keaktifan siswa ditunjukkan dalam mengikuti pembelajaran ekonomi, aktif menjalankan peran dan berlomba-lomba mewujudkan kelompok kesuksesan bersama.




5.2    Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan pembelajaran model STAD pada siswa kelas XI IPS 1 semester 2 SMA Negeri 1 Waru Sidoarjo, maka saran yang dapat diberikan adalah :
1.       Guru hendaknya menerapkan pembelajaran dengan model STAD ini dalam pembelajaran IPS khususnya mata pelajaran ekonomi sebagai alternatif pembelajaran dikelas.
2.       Untuk mewujudkan kerja kelompok yang efektif dan berdampak pada peningkatan hasil belajar, seharusnya guru menerapkan strategi pembelajaran STAD dengan sungguh-sungguh karena pelaksanaan prosedur model STAD dengan benar akan memungkinan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.












Daftar Pustaka



Aisyah, Nyimas. 2000. Mengembangkan Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pembelajaran Kooperatif. Dalam Jurnal Penelitian. Sumatra : FKIP Universitas Sriwijaya
Arikunto, S. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
As’ari, Rahman. A. 2000. Sekilas Tentang Pembelajaran Kooperatif. Malang : UNM
Badeni. 2002. Cooperative Learning Dalam Konteks Pencapaian Tujuan Mata Pelajaran Sosial SMU. Bengkulu : FKIP Universitas Bengkulu
Cooper, et al. 1999. Classroom Teaching Sklills edisi 9. virigina. University of virgina.
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan SMU GBPP kela I. Jakarta
Dirjen Dikti depdiknas. 1996. Kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat I SLTP. Jakarta Proyek peningkatan SLTP
Djamarah, Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :Rineka Cipta
---------,2002. Psikologi Belajar. Jakarta Grasindo
---------,2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : rineka cipta
Djamali. 2001. Pengguna STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kalkulus Dalam Teknobel. Jember IKIP PGRI
Hadjar, Ibnyu. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan. Jakarta PT. Raja Grifindo Persada


 
Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif Surabaya : UNESA
Irawan, Prasetya. 2001. Evaluasi Proses Belajar Mengajar. Jakarta : UT Departemen Pendidikan Nasional
Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang. Jakarta : Grasindo
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Marzuki. 2003. Metodologi Riset. Jakarta : BPFE UII
Mudjiono, dimyati. 2000. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : rineka cipta
Nasution. 2003. Metodologi Research. Jakarta : Bumi Aksara
Pambudi, DS. 2000. Tren Dalam Pembelajaran Matematika. Dalam jurnal saintifika (vol. 3 No. 1). Jember UNEJ
Rusdi dan AleXIson. 1998. Aplikasi Cooperative Learning Model STAD Pada Pengajaran Matematika Di SD Dalam Laporan Penelitian. Bengkulu Universitas Bengkulu.
Sudjana, Nana. 1992. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung : Rejama Rosdakraya.
Sunardi, dkk. 2001. Penyusunan Proposal Dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Jember  : YPLD2 Jember.
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek PGSM
Winataputra. 2001. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta : Universitas Terbuka
Zuriah, Nurul.2003. Penelitian Tindakan Pendidikan Dan Sosial. Malang Bayumedia Publishing.


 
 


Lampiran : 1

TES PENDAHULUAN


Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !
1.      Sebutkan tujuan Koperasi Indonesia
2.      Sebutkan 2 hal yang menjadi hak dan kewajiban anggota Koperasi Indonesia !
3.      Sebutkan tugas dan wewenang pengurus Koperasi Indonesia !
4.      Sebutkan 2 kebijakan pemerintah dalam upaya melakukan pembinaan Koperasi Indonesia !
5.      Siapakah yang berhak membubarkan Koperasi Indonesia !















 
 


Lampiran : 2
SOAL TES I (SIKLUS I)

I.        Lengkapilah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1.      Koperasi yang anggotanya orang seorang tersebut……………
2.      Keseluruhan organisasi koperasi yang bersifat terpadu tersebu……………
3.      Tujuan Koperasi Indonesia adalah………….
4.      Kekuasaan tertinggi dalam koperasi ada ditangan…………..
5.      Simpanan yang dibayar selama menjadi anggota koperasi disebut…….

II.     Jawablah pertayaan di bawah ini dengan singkat !

1.      Sebutkan hak dan kewajiban anggota koperasi 1
2.      Hal-hal apa saja yang harus tercantum dalam anggaran dasar koperasi !
3.      Hal-hal apa sajakah yang dibicarakan dalam rapat anggota !
4.      Sebutkan tugas pengurus koperasi !
5.      Sebutkan tugas pengurus koperasi !









 
 


Lampiran : 3
SOAL TES II (SIKLUS II)

I.        Lengkapi pertanyaan di bawah ini !
1.      Berdasarkan jenisnya, Koperasi Indonesia dibedakan menjadi…………
2.      Keanggota Koperasi Indonesia bersifat sukarela dan terbuka artinya ……..
3.      Rapat anggota minimal dilaksanakan ……..tahun sekali
4.      Laporan pertanggung jawaban pengurus dalam melaksanakan tugas dilakuan oleh………..
5.      Apa saja yang menjadi tugas pengurus Koperasi adalah ………
II.     Jawablah pertanyaan berikut ini !
1.      Apa yang dimaksud dengan koperasi primer dan sekunder ?
2.      Jelaskan tujuan secara umum dan secara khusus ?
3.      Ada 2 jenis koperasi menurut unit usahanya, sebutkan !
4.      Jelaskan pengertian SHU (Sisa Hasil Usaha) !
5.      Siapakah yang ebrhak membubarkan Koperasi ?









 
 


Lampiran : 4
SOAL TES I (SIKLUS II)

I.        Lengkapilah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1.      Apa yang menjadi syarat berdirinya koperasi ………
2.      Sebutkan bentuk-bentuk Koperasi Indonesia adalah ………..
3.      Yang dimaksud Kuorum dalam rapat koperasi adalah ………
4.      Sumber Model Pinjaman Koperasi Indonesia berasal dari ………
5.      Rapat anggota minimal diadakan selama …………..

II.     Jawablah pertanyaan berikut ini !

1.      Jelaskan pengertian koperasi konsumsi dan koperasi produksi !
2.      Jelaskan mengenai asas Koperasi Indonesia !
3.      Mengapa lembaga gerakan koperasi bukan merupakan badan usaha koperasi ?
4.      Bilamana rapat anggota dikatakan sah ?
5.      Sebutkan kebijaksanaan pemerintah dalam melakukan pembinaan   koperasi ?










 
 

Berlangganan via Email